CHEL

CHEL
Bab 36



Beberapa saat kemudian Anjas sudah keluar dari dealer mobil tersebut. Dia sekarang ingin pergi ke sebuah Mebel untuk melihat meja dan kursi yang cocok untuk kafenya.


Dia menuju ke wilayah selatan kota tepatnya Plaza Mebel Fatmawati. Biar dekat dengan gedung baru dia beli dari Tyo.


Saat sampai. Dia langsung masuk dalam mebel. Mebel saat itu dia lumayan ramai. Hampir semua karyawan di sana sedang melayani pelanggan. Ada Seorang wanita menghampiri Anjas.


"Maaf mas ada yang bisa dibantu?" sapa si wanita. Tidak ada nametag di kemejanya.


"Aku mau lihat meja kursi untuk kafe. Ada di bagian mana yah?" jelas niat Anjas.


"Oh kalau begitu silahkan lewat sini mas." si wanita menuntun Anjas ke bagian dalam.


"Kami memiliki meja dan kursi untuk restoran atau kafe. Anda ingin yang indoor atau outdoor?" ujar si wanita saat tiba di bagian furniture untuk restoran atau kafe.


Banyak model yang ditawarkan. Anjas terpikirkan bahwa kafenya juga harus memiliki sofa.


"Aku masih bingung. Apa ada rekomendasi untuk kafe indoor? Aku ingin ada sofa dan kursi yang kuat tapi ringan." jawab Anjas meminta saran.


"Oh kami memiliki beberapa contoh. Anda bisa memilih bagaimana suasana yang pas untuk kafe Anda." si wanita mengambil sebuah album foto.


Saat album itu buka. Beberapa foto sebuah suasana kafe yang terlihat santai.


Contoh 1



Contoh 2



contoh 3



Setelah beberapa kali membolak-balikkan lembar album tersebut. Anjas pun menentukan pilihannya. Karena luas lantai 2 Haery Building itu cukup luas. Jadi dia memilih tiga gambar untuk beberapa bagian lantai. Lalu Anjas meminta pihak plaza untuk membantunya menata kafenya nanti. Lalu terjadi kesepakatan bersama. Dimana dalam dua hari lagi akan ada orang yang akan datang ke tempat bakal kafe milik Anjas. Bahkan pembayaran untuk biaya operasional dan barang yang akan dibeli. Sebesar 84 juta Terakhir Anjas baru mengetahui nama wanita itu adalah Luna.


"Baiklah pak Anjas. Terimakasih sudah mempercayakan kami untuk mengurus dekorasi kafe Anda." ujar Luna saat mengetahui nama pelanggannya itu. Mengulurkan tangannya.


"Senang berbisnis dengan kalian." jawab Anjas menjabat tangan Luna.


"Aku akan tunggu progres kerja kalian." sambung Anjas.


Lalu Anjas meninggalkan plaza itu. Jam masih menunjukkan pukul 1.05 siang. Karena kangen dia berniat ingin menemui Maryam di toko pak Umar. Baru saja berpisah sebentar untuk kangen saja.


Tapi baru saja dia sampai di motornya. Ada telepon masuk. Anjas langsung mengangkat panggilan masuk itu melihat nama penelpon adalah Dendi.


"Halo Den... tumben kau telepon kakak.." sapa Anjas.


Tapi "Gawat kak!... ini gawat kak! Kak Maryam kak..!" potong Dendi yang dengan suara panik.


"Ada apa Den? Coba jelaskan dengan perlahan. Kenapa dengan Maryam?" tanya Anjas dia ingin menenangkan Dendi.


"Kak Maryam dibawa orang kak Anjas! Aku sudah mengikuti mereka dengan ojek Kak. Aku akan kirim lokasinya ke kakak!" Dendi langsung menutup telepon.


Ekspresi wajah Anjas berubah. Terlihat dingin dan kaku. Terdengar suara gigi bergeletakan. Anjas berusaha tidak berteriak karena emosi.


"Siapa yang berani menculik Maryam?" gumam Anjas dengan tatapan tajam. Sehingga beberapa orang sekitar yang melihat Anjas menjadi takut.


Lalu sebuah pesan WA masuk. Segera Anjas melihat hasil berbagi lokasi dari Dendi. Lalu telepon dari Dendi masuk lagi.


"Dendi apa kau tahu siapa orang yang membawa Maryam?" tanya Anjas sambil menaiki motor.


"Tidak tahu kak. Tapi mereka kebanyakan menggunakan jaket kulit berwarna hijau lumut kak. Ada juga yang menggunakan jas bagus. Mereka menggunakan beberapa motor dan sebuah mobil. Cepat datang kak." Dendi menutup telepon lagi. Takut ketahuan kalau dia sedang menguntit.


Sementara itu Dendi masih mengikuti orang-orang yang membawa Maryam masuk ke sebuah hotel. Dendi berusaha agar tidak ketahuan. Tapi sayang dia tetap saja tertangkap juga.



Dendi pun disekap juga. Tapi beda tempat dengan Maryam. Maryam disekap di sebuah kamar yang lumayan mewah. Dia diikat dengan tali tambang di kursi.



"Hahahaha aku kira tidak akan bisa menemukan kau Maryam. Ternyata kau bersembunyi di toserba yang biasa saja. Padahal aku sudah memberikan pekerjaan yang bisa mendapatkan uang lebih padamu!" bentak seorang wanita cantik yang mungkin seusia Maryam.



"Aku bukan wanita murahan Fira! Kau menjebak aku dan membawaku ke tempat kotor itu!" balas Maryam menatap tajam ke wanita bernama Fira.



"Plak!" sebuah tamparan keras kena di pipi kiri Maryam. Fira yang geram langsung menampar Maryam.



"Karena kau kabur aku yang kena getahnya. Tuan Herino mengancam aku jika tidak menemukan kau. Aku akan dibunuhnya." ujar Fira masih membentak Maryam.



"Kau tahu? Aku sudah dibayar sebesar 10 juta untuk membawa kau ke sini. Sebentar lagi Tuan Herino akan segera tiba." Fira mencengkram erat dagu Maryam.



"Kau tunggu saja di sini. Jangan berniat untuk kabur. Tempat ini sudah dijaga oleh orang suruhan Tuan Herino." Fira berbalik dan keluar dari kamar itu.



"Maafkan aku mas Anjas." gumam Maryam.


Sementara itu Anjas sudah sampai di hotel yang dia lacak dengan sistem. Jadi selama perjalanan terlihat layar transparan yang menunjukkan titik lokasi. Anjas tiba lebih dulu sebelum Herino datang.


"Jaket kulit hijau lumut. Apakah ini perbuatan geng Revon? Atau mungkin suruhan keluarga Ajisaka? " pikir Anjas menebak siapa yang berani berurusan dengannya.


Melangkah masuk ke dalam hotel. Dia tidak perlu lagi mencari. Karena sistem pelacakan yang dimiliki Anjas bisa menemukan posisi Maryam dengan melacak nomor telepon Maryam. CHEL bisa memindai gedung hotel itu.


"Sungguh canggih sistem pelacak ini." gumam Anjas dalam benak.


Segera Anjas masuk ke lift dan menekan tombol lantai 10. Ting! Pintu lift terbuka. Saat Anjas keluar dari lift. Dia sudah disambut oleh beberapa orang berjas rapi yang berjejer di lorong koridor. Di ujung lorong koridor ada. sebuah pintu. Di dalam sanalah Maryam disekap.


Dengan tatapan tajam Anjas melangkah menuju pintu kamar itu. Melihat ada orang asing yang datang. Semua orang yang berjaga di koridor menghalangi jalan Anjas.


Tapi Anjas langsung menghajar mereka satu persatu. Mereka semua berjumlah 20 orang pria. Walaupun berbadan besar-besar namun tidak membuat Anjas gentar atau mundur. Anjas menghajar mereka dalam waktu 3 menit.


Tidak membuka pintu dengan cara biasa. Anjas menendang pintu itu hingga terlempar ke dalam ruangan. Saat masuk Anjas langsung menuju ke dalam ruangan kamar.


Melihat Maryam diikat langsung Anjas melepaskan ikatan tali itu. Maryam reflek memeluk Anjas saat tali terlepas.


"Nanti saja kita bermesraan. Ayo kita cari Dendi dulu dan pergi dari sini." kata Anjas menarik lengan Maryam.


"Baik mas." jawab Maryam mengikuti Anjas.


Saat di depan pintu Maryam melirik ke sudut ruangan itu. Melihat Fira yang terlihat gugup. Tapi tidak dihiraukan oleh Maryam.


Dendi ditemukan di kamar sebelah kamar Maryam disekap tadi. Di koridor sebelah kanan dari lift.


Mereka segera pergi dari hotel itu. Menuju apartemen Anjas. Sementara Dendi disuruh pulang dengan taksi.