CHEL

CHEL
Bab 22



Masih dalam keadaan menghilang. Tanpa ragu Anjas menyerang delapan orang itu pada nadi kaki dan tangan mereka. Dimulai dengan tiga orang yang paling dekat. Satu persatu dari mereka tumbang.


"Aaaagghhh kakiku!!" teriak satu orang.


"Aaaagghhh panas...!!!" teriak orang kedua.


"Aaaaaa!!! Tanganku!!" orang ketiga.


"Kenapa kalian bertiga?" tanya temen mereka yang duduk di bangku.


"Aaaakkhh!? Kakiku panas!" orang ke empat tumbang.


Melihat empat orang teman mereka seperti kesetanan. Empat orang lainnya bersiaga.


Ternyata bukan hanya memotong nadi mereka. Anjas juga menusuk beberapa bagian kaki dan tangan mereka. Biar rasa sakit lebih terasa.


Mengetahui empat orang lainnya sudah mengetahui ada sesuatu yang terjadi pada teman mereka. Mereka berkumpul saling mepet punggung. Anjas melempar sebuah kursi yang dekat dengannya.


"GuBrak!" "Aaaakkhh!!" satu orang kena lemparan kursi. Namun tiga lainnya masih bisa menghindar. Memisahkan diri.


Anak-anak yang berada dalam kerangkeng menjadi takut. Sebab orang-orang yang menculik mereka diserang oleh hal yang tidak terlihat.


Dengan gesit Anjas menyerang orang yang paling tinggi. Dia menyayat nadi orang itu di bagian betisnya. Disusul dengan dua tusukan di kedua paha dan lengannya.


"Aaaagghhh!!" orang keenam sudah tumbang. Dua orang yang tersisa merasa dalam bahaya mencoba kabur.


"Aku akan melaporkan ini ke bos!" salah satu berlari menuju tangga menuju lantai bawah. Dia juga sudah menggenggam HP nya.


Anjas ingin mengejar tapi terlalu jauh. Sehingga dia menyerang yang satunya lagi. Sehingga orang itu lolos dari kelumpuhan.


"Aaaakkhh..!!" orang ketujuh tumbang.


Anjas berniat untuk mengejar orang yang kabur tadi. Namun sebelum itu dia menampakkan diri dulu.


"Hah hantuuuu!!" seru seorang anak.


"Tolong jangan makan aku hantu!" seru anak lain.


"Aku anak baik hantu..!" ada yang memegang kepala dan jongkok.


"Sssststtt Sssststtt... jangan ribut.. kakak bukan hantu... coba pegang." ucap Anjas berbisik sambil mengulurkan tangannya. Lalu seorang yang paling dekat menyentuh tangan Anjas.


"Bukan hantu kan?" Anjas meyakinkan anak itu. Anak itu pun mengangguk.


"Baiklah kalian tenang dulu. Kakak ingin menyelamatkan kalian semua. Tapi bersabar sedikit karena kakak harus membuat para orang jahat itu kalah. Oke?" ujar Anjas agar semua anak tidak takut lagi.


Mereka semua langsung mengangguk mengerti. Anjas Lalu berbalik hendak turun ke lantai bawah.


Tapi terlambat... "Pok Pok Pok... bagus... bagus sekali. Ternyata ada tikus yang berbuat ulah di markas kita." tepukan seorang pria yang baru saja naik ke lantai 2.


Disusul oleh beberapa orang lainnya. Mereka ada lima orang. Yang paling depan seorang pria setengah baya. Dua diantaranya adalah pemuda yang memiliki wajah kembar identik berdiri tepat di belakang si pria setengah baya itu. Satu orang yang lari tadi dan temannya.


"Kau sungguh berani masuk ke markas kami. Apa mau mu?" tanya si pria.


"Kau yang memimpin di sini?" balas Anjas. Dia merasakan aura kuat dari dua orang kembar. Bukan dari si pria.


"Iya lah.. aku Ruben Hijami. Bos Human Trafficking terhebat di Asia...! Kau sudah mencari masalah dengan aku! Kau akan tamat!" geram Ruben.


"Pengakuan yang sangat bagus." Anjas menatap Ruben tajam. Seakan ingin menusuk orang yang di hadapannya itu dengan tatapan.


"Sistem scan dua orang kembar itu." benak Anjas.


[Melakukan scanning tubuh....]


[Scanning selesai.]


[Nama: Rano Hasan.


Usia: 25 tahun.


Pekerjaan: Pengawal Ruben Hijami.


Status kepolisian: Buronan.


[Nama: Karno Hasan.


Usia: 25 tahun.


Pekerjaan: Pengawal Ruben Hijami.


Status kepolisian: Buronan.


Keterangan: Pendekar yang salah jalan. Karena yatim piatu dan diadopsi oleh mafia. Memiliki kakak kembaran. Beladiri silat Melayu. Sudah membunuh lebih dari 100 kali.]


"Menarik." gumam Anjas.


"Rano... Karno... habisi bocah itu!" seru perintah Ruben.


"Siap Bos!" jawab Rano dan Karno kompak.


Keduanya maju perlahan. Mereka saling memberi kode. Rano langsung melesat cepat. Sebuah tendangan menuju perut Anjas. Dengan teknik muaythai Anjas menangkis tendangan itu. Anjas sedikit terdorong kebelakang. Karno tidak tinggal diam dia melancarkan sebuah tendangan juga namun lebih gesit. Anjas tidak sempat menghindar. Bahunya terkena tendangan. Sekali lagi Anjas terdorong. Hingga tersandar ke besi kerangkeng.


"Hah hah... kalian lumayan juga." Anjas menyentak maju.


Anjas mendekati Karno yang masih diam di tempat. Kecepatan Anjas tidak disadari oleh Karno. "Wus... wus... BUAK!" serangan sikut yang keras telak kena di dada Karno.


"Uuuhhk.. " Karno hanya terdorong beberapa langkah. Memegang dadanya yang terasa nyeri.


"Kurang ajar!" Rano menyerang Anjas lagi.


"Habis kau!" disusul Karno.


Mereka saling memberi pukulan, menendang dan menangkis serangan.


Rano dan Karno adalah petarung dan pendekar yang berpengalaman. Sudah banyak nyawa yang mereka hilangkan. Juga menguasai silat Melayu.


Namun Anjas masih unggul dari kecepatan. Dia bisa mengimbangi serangan dua saudara kembar itu. Ketahanan dan kekuatan Anjas juga tidak kalah. Anjas harus menggunakan kecerdasannya agar bisa menang.


"Tak... plak buk pak.. syut dak... syut tak tak buk..." Anjas masih bertahan dan menyerang secara bersamaan. Walaupun menggunakan belati Anjas masih belum bisa memberikan luka pada si kembar.


"Hiat.. ha.. hu ha..." suara seruan pertarungan.


"Buk buk..." Anjas berhasil memukul mundur dua kembar itu.


"Beladiri muaythai. Hebat juga." ujar Rano.


"Karate mu juga bagus. Gabungan kedua beladiri yang kuat." timpal Karno.


"Silat Melayu yang juga tidak kalah mematikan." balas Anjas.


"Heh... Hiiaaa!" Rano sudah memulai serangan lagi. "Haaaaa!" disusul Karno.


"Akan ku buat kalian menyesal." gumam Anjas. Kali ini Anjas maju ke arah Rano. Tapi secara mendadak merubah arah ke Karno.


Rano menyadari itu berusaha untuk bergegas menghadang Anjas. Tapi itu hanya tipuan. Anjas tiba-tiba berbalik dan menendang ke arah leher Rano. "Dak.." serangan Anjas tepat sasaran. Rano jatuh tersungkur.


Tidak diam Anjas melanjutkan serangan ke Karno. Masih bisa diantisipasi Karno. Menangkis beberapa pukulan sikutan dan tendangan Anjas. Tapi setelah itu tangan Karno terasa sakit.


Hal itu karena Anjas tidak sembarang menyerang. Tapi serangan Anjas kena tepat pada titik akupuntur Karno. Jadi akan lebih menyakitkan jika kena pukulan keras pada titik-titik itu.


Melihat Rano yang bangkit kembali. Anjas dengan lincahnya menyerang Rano kembali. Tapi dengan menyayat beberapa nadi di kaki dengan belati. "Cak *** cak.." "Aaaarrrgghh!" "Bruk." Rano mengerang keras. Dia berlutut sambil menahan sakit.


"Tidak kakak!" "Bajingan kau!" Karno marah melihat kakaknya terluka. Dia maju menyerang Anjas. Karno tidak bisa mengendalikan emosi. Dia menyerang secara brutal.


Tapi Anjas sudah mengantisipasi hal tersebut. Dia bisa menghindari semua serangan Karno. Mencari celah dan...


"Cak..." belati Anjas menancap di lengan Karno. "Aaaaaaaaahhhhh!!" teriakan Karno memilukan.


"Akan ku akhiri dengan cepat." ujar Anjas. Dengan cepat mencabut belatinya. Dia tidak ragu. Dengan cepat menyayat semua nadi di tangan dan kaki Karno. Bahkan beberapa bagian tubuh Karno jadi sasaran sayatan.


Tubuh Karno bersimbah darah. Terakhir belati anjas itu menyayat mata kiri Karno. "Aaaah aahh panas sekali!!" "GuBrak!" pekik Karno sebelum jatuh ke lantai.


"Gawat." gumam Ruben. Dia menyadari dirinya dalam bahaya.