CHEL

CHEL
Bab 85



Anjas sampai di kafe sudah hampir sore. Karena beberapa penghalang. Beno segera menghampiri Anjas. Dia ingin memberitahu bahwa sudah ada beberapa orang yang ingin melamar kerja di kafenya. Anjas pun menemui mereka yang sudah menunggu hampir satu jam. Mereka berjumlah 6 orang, 2 pria dan 4 wanita.


Tanpa diketahui oleh mereka Anjas melakukan scanning body pada pada mereka. Dua menit proses scanning. Lalu muncul layar transparan biru yang menunjukkan 6 data.


[Nama: Novanto Palam


Usia: 25 tahun


Jenis kelamin: Laki-laki


Kebangsaan: Indonesia


Keahlian: Barista (Pengalaman 1 tahun)


Keterangan: Pernah punya kafe tapi bangkrut karena manajemen yang bobrok.]


[Nama: Ali Nur Rahim


Usia: 24 tahun


Jenis kelamin: Laki-laki


Kebangsaan: Indonesia


Keahlian: Koki spesialis bakery and cake, ahli beladiri Silat.


Keterangan: Orang yang aktif dalam kegiatan sosial dan budaya.]


[Nama: Delly Haryati


Usia: 22 tahun


Jenis kelamin: Perempuan


Kebangsaan: Indonesia


Keahlian: Matematika Akuntansi.


Keterangan: Memiliki otak seperti kalkulator. Memiliki fobia terhadap kucing hitam. Memiliki aura hijau terang.]


[Nama: Azahra Kartini


Usia: 19 tahun


Jenis kelamin: Perempuan


Kebangsaan: Indonesia


Keahlian: Menulis cepat, pendengaran tajam.


Keterangan: Mahasiswa yang kurang mampu. Bekerja untuk membiayai pendidikan dan adiknya.]


[Nama: Jamriah Salamah


Usia: 22 tahun


Jenis kelamin: Perempuan


Kebangsaan: Indonesia


Keahlian: Psikologi, Perayu handal.


Keterangan: Memiliki banyak pengalaman dalam pemasaran.


[Nama: Mashita Jailani


Usia: 23 tahun


Jenis kelamin: Perempuan


Kebangsaan: Indonesia


Keahlian: Menguasai 5 bahasa. Inggris, Mandarin, Jerman, Jepang dan Latin.


Keterangan: Suka traveling dan jalan-jalan. Alergi terhadap udang.


Melihat semua data itu Anjas tercengang. Beberapa dari mereka adalah seorang ahli di bidang masing-masing. Juga ada ahli beladiri.


Juga mereka sama sekali tidak memiliki niat jahat. Mereka juga sangat terampil dalam bekerja.


"Baiklah kalian aku terima." kata Anjas setelah 5 menit memerhatikan mereka dalam diam.


"Beneran pak kami diterima? Tanpa wawancara?" tanya Ali.


Dia baru saja merekrut karyawan yang berkualitas. Jadi dia tidak boleh melewatkan kesempatan baik.


Kemudian Anjas berkeliling kafe melihat beberapa interior design yang keren. Hasil dari designer profesional.


"Tidak rugi aku melihat hasilnya." gumam Anjas tersenyum.


Lalu dia memasuki ruangan yang memang khusus untuk dirinya. Ruangan itu sudah dilengkapi dengan kasur busa untuk satu orang, lemari pakaian, TV, kulkas ukuran sedang dan tentunya meja kerja miliknya. Yang sudah di atur oleh designer interior. Tidak lupa ada perangkat komputer di atas mejanya.


"Sempurna. Sesuai keinginanku." sekali lagi Anjas bergumam.


Dia duduk di balik meja kerja itu. Duduk di kursi yang empuk dan nyaman.


"Ini baru permulaan. Nanti aku akan memperbesar jaringan bisnisku dan menjadi lebih kaya lagi." ujar Anjas mantap.


Saat Anjas sedang santai di ruangannya. Hpnya berdering. Itu panggilan dari Maryam yang ingin dijemput oleh Anjas. Tentunya Anjas menyanggupi permintaan Maryam. Dia langsung pergi meninggalkan kafe menuju toko pak Umar.


Sesampainya Anjas di depan toko. Maryam yang di temani seorang wanita lain pun dihampiri oleh Anjas.


"Mas, kenalin ini Naila, dia adik dari teman satu kampung halaman. Dia baru saja datang tadi pagi. Dia datang ke Jakarta untuk kuliah. Tapi dia belum punya tempat tinggal. Bolehkah dia tinggal di apartemen untuk sementara?" kata Maryam dengan manja.


"Tapi kan ada Rahmi di sana. Kamar saja hanya dua. Dia mau tidur di mana kalau aku datang ke apartemen?" Anjas bingung jika harus menampung orang lagi di apartemen.


"Kau kan jarang di apartemen. Nanti aku pindah ke kamarmu. Biar dia sama si Rahmi. Juga Rahmi akan kembali ke Bandung seminggu lagi. Jadi bisa leluasa lagi." mohon Maryam lagi.


"Baiklah. Asal ada syaratnya. Kau ikut dengan aku malam ini. Hal ini sudah tertunda lama. Aku ingin memperkenalkan kau dengan orang tuaku." jawab Anjas sambil meraih tangan Maryam.


"Agar aku bisa melamar mu secepatnya." sambung Anjas.


Maryam tidak bisa berkata apa-apa. Dia tersipu malu. Sedang Naila menjadi semangat mendengar berita ini. Dia juga ikut bahagia.


"Cieee kak Maryam bakal dilamar. Cieee mudah mudahan lancar sampai nikah." sambut Naila.


Setelah itu Anjas mengantar Maryam ke apartemen sedang Naila naik taksi. Lalu masuk ke apartemen bersama.


Sementara itu di kediaman keluarga Wijaya. Gilang Wijaya sedang melihat sebuah map. Dalam map itu berisi data diri seseorang. Jika di lihat dari fotonya orang itu adalah Anjas.



"Pemuda miskin ini yang melukai anakku. Dia akan mendapatkan balasannya. Mata dibalas mata. Gigi dibalas gigi. Anakku patah tulang. Tapi kau akan mendapatkan yang lebih buruk dari itu." Gilang Wijaya melempar map itu ke tempat sampah. Wajahnya sekarang seperti iblis yang menyeramkan. Kemarahannya membuat suasana ruang kerjanya menjadi terlihat menyeramkan.



Gilang lalu menelpon seseorang. Menyuruh orang itu untuk menyeret Anjas ke hadapannya. Entah dia hidup atau mati.


Malam pun tiba. Anjas dan Maryam sedang dalam perjalanan menuju rumah baru Anjas. Anjas sudah menghubungi ibunya untuk membuatkan makanan enak. Karena dia akan mengajak pacarnya makan malam bersama keluarga. Tentu saja ibunya sangat senang mendengar hal itu. Langsung mengiyakan saja.


30 menit mereka tiba. Maryam dan Anjas baru saja keluar dari mobil. Tapi langsung di sambut oleh beberapa anggota geng The FALCON yang menjaga rumahnya. Juga adiknya Anin yang penasaran dengan calon kakak iparnya.


"Selamat datang kakakku dan kakak ipar!" seru Anin menyambut mereka berdua.


"Kamu pasti Anin kan? Kamu cantik sekali." Maryam senang hati menyapa Anin. Adik pacarnya.


"Ayo kita masuk." ajak Anjas. Dia sudah melangkah dahulu.


Di dalam ruang tamu Ayah, Ibu, Ibunya Dendi sudah menunggu. Juga ada Justin dan Julia di sana. Ekspresi kedua kakak beradik itu berbeda sekali. Justin seperti bersemangat. Sedangkan Julia terlihat murung dan lesu tidak semangat.


Namun Anjas tidak menghiraukan itu. Dia langsung memperkenalkan Maryam. Selanjutnya mereka semua menuju meja makan.


Makan malam terlihat syahdu dan tenang. Seperti biasa mereka makan tanpa berbicara. Menikmati makanan yang disediakan oleh ibunya Anjas yang terlihat mewah tapi makanan tersebut bukan dari bahan makanan yang mahal. Makanan rumahan tapi ditata sedemikian rupa sehingga terlihat mewah.


Setelah mereka semua selesai makan. Ibu Anjas mengajak Maryam berbincang. Sedangkan Anjas berbincang dengan ayahnya dan Justin. Lain hal dengan Julia dia hanya diam memainkan game di hpnya.


"Anjas. Kau sudah bertemu dengan orang tua Maryam? Jika belum kau harus segera melakukan itu. Biar mereka juga tahu kau akan menikahi Maryam. Juga kita bisa melakukan pertemuan selanjutnya dengan mereka untuk membahas pernikahan." ujar ayahnya Anjas mengingatkannya.


"Tentu saja aku akan menemui mereka ayah. Aku sudah berencana untuk pergi bersama Maryam ke kampung halamannya." jawab Anjas dengan cepat.


"Kau hebat Ketua. Sebentar lagi kau akan menikah. Aku saja masih belum memiliki calon. Selamat untuk itu." sela Justin. Hal itu direspon baik oleh Anjas.


"Baguslah kalau begitu. Kau harus jaga dia dan buat dia bahagia." nasehat ayahnya.


"Hal itu pasti akan aku lakukan ayah." kata Anjas.


Satu jam berlalu dengan cepat. Maryam pamit pulang. Anjas yang akan mengantarkan. Mereka sedikit berbincang di teras rumah sebelum pergi meninggalkan rumah.


Semenit setelah Anjas dan Maryam pergi. Ibu dan ayah Anjas masuk kembali ke dalam rumah. Diikuti oleh ibunya Dendi dan Justin.


Sementara Julia dan Anin masih tinggal di teras rumah. Anin menghampiri Julia yang menatap kosong ke depan.


"Apa kak Julia cemburu?" tanya Anin. Yang membuat Julia terkejut.


"Eh a-aku... Itu aku tidak cemburu kok!" Julia pun masuk ke dalam rumah untuk menghindari pertanyaan dari Anin.