
Di ruangan manager kafe. Beno dan Deni duduk saling berhadapan.
"Aku tidak menyangka kau bekerja di bawah seorang ketua geng. Hebatnya juga geng itu adalah salah satu yang berkuasa. Apa kau dipaksa olehnya? Aku bisa membela kau agar lepas dari cengkraman mereka." ujar Deni membuka pembicaraan.
"Hehehe... Kau terlihat seperti pembela kebenaran yang ada di film. Aku bekerja dengan suka rela pada orang itu. Aku tidak pernah diancam atau terpaksa. Juga geng The FALCON sudah bukan geng yang bikin onar. Itu sejak Anjas menjadi ketuanya." jelas Beno bahwa keadaan dirinya tidak seperti yang dipikirkan Deni.
"Anjas? Si anak paling pintar di sekolah SMA? Kau tidak bercanda, kan? Yang aku tahu dia tidak bisa berkelahi atau beladiri. Bagaimana bisa?" Deni terkejut mendengar perkataan Beno.
"Dia telah berubah sekarang. Bahkan dia bisa mengalahkan 50 orang dari geng lain sendirian. Juga dia sudah tidak miskin lagi seperti dulu. Kafe ini miliknya dan geng beraliansi dengan geng Metal Sins." jelas Beno tentang keadaan Anjas sekarang.
"Sekarang giliran aku bertanya. Apa kabar dirimu yang menghilang selama dua tahun lebih ini?" lanjut Beno yang dari tadi penasaran.
"Kabarku tidak baik sekarang. Setelah usaha keluargaku bangkrut. Kami pindah ke Pontianak. Tapi kami kurang beruntung. Ayahku sakit karena serangan jantung dan ibuku tidak bisa membiayai keluarga." jelas Deni.
"Dengan terpaksa dan tidak ada pilihan aku dan abangku bekerja serabutan hanya untuk biaya kehidupan dan sekolah adik perempuanku yang masih SD. Tapi derita tidak sampai di situ. Ayahku meninggal dunia karena kita tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Karena itu juga ibuku menjadi stress dan masuk rumah sakit jiwa. Aku dan kakakku bingung harus berbuat apa." Deni terdiam sejenak. Beno yang ingin bertanya pun tidak jadi karena tatapan mata Deni menjadi lain.
"Suatu hari abangku mendapatkan pekerjaan yang lumayan gajinya. Dia menjadi pengantar paket barang. Suatu hari dia tidak sengaja mengetahui bahwa paket yang selama ini dia antar adalah ganja. Orang yang yang menjadi tujuan pengiriman adalah seorang pria yang bekerja di pelabuhan Pontianak. Dia menjadi penyelundup narkoba ke Jakarta. Abangku ditahan polisi saat kena razia di tempat kerjanya." lanjut Deni.
"Lalu kenapa kau di sini? Bagaimana dengan adikmu apa dia tidak lanjut sekolah?" pertanyaan yang dari tadi ditahan Beno pun keluar.
"Semua yang aku ceritakan itu hanya segelintir saja. Aku bersama adikku kembali ke Jakarta untuk belas dendam. Usaha keluarga bangkrut karena ayahku bersinggungan dengan keluarga Wijaya. Mereka menjebak ayahku sehingga harus berhutang. Tidak sampai di situ. Abangku ternyata dijebak juga oleh mereka. Keluarga Wijaya memiliki koneksi dengan mafia di Pontianak. Semua itu sudah mereka rencanakan. Bahkan ayahku meninggal karena dia baru tahu bahwa semua itu dilakukan adiknya sendiri alias pamanku. Dia berkerja sama dengan keluarga Wijaya untuk menjatuhkan keluarga kami.!" terang Deni yang mana dia seperti orang depresi berat sambil menunduk.Dengan tatapan mata kosong dan ekspresi datar terlihat lebih dominan. Tangannya terus menggenggam erat hingga terlihat pucat.
"Kau tahu dari mana semua itu? Apa kau memiliki bukti bahwa mereka yang melakukannya? Jika iya aku dan Anjas pasti akan bantu." Beno mencoba menenangkan Deni.
"Semua bukti yang aku dan pengacara ayahku telah dihancurkan bersama dengan terbunuhnya pengacara itu. Lima bulan yang lalu aku dan adikku kabur dengan menyusup ke kapal kargo yang menuju Jakarta sebagai penumpang gelap. Sampai di Jakarta aku bertemu dengan bibi Salma yang menjaga kantin di SMA. Dia yang memberikan tempat tinggal padaku dan Aminah adikku." jelas Deni makin menunduk.
"Terus bagaimana cara kau menjadi ketua geng motor Hummer?" pertanyaan terakhir dari Beno.
Deni mengangkat kepala. "Lebih tepatnya pendiri geng motor Hummer. Selama aku tinggal di rumah bibi Salma. Aku bekerja di bengkel yang menjadi langganan beberapa anak muda yang suka motor. Kau tahu kan aku suka motor dari dulu? Ada yang mengajak aku balapan motor. Lalu aku menang. Ternyata mereka melakukan judi. Aku mendapatkan uang dari balapan motor. Hingga aku bisa beli motor sendiri. Mulai dari situlah aku berpikir untuk membuat geng dan berusaha untuk menguasai suatu wilayah. Hingga akhirnya kita bertemu." jawab Deni panjang lebar tentang sangkut pautnya dia dengan geng motor Hummer.
"Tenang Deni. Kita tunggu saja Anjas kembali dari luar kota. Baru kita bahas lagi tentang balas dendammu. Kira-kira enam hari dari sekarang." tambah Beno.
"Baiklah." sambut Deni. Tapi ekspresinya tidak berubah sama sekali. Masih datar.
Sementara itu Anjas. Sudah berada di padepokan. Tepatnya di ruang pembuat herbal milik padepokan Macan Putih. Dia bersama dengan Guru Nur Wulan sedang meracik ramuan. Ya, itu adalah ramuan herbal Pembersih Hati dan Jantung. Ternyata bahan yang diperlukan untuk membuat ramuan herbal itu hampir sama dengan ramuan Pembersih Ginjal. Cuma berbeda beberapa bahan saja dan bisa ditemukan di kebun padepokan. Jadi tidak perlu lagi untuk memesan lagi.
Dengan sangat hati-hati dan teliti Anjas membuat ramuan herbal itu. Mulai dari menumbuk, mengambil sari dari bahan tersebut, mencampur adukkan beberapa bahan sampai dengan proses merebus ramuan yang paling memakan waktu lama.
"Hah.. Akhirnya selesai juga." ucap lega Anjas.
"Aku berharap dengan ramuan ini bisa menjadi obat untuk kanker hati Guru Besar." sambut Mur Wulan.
Segeralah mereka pergi mengunjungi kediaman Pak Zainal. Kebetulan di sana ada Alin juga.
"Ramuan herbal yang aku janjikan sudah ada pak. Silahkan pak Zainal minum." kata Anjas sambil memberikan sebuah botol bening. Yang di dalamnya terdapat cairan berwarna hijau tua yang sangat pekat.
Saat botol itu dibuka. Bau harum herbal tercium oleh mereka. Anjas dan Nur Wulan sudah tidak kaget dengan baunya.
"Semoga aku bisa sehat kembali." setelah mengatakan itu pak Zainal meminum ramuan tersebut tanpa ragu lagi. Hingga habis tetes terakhir.
"Mungkin efek dari ramuan itu akan bapak rasakan nanti tengah malam. Jika bapak merasa ingin muntah keluarkan semuanya jangan ditahan. Itu berarti bahwa ramuan sedang bekerja." jelas Anjas sebelum meninggal kediaman Pak Zainal.
Anjas kembali ke kamarnya. Sementara Nur Wulan kembali ke ruang pembuat herbal. Di sana sekaligus tempat tinggal Nur Wulan juga. Karena ada ruangan khusus untuk Nur Wulan tidur.
Besoknya, keajaiban benar-benar terjadi pada Pak Zainal. Efek yang dijelaskan Anjas, dirasakan oleh pak Zainal benar terjadi semalam. Sehingga pagi hari pak Zainal segera menemui Anjas untuk berterima kasih langsung.
"Nak Anjas aku berterima kasih atas bantuannya. Hari ini aku akan ke rumah sakit di kabupaten untuk memastikan kembali tenang kondisi tubuhku." ujar Pak Zainal yang sudah terlihat rapi dengan kemeja batik.
"Aku juga merasa senang jika memang sudah sembuh total. Jika tidak aku siap dihukum oleh bapak atau Alin." balas Anjas dengan ekspresi wajah senang.
Soalnya sebenarnya dia juga telah mendapatkan notifikasi sistem. Yang mana adalah tanda keberhasilannya dalam menyelesaikan misi spesial dari sistem.