
"Hei nak jangan menghalangi jalan. Aku mau lewat!" suara pria paruh baya terdengar di belakang Anjas.
Anjas pun sadar. Dia menoleh dan mendapati dua orang sedang berdiri di sana. Seorang pria paruh baya dan wanita paruh baya juga yang mungkin istri si pria.
"Maaf pak tadi saya melamun. Silahkan masuk." Anjas menjadi canggung. Lalu membiarkan dua orang itu masuk dahulu.
"Dasar orang miskin." ucap si wanita di sebelah si pria saat memasuki gedung.
Tapi Anjas masih bisa mendengar itu. Ekspresi wajah Anjas seketika berubah. Menjadi lebih dingin dari biasanya.
"Sistem scan mereka." perintah Anjas pada sistem.
[ Melakukan scanning...]
[Scanning selesai.]
[Nama: Antonio Larsen.
Usia: 50 tahun.
Pekerjaan: Pengusaha Mebel.
Keterangan Lain: Pengusaha yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan hasil. Dia tidak segan untuk menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Juga memiliki hubungan dengan keluarga mafia. Belum memiliki istri.]
[Nama: Karina Wijaya.
Usia: 43 tahun.
Pekerjaan: Pemilik Butik Gaun Pengantin.
Keterangan Lain: Memiliki hubungan asmara dengan Antonio Larsen. Anak ketiga dari keluarga Wijaya. Mantan model wanita majalah kecantikan. Sudah memiliki suami yang bernama Ferdinan Sugandi.]
"Wah pasangan selingkuhan yah." Anjas mendapatkan ide untuk mengerjai mereka.
Anjas mengambil hp nya lalu menjepret beberapa foto dua orang tersebut. Dia akan menggunakan foto-foto tersebut nantinya.
Anjasmara juga memasuki gedung itu. Melihat-lihat keadaan gedung sambil menunggu Beno. Lantai 2 gedung itu ternyata masih kosong. Saat Anjas masih berkeliling gedung tepatnya di lantai 2. Ada yang menghampirinya.
"Permisi. Apakah anda tertarik untuk menyewa tempat di lantai dua ini?" sapa dan tanya orang tersebut.
Anjas sekilas memperhatikan orang itu. Seorang pria yang mungkin berusia 30-an.
"Ah saya Tyo Aderson pemilik gedung ini." lanjut pria itu memperkenalkan diri. Mengulurkan tangannya.
"Saya Anjas Rahadi. Awalnya saya ingin menyewa tempat ini untuk membuka kafe nanti. Tapi saya berubah pikiran." jawab Anjas menanggapi uluran tangan Tyo.
"Apa yang anda maksud? Anda kurang tertarik dengan tempat ini? Jika anda memang ingin membuka kafe. Lokasi ini sangatlah cocok untuk itu. Apalagi banyak kantor di lantai 4 dan 5 gedung ini. Akan banyak pelanggan yang akan datang nanti." Tyo mencoba untuk membujuk Anjas. Dengan banyaknya fasilitas yang pasti didapatkan oleh penyewa di gedung itu. Juga keuntungannya yang lain.
"Bukan itu maksudku. Ah Aku ingin tahu. Berapa biaya sewanya per tahun?" timpal Anjas.
"Bisa 20 hingga 30 juta per tahun. Itu tergantung pada berapa luas tempat yang diinginkan. Jika ingin menyewa seluruh lantai bisa mencapai 50 juta rupiah per tahun. Anda tertarik?" jawab Tyo.
"Jika saya ingin membeli gedung ini. Berapa yang kau berikan?" tanya Anjas lagi to the poin.
"Apa membeli gedung?" Tyo terkejut mendengar pertanyaan Anjas.
Sebuah tawaran yang menggiurkan bagi Tyo sebenarnya. Tapi gedung itu adalah milik Tyo dan istrinya. Dua nama yang menjadi pemilik sah. Jadi tidak bisa dijual oleh satu pihak saja tanpa kesepakatan dari pihak kedua.
"Maaf tapi aku masih belum bisa menjual gedung ini tanpa persetujuan istri saya." jawab Tyo.
"Baiklah. Saya tidak akan memaksamu. Tapi kesempatan ini hanya berlaku selama tiga hari. Anda bisa berpikir lagi. Juga harga yang aku tawarkan adalah 200 Miliar. Jika kurang kau bisa menghubungi saya. Ini kartu nama saya." sistem sudah merancang sebuah kartu nama sementara dan ditaruh di saku celana Anjas. Semua itu sesuai dengan perintah Anjas.
Tyo mengambil kartu nama itu dan menyimpan di saku kemejanya. Penawaran jual beli yang sangat menggiurkan.
"Astaga Tyo! Aku mencari kau dari tadi. Aku kira kau ada di ruangan mu di lantai 1. Ternyata ada di sini." seruan seorang pria menyapa Tyo dari belakang.
Itu adalah Antonio dan juga Karina yang masih menggandeng tangan Antonio. Mereka sepertinya akrab dengan Tyo.
"Ah pak Anton anda sudah datang." Tyo mengulurkan tangannya menyambut Antonio. Sebenarnya itu hanya formalitas belaka. Yang sebenarnya adalah Tyo tidak suka Antonio datang ke tempatnya.
"Ah pak Anton. Harga sewa yang anda ajukan itu sangat jauh dari setengah harga yang seharusnya." jawab Tyo tenang. Dia berusaha menahan emosi.
Permasalahannya adalah Antonio ingin menyewa seluruh lantai 2 gedung itu. Tapi dengan harga sewa 15 juta saja per tahun. Tentu hal itu ditolak Tyo dan juga istrinya saat pertama kali mendengar tawaran Antonio.
"Jangan sampai aku hilang kesabaran Tyo. Kau tahu area gedung ini masuk dalam wilayah Keluarga Ajisaka. Aku bisa membuat kau menjadi miskin dengan sekali telpon." Antonio langsung mengancam Tyo.
"Sampai kapanpun aku tidak akan mengikuti kemauan kau Anton. Kau kira aku takut!" balas Tyo yang juga sudah emosi.
"Hahahaha berani juga kau! Kita lihat apa yang akan terjadi nanti." ucap Antonio. "Ayo sayang kita pergi dari sini." lanjut Antonio lalu pergi.
Melihat dan mendengar pertikaian Tyo dan Antonio. Anjas jadi penasaran dengan keluarga Ajisaka itu.
"Maaf pak Tyo. Bukan saya mau ikut campur. Tapi aku ingin tahu tentang keluarga Ajisaka. Siapa mereka? Aku baru saja mendengar nama keluarga itu." Anjas bertanya dengan senyum.
Tyo sebentar menenangkan diri. Lalu menjelaskan.
"Tidak banyak yang aku tahu. Mereka adalah keluarga dunia hitam. Keluarga mafia yang kejam. Pergerakan mereka sangat rahasia. Banyak bisnis ilegal yang mereka lakukan. Salah satunya Human Trafficking. Mereka juga menguasai wilayah selatan dan timur kota. Mereka juga yang mengendalikan geng yang menguasai dua wilayah tersebut." jelas Tyo.
"Begitu rupanya." Anjas mendapatkan ide lagi.
"Oke lah kalau begitu. Saya akan menunggu pertimbangan Anda pak Tyo. Permisi." Anjas pun pamit.
Turun ke lantai 1. Anjas yang baru saja keluar dari gedung. Bertemu dengan Beno yang baru saja tiba.
"Dari mana saja kau? Lama sampainya." keluh Anjas.
"Maaf bro. Kau tahu sendiri kan macet Jakarta. Kau sudah dari tadi?" balas Beno santai.
"Sudah setengah jam yang lalu. Aku sudah keliling gedung dua kali." timpal Anjas. Sebenarnya dia tidak kesal. Dia ingin Beno tepat waktu saja.
"Bagaimana bagus kan tempatnya?" tanya Beno. Mengganti percakapan.
"Aku suka tempat ini. Juga ada kantor di lantai 4-5. Akan ada banyak pelanggan yang akan datang. Oh iya aku juga sudah bertemu pak Tyo." jawab Anjas.
"Oh ya. Baguslah. Apa kalian sudah sepakat?" tanya Beno lagi.
"Belum. Aku akan datang lagi lusa untuk kesepakatan bersama." jawab Anjas. Dia sudah berjalan menuju tempat parkir motor.
"Okelah kalau begitu." Beno hanya mengikuti Anjas.
"Sekarang kau mau ke mana?" tanya Beno saat di tempat parkir.
"Aku mau ke toko tempat kerjaku yang dulu. Ada urusan penting soalnya." Anjas masih mengingat janjinya pada Dendi. Untuk melatih Dendi beladiri.
Mereka pun berpisah. Beno yang ingin menjemput ibunya di pasar. Sementara Anjas pergi ke toko pak Umar.
Di sisi Antonio. Dia merasa kesal dengan Tyo langsung menghubungi Salah satu orang dari keluarga Ajisaka. Yaitu anak bungsu dari tiga bersaudara keluarga Ajisaka.
"Halo. Bos Herino." sapa Antonio sedikit gugup.
"Bagaimana kau dapat tempat itu?" tanya Herino di seberang telepon. Suara dingin terdengar.
"Tyo masih tidak dapat dipaksa secara halus." jawab Antonio.
"Kalau begitu paksa secara kasar. Akan aku kirim orang besok." tanggap Herino.