
Dendi sudah menggenggam erat pisau yang ada di dalam tas. Dia ingin mengeluarkan pisau itu tapi terhenti karena macan hitam itu menggeram lagi. "Rrrrr!" geraman itu adalah ancaman.
Dendi sudah berkeringat. Dia sangat tahu bahwa dirinya sedang di ujung tanduk. Jika salah melangkah dia akan tewas diterkam si macan hitam.
Kedua makhluk berbeda jenis itu saling menatap. Dendi menghitung detik. Menunggu waktu yang tepat.
Lalu sekali lagi si macan menggeram dan sesaat kemudian maju menyerang Dendi. Ingin langsung menerkam mangsanya. "Raaaorrrrr!"
Dendi dengan sigap berlari ke balik pohon. Si macan mengejar tanpa ragu. Saat si macan sampai di sisi belakang pohon itu. Dendi sudah berdiri menyambutnya. Si macan tidak menghentikan serangannya. Langsung melompat menerkam. Dengan cepat Dendi menunduk sedikit ke kanan. Pisau yang dia genggam langsung menusuk ke bagian rusuk si macan. Pisau sepanjang 20 cm itu menancap mantap.
Namun keadaan Dendi juga sama buruknya. Gigitan si macan sempat membuat bahu kiri Dendi sedikit tercabik. Dendi masih bisa menahan nyeri di bahunya. Saat Dendi mencoba bangkit dia melihat si macan tidak bangun lagi. Si macan mati di tangan Dendi. Merasa dia telah berhasil mengalahkan hewan buas itu Dendi pun tersenyum.
Tapi sebenarnya sebelum si macan menerkam Dendi. Anjas sudah melempar jarum racun pelumpuh. Sehingga saat si macan melompat racun bereaksi dan melumpuhkan si macan. Hal itu yang membuat Dendi bisa membunuh macan hitam.
Dari jauh Anjas merasa tenang. Dia tidak tega jika murid pertamanya mati tanpa di ajarkan satu teknik pun. Jadi dia memberi sedikit bantuan.
"Keberanianmu sudah cukup Dendi. Besok aku akan mengajarimu teknik beberapa dasar." gumam Anjas dengan bangga.
Sejam kemudian Dendi sudah membuat perapian dan membuat makanan untuk dirinya. Perlengkapan dalam tas memang lengkap. Jadi Dendi merasa akan bisa bertahan hidup di hutan itu. Tidak lupa dia sudah membalut bahu kirinya dengan perban satu-satunya dalam tas. Ada kotak P3K di dalam tas. Tapi hanya untuk mengobati luka ringan saja. Maka dari itu masih terlihat warna darah di balutan perban itu.
Sedangkan Anjas berada di atas pohon. Dia sedang menfokuskan diri. Saat ini dia sedang mengaktifkan kemampuan Master Ilusi. Dia membuat pelindung di sekeliling Dendi dengan ilusi. Agar tidak ada lagi hewan buas yang menyerang Dendi secara tiba-tiba.
"Untuk sementara ini sudah cukup. Kau bisa tidur dengan nyenyak. Tapi berikut aku akan menguji kau lagi." setelah mengatakan itu. Anjas beranjak dari tempatnya. Melompat menjauh dari pohon satu ke pohon lain dengan lincahnya.
Kecepatannya sudah sama dengan kecepatan seorang ninja dalam sebuah serial drama. Mengingat itu Anjas sedikit melakukan gaya seperti dalam drama itu.
Tujuan Anjas adalah menuju jalan raya tadi sore sebelum dia masuk hutan. Di dalam hutan Anjas tidak bisa mendapatkan sinyal pada HP nya. Maka dia harus mendekati jalanan agar bisa mendapatkan sinyal.
Saat sampai di pinggir jalan. Banyak notifikasi masuk ke HP nya. Anjas memeriksa apakah semua pesan. Mulai dari Julia yang mengabarkan bahwa mereka dan keluarganya sudah di rumah baru. Lalu Maryam yang mengabarkan bahwa dia sudah di apartemen bersama Rahmi. Lalu beberapa telpon masuk tidak terjawab dari Beno dan satu nomor yang tidak dikenal.
Segera dia menelpon Beno. Menanyakan perihal dia menelpon lebih dari sepuluh kali.
"Ada apa Ben? Kenapa kau menelpon begitu banyak?" tanya Anjas.
"Tadi orang suruhan dari keluarga Ajisaka datang untuk bertemu dengan kau. Aku mengatakan bahwa kau baru bisa kembali dalam sepuluh hari. Tapi dia mengancam dan memberi peringatan." jawab Beno.
"Jika mereka datang lagi. Kau hubungi Justin dan Jordan. Mereka akan membantu kau nanti. Aku akan menghubungi mereka untuk membantu kau saat kau butuh mereka." saran Anjas.
"Baiklah. Aku akan melaksanakan itu." lalu Beno menutup telepon.
Anjas juga menelpon Justin dan Jordan. Memberi tahu soal Beno. Mereka pun menyanggupi permintaan Anjas.
Kemudian Anjas tertarik untuk menelpon nomor tidak dikenal tadi. Setelah menunggu lama seseorang mengangkat telepon dari Anjas.
"Halo..." sapa Anjas.
"Benar dengan saya sendiri. Ini dengan siapa?" balas Anjas bingung. Ada yang mengetahui nomor teleponnya.
"Apa kau lupa dengan ayah yang anaknya kau tolong beberapa waktu lalu? Aku Samuel Bruwer. Ayah Layla." jawab pria itu.
"Ah aku baru ingat. Tuan Bruwer apa kabar? Bagaimana keadaan Layla?" Anjas sudah merubah nada bicaranya dengan ramah.
"Saya dan istri baik saja. Juga Layla sangat baik masih ceria dan lucu. Dia sangat merindukan kau Anjas. Jadi aku ingin mengundang kau untuk makan malam bersama di akhir pekan nanti. Tepatnya hari Sabtu. Kebetulan hari itu adalah hari ulang tahun Layla." ujar Samuel mengajak Anjas.
Hari Sabtu adalah bertepatan dengan Tahun baru. Layla sungguh beruntung hari ulang tahunnya dirayakan seluruh dunia secara tidak langsung.
"Aku akan usahakan untuk datang. Karena aku sedang sangat sibuk. Semoga aku punya kesempatan." jawab Anjas.
"Aku berharap kau bisa datang." sambut Samuel. Lalu menutup telepon.
"Aku baru baru ingat saat malam tahun baru akan ada reuni kelas. Apa aku bisa menghadiri kedua tempat berbeda dalam satu waktu? Bagaimana mungkin?" gumam Anjas yang baru saja mengingat hal tersebut.
Saat memikirkan hal tersebut. Notifikasi pesan WA masuk. Itu dari grup kelas. Dalam pesan tersebut mantan ketua kelas mereka mengumumkan bahwa acara reuni akan dimundurkan waktu pelaksanaannya. Yaitu tiga hari setelah tahun baru. Hal itu dikarenakan orang yang akan membayar semua tanggungan biaya acara baru saja mengalami kebangkrutan. Perusahaan Ayah Fino sudah disita bank.
Melihat berita itu Anjas tersenyum. Dia merasa sudah membalas dendam lamanya pada Fino yang sering membuli dirinya dulu.
Beralih di sebuah perumahan elit di kota Bandung. Sebuah rumah baru saja digrebek polisi setempat. Mereka sudah mendapatkan perintah untuk menangkap pelaku gembong narkoba yang berbeda di salah satu rumah mewah di daerah itu.
Ternyata benar ada banyak sekali bahan untuk membuat narkoba. Sesuatu bukti yang dikirimkan oleh seorang hacker yang memiliki nickname Dewa Pedang.
Sekitar 40-an orang ditangkap dan itu termasuk Jerry Geraldo. Suami dari Rinjani Ajisaka itu juga tertangkap saat masih mengawasi produksi narkoba.
Kabar itu pun cepat tersebar luas. Setiap stasiun televisi swasta maupun nasional. Memberitakan hal yang sangat mengejutkan itu. Salah satu anggota keluarga Ajisaka terlibat dalam kasus narkoba itu.
Berita itu juga sudah sampai di telinga pemimpin keluarga Ajisaka. Orang tua itu murka dan tidak bisa menahan emosi.
"Dasar tidak berguna!! Bisnis gelap itu adalah yang akan menjadi bisnis cadangan jikalau keluarga Ajisaka bangkrut. Tapi mengapa bisa terbongkar!!?" pekik marah Fedrian Ajisaka.
"Jarot! Cepat cari tahu siapa yang melaporkan tempat produksi narkoba kita. Jika itu memang dari keluarga Bruwer. Segera kita buat perhitungan dengan mereka!" perintah Fedrian tanpa melihat Jarot.
"Baik Tuan." jawab Jarot dan langsung berlari keluar ruangan lantai 30.
"Selama aku masih hidup keluarga Ajisaka tidak akan pernah bisa di hancurkan oleh siapa pun!" seru Fedrian menatap tajam ke arah luar jendela.
Sementara Anjas setelah dia melihat berita tentang penggrebekan markas gembong narkoba milik keluarga Ajisaka. Dia mengeluarkan mobil sport miliknya saat jalan lagi sepi. Lalu pergi mencari tempat menginap yang ada di dekat sekitar mini market yang dia datangi tadi.