
Anjas hanya terdiam saat membaca keterangan tentang si tukang bakso. Dia tidak menyangka bahwa orang itu adalah Polisi yang menyamar. Memang banyak yang mengatakan bahwa beberapa Polisi Intel sering menyamar menjadi tukang bakso. Tapi baru kali ini Anjas melihatnya.
Mang Romi yang merasa diperhatikan pun menengok. Anjas pun hanya memalingkan wajahnya.
Tidak lama bakso pun disajikan. Mereka makan dengan lahap. Memang kalau makan bersama itu ada kesan sendiri.
Setelah makan Anjas. Ingin membayar dia mengeluarkan uang seratus ribu. Lalu memberikan kepada Mang Romi.
"Ini Mang Romi. Ambil saja kembaliannya." kata Anjas.
"Terimakasih mas." saut Mang Romi.
"Anjas, di tempat kerja kamu masih membutuhkan orang? Aku baru saja dipecat. Jadi sedang mencari pekerjaan." Haris membuka percakapan.
"Aduh maaf kak Haris. Aku juga sudah tidak kerja di proyek itu. Aku juga baru saja dipecat dari sana. Nanti saja deh kalau ada lowongan aku kasih tau." jawab Anjas yang terlihat lesu.
"Kok bisa? Lalu tadi kamu mentraktir kita makan bakso uang dari mana?" tanya pak Junet penasaran.
"Nah setelah aku dipecat, aku iseng ikut undian berhadiah. Eh cuma percobaan pertama aku langsung dapat hadiahnya. Uang sebesar 500 juta pak." jelas Anjas.
"Wah beruntung sekali kamu Jas. Terus hasilnya kau pakai buat apa?" lanjut pak Junet terkejut.
"Yah aku pakai untuk biaya operasi ayahku lah. Juga melunasi semua biaya lainnya." jawab Anjas mantap.
"Jas bisa kamu kasih tau tidak undiannya di mana. Aku mau juga ikut." kata Haris.
"Ya elah ini orang kalau itu juga kita juga mau." timpal Nanang.
"Siapa tahu beruntung kayak Anjas sekali coba." balas Haris.
"Aku juga tidak tahu kak. Itu undian setahun sekali katanya. Orang yang mengadakan undian juga sering pindah tempat." elak Anjas. Dia takut mereka terus mendesaknya untuk ikut undian.
"Sayang banget yah." Haris sedikit murung.
"Ya udah tidak usah dipikirkan. Ayo Haris sudah waktunya kita keliling." Ajak pak Galang.
Mereka berdua pun pergi untuk keliling lingkungan. Saat ini Anjas sedang memperhatikan Mang Romi yang seperti berbisik-bisik ke sesuatu yang ada di balik bajunya. Terlihat ada benda seperti headphone di telinganya.
Karena penasaran Anjas mengajak Mang Romi bicara. Namun tidak mengungkit penyamarannya. Dari pembicaraan mereka Anjas tahu bahwa Mang Romi berasal dari Bandung. Tidak lupa Anjas meminta sistem untuk mendeteksi kebohongan. Biar dia tahu Mang Romi bicara benar atau tidak. Walaupun berbohong dia tahu itu untuk tugasnya. Untungnya Mang Romi menjawab semua pertanyaan Anjas dengan jujur. Walaupun tidak lengkap.
Baru saja mereka mengobrol selama 10 menit. Terlihat Haris yang berlari menghampiri pos kamling. Dengan nafasnya yang tersengal-sengal dia ingin memberitahukan sesuatu.
"Gawat... gawat... tolong pak... itu.. hah..itu... ada..." Haris menjadi gagap.
"Apa? Ada maling? Mana si Galang?" sambut pak Junet.
"Iya pak. Ada maling. Tapi mereka ada banyak pak. Sekitar 8-9 orang. Pak Galang sedang mantau. Mereka ada di rumah Juragan Burhan. Si juragan buah Naga." jawab Haris.
"Itu maling atau perampok banyak amat. Nang hubungi bapakmu bilang ada perampokan di rumah Juragan Burhan. Suruh panggil polisi. Yang lain ikut aku kita lihat kondisi di sana." perintah pak Junet yang panik.
Semua orang yang ada di pos kamling pun pergi meninggalkan pos. Kecuali Mang Romi. Saat setelah semua orang pergi dia pun berbicara pada alat komunikasi yang ada di balik bajunya.
"03 kepada 01 masuk." kata Mang Romi.
"01 di markas menerima. Ada apa? " tanya orang di seberang.
"Target telah beraksi. Butuh bantuan sekarang. Saya sudah kirim lokasi." jawab Mang Romi dan langsung mengakhiri komunikasi.
Mang Romi pun bergegas mengikuti para peronda malam tadi. Dia harus memastikan target tidak melarikan diri.
Keadaan rumah itu saat ini sedang gaduh. Ada sembilan orang bertopeng sedang membongkar setiap ruangan di rumah Juragan Burhan. Mereka adalah perampok rumah yang terkenal sadis. Nama kelompok itu adalah perampok "Cakar Hitam". Mereka sering berpindah tempat dari satu negara ke negara lain. Juga menjadi buronan Polisi Internasional khususnya Asia.
"Hahahaha banyak sekali barang berharga seperti emas batangan dan uang di rumah ini." seru seorang pria setengah baya berambut pirang panjang. Dia baru saja keluar dari ruang kerja milik pak Burhan. Yang memang menjadi tempat penyimpanan harta juga.
"Iya... bos benar sekali. Kita akan kaya dan bisa pergi keluar negeri lagi deh." sahut seorang pemuda. Terdengar dari suaranya masih seperti perjaka Ting Ting.
"Hanya mereka saja di rumah ini?" tanya si gondrong.
"Iya bos. Hanya mereka bertiga. Suami istri dan anak mereka." jawab pria lain yang baru saja selesai mengikatkan tali pada tiga orang. Yang adalah pak Burhan, istri dan anak perempuannya yang masih SMA kelas dua.
Si gondrong menghampiri mereka. Dia melirik mereka satu persatu. Melihat anak perempuan yang terlihat lumayan cantik dia pun menyeringai.
"Jangan ada yang macam macam. Apalagi teriak. Jika kalian tidak ada yang mati." ancam si gondrong.
"Charles semua barang berharga sudah diangkut ke mobil. Kita bisa pergi kapan saja." kata pria yang lebih tinggi dari si gondrong yang dipanggil Charles itu.
"Jangan terlalu terburu buru Davis. Kita nikmati dulu gadis itu baru kita bunuh mereka biar tidak ada jejak. Mereka juga mendengar namaku tadi." kata Charles pada rekannya yang mungkin sederajat dengannya.
"Baiklah kalau begitu. Bawa dia." kata Davis.
Dua orang langsung menyeret anaknya pak Burhan. Pak Burhan dan istrinya hanya bisa menjerit dalam tidak mau anaknya diperkosa oleh para perampok. Namun mereka hanya bisa melihat anak mereka dibawa ke sebuah kamar.
Walaupun teriak suara mereka tidak akan terdengar. Karena rumah itu terpisah beberapa ratus meter dari rumah warga lainnya.
Di luar rumah. Anjas dan para penjaga malam pun mendengar ada suara jeritan. Mereka tahu bahwa pak Burhan dan keluarga sudah ditawan oleh para perampok.
"Kalian tunggu disini yah aku akan masuk." kata Anjas dengan berani melompati pagar rumah.
Melihat keberanian Anjas pak Galang dan Pak Junet saling pandang. Mereka merasa Anjas terlalu nekat.
Anjas secara diam diam masuk ke dalam rumah tanpa seorang pun tahu. Dia melumpuhkan dua orang pria di pintu depan yang menjaga mobil Van. Dengan kemampuannya sekarang Anjas dengan mudah melakukan itu. Lalu masuk melalui dapur. Saat akan masuk ke dapur Anjas melihat ada seorang bertopeng sedang memakan cemilan dari sebuah toples.
Anjas langsung melumpuhkan orang itu juga. Tanpa disadari bahwa tindakannya menimbulkan suara.
"Siapa itu?! Olan?" seru seorang bertopeng lain yang ada di dekat dapur. Orang itu perlahan menghampiri tempat temannya.