CHEL

CHEL
Bab 31



Jantung Anjas mulai berdetak kencang. Mulai gugup dengan tatapan mata Maryam yang membuat teduh.


Agar Maryam tidak mendengar suara detak jantungnya. Anjas pun langsung mendorong tubuh Maryam menjauh. Maryam langsung sadar dan bangkit. Dia juga gugup.


"Untuk apa kau mengambil kardus itu? Itu hanya kardus kosong." tanya Anjas sedikit membentak.


"A... aku... aku berencana untuk mengirim pakaian untuk keluargaku. Jadi memerlukan kardus kosong. Di... di apartemen milikmu tidak ada kardus besar seperti itu." jawab Maryam terbata-bata. Dia menunduk tidak berani menatap Anjas.


Melihat itu Anjas meraih dan mengangkat dagu Maryam lalu berkata... "Jangan pernah menunduk saat bicara dengan aku." Anjas sudah tidak membentak. Tapi masih membuat Maryam terkejut dan salah tingkah.


Sekali lagi mereka bertatapan mata. Kali ini lebih lama. Wajah Anjas semakin mendekati wajah Maryam. Tapi...


"Kak Anjas sudah datang." sapa Dendi di belakang mereka. Hal itu membuat mereka sadar dan kaget juga.


Sehingga mereka berdua memisahkan diri. Maryam kembali mengambil kardus yang jatuh. Lalu pergi dekat kasir meletakkan kardus di kolong meja dekat kasir. Kemudian ke dapur untuk membuatkan teh untuk Anjas.


"Bagaimana kerjamu? Aman kan?" basa-basi Anjas.


"Iya kak aman terkendali." Dendi seadanya.


"Oh iya besok kakak akan kasih gaji kamu yang pertama. Yang selama seminggu ini." ujar Anjas sambil duduk dan membuka bungkusan martabak.


"Kan besok aku baru ke enam hari kerja kak. Kok sudah mau gajian?" tanya Dendi bingung.


"Tidak apa-apa. Mumpung ada uangnya besok." jawab Anjas biar Dendi tidak bertanya lagi.


Sekembalinya Maryam dari dapur. Dia membawa tiga cangkir teh di atas nampan. Maryam sudah tahu kebiasaan Anjas saat masih kerja di toko itu. Yaitu makan cemilan dan minum teh.


Mereka menyantap martabak bersama. Juga berbincang sebentar. Anjas juga mengingatkan Dendi besok untuk latihan lagi.


Mereka pun berganti shift saat pak Umar datang. Seperti biasa Dendi pulang sendiri. Anjas dan Maryam kembali ke apartemen. Di jalan mereka sempat terjebak macet. Jadi lebih lama sampai. Tapi Anjas entah kenapa merasa bahagia. Mungkin karena Maryam tidak sadar memeluk Anjas selama perjalanan.



Sesampainya di parkiran apartemen. Saat ingin menuju ke lift. Anjas melewati sebuah mobil mewah bermerek BMW. Yang kap depannya terbuka. Juga seorang wanita yang berusia sekitar 24 tahun sedang berusaha mengutak-atik mesin.



Karena Anjas penasaran dia pun menghampiri mobil tersebut. Lalu menanyakan keadaan mobil. Maryam hanya mengikuti saja.



"Kenapa mobilnya mbak?" tanya Anjas yang sudah di samping wanita itu.



"Ah iya mas. Ini padahal kemarin sudah saya servis tapi kok sekarang tidak mau hidup mesinnya." jawab si mbak yang menggunakan baju kantoran pada umumnya.



"Aku mau ke pertemuan penting tapi di tunda karena mobil ini." lanjut si mbak.



"Oh kalau begitu biar saya cek. Siapa tahu bisa." kata Anjas mengambil alih.



Beberapa menit Anjas memeriksa. Ternyata aki mobil itu kehabisan daya. Biasanya bisa diisi ulang atau diganti baru. Lalu Anjas memberitahukan soal itu pada si mbak.




Beberapa saat montir yang dimaksud datang dan memeriksa lagi. Ternyata sama juga dengan yang dikatakan Anjas. Harus diganti aki mobil itu. Si montir langsung menelpon bengkel tempat kerjanya untuk mengantarkan aki baru. Anjas masih menemani si mbak.



Hingga aki baru sudah terpasang dan mobil bisa hidup lagi. Anjas masih ikut membantu si montir. Ada beberapa cara lebih baik yang Anjas bagi ke si montir.



"Terimakasih mas. Sudah membantu saya. Ini mas buat beli rokok." kata si mbak sambil menyodorkan lima lembar uang seratus ribu.



"Saya tidak merokok mbak." Anjas mendorong kembali tangan si mbak. Kemudian langsung berjalan pergi bersama Maryam.



"Eh iya. Nama mas siapa? Nama saya Nabila." seru si mbak lagi.



Saat sampai di depan lift. Anjas berbalik dan menjawab. "Panggil saja Anjas. Aku tinggal di lantai 2 no. 26." Anjas berbalik lagi dan memasuki lift.


Sampai di apartemen miliknya. Anjas langsung masuk kamar. Seperti biasa Anjas mandi dan mengganti pakaian. Dia hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong putih.


Melihat ada pakaian bersih di atas kasur. Yang mungkin baru saja dicuci oleh Maryam. Hal itu biasanya dilakukan oleh orang yang baru kenal. Jika dia membuka lemari Anjas. Akan dicurigai sebagai pencuri nanti. Karena tidak sopan membuka lemari orang lain tanpa izin.


Anjas keluar kamar. Bersamaan dengan Maryam yang juga keluar dari kamarnya. Karena tindakan Anjas di toko tadi membuat Maryam sedikit canggung.


"Aku lapar. Ada makanan Mar?" ujar Anjas memecah keheningan.


"A.. ada mas. Sebentar aku siapkan." Maryam bergegas ke dapur untuk memanaskan makanan yang dia masak tadi.


Hanya beberapa menit saja makanan sudah disiapkan. Mereka makan dengan hening. Anjas menyantap makanan dengan lahap. Karena memang enak. Semur ikan dan sayur lodeh dinikmati oleh Anjas.


Selesai makan dia duduk di sofa ruang TV. Lalu menyalakan TV. Maryam yang hendak masuk ke kamarnya langsung dipanggil oleh Anjas.


"Mbak Maryam. Kemari lah temani aku nonton." ajak Anjas.


"Iya mas." Maryam pun mau nonton juga.


Selama nonton mereka sangat menikmati acara TV tersebut. Mulai acara komedi sampai acara drama mereka tonton.


Karena sudah mulai bosan Anjas mulai mengganti-ganti channel TV. Tapi tanpa Anjas tahu. Salah satu channel ada yang khusus dewasa tepatnya di channel terakhir.


Saat sampai di channel terakhir. Sebuah adegan yang membuat seketika tangan Anjas kaku. Tidak bisa bergerak untuk menekan tombol sekali lagi untuk memindahkan channel.


Adegan itu adalah di mana seorang wanita yang sudah berada di atas pangkuan seorang pria. Mereka sedang berciuman panas.


"Mas Anjas... ini..?" Maryam bersuara dengan sedikit gelisah.


Anjas yang tersadar karena suara Maryam langsung menekan tombol power untuk mematikan TV. Jantung Anjas masih berdegup. Terdiam bersama dengan Maryam.


Mereka masih terbayang dengan adegan tadi. Tapi Maryam ingin menepis bayangan itu. Dengan mencoba beranjak dari tempat itu. Tapi mungkin karena sial. Daster yang digunakan Maryam menyangkut di meja entah di bagian mana.


Maryam berusaha melepaskan itu. Melihat Maryam yang kesusahan melepaskan dasternya yang tersangkut. Anjas mencoba membantu.


Tapi karena gugup Anjas tidak sengaja menarik kasar daster itu hingga robek sampai ke bagian paha. Lalu dengan mulus daster itu terlepas. Yang membuat Maryam oleng. Dengan sigap Anjas menarik tangan Maryam tapi terlalu keras. Sehingga tubuh Maryam menimpa tubuh Anjas. Posisinya persis dengan adegan yang di TV.