CHEL

CHEL
Bab 90



Keesokan harinya tepat pukul setengah lima pagi. Alin yang sudah bangun ingin beribadah. Terkejut melihat ayahnya sudah berdiri di balkon.


"Ayah kau sudah bisa berdiri?!" seru Alin sambil menghampiri Pak Zainal.


"Bukan hanya bisa berdiri. Semua tulang di tubuh ayah semua diperkuat kembali. Terasa seperti muda kembali. Di mana nak Anjas? Aku ingin berterima dan minta maaf atas sikapku kemarin. Juga ingin meminta dia untuk mengobati aku." ujar Pak Zainal bersemangat lagi.


Sekian lama Alin melihat ayahnya murung di kursi roda. Sekarang dia bisa melihat senyuman ayahnya yang begitu hangat.


"Dia berada di kamar khusus tamu. Tapi kemungkinan dia sedang tidur. Nanti saja saat dia sudah bangun. Aku mau ibadah dulu."


Pak Zainal juga tidak mau mengganggu istirahat Anjas. Jadi dia hanya menunggu dengan ikut ibadah juga.


Jam 7 pagi semua murid dikumpulkan oleh para guru di gedung pertemuan. Ada sembilan guru di sana. Dua di antaranya adalah Guru Alin, Guru Nur Wulan dan Guru Rizal. Selain itu ada Guru Ikbal, Guru Kodir, Guru Hilman, Guru Joko, Guru Larmila, dan Guru Gatot.


Mereka semua adalah para ahli beladiri tenaga dalam. Yang memiliki ilmu dasar Teknik Macan Putih. Tapi setiap orang akan memiliki aura yang berbeda saat penerapan.


Seperti Guru Rizal, dia memiliki aura berwarna biru pekat seperti warna air laut yang dalam. Guru Nur Wulan memiliki aura berwarna hijau daun. Guru Ikbal dan Kodir memiliki aura berwarna biru muda. Guru Hilman memiliki aura berwarna jingga tua. Guru Joko dan Larmila memiliki aura berwarna ungu cerah dan Guru Gatot memiliki aura keemasan. Hanya Alin yang lurus memiliki aura berwarna putih keperakan. Ciri asli Teknik Macan Putih.


Alin sekarang berdiri di tengah panggung kecil yang ada di ruang aula besar gedung pertemuan. Di sisi kanan ada Nur Wulan dan di sisi kiri ada guru Gatot.


Ruang itu sudah penuh dengan para murid. Mulai dari tingkat terendah sampai yang sudah memiliki aura.


"Perhatian semuanya!" seru Guru Gatot. Suara yang lantang dan bertenaga.


Seketika semua murid yang berjumlah 135 orang itu terdiam. Mereka diajarkan untuk mentaati perintah gurunya.


Setelah tenang Alin mulai berbicara.


"Terima kasih guru Gatot."


"Hari ini aku ingin menyampaikan bahwa kita memiliki guru baru. Dia mungkin lebih tua dua atau tiga tahun dari kalian. Mungkin juga seusia kalian. Tapi dia sudah diakui oleh guru besar. Nanti dia akan membantu Guru Nur Wulan dan Guru Rizal dalam pengajaran. Guru Anjas silahkan masuk." ujar Alin yang disambut baik oleh beberapa guru seperti Guru Rizal dan Nur Wulan. Juga Guru Gatot dan Hilman.


Tidak lama menunggu Anjas pun masuk ke ruangan aula itu. Lalu berdiri tepat di sebelah Alin.


Beberapa murid terkejut karena pernah melihat Anjas. Ada yang memandang remeh karena terlihat muda. Juga ada yang kagum karena melihat ada guru muda dan tampan.


"Jadi... Jadi... Dia guru... Guru baru kita?" ujar Marwa terkejut.


"Sial aku sudah bersikap tidak sopan sebelumnya padanya." sambung Ujang.


Sementara Jefri dan Asep hanya bisa melotot. Mereka saling lirik tanda bertanya. Lalu saling geleng kepala kemudian tanda tidak tau.


"Hai semua saya Anjas Rahadi dari Jakarta. Senang bertemu dengan kalian." sapa Anjas.


Satu jam sebelum pengumuman Anjas menjadi Guru.


"Selamat pagi nak Anjas. Bagaimana istirahatnya? Nak Anjas nyaman berada di padepokan ini?" sapa Pak Zainal saat menghampiri Anjas yang baru keluar dari kamar.


"Selamat pagi pak. Aku tidur nyenyak. Suasana padepokan sangat nyama. Apalagi tinggal lama di sini." balas Anjas menyapa.


"Bagaimana dengan punggungnya pak?" tanya Anjas memastikan.


"Saya sangat berterima kasih kepada nak Anjas. Saya sudah hampir sepuluh tahun terakhir ini duduk di kursi roda. Sekarang saya bisa berjalan lagi berkat pil dan ramuan yang nak Anjas kasih." ungkapan tulus keluar dari mulut Pak Zainal.


Mendengar itu Anjas juga senang. Kalau begitu aku bisa tenang.


"Nak Anjas. Saya bersedia diobati oleh nak Anjas. Asal dengan satu syarat. Nak mau menjadi guru di padepokan ini. Saya akan kasih kitab Macan Putih sebagai tanda bahwa kau diterima di padepokan." ujar Pak Zainal setelah mereka sedikit canggung.


Belum juga Anjas menjawab. Notifikasi sistem muncul.


[Misi Spesial terpicu. Misi 2⭐: Menyembuhkan kanker hati pendiri padepokan Macan Putih. Dengan memberikan Ramuan Pembersih Hati dan Jantung. Karena misi ini khusus anda diberikan bekal Skill Menyalin Teknik: Teknik Beladiri apapun bisa ditiru hanya dengan sekali lihat atau membaca buku teknik beladiri. Teknik yang ditiru akan menjadi permanen jika menyelesaikan misi. Durasi 4 hari, waktu telah diperpanjang karena ramuan Kesehatan. Hadiah: 4 Kotak platinum dan Teknik Macan Putih.]


Anjas terdiam sejenak. Bagaimana dia bisa membuat ramuan herbal Pembersih Hati dan Jantung kalau dia tidak memiliki skill meramu obat? Dia hanya membeli ramuan dan pil dari shop sistem selama ini. Lalu dia hanya mendapatkan skill copy paste jika diibaratkan komputer.


"Bagaimana nak Anjas? Kamu bersedia?" tanya Pak Zainal memastikan.


"Nak Anjas tidak perlu tinggal. Guru-guru di padepokan sering bepergian juga. Mereka akan kembali jika dibutuhkan. Begitu juga halnya pada nak Anjas. Akan mendapatkan dispensasi seperti itu." jawab Pak Zainal langsung mengatakan keuntungan bagi Anjas.


Anjas terdiam lagi. Bukan karena jawaban Pak Zainal. Tapi karena dia mendapatkan notifikasi sistem lagi.


[Misi baru terdeteksi. Mengumpulkan Sepuluh orang murid yang mau diajarkan teknik pedang Legendaris dari padepokan Macan Putih. Waktu 12 hari. Hadiah Exp +500, 50 juta Dolar, dan 3 kotak Emas.]


"Misi lagi? Baru saja aku mendapatkan misi. Tapi sudah mendapatkan misi lagi. Yah sudah lah hadiah yang bakal didapat juga menguntungkan." pikir Anjas.


"Baiklah aku terima. Tapi aku punya permintaan." ujar Anjas.


"Apa itu nak Anjas? Agar kita saling mengerti." sambut baik Pak Zainal.


"Selain aku akan bepergian lama. Aku juga ingin mengajarkan teknik beladiri lain di padepokan ini." ujar Anjas.


"Tidak bisa!" baru saja Pak Zainal ingin mengiyakan. Suara seorang pria berusia 58 tahun memotong pembicaraan mereka.


"Guru Gatot." sapa Alin. Gatot ada murid pertama Pak Zainal. Sekaligus senior Alin. Yang mana sangat menjaga kelestarian Teknik Beladiri Macan Putih. Dia akan menjadi orang pertama yang berdiri saat ada yang menantang padepokan Macan Putih.


"Tidak teknik beladiri lain yang diajarkan di padepokan ini selain Teknik Beladiri Macan Putih." bentak Guru Gatot pada Anjas.


Namun bentakan itu tidak membuat Anjas goyah. Dia hanya menatap datar Guru Gatot.


"Guru Gatot. Apa alasan kau berbicara seperti itu?" sela Pak Zainal. Heran dengan murid pertamanya itu.


"Maaf guru. Tapi jika kita tidak menghentikan tindakan itu. Padepokan Macan Putih akan punah. Tergantikan oleh beladiri lain. Aku sudah puluhan tahun menjaga teknik ini tetap ada semenjak guru sakit. Jadi aku tidak mau ada teknik lain yang diajarkan apalagi dia adalah orang luar." jawab Guru Gatot tegas.


"Tenang saja. Tidak perlu takut. Aku hanya mengajarkan teknik beladiri tambahan saja biar tidak kaku dengan Teknik Macan Putih yang menjadi teknik beladiri utama padepokan. Juga tidak akan mengajarkan kepada semua murid. Hanya yang mau saja." balas Anjas.


Dia tidak mau ada salah paham. Maka dari itu dia memberikan alasan yang logis biar situasi tidak menjadi rumit.


"Benar begitu?" tanya Guru Gatot memastikan lagi.


"Aku janji. Kau bisa pegang kata-kataku." jawab Anjas mantap.


Jadi pengumuman Anjas menjadi Guru pun dilakukan.



Sementara itu di Macau. Kediaman keluarga Yan. Yan Mei terus melakukan panggilan telepon pada anaknya Yan Fuzui. Tapi tidak diangkat sama sekali. Bahkan sudah tidak aktif lagi.



"Ke mana mereka berdua? Sampai sekarang belum ada kabar dari Indonesia. Apa mereka lupa dengan tugas dan tujuan mereka di sana dan hanya bersenang-senang? Ah tidak mungkin!" pikir Yan Mei. "Aku harus mengirim orang ke sana untuk memastikan." lanjut pikirnya.



"Fa Jiang! Cepat kau susul anak dan cucuku. Mereka pasti melupakan tugas mereka. Atau mungkin ada yang terjadi pada mereka. Cari tahu hal itu!" bentak Yan Mei pada pelayan yang ada berdiri dari tadi di belakangnya.



"Laksana Nyonya Yan." Fa Jiang pun pergi meninggalkan rumah kediaman keluarga Yan.


Sementara itu Anjas sedang membaca kitab Macan Putih yang diberikan oleh Pak Zainal di kamar. Dia harus menguasai setidaknya setengah dari isi kitab itu.


Tapi tidak dengan Anjas. Dia sudah memiliki kemampuan untuk mengcopy paste semua teknik beladiri dari melihat atau membaca buku teknik beladiri.


"Akhirnya aku bisa menguasai semua teknik dalam kitab Macan Putih ini."


[Bing! Kemampuan Menyalin Teknik telah aktif. Semua teknik beladiri yang disalin akan bersifat sementara salama misi.]


[Menyalin Teknik Legendaris Macan Putih. Sukses.]


Anjas tersenyum melihat notifikasi yang muncul.