
Dengan ini di tidak akan ragu untuk mendapatkan murid yang menjadi misi sampingannya. Dengan menguasai teknik beladiri Tenaga Dalam dari kitab Macan Putih. Anjas bisa merekrut murid dengan mudah.
Karena sudah merasa cukup. Anjas keluar kamar hendak pergi mengembalikan kitab Macan Putih pada Pak Zainal. Tapi baru saja keluar kamar. Dendi sudah menunggu di depan pintu kamar.
"Selamat siang kak Anjas. Eh maksudku Guru Anjas." sapa Dendi yang sudah terlihat sehat dan bugar.
"Kau sudah pulih kembali. Setelah makan siang kau temui aku di hutan sebelah barat. Kau harus memperkuat pondasi dan daya tahan. Aku tidak mau kamu kalah untuk pertarungan mendatang." kata Anjas sambil berjalan menuju rumah Pak Zainal.
"Baik guru. Aku akan bersiap." ucap Dendi mematuhi perintah. Berbalik arah kembali ke asrama.
Sesampainya di rumah Pak Zainal. Anjas mendapati Pak Zainal sedang duduk bersila di balkon. Jika orang awam melihat. Pak Zainal hanya sedang duduk biasa.
Tapi berbeda dengan orang yang melatih teknik beladiri tenaga dalam. Mereka akan merasakan sebuah energi kuat di sekitar Pak Zainal.
Anjas hanya diam menunggu. Tapi tidak menghilangkan hawa keberadaan sedikit pun.
10 menit kemudian. Pak Zainal pun membuka mata. Lalu menyapa Anjas. Dia sudah mengetahui keberadaan Anjas dari tadi.
"Ada apa nak Anjas?" tanya Pak Zainal dengan senyum.
"Maaf jika mengganggu latihan pak Zainal. Aku hanya ingin mengembalikan kitab Macan Putih pada bapak." jawab Anjas sopan.
"Aku rasa nak Anjas simpan saja dulu kitab itu. Walaupun aku percaya bahwa kau bisa mengobati kanker di tubuhku. Tapi jika takdir berkata lain. Aku tidak bisa menghindarinya. Aku juga merasa ada hal buruk jika terus menyimpan kitab itu. Jadi kau simpan saja." ujar Pak Zainal.
"Kalau begitu harus ada saksi mata. Agar aku tidak dituduh sebagai pencuri kitab Macan Putih nantinya." sambut Anjas baik tapi tegas.
"Kami bisa jadi saksi." ucap seseorang dari balik pintu. Itu adalah Alin yang sedang bersama Nur Wulan. Mereka sudah dari tadi mendengar percakapan Pak Zainal dan Anjas.
"Kalau begitu tidak ada lagi yang dikhawatirkan kan?" sambung pak Zainal.
"Baiklah kalau begitu." Anjas pun tidak keberatan untuk menyimpan kitab Macan Putih. Karena juga dia sudah menyimpan kitab itu di dalam cincin giok penyimpanan.
"Ayo kita makan siang dulu. Mereka sudah menyiapkannya di dalam." ajak Pak Zainal.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Makan siang bersama. Alin dan Nur Wulan sigap menyiapkan hidangan. Dengan tetap membawa adab makan dari keluarganya. Anjas makan dengan lahap dan tenang.
Setelah makan siang. Anjas pamit untuk melatih Dendi di hutan bagian barat. Mereka pun hanya bisa mengizinkan.
Anjas dan Dendi sudah menemukan tempat yang cocok untuk berlatih. Yaitu sebuah Curug yang Anjas tidak tahu namanya.
"Sekarang lepas bajumu. Sisakan celana panjang saja. Kita akan berlatih tarung di sini." ujar Anjas saat sampai di Curug.
"Baik Guru." jawab Dendi sambil memberi hormat.
Dendi melepaskan jaket dan kaos yang dia pakai. Hanya disisakan celana jeans yang bahannya agak lentur. Begitu juga dengan Anjas. Dia membuka kemeja putihnya. Menyisakan celana bahan kain berwarna coklat.
Terlihat semua otot tubuh yang terbentuk karena kerja keras Anjas. Ditambah dengan pembentukan ulang dari sistem. Berbeda dengan Anjas tubuh Dendi hanya sebatas terbentuk saja. Masih terlihat kurang kuat.
"Aku mau melihat daya serang dan daya tahan tubuhmu saat bertarung. Jadi kau harus menyerang aku sekuat tenaga. Aku akan menggunakan metode level. Setiap level aku akan menambah 5% kekuatan. Maka di level 1 aku akan menggunakan 15% kekuatan saja." jelas Anjas sebelum memulai latihan.
Dendi melakukan apa yang diintruksikan Anjas. Semua teknik beladiri Karate dan Muaythai Dendi gunakan untuk menyerang Anjas.
Tentu saja Anjas bisa mengetahui semua teknik itu. Maka dari dia menghindar dan menangkis semua serangan yang datang.
Tapi baru 15 menit latihan. Dendi sudah kelelahan. Sehingga Anjas mengizinkan untuk istirahat.
"Kau masih jauh dari kata layak untuk naik level. Rupanya kau harus mendapatkan latihan fisik tambahan." ujar Anjas mengatakan penilaian terhadap Dendi.
5 menit kemudian mereka memulai lagi berlatih. Kali ini Anjas yang menyerang lalu Dendi bertahan. Anjas hanya menyerang dengan satu teknik saja juga itu adalah teknik dasarnya.
Kali Dendi bisa lebih lama bertahan. Yaitu 25 menit. Walaupun ada beberapa lebam di bibir dan pipinya.
Sementara itu Beno dan Rina baru saja ingin pergi makan siang bersama di rumah Beno. Tapi terjadi kegaduhan di kafe.
"Brakk! Kopi apa ini?! Tidak enak sama sekali. Apakah kafe ini tidak menggunakan kopi asli?! Sungguh mengecewakan!" seorang pria yang mungkin seorang pelanggan berusia 30 tahun membentak pelayan kafe mereka. Pelayan kafe yang dibentak adalah Azahra atau mereka biasa panggil dengan nama Ara saja. Selain pria yang membentak ada dua orang lain di mejanya.
Selain itu ada beberapa orang pelanggan di beberapa meja. Mereka hanya diam saat ada kekacauan.
"Maaf pak. Apa ada yang bisa dibantu?" melihat Ara dibentak. Rina yang menjadi manajer kafe langsung menyela senyum terpaksa.
"Kau manajer kafe ini?!" tanya pria yang terlihat lebih muda. Dia duduk sebelah kanan si pria yang sebelumnya membentak. Dekat dengan kaca jendela. Mereka bertiga memang duduk di dekat jendela.
"Benar pak. Apa ada terjadi kesalahan?" Rina masih sabar untuk meladeni permainan mainan mereka. Yang terlihat mencari gara-gara dengan sengaja.
"Rasa kopi kalian buruk sekali. Juga baunya seperti kotoran! Apa masih bertanya terjadi kesalahan, hah?!!" pria yang membentak tadi kembali membentak dengan lebih keras ada Rina yang menjadi sasaran.
"Kalau kalian ingin membuat keributan jangan di kafe kami. Jadi silahkan keluar." Rina sudah tidak tahan dengan perkataan mereka yang sudah mengolok-olok kafe yang baru beberapa hari dibuka oleh Anjas.
"Oohh! Jadi kalian mengusir kami! Jadi ini pelayanan yang kalian berikan pada pelanggan?!" hardik pria yang satunya lagi. Dia berambut cepak namun diwarnai dengan warna merah cerah.
"Kau tidak tahu kami siapa?! Beraninya kau mengusir kami! Kami bertiga adalah anggota geng motor 'Hammer'! Penguasa Jakarta Pusat!" bentak si pria yang paling dekat dengan jendela sambil berdiri.
"Jadi kalian anggota geng 'Hammer' yang baru-baru ini naik daun itu?" kali Beno ikut bersuara.
"Siapa kau bajingan?! Jangan ikut campur!" balas si rambut cepak merah.
"Hahaha... Geng kecil yang baru tenar saja mau cari gara-gara dengan The FALCON?!" balas Beno menyebut nama geng yang diketuai oleh Anjas.
"Asal kalian tahu yah. Kafe ini milik si ketua geng The FALCON. Jadi jika kalian tidak ingin mati bersama dengan geng kalian. Cepat pergi dari sini!!" tambah Beno dengan bentakan keras.
Mereka bertiga hanya mematung. Seperti tersambar petir. Mereka tidak menyangka bahwa kafe yang baru buka itu adalah milik si ketua geng The FALCON. Geng yang menguasai hampir seluruh Jakarta sekarang.
"Ma-Maafkan kami. Kami segara pergi." mereka bertiga pun pergi. Lebih tepatnya kabur mencari keselamatan. Dari pada semua geng The FALCON datang menghajar mereka.
Dengan ini Beno dan Rina bisa tenang pergi makan siang. Walaupun sudah hampir selesai. Gara-gara ada halangan kecil tadi. Jadilah mereka tidak makan di rumah Beno. Mereka makan di restoran dekat kafe saja biar hemat waktu.