
"DUAR!" suara ledakan setelah Jaya menghantam tanah yang tadinya adalah tempat Anjas berpijak. Anjas berhasil menghindar.
"Masih terlalu lambat. Bam!" Anjas sudah berada di samping Jaya. Lalu menendang perut Jaya yang terbuka lebar.
Jaya pun terlempar sekitar lima belas meter dari tempat Anjas. Tidak membiarkan begitu saja. Dengan kecepatan tinggi Anjas mensejajarkan langkahnya dengan laju tubuh Jaya yang terlempar.
"Dam!" tinju kuat kena tepat di punggung Jaya. Sehingga tubuhnya melayang terhenti dan jatuh ke tanah.
"Uuggh!" Jaya muntah darah walaupun tidak banyak.
"Zing! Aaahrrhhh!" dengan cepat Anjas mengeluarkan pedang yang dia dapatkan dari kotak hadiah Emas kemarin. Yaitu Pedang Nomelles. Pedang itu bisa memotong apapun dan dapat menghancurkan artefak pertahanan, seperti jirah dan tameng.
"Apa yang kau lakukan?! Kau kira akan lolos setelah memotong kaki kananku?! Setelah aku menyambung lagi kakiku. Kau tidak akan hidup tenang!" ancam Jaya.
"Hahahaha... Kau kira pedang yang memotong kakimu hanya pedang biasa?! Pedang ini memiliki daya perusak yang tinggi. Bahkan teknik penyembuhan dari ilmu hitam pun tidak akan bisa menyembuhkan bagian yang dirusak oleh pedang ini." jelas Anjas saat mendengar ancaman Jaya.
"Bagaimana bisa dia melukai kaki kananku? Padahal aku sudah mengenakan pakaian pelindung yang diberikan guru besar. Pakaian ini adalah benda warisan dari para raja terdahulu." pikir Jaya yang tidak menyangka bahwa dia sekarang terpojok.
"Apakah kau mengerti perbedaan di antara kita? Antara padepokan Macan Putih dan padepokan Tinju Langit?" provokasi Anjas.
"Padepokan Macan Putih tidak sebanding dengan kami! Guru besar padepokan Tinju Langit akan mengincar siapa pun dari padepokan Macan Putih jika aku tidak kembali dengan selamat!" jerit Jaya yang terlihat sangat marah.
[Musuh berkata jujur. Aura dosa sudah berkurang 50%. Lenyapkan seluruh aura dosa agar tidak menyebabkan kematian di pihak tidak bersalah.] jelas sistem.
"Baiklah. Sudah cukup kata-kata terakhirnya. Zing!" Anjas pun memenggal kepala Jaya.
[Anda berhasil melenyapkan aura dosa tingkat tinggi. Hadiah Exp +500.]
[Selamat Anda naik level 6.]
[Beberapa item di Shop sistem telah terbuka.]
"Akhirnya aku bisa menyelesaikan misi spesial dari sistem. Sungguh beruntung ada orang bodoh yang memiliki aura dosa datang mengantarkan nyawa. Aku harus segera membeli dan mempelajari resep ramuan herbal Pembersih Hati dan Jantung." gumam Anjas tersenyum senang.
Tidak berlama-lama, Anjas membeli resep ramuan herbal Pembersih Hati dan Jantung yang memiliki harga 3000 PS.
"Sekarang bagaimana caranya aku menyingkirkan mayat orang ini?" pikir Anjas.
Tapi beberapa saat dia baru ingat.
"Aku bakar saja dengan menggunakan elemen api." lanjut pikir Anjas yang mendapatkan pencerahan.
Anjas sudah membaca cara menggunakan sarung tangan 4 elemen yang dia pakai. Hanya dengan membayangkan bentuk dari elemen dari alam. Elemen itu akan keluar dari sarung tangan itu.
"Api yang membara." pikir Anjas membayangkan bentuk api yang sangat panas yang bisa menghanguskan.
"Wuuuuzzz!" seketika api biru sebesar bola basket muncul di atas telapak tangan Anjas. Ternyata Anjas membayangkan bentuk api yang sering dia lihat saat kerja di proyek. Yaitu api yang bisa meleleh baja.
"Kalau dengan ini mayat ini tidak akan berbentuk utuh. Hehe..." "Blaaarrr!" Anjas melempar bola api itu ke mayat Jaya. Tidak lupa kepala Jaya juga dilempar ke api itu.
"Kenapa aku tidak membakar mereka berdua juga ya? Juga para anggota keluarga Ajisaka dulu. Aku baru mengingat hal itu saat ini." Anjas mengingat kebodohan yang dia lakukan sebelumnya.
"Ah sudahlah. Itu tidak akan membuka aku tertangkap karena membantai satu keluarga." pikir Anjas tidak menghiraukan hal itu.
"Sekarang kita kembali ke padepokan. Lalu membuat ramuan herbal Pembersih Hati dan Jantung untuk Pak Zainal." Anjas balik kanan dan meninggalkan tempat itu. Setelah api yang dia buat dipadamkan oleh elemen airnya.
Pria itu adalah Fa Jiang. Walaupun dia hanya seorang pelayan di kediaman keluarga Yan. Tapi profesi sebelumnya adalah seorang detektif yang memiliki hutang Budi pada Yan Mei. Selain itu juga Fa Jiang sudah lebih dari sepuluh tahun melatih teknik beladiri tenaga dalam dari perguruan beladiri "Naga Abadi" di Hongkong.
"Dari bukit CCTV bandara dan penglihatan jejak aura kehidupan mereka. Jejaknya berhenti di sini. Aku rasa di tempat ini mereka menghilang." gumam Fa Jiang. Masih memperhatikan sekitar yang sepi dari kendaraan yang melintas.
"Aku harus menggunakan teknik Mata Batin untuk mencari mereka." setelah mengatakan itu mata Fa Jiang berpendar cahaya putih keperakan.
Baru dua menit berselang. Fa Jiang terkejut dan menatap tajam ke arah atas sebuah gedung tua di dekatnya.
"Banyak hawa kematian di gedung itu. Kebanyakan adalah orang-orang yang ingin balas dendam. Tapi aura kehidupan tuan Yan dan tuan muda Yan berhenti di sana. Aku harus memeriksa gedung itu." Fa Jiang bergegas menuju gedung terbengkalai yang pernah di datangi Anjas.
Sementara itu di gedung Haery Building. Tepatnya di kafe milik Anjas.
"Kalian sengaja yah menaruh serangga kotor itu!? Apa kafe ini benar-benar mendapat izin untuk membuka usaha?! Kopi kalian ada kecoa nya tahu!" teriak seorang pemuda. Tentu mereka adalah para anggota geng motor 'Hammer'yang pernah datang ke kafe itu.
Tapi kalo ini dengan anggota yang berbeda. Si rambut cepak merah masih berani datang. Tapi kali ini dia bersama pemuda lain. Dia terlihat santai dan tidak menghiraukan ucapan si cepak merah.
"Mana manager yang waktu itu? Dia harus bertanggung jawab! Menjual kopi yang ada kecoa! Ini tidak benar! Harus diperiksa lagi ini!" si rambut cepak merah masih ngomel-ngomel. Tapi tidak satu pun yang menggubris perkataannya.
Karena mulai emosi si rambut cepak merah menarik seorang pelayan yang sedang menerima pesanan dari pengunjung lain. Dengan kasar dia menarik Mashita lalu bertanya di mana si manager kafe.
"Di mana manager kalian?! Ketua geng kami ingin bertemu! Cepat panggil dia!" suruh si rambut cepak.
"Jidan jangan kasar pada wanita. Ingin aku getok kepalamu? Kau panggil manager mu cepat. Aku mau bicara." kata si pemuda yang duduk bersama si rambut cepak merah dari tadi diam.
"Iya kak Deni. Maaf." si rambut cepak merah yang dipanggil Jidan itu terdiam seketika setelah dibentak Deni.
Segera Mashita pergi untuk memanggil Rina atau Beno. Yang bertanggung jawab atas kafe.
Di ruangan manager Mashita hanya bertemu dengan Beno. Lalu dia melaporkan hal yang terjadi tadi.
"Pak Beno. Ada pelanggan yang mengeluh dan ingin bertemu manager. Orang itu adalah orang yang membuat onar waktu lalu." jelas Mashita yang terlihat masih ketakutan.
"Jadi mereka belum kapok. Kau tetap di sini. Akan aku bereskan mereka." Beno bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan.
Beno yang terlihat marah menghampiri pemuda yang berambut cepak merah. Beno masih mengenal Jidan. Karena ciri khas rambut Jidan.
"Kau mau cari gara-gara lagi? Ingin babak belur dihajar anggota geng The FALCON?" bentak Beno ke Jidan.
"Tunggu-tunggu bang. Aku hanya mengantar ketua geng kami." jawab Jidan yang hilang kegarangannya tadi.
"Halo Ben... Lama tidak berjumpa." sapa Deni si. Ketua geng motor Hummer.
"Deni...!?" seru Beno seperti melihat orang yang lama tidak dia jumpai sejak lulus SMA.