
Maryam masuk ke kamar. Ternyata dia sudah membawakan kopi untuk Anjas. Untuk menemani kerja Anjas. Maryam sedang membiasakan diri untuk bisa melayani Anjas sejak dini. Agar saat sudah menikah nanti Maryam tidak kaku saat melayani.
"Ini kopi buat mas. Sesuai dengan selera mas yaitu Cappucino panas." ucap Maryam seraya meletakkan cangkir kopi di meja.
"Terima kasih sayang." balas Anjas tersenyum.
Sejenak Anjas memeluk Maryam. Sebagai tanda terima kasih. Lalu Maryam keluar dari kamar. Anjas lalu melanjutkan kegiatan hacking.
Kali ini Anjas mengirimkan video bukti kejahatan Vino ke nomor WA Vino. Termasuk video tabrak lari yang menimpa ibu Dendi. Juga sebuah pesan.
"Kembalilah ke Jakarta. Jika kejahatan mu tidak ingin diketahui oleh kepolisian. Kau tidak melakukan kompensasi yang sesuai. Dalam waktu 24 jam kau tidak sampai di bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Aku akan menyebarkan semua bukti selain yang aku kirim." isi pesan tersebut.
"Sekarang tinggal menunggu umpan dimakan oleh ikan besar. Jika tidak aku yang akan menyeretnya ke sini." gumam Anjas tersenyum miring.
Sementara itu di bandara Internasional Soekarno Hatta. Pasom sudah tiba di bandara itu. Dia terlihat membawa koper kecil sebesar kardus Indomie berwarna hitam. Di dalam koper itu hanyalah pakaian. Dia. tidak akan membawa senjata saat melakukan perjalanan lewat penerbangan komersil biasa. Peralatan dan senjata yang akan dia pakai sudah dikirim terlebih dahulu lewat jalur gelap. Hal itu sudah diurus oleh organisasi.
Pasom masuk ke taksi yang mangkal di depan bandara. Tujuannya adalah hotel yang sudah dipesan oleh organisasi. Karena senjata yang akan dia gunakan untuk pekerjaan ada di hotel itu.
Sesampainya di hotel. Pasom tidak langsung istirahat. Dia masuk ke kamarnya. Masuk ke kamar mandi dan ganti pakaian. Setelah mengganti pakaian serba hitam. Pasom membuka lemari, mengeluarkan sebuah kotak besar.
Dalam kotak itulah senjata dan peralatan yang sudah disediakan. Juga kunci mobil yang juga sudah disediakan. Dia harus merakit bagian senjata yang terpisah. Setelah beberapa menit merakit. Sebuah senjata Sniper yang memiliki panjang satu meter itu terlihat bagus. Namun senjata itu dipreteli kembali menjadi tiga bagian. Yaitu bagian moncong, bagian magazine dan bagian pegangan.
Pasom mengeluarkan semua bajunya dari koper dan memasukan ketiga bagian senjata itu. Selesai dengan bersiap, Pasom sejenak duduk untuk membaca kembali isi dari map yang diberikan Kong Bosnya.
"Dia seorang petarung jarak dekat. Ren mati karena meremehkan orang ini. Aku harus membunuhnya dengan cepat." gumam Pasom sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Kemudian dia keluar dari kamar. Tidak lupa dia mengambil kunci mobil dari dalam kotak. Dia menuju parkiran hotel yang mendapati mobil sedan Avanza hitam. Semenit kemudian dia sudah meluncur dengan mobil itu. Pergi untuk melakukan pekerjaannya malam itu juga.
Anjas yang sedang duduk memperhatikan tampilan layar laptopnya. Dia sedang melihat semua data dalam server kepolisian. Banyak kasus kejahatan yang dia temukan yang menyangkut keluarga Ajisaka ternyata. Semua kasus itu seperti ditutup tanpa diketahui selesai atau tidak.
Hal inilah yang membuat Anjas makin yakin untuk menghancurkan keluarga Ajisaka hingga rata. Juga untuk menyelesaikan misi level bintang 2. Segera dia mengcopy paste semua file kasus itu beserta bukti-buktinya. Setelah mendapatkan semua yang dia butuhkan. Dia keluar dari server kepolisian. Berikut jika ingin mengakses lagi ke server itu dia tidak perlu lagi membobol lagi. Karena sudah ada akun samaran.
Sekarang dia beralih ke perusahaan RingRoad milik Keluarga Arlando. Perusahaan itu tidak besar. Tapi cukup populer karena berfokus pada bidang traveling dan wisata. Mereka juga memiliki Hotel berbintang empat dan beberapa penginapan untuk menambah keuntungan perusahaan.
Tapi sekarang perusahaan itu terlilit hutang di bank. Jumlah hutangnya pun terbilang fantastis yaitu sebesar 15 triliun. Mereka hanya sanggup membayar tidak sampai setengah yaitu sekitar 5,4 triliun saja. Itu pun sudah menjual 2 cabang perusahaan mereka di kota lain ke perusahaan asing. Juga ditambah menjual seluruh penginapan. Jadi setidaknya mereka masih membutuhkan uang sebesar 10 triliun rupiah untuk menutupi sisanya. Tapi tenggat waktu yang diberikan bank hanya dia bulan untuk melunasinya.
Sebab itu Vino dan ayahnya sekarang pergi ke Surabaya untuk meminta bantuan kepada teman lama ayahnya. Mereka menemui seorang wanita berusia 62 tahun. Dia adalah Melinda Ferno senior ayahnya Vino. Juga rekan kerja semasa masih bekerja di perusahaan Megacitra Ajisaka.
Anjas mengetahui semua hal itu melalui pantauan CCTV yang sudah dia retas. Bahkan saat Anjas sedang melihat mereka yang baru saja menyepakati sesuatu. Juga melakukan transaksi transfer melalui aplikasi mobile banking.
Anjas langsung mempunyai ide untuk meretas akun milik Melinda. Membuat transferan uang itu seakan-akan sudah selesai. Padahal uang sebesar 10 triliun rupiah itu hanya akan bertahan selama 15 menit dalam akun banking milik Markus, ayahnya Vino. Lalu setelah waktu lima menit habis uang itu akan terkirim ke akun mobile banking milik Anjas. Tanpa diketahui oleh Markus dan Vino.
Sementara itu di Surabaya. Vino dan ayahnya sudah sangat senang telah mendapatkan uang sebesar 10 triliun. Lima menit terakhir setelah temannya mengirimkan uang itu padanya dia terus memantau kondisi akun banking miliknya. Dia sangat merasa puas meski pun dia harus merelakan tiga cabang hotel bintang empat miliknya yang ada di beberapa kota besar lainnya.
Sekarang mereka sudah menuju ke bandara untuk kembali ke Jakarta. Vino terlihat gusar karena dia baru saja membaca pesan WA dari nomor tidak dikenal. Pesan itu sudah dia lihat dua jam lalu tapi dia diamkan dulu. Dia berpikir bahwa dia sedang diancam oleh hacker yang ingin memerasnya.
"Aku harus mencari tahu siapa orang itu." benak Vino.
"Apa yang kau pikirkan nak?" tangan Markus menepuk pundak Vino.
"Tidak ada ayah. Aku hanya merasa lega. Hutang kita sudah akan lunas." jawab Vino.
"Iya. Ayah juga merasa lega juga." sambut Markus.
Mereka pun berbincang hingga sampai di bandara. Melakukan pengecekan data diri dan tiket mereka. 10 menit kemudian mereka sudah terbang dengan pesawat menuju Jakarta. Mereka tidak mengetahui bahwa uang 10 triliun rupiah mereka sudah raib. Hilang tanpa jejak sedikit pun.
Kembali ke Anjas. Dia baru saja mendapatkan notifikasi dari aplikasi mobile banking. Uang sebesar 10 triliun rupiah baru saja masuk ke dalam akunnya.
"Sangat sempurna. Aku sangat ingin melihat ekspresi mereka saat uang itu sudah tidak ada." benak Anjas sambil merenggangkan otot.
Lalu membuka status sistem miliknya. "Buka status." benak Anjas.
[Nama \=> Anjas Rahadi ]
[Kesehatan \=> 96% (Sehat)]
[Level \=> 3/100 (445/450 - exp)]
[Keahlian \=> Karate Legendaris, Muaythai Legendaris, Mengemudi Super, Mekanik Super, Pemusik Super, Teknik Belati Api,Teknik Pedang Legendaris, Teknik Ilusi mental, Mata Tembus Pandang, Pelukis Expert, Tubuh Menembus Segala Benda, Melihat Tak Kasat Mata, Hacker Super.]
[Kekuatan \=> 295]
[Kecepatan \=> 200]
[Ketahanan \=> 315]
[Kecerdasan \=> 265]
[Item Yang Digunakan: Sarung Tangan Petarung, Cincin Tak Kasat Mata, Cincin Giok Penyimpanan,]
[Mental \=> 90% (Sehat)]
[Saldo rekening \=> Rp.33.829.343.792.500]
[Poin Sistem \=> 90.150]
[Status Hubungan \=> Pacaran (Jumlah: 1 orang)]
[Inventori \=> Berisi barang kebutuhan pemilik sistem.]
[Tiket lotre \=> 1 Tiket Lotre ]
[Misi \=> 1. (2⭐) Menaklukkan Keluarga Ajisaka yang sudah menjadi kejahatan yang tersembunyi. Runtuhkan semua bisnis mereka dan balaskan dendam semua orang. Waktu 7 bulan. Hadiah 2 kotak Glory, 2 kotak Platina dan 5 kotak Emas. (Progres: 48%)
Bantu menuntaskan kasus tabrak lari. Tangkap pelaku yang sudah sering melanggar hukum tabrak lari. Waktu 1 pekan. Hadiah 4 kotak Perunggu. (Progres: 72%)]
[Shop \=> Shop terbuka. Menyediakan berbagai macam hal.]
"Hmmm ternyata beberapa hal yang aku lakukan untuk tujuan misi akan membuat progres misi akan bertambah." gumam Anjas lagi tapi dengan suara yang bisa didengar oleh orang lain.