
[Peringatan!! Di bab ini ada sedikit adegan 21+. Jadi yang masih bocil skip yah.]
Mereka saling tatap dalam diam. Namun perlahan lahan wajah masing-masing saling mendekat. Hingga akhirnya bibir mereka saling menyatu. Semakin lama semakin panas dan bergairah ciuman itu.
Karena hampir kehabisan nafas. Keduanya melepaskan bibir masing-masing.
"Maaf mas aku..." "cup.." baru ingin mengatakan sesuatu Anjas sudah mengecup bibir Maryam lagi.
"Kau tidak salah. Jujur aku suka sama kamu. Semakin hari aku semakin suka. Maukah kau menjadi pendampingku?" ungkap Anjas tentang perasaannya setulus hati.
"Apakah ini sebuah lamaran?" pancing Maryam.
"Jika kau menganggap begitu. Maka jadilah begitu." jawab Anjas tersenyum.
"Aku mau mas. Berjanjilah kau akan serius dan membuat aku bahagia." balas Maryam.
"Eh mas... ada yang tegak nih tapi bukan keadilan." Maryam merasakan sesuatu yang keras di bawah sana.
"Hehe... kau mau menemaniku malam ini?" Anjas sudah tidak sabar.
Maryam hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu dengan lincah Anjas berdiri dari duduknya. Masih dengan menggendong Maryam. Kaki Maryam sudah melingkar ke punggung Anjas. Mereka kembali berciuman mesra.
Dengan perlahan Anjas berjalan ke kamarnya. Menutup dan mengunci pintu.
Di atas ranjang Anjas dan Maryam saling menyentuh, meraba dan meremas satu sama lain. Mereka saling menyentuh semua bagian sensitif dari tubuh lawan mainnya.
Semua pakaian mereka sudah menyebar ke segala arah. Entah tersangkut di mana. Sekarang Anjas sudah dalam posisi siap tempur. Dengan senjata yang tegak lurus menghadap goa yang masih sempit.
"Kamu yakin Mar?" tanya Anjas ingin meyakinkan diri.
Maryam hanya mengangguk pasrah. Dia juga sudah suka pada Anjas saat dia ditolong oleh Anjas pertama kali.
Dengan segenap jiwa dan raga. Anjas memulai pertempuran. Hingga raga keduanya menyatu. Saat pertama kali Maryam merasa sakit hingga dia sedikit meneteskan air mata. Anjas memberi ciuman agar Maryam rileks.
Saat Maryam sudah tenang. Anjas menerus permainannya. Mulai dari pelan-pelan hingga menjadi cepat. Senjata Anjas membuat Maryam merasa mabuk. Kenikmatan dunia yang pertama kali dia rasakan. Kesuciannya dia berikan pada orang yang dia cintai.
Permainan Anjas sangat lama. Hingga hampir dua jam dia masih bertahan. Sudah banyak gaya yang mereka praktekan dari ingatan masing-masing. Maryam sudah empat kali keluarkan cairan nikmatnya.
Lalu saat Anjas sudah merasakan sesuatu akan meledak di ujung senjatanya. Dia mengatakan pada Maryam.
"Aku... hah...sudah... hah ingin..." belum selesai Anjas bicara. Maryam sudah tahu maksudnya.
Tapi yang Maryam lakukan adalah melingkarkan kakinya ke pinggang Anjas. Sehingga tubuh mereka semakin erat. Dalam hitungan detik Anjas telah melakukan tembakan langsung ke dalam goa Maryam. Tembakan yang sangat banyak.
Permainan mereka diakhiri dengan erangan nikmat. Nafas mereka juga sudah ngos-ngosan seperti baru berlari ratusan meter.
"Mar... hah... hah... kau tahu apa yang kau lakukan?" bisik Anjas saat tubuhnya menimpa tubuh Maryam.
"Aku hah ...tidak ingin... kau...ha... meninggalkan aku." jawab Maryam. Memeluk Anjas erat.
Semenit kemudian. Mereka tertidur bersama karena kelelahan.
Keesokan paginya. Anjas bangun tidur sudah tidak mendapati Maryam di kasur. Lalu dia beranjak ke kamar mandi. Melakukan ritual mandi paginya. Setelah ganti pakaian rapi dia keluar kamar.
Ternyata Maryam sudah bangun sejak subuh. Dia mandi dan ganti pakaian. Lalu langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Dia terlihat bahagia karena yang dia masak adalah sarapan untuk orang yang dia cintai. Pernyataan Anjas semalam adalah bahwa dia akan menjadikan Maryam sebagai istri.
Sambil bersenandung Maryam menyajikan makanan. Tiba-tiba ada yang memeluk dari belakang. Itu Anjas.
"Selamat pagi Sayang." bisik Anjas.
"Pagi juga mas sayang." balas Maryam.
"Hari ini aku akan tidur di rumah. Sekalian mengabarkan kepada orang tuaku. Bahwa aku ingin melamar kamu." ujar Anjas sambil duduk.
"Baiklah. Terimakasih sayang." Anjas nurut aja.
Setelah sarapan Anjas pun pergi. Dia berniat pergi ke gedung milik Tyo. Dia berpikir untuk lebih baik membujuk Tyo lagi. Sebelum pergi dia memberikan sebuah kecupan pada kening Maryam. Tidak lupa dia mengirim pesan WA ke Dendi bahwa latihan hari ini batal. Besok baru akan latihan lagi.
Sementara di tempat Tyo. Di Haery Building. Sedang terjadi kekacauan. Terlihat baru saja sekitar lima puluh orang berjaket hijau lumut keluar dari gedung itu. Mereka adalah geng Revon. Yang baru saja memporak porandakan isi gedung itu. Seluruh lantai sudah mereka datangi dan melakukan kekacauan.
Bahkan para 10 orang sekuriti yang berjaga di gedung itu sudah mereka hajar tanpa ampun. Itu karena mereka datang dari jam 5 pagi. Sehingga selesai tepat jam 7 pagi. Di mana orang-orang mulai beraktivitas.
Siapa lagi kalau bukan disuruh oleh Herino. Untuk membuat mereka mendapatkan tempat itu. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuat orang yang melawan keluarga Ajisaka menjadi pecundang.
Geng Revon pun pergi dengan wajah ceria. Karena tugas mereka sudah selesai. Maka mereka akan mendapatkan bayaran banyak.
Marvin menelpon Herino. Mengabarkan tugasnya.
"Sudah aku lakukan sesuai perintah Bos." ujar Marvin santai.
"Hmh bagus... Aku akan transfer bayaran kalian." lalu Herino menutup telepon.
Marvin juga langsung meninggalkan gedung itu. Menyusul gengnya.
Kembali ke Anjas. Anjas berniat menjemput Beno agar mereka bisa pergi sama-sama. Dia tidak mau Beno terlambat sampai ke sana.
Saat masih di parkiran apartemen dia sudah mengirimkan pesan WA pada Beno. Jadi kemungkinan Beno sudah siap saat dia sampai.
Tapi di tengah jalan dia melihat sebuah penjambretan. Tas seorang wanita dirampas secara paksa. Hingga wanita itu terjatuh. Penjambret itu menggunakan motor merek Yamaha juga tapi yang harganya murah.
Tidak pikir panjang Anjas mengejar mereka. Kejahatan di depan mata tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Karena jalanan penuh dengan kendaraan mobil. Maka Anjas harus hati-hati. Dia mengejar para jambret itu hingga masuk ke wilayah selatan kota. Anjas merasa ada yang tidak beres langsung melihat sekitar. Ternyata dia sudah dikelilingi oleh beberapa motor yang sama dengan motor jambret yang dia kejar tadi.
"Ternyata ini jebakan." gumam Anjas dalam helm.
"Sepertinya mereka sudah mengetahui indentitas diriku.. Tapi tidak apa-apa. Tidak perlu lagi mencari." ucap Anjas bicara sendiri.
Dia masih mengikuti motor tadi. Sampai mereka berhenti di depan sebuah gedung berlantai 6. Anjas turun dari motor. Sudah dikelilingi oleh lebih dari sepuluh orang.
Salah satu dari mereka memulai percakapan.
"Kau Anjas kan? Ketua baru dari The FALCON?" tanya si pemuda yang membawa tas yang hasil jambretan. Anjas masih menganggap begitu.
"Tidak usah basa-basi. Katakan apa mau kalian." timpal Anjas dingin.
"Ketua kami ingin bertemu." jawab pemuda lain.
"Oke. Antar aku padanya." Anjas menyanggupi.