
Setelah 30 menit. Anjas terlihat sudah sangat lemas dan berkeringat. Dia lalu tertidur tanpa membersihkan diri. Hingga jam 7 malam.
Anjas terbangun dari tidurnya saat ada telpon masuk. Dengan malas dia mengangkat telepon itu yang ternyata dari Beno.
"Halo..." sapa Anjas.
"Halo bro. Kau di mana sekarang? Aku sedang di depan Toserba pak Umar. Kau tidak lagi kerja di sini?" tanya Beno.
"Iya aku sudah tidak kerja di sana lagi. Kenapa kau telepon?" jawab Anjas. Lalu balik bertanya.
"Aku mau kasih kabar. Aku dan Rina sudah keluar dari tempat kerja kami. Sekarang aku dan Rina ingin ketemu kau untuk membahas lebih lanjut tentang kafe. Rina ingin bekerja sama dengan kita." jelas Beno.
"Oh begitu. Oke kita ketemu di kafe biasa. Aku akan segera ke sana." ujar Anjas yang langsung berdiri.
Setelah menutup telepon Anjas langsung masuk ke kamar mandi. Dia ingin mandi dan ganti pakaian. Di apartemen Anjas masih sempat memasukkan beberapa pakaian ke dalam cincin giok penyimpanan. Agar kalau dibutuhkan dia bisa ganti pakaian tanpa ribet meminjam atau membeli baru.
Setelah mandi dan ganti pakaian. Anjas keluar dari kamar. Dia mendapati ibunya, Anin dan Juli sedang berbincang. Biasanya perempuan kalau kumpul membicarakan gosip lah. Juga beberapa anggota geng The FALCON yang sedang bermain biliar di sana. Ada juga Justin yang sedang menelepon.
"Kau mau ke mana nak?" tanya ibunya saat melihat Anjas yang sudah rapi.
"Ingin keluar sebentar Bu. Mau ketemu teman bisnisku si Beno." jawab Anjas menghampiri mereka.
"Kau akan pulang ke markas?" kali ini Julia yang bertanya.
"Mungkin aku akan menginap di hotel kalau kemalaman." jawab Anjas lagi. "Ah iya. Ini untuk semua anggota geng. Belikan mereka makanan. Mereka pasti lapar karena habis berkelahi." sambung Anjas memberikan uang sebesar 1 juta rupiah pada Julia.
Mungkin karena agak kuat dia berbicara. Sehingga terdengar oleh telinga anggota geng The FALCON.
"Wah kita ditraktir makan oleh ketua!" seru anggota geng yang mendengar percakapan Anjas dan Julia.
"Yeeesss! Kita makan enak hari ini." sambut anggota lain. Sehingga semua anggota geng pun seru gembira. Seperti anak kecil dikasih permen.
Justin hanya tersenyum melihat anggota geng The FALCON. Dia baru sadar bahwa dia tidak pernah melakukan hal itu pada mereka saat masih jadi ketua.
"Geng ini akan berubah." gumam Justin.
Setelah itu Anjas pergi meninggalkan markas. Dia tidak lupa mengingatkan Justin untuk menelponnya jika ada sesuatu.
Sementara itu di tempat yang jauh dari negara Indonesia. Tepatnya di Macau. Yun sedang gusar. Dia baru mendapatkan kabar bahwa pembunuh bayaran yang dia kirim ditemukan tewas tanpa diketahui siapa yang membunuhnya.
"Pasti Tuan Wong akan marah jika mendengar kata gagal. Aku harus segera melakukan sesuatu. Tapi siapa sebenarnya orang itu? Dalam data yang diperoleh dia hanya seorang pekerja lepas dan miskin." Yun menjadi penasaran dengan identitas Anjas.
"Mungkin dia hanya memiliki kemampuan beladiri yang melebihi Ren si Raja Belati itu. Baiklah aku akan mengirimkan orang yang lebih hebat dari dia." gumam Yun merasa itu tidak penting.
Segera dia menghubungi ketua Organisasi Pembunuh Bayaran yang terkenal di China yang bernama Black Mamba. Ren adalah salah satu anggota terbaik Black Mamba ranking ke 10.
"Kong... Orang yang kau kirim telah tewas. Aku ingin kau mengirim orang yang lebih kuat dan hebat lagi dengan target yang sama." kata Yun sedikit mengintimidasi.
Tapi si ketua Black Mamba hanya tersenyum. Dia juga sudah mengetahui bahwa anggotanya sudah tewas. Karena setiap anggota sudah dipasang pelacak di leher mereka. Jika orang itu mati maka pelacak itu akan mati juga. Hal itu hanya diketahui oleh ketua Black Mamba saja.
"Oke. Aku akan mengirim si nomor 6. Si Cantik Beracun. Dia bisa diandalkan." jawab Kong.
"Aku harap kali ini berhasil. Atau kalian akan aku hancurkan." Yun langsung menutup telepon. Dengan mata tajam menatap kaca jendela.
"Halo Yana. Kau dapat tugas baru. Kali ini di negaramu sendiri, Indonesia. Akan aku kirim uang dan data target padamu besok pagi. Kau sekarang bersiaplah untuk pulang kampung." perintah Kong tegas.
"Baik bos. Saya laksanakan." jawab Yana.
Kembali ke Anjas yang sedang bertemu dengan Beno dan Rina di sebuah kafe. Tepatnya di jalan Pegangsaan.
Mereka membicarakan soal Rina yang ingin menjadi salah satu orang yang ikut memberikan bantuan. Rina sebenarnya adalah anak seorang direktur di salah satu perusahaan multimedia di Indonesia. Tapi Rina ingin mandiri dan berusaha dengan tangannya sendiri tanpa bantuan ayahnya. Makanya dia mencari kerja sampingan sebagai kegiatannya selain kuliah.
"Jadi kau juga akan menambah modal? Sebenarnya soal itu aku tidak aku tidak punya masalah. Apa kau bisa membantu mencari supplier bahan kopi yang bagus dan alat yang diperlukan untuk kafe?" tanya Anjas serius.
"Ah soal itu aku punya teman yang sering membeli kopi di luar kota. Soal alat aku juga tahu tempat yang menjual alat berkualitas tinggi." jawab Rina santai.
Otak bisnis Rina sedang bekerja sekarang. Tantu karena sekarang dia sedang kuliah di jurusan bisnis sekarang. Jadi sebelum dia bertemu dengan Anjas. Dia sudah mencari informasi terkait bisnis kafe.
"Kalau begitu kau yang akan mengurus semua itu. Aku harap kerjasama ini bisa sukses nanti." Anjas mengulurkan tangannya.
Tanpa banyak bicara Rina membalas menjabat tangan Anjas. Lama mereka saling menjabat tangan. Hal itu membuat Rina sedikit merah mukanya.
Sadar dengan hal itu Anjas pun melepaskan tangannya. Lalu mereka melanjutkan berbincang tentang beberapa hal. Seperti keluarga, kegiatan masing-masing dan rencana kedepannya selain urusan kafe.
Setelah urusan pembahasan tentang kafe selesai. Anjas pun pulang ke apartemen. Dia berniat makan malam dan beristirahat dengan Maryam.
Sesampainya di apartemen miliknya. Dia disambut oleh Maryam. Yang saat itu menggunakan daster yang cukup pendek. Berwarna putih polos.
"Mas mau makan atau mandi dulu.?..." tawar Maryam. "atau mau makan aku dulu??" sambung Maryam.
"Hehehe kau sudah belajar menggodaku rupanya. Tapi, aku mau makan dulu sayang. Aku sudah mandi di markas geng ku tadi." jawab Anjas merangkul Maryam.
Mereka pun makan malam bersama. Kali ini mereka saling suap menyuapi. Setelah makan mereka nonton TV hingga larut malam. Hingga Maryam tertidur di pundak Anjas.
Anjas sudah mengantuk juga. Dia memindahkan Maryam ke kamarnya. Lalu tidur bersama. Tidak ada pertarungan kenikmatan malam itu. Anjas hanya ingin memeluk Maryam saja saat tidur.
Paginya Anjas tidak melihat Maryam di sebelahnya. Dia bangun dan melakukan aktifitas paginya. Setelah itu dia keluar dari kamar ingin sarapan pagi dengan Maryam.
Tapi langkah kaki Anjas terhenti saat melihat Maryam ada di depan TV. Maryam terlihat menangis.
Di Tv sedang menayangkan berita tentang penangkapan seorang pelaku yang menyebabkan kebakaran besar di sebuah daerah. Daerah itu adalah kampung Maryam dan orang yang jadi tersangka adalah seorang pria tua mungkin berusia 60-an tahun.
"Kau kenapa Maryam? " tanya Anjas. Dia menghampiri Maryam ingin menenangkan yang menangis.
"Bapakku dituduh sebagai penyebab utama kebakaran di kampung aku mas. Sekarang dia sedang ditahan di kantor polisi." jawab Maryam.