CHEL

CHEL
Bab 61



Anjas dan Rina berjalan beriringan menuju ruangan kelas. Rina sedikit menunduk karena masih malu-malu.


"Kau tidak harus mengantar aku Anjas." ucap Rina pelan.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin saja. Sekalian melihat suasana kampus ini." jelas Anjas agar Rina tidak risih.


Mereka tidak tahu bahwa kabar burung tentang mereka sudah beredar di kampus. Lewat media sosial seseorang yang sempat memergoki Rina keluar dari mobil. Lalu mendapat kesempatan memfoto mereka.


Jadilah gosip beredar juga. Dengan topik "Rina si bunga kampus. Diantar oleh pacarnya ke kampus." entah kenapa judulnya seperti judul skripsi yang panjang.


Saat tiba di depan kelas yang akan dimasuki oleh Rina. Mereka mendengar beberapa orang yang sedang duduk bergosip.


"Hei..hei.. kalian sudah dengar tidak? Katanya si Rina datang ke kampus dengan pacarnya." ujar seorang wanita baju kuning.


"Sudah dong. Katanya juga pacar si Rina datang dengan mobil sport mahal. Pasti anak orang kaya." balas wanita baju merah.


"Tapi kan yang kita tau. Kak Hasan juga sedang mendekati Rina. Kalau begitu kak Hasan kalah saing dengan pacar Rina. Tapi siapa tau itu bukan pacarnya." sambung wanita baju ungu.


"Yah kita tunggu saja drama selanjutnya." ujar wanita baju kuning lagi.


Mendengar itu Rina semakin malu. Dia disangka datang ke kampus dengan pacarnya. Beda dengan Anjas. Dia mendengar itu malah tertarik ingin bertemu dengan si Hasan itu. Karena dia sudah mengetahui bahwa Hasan adalah anggota keluarga Ajisaka. Jika dia mencoba mencari gara-gara dengan Rina. Akan Anjas ladeni dengan menggunakan tangan sendiri.


"Jangan pedulikan mereka. Gosip tidak berbobot itu tidak pantas didengar. Kau masuklah." bujuk Anjas agar Rina tenang.


Segera Rina masuk ke kelas. Sementara Anjas segera kembali ke parkiran mobil kampus. Saat Anjas mau menghampiri mobilnya. Beberapa pria menghalangi jalannya. Kira-kira ada lima orang yang mencegatnya.


"Maaf saya ingin lewat." ujar Anjas.


"Ada yang ingin bicara sama kamu." balas salah satu dari mereka.


"Aku masih ada urusan lain. Nanti lain kali saja." balas Anjas berjalan menerobos mereka.


Namun mereka masih menahannya. Satu orang meraih bahu Anjas hendak menarik paksa. Tapi dengan kelincahan Anjas. Tangan orang itu dipelintir hingga sedikit terdengar suara "Krek". Teman orang itu bereaksi dengan melayangkan pukulan ke arah wajah Anjas.


"Buk." tangan orang itu telah mengenai wajah Anjas. "Aaaarrrgghh!" bukan Anjas yang menjerit kesakitan. Tapi orang yang memukul Anjas itu.


Lalu Anjas mendorong orang yang tangannya dia pelintir hingga terjatuh. Menyenggol yang satunya lagi menjerit. Mereka pun terjatuh saking kuatnya dorongan itu. Tiga orang yang tersisa hendak melakukan perlawanan dengan ragu. Mereka maju bersama. Ingin mengurung pergerakan Anjas. Anjas bisa membaca niat mereka. Jadi segera dia melakukan salto dari teknik muaythai. Dengan cepat lutut Anjas menyambar wajah orang yang ada di depannya. Lalu dengan cepat juga Anjas melakukan kedua lengannya. Sikutan itu kena tepat pada dada dua orang lainnya.


Tidak sampai semenit lima orang itu terkapar. Anjas menghampiri salah satunya.


"Jika bos kalian ingin bertemu. Bilang datang sendiri jangan pernah menyuruh orang lain. Karena itu tindakan seorang pengecut." ujar Anjas lalu pergi. Kembali Anjas melajukan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi.


Sementara di tempat parkir tadi. Seorang pemuda berusia 24 tahun sedang memerhatikan Anjas yang baru saja pergi. Dia adalah Hasan Ajisaka yang sudah sejak tadi melihat Anjas yang menghajar orang suruhannya.



"Dia kuat. Aku tertarik untuk menjadikan dia teman. Dia bisa jadi bawahanku yang kuat." Hasan tersenyum miring dengan niat jahatnya.



Hasan menghampiri para orang suruhannya. Mereka segera bangkit dan merunduk ketakutan. Satu orang yang di tengah ingin mengucapkan sesuatu tapi "BUAK!". Sebuah tendangan keras tepat kena pada wajah orang itu. Darah segar mengalir dari hidung orang itu.



"Aku muak dengan alasan kegagalan. Pergi kalian!" bentak Hasan setelah menendang orang itu.



Sementara itu Anjas kembali ke Haery Building miliknya. Beno yang masih setia menunggu. Terlihat senang saat melihat Anjas masuk ke dalam gedung itu.


"Aduh bro. Kau lama sekali mengantar Rina. Jangan bilang kau sedang PDKT sama dia. Lebih baik jangan bro. Dia banyak fans bakal banyak yang mengincar kau nanti." ujar Beno yang sebenarnya bercanda.


"Hehehe aku cuma lihat-lihat sebentar kok. Mau tau bagaimana rasanya suasana kampus. Dan ternyata asik juga kuliah. Jadi ingin kuliah juga deh." balas Anjas.


"Bisa saja kau. Memangnya kau mau masuk jurusan apa kalau kalau lanjut kuliah?" Beno penasaran karena nada bicara Anjas agak serius.


"Ah tidak usah dibahas dulu. Bagaimana dengan proses renovasi gedung? Aman kan?" Anjas bertanya mengalihkan topik.


"Semua sudah aman terkendali. Juga dengan ini Tyo titip ke aku. Surat kepemilikan gedung. Sudah berganti nama menjadi namamu." Beno menyerahkan sebuah map berwarna coklat tua.


Anjas melihat isi map sebentar. Dia mengangguk tanda setuju dengan isi map. Kemudian Anjas menepati janjinya untuk mentraktir makan Beno. Juga member tahu bahwa orang yang akan mengurus dekorasi kafe akan datang besoknya. Jadi Beno harus menyambut mereka dengan baik dan mengarahkan mereka di mana tempat kafe akan dibuat.


Setelah makan Anjas mendapatkan telepon dari orang yang paling dia rindukan. Ya, Maryam menelpon. Maryam memberi kabar bahwa dia sudah sampai di Jakarta dan sudah sampai di apartemen. Tapi Anjas seperti tersentak. Dia mengingat bahwa Rahmi sedang ada di apartemen miliknya.


"Kenapa aku lupa memberitahukan hal ini pada Maryam? Anjas... Anjas...." sesegera mungkin Anjas pergi ke apartemen.


Sesampainya di apartemen. Tanpa banyak pikir panjang Anjas menaiki lift menuju lantai 2.


Sementara di dalam kamar Maryam dan Rahmi sedang berdiri saling berhadapan. Mereka saling tatap menyelidik.


"Siapa kamu? Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Rahmi yang tentunya belum kenal dengan Maryam.


"Seharusnya itu pertanyaanku. Mana mas Anjas? Siapa kau? Aku PACARnya!" kata Maryam sedikit menekan kata Pacar.


"A...aku.. aku ...ini... eh.. Mmm" Rahmi gugup.


"Ayo jawab!" Maryam masih mendesak. Dia menatap tajam pada Rahmi.


Tidak lama Anjas pun sampai di apartemen. Dia melihat Maryam yang sedang menatap tajam Rahmi. Sedangkan Rahmi yang ditatap seperti ketakutan.


"Sayang. Kau sudah pulang." Anjas menghampiri Maryam ingin memeluk.


Tapi tangan Maryam menahannya. Anjas tahu bahwa Maryam sedang marah.


"Oke Sayang. Aku jelaskan. Dia adalah orang yang sedang aku tolong seperti kau dulu. Dia diincar oleh orang lain. Karena dia punya bukti kejahatan orang itu dan sekarang dia sedang mengungsi dulu di sini." jelas Anjas. Tangannya dengan lembut dan pelan meraih Maryam.


Dipeluknya Maryam agar Maryam tidak marah. Juga Maryam yang mendengar penjelasan Anjas. Dia memaklumi kondisi orang yang ditolong Anjas.


"Iya aku mengerti sekarang." balas Maryam dengan senyum lebar.


"Oh iya. Ini Rahmi. Rahmi ini pacarku yang aku bilang kemarin, Maryam." Anjas memperkenalkan mereka.


Dengan senang hati Maryam bersalaman dengan Rahmi. Lalu mereka pun mengobrol dan mulai akrab. Sedangkan Anjas masuk ke kamar dan mandi. Setelah berganti pakaian. Anjas ikut serta dalam obrolan Maryam dan Rahmi.


Di sela obrolan. Anjas menyinggung tentang orang yang bersama dengan Jakson. Saat kecelakaan terjadi.


"Aku tidak kenal orang itu. Tapi sepertinya dia orang dekat dengan si Jakson." jelas Rahmi.


Anjas menanyakan hal itu karena dia sudah melihat sekali lagi. Video bukti tabrak lari. Yang mana tidak terlihat orang lain selain Jakson. Kemungkinan besar orang itu ada di dalam mobil itu.


"Jadi seperti aku harus menanyakan langsung siapa orang itu ke Jakson." ujar Anjas. Dia langsung beranjak dari duduknya.


"Maaf sayang. Aku tidak menemani kau yang baru tiba. Aku harus mengurus sesuatu hal yang penting dulu." kata Anjas sambil berjalan keluar. Tidak lupa Anjas mencium kening Maryam sebelum pergi.