CHEL

CHEL
Bab 37



Anjas menarik gas sampai penuh. Melaju sangat cepat di jalanan. Untungnya jalan jam segini tidak ramai. Otomatis Maryam berpelukan erat pada Anjas. Dia meminta Anjas untuk pelan-pelan saja.


"Mas tidak usah cepat-cepat. Kita sudah aman mas." seru Maryam di sebelah helm Anjas.


"Tenang saja. Aku bisa kontrol kok." jawab Anjas.


Sekarang Anjas agak menurunkan kecepatan motornya. Mengendarai motor dengan santai. Dia tidak mau membuat Maryam ketakutan.


Sementara itu kamar hotel yang tadi jadi tempat Maryam disekap. Herino masuk dengan wajah yang marah besar. Saat dia sampai dan mendapati semua pengawal yang berjaga-jaga di depan pintu kamar telah pingsan. Melihat Fira yang sudah menunduk diam. Takut menatap Herino.



"Siapa yang melakukan ini?" tanya Herino masih pelan.



"Aku... aku... tidak tahu... tu.. tuan." jawab Fira terbata-bata. Kaki Fira sudah bergetar.



"DASAR TIDAK BERGUNA!! PLAK!" Herino yang sudah tidak bisa menahan emosi langsung menampar Fira hingga tersungkur di lantai.



Fira merasa pusing setelah mendapatkan tamparan keras dari Herino. Fira mencoba berdiri tapi sebuah sepatu sudah mendarat di wajahnya. "Buk bak buk buak!" suara orang yang sedang dipukuli dari dalam kamar itu.



Herino keluar dari kamar itu. Dia melakukan panggilan telepon.



"Cepat datang ke kantorku punya tugas untukmu." kata Herino.


Sedangkan Anjas dan Maryam sudah sampai di apartemen. Mereka langsung membersihkan diri dan kembali ke ruang TV.


"Siapa mereka Mar? Kenapa mereka menculik kau?" tanya Anjas. Ingin mengetahui semua masalah Maryam.


Karena saat ini dia sudah terlibat. Dia harus tahu dengan siapa dia berurusan sekarang. Juga ingin melepaskan Maryam dari cengkraman mereka.


"Orang yang membawa aku ke Jakarta adalah Fira. Dia orang satu kampung dengan aku. Dia menawarkan kerja yang gajinya bisa dibilang besar. Jelas aku tertarik dan ikut dengan dia." jelas Maryam.


"Tapi saat sampai di Jakarta. Aku langsung didandani dan disuruh memakai gaun hitam yang pernah mas lihat. Waktu aku sempat mendengar percakapan Fira dengan seseorang di telepon bahwa dia sudah menyiapkan aku sebagai teman bermain tuan Herino dari keluarga Ajisaka. Seketika aku tahu aku akan dibawa ke mana. Aku akan Fira jual ke pria hidung belang. Maka dari itu saat aku mendapat kesempatan kabur. Aku langsung kabur dan setelah itu bertemu mas." lanjut Maryam. Wajahnya murung dan sedih. Karena dia sudah melibatkan Anjas sekarang.


"Jadi mereka dari keluarga Ajisaka?" tanya Anjas meyakinkan. Maryam hanya mengangguk.


Melihat Maryam yang masih sedih. Anjas pun memeluk Maryam. Berusaha menenangkan diri Maryam.


"Keluarga Ajisaka kalian sudah salah mencari masalah dengan aku." seru geram Anjas dalam hati.


Dia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk tidak melakukan sesuatu kepada keluarga mafia itu. Dia sudah membulatkan tekad akan meruntuhkan keluarga Ajisaka sampai akarnya dengan tangannya sendiri.


Sementara itu. Di sebuah Ruangan lantai 15 di sebuah gedung berlantai 30. Herino sedang memperhatikan sebuah video rekaman CCTV yang merekam area koridor depan kamar hotel. Hotel di mana tempat Maryam disekap. Video itu hanya berdurasi sekitar 5 menit.



Walaupun tidak terlalu jelas. Wajah orang yang menghajar dua puluh orang bodyguard sendirian di depan pintu kamar masih bisa dilihat.



Sekarang Herino sedang bersama seorang hacker terbaik di Indonesia Bernama Galih Putra tapi biasa disebut 'Si Gagak'. Orang itu sudah berkecimpung di dunia hacker sudah hampir 8 tahun. Tidak pernah tertangkap.



Galih juga sedang mencari identitas orang yang ada dalam rekaman CCTV tersebut. Cukup dengan sepuluh menit Galih sudah selesai menemukan identitas Anjas.



Segera Galih menyerahkan hasil yang dia cari. Yang dia serahkan adalah file yang dia copy dari data base Capil Jakarta. Tanpa diketahui oleh pihak Capil itu sendiri.



Melihat file tersebut Herino langsung menyuruh tangan kanannya untuk membereskan orang yang ada dalam file.



"Dia harus tahu akibatnya jika berurusan dengan keluarga Ajisaka. Buat keluarganya juga mendapatkan imbasnya." ujar Herino memberikan map file kepada Tangan kanannya yang bernama Jilo.



Dengan segera dia permisi pergi. Keluar dari ruang kerja Herino. Jilo melakukan panggilan telepon.



"Tanjung kumpulan semua anggota geng mu. Ada tugas untuk kalian." kata Jilo sambil masuk ke dalam lift.




"Apa siapa yang melakukan itu? Dia akan aku urus. Baiklah kau sembuhkan dulu lukamu. Biar tugas ini aku serahkan pada Marvin dan gengnya." balas Jilo menutup telepon.



"Dasar tidak berguna." gumam Jilo kecewa.



Lalu dia menelepon Marvin. Hal yang sama dia katakan pada Marvin. Langsung disanggupi oleh Marvin.



"Baiklah kau dan geng pergi ke alamat yang aku kirim." Jilo menutup telepon dan mengirim pesan WA ke Marvin.



Sekarang dia sudah ada di dalam mobilnya. Mobil merek Mustang berwarna hitam. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan gedung perkantoran. Menuju ke rumah Anjas yang tertera dalam file.


Kembali lagi ke Anjas. Dia sedang menghubungi Julia agar menyuruh Justin dan semua anggota geng The FALCON untuk segera pergi ke rumahnya. Anjas merasakan sebuah firasat buruk.


"Julia. Katakan pada Justin kerahkan semua anggota geng untuk pergi ke rumahku. Akan aku kirim alamatnya. Jaga keluargaku sampai aku tiba." kata Anjas tegas.


"Baik ketua." jawab Julia. Menutup telepon.


"Mas aku khawatir kau akan terluka nanti. Mereka memiliki bawahan yang banyak. Juga menggunakan senjata." Maryam menghampiri Anjas saat selesai menelpon. Memeluk dari belakang.


Anjas berbalik masih dalam pelukan. Dia membalas pelukan itu. Mencium kening dan juga bibir Maryam.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan terluka. Aku janji." ucap Anjas lembut. Maryam hanya tersenyum mendengar itu.


Sesaat kemudian mereka sudah memulai pergumulan yang panas lagi. Anjas sudah membawa Maryam masuk ke kamar. Lalu terjadilah pertempuran nikmat antara Anjas dan Maryam. Mereka seakan melupakan dunia dan terus berpacu dalam melodi cinta.



Sementara itu geng Revon pun tiba di depan rumah Anjas. Tidak lama kemudian Jilo juga tiba dan menghampiri Marvin.



"Yakin ini tempatnya? Kumuh banget rumahnya. Orang miskin kayak dia." heran Marvin.



"Dia sudah membawa wanita yang sudah dibayar oleh bos. Jadi kita harus mengambilnya kembali dan menghabisi orang itu dan keluarganya." tanggap Jilo.



"Cepat selesaikan. Seret semua orang yang ada di dalam rumah." perintah Jilo.



"Oke bos. Ayo semuanya kita hancurkan rumah ini!" seru Marvin. "Yaaaahh!!!" jawab anak buahnya serentak.



Tapi baru saja mereka ingin melangkah masuk. Sebuah mobil merek Mitsubishi Lancer berhenti di dekat mereka. Lalu disusul dua mobil merek Audi dan 10 mobil Van. Ya Justin dan Julia telah tiba tepat waktu. Juga ada Jordan dan Dion yang datang. Mereka langsung ditelepon oleh Justin untuk membantu gengnya untuk menjaga rumah Anjas.



"Ternyata ini yang dimaksud ketua." Justin keluar dari mobil. Diikuti oleh Julia dan semua orang yang baru saja tiba.



"Justin! Apa urusannya kau disini?!" seru Marvin melihat musuhnya datang.



"Hahahaha... kau pura-pura bodoh atau apa sih? Tentunya untuk melindungi keluarga dari ketua baru The FALCON! Berarti ini juga urusan kami." jawab Justin menatap tajam.



"Oh jadi dia yang namanya Anjas itu? Baiklah aku mengerti sekarang. Anak-anak! Habisi mereka!" perintah Marvin yang tanpa ba-bi-bu menyerang geng The FALCON.



"Maju semua! Lindungi rumah ketua!" seru Justin menyerang.



"Hahaha kami juga ikut!" kata Jordan dan Dion juga maju menyerang.



Maka terjadilah kekacauan itu. Membuat para warga takut untuk keluar rumah.