
"Sebaiknya kau keluar. Aku tau kau mengikuti aku... Jihan!" Anjas menghentikan langkahnya dan menoleh belakang. Di sana ada tempat sampah yang cukup besar.
Lalu dengan terpaksa Jihan keluar. Dia sudah ketahuan.
"Bagaimana kau tau?" tanya Jihan makin penasaran.
"Ini sudah malam. Kau ingin kejadian tadi padamu lagi? Pulanglah. Atau kau mau aku antar." Anjas tidak menjawab pertanyaan Jihan.
"Kau seperti orang yang berbeda Anjas. Melihat reaksimu saat menghadapi perampok tadi. Kau sama sekali tidak takut." sanggah Jihan sedikit memaksa.
"Aku memang bukan Anjas yang dulu. Aku sudah berbeda. Aku bukan lagi orang yang bisa ditindas oleh orang lain." ujar Anjas jadi dingin.
"Ah... maaf. Oke aku tidak akan mengungkitnya lagi. Kalau begitu aku pulang dulu." Jihan hendak berbalik.
Tapi ada tangan yang menahan Jihan pergi. Itu adalah Anjas. Dia menahan Jihan pergi.
"Maaf jihan. Aku tidak bermaksud kasar padamu." ujar Anjas.
"Tidak apa-apa. Aku pergi." Jihan melepas tangan Anjas dan bergegas pergi.
"Kau masih seperti dulu." gumam Anjas saat melihat punggung Jihan yang hilang dari pandangan.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam. Anjas yang tidak bisa tidur. Kini sedang membuka laptopnya. Dia baru saja mendapatkan hasil pencarian identitas seseorang.
Identitas yang dia cari adalah orang asing yang dulu ingin membunuhnya. Yaitu Ren si Raja Belati dari Black Mamba. Dengan melakukan scanning pada foto Ren yang dia dapat dari sebuah berita online. Anjas mendapatkan semua informasi yang menarik.
"*Jadi dia adalah pembunuh bayaran dari negara lain. Black Mamba ya.... Berarti ada yang mengincar aku sekarang. Pantas saja aku memiliki firasat buruk seperti saat itu." benak Anjas*.
"Aku harus mencari informasi tentang mereka." gumam Anjas.
Anjas mengerahkan seluruh kemampuan hacker super yang dia miliki. Sepuluh jarinya seperti tidak cukup untuk mengimbangi kemampuan itu.
Selama 4 jam dia terpaku pada laptopnya. Selama itu pula dia tidak sedikit pun berpaling. Dia sangat fokus mencari sesuatu.
Tepat pukul 00.00 Anjas telah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia telah mendapatkan semua informasi tentang Organisasi Pembunuh Bayaran Black Mamba. Mulai dari identitas semua anggota dan kasus apa saja yang berkaitan dengan mereka.
Ternyata di organisasi itu bukan hanya memiliki anggota orang China saja. Tapi juga ada anggota dari negara lain seperti Korea, Jerman, Amerika, dan beberapa negara di Asia termasuk Indonesia.
"*Ada satu anggota yang berasal dari Indonesia. Apa ini seperti yang aku pikirkan*?" benak Anjas lagi sambil memegang dagunya.
Sekarang Anjas memasuki server sebuah bandara internasional yang ada di Jakarta. Dia sedang mencari hal dia curiga. Beberapa menit kemudian dia pun menemukan hal itu.
"Ternyata benar dia sudah datang ke Indonesia sekarang. Aku harus berhati-hati sekarang." gumam Anjas.
Dia tidak khawatir dengan dirinya. Tapi dia khawatir pada keluarganya. Dia tidak ingin mereka celaka.
Anjas ingin tahu dimana orang yang mengincarnya berada sekarang. Takutnya orang itu sudah sangat dekat dengan Anjas. Tapi tidak diketahui oleh Anjas.
Anjas menggunakan satu software miliknya yang diberi nama "Watchdog Eye". Software ini berfungsi melacak seseorang melalui tangkapan gambar dari berbagai jenis kamera. Seperti kamera CCTV, kamera dasbor mobil, kamera hp yang terhubung ke internet atau pun webcam.
"Sepertinya aku harus menyiapkan diri. Agar tidak seperti waktu melawan si Raja Belati." ujar Anjas sambil melangkah ke kasur busa.
Dia sudah merasa mengantuk sekarang. Langsung saja dia tidur.
Keesokan harinya.
Baru saja Anjas selesai mandi. Dia mendapatkan telepon dari Tyo.
"Halo pak Tyo. Apa kabar?" sapa Anjas.
"Hahahaha sepertinya kau akrab dengan Tyo. Aku kasih satu kesempatan untuk kau. Datang ke gedung milik Tyo... ah bukan sekarang gedung ini milikmu. Aku tunggu jam delapan. Atau kau akan melihat mayat Tyo dan istrinya di depan gedung!." itu bukan suara Tyo melainkan Herino.
"Jangan sentuh mereka. Karena mereka tidak terlibat. Aku akan datang." jawab Anjas dingin dengan tatapan tajam ke arah jendela.
"Aku akan membuat kau menyesal telah berurusan dengan keluarga Ajisaka. Tut.." Herino menutup telepon.
Anjas keluar dari ruangan ketua. Melihat anggota geng The FALCON yang hanya beberapa orang di sana. Melihat sekitar mendapati ada Justin yang baru saja datang.
"Pagi ketua. Apa kau beristirahat dengan nyenyak?" sapa Justin.
"Justin panggil semua anggota geng sekarang." perintah Anjas tanpa menjawab sapaan Justin. Terlihat ekspresi wajah Anjas yang sedang menahan emosi.
"Baik ketua." Justin menghampiri Opan yang sedang menyeruput kopi.
"Opan kumpulkan semua anggota geng The FALCON. Ini perintah ketua." perintah Justin.
"Siap." Opan meraih hp nya dan melakukan panggilan telepon.
Sementara Justin menelpon Jordan. Meminta datang ke markas The FALCON pagi itu juga. Anjas juga melakukan panggilan telepon. Yang dia telepon adalah Beno.
"Halo Beno. Sekarang juga kau datang ke alamat yang akan aku kirim." setelah mengatakan itu Anjas menutup telepon. Lalu mengirim alamat markas geng The FALCON.
Dalam waktu setengah jam. Semua orang yang dihubungi telah berkumpul. Termasuk Beno yang heran, bagaimana Anjas bisa menjadi ketua geng.
"Ada hal apa kalian menghubungi kami di pagi hari?" tanya Jordan.
"Hari ini sebenarnya adalah hari ulang tahun adikku. Tapi ada yang membuat aku khawatir. Tadi Herino menghubungi aku menggunakan nomor rekan bisnisku. Dia mengancam akan membunuh rekanku itu jika tidak datang ke gedung baru saja aku beli jam delapan nanti." jelas Anjas.
"Rekan bisnis yang kau maksud siapa?" tanya Beno.
"Pak Tyo. Sepertinya dia disandera bersama istrinya di sana." jawab Anjas.
"Waktu kita hanya satu jam. Jika kita pergi sekarang bisa sampai dalam waktu 50 menit. Jika tidak macet." balas Beno.
"Ketua apa kita akan pergi sekarang?" tanya Justin sekarang.
"Tidak semua yang akan pergi. Hanya aku, Beno, Justin, Jordan dan Dion yang akan pergi. Yang lain jaga markas. Karena mungkin mereka akan membuat jebakan lagi." jawab Anjas.
"Hah? Bagaimana mungkin kita hanya pergi dengan sedikit orang? Mungkin mereka sudah menyiapkan banyak petarung di sana. Setidaknya bawa beberapa orang." sanggah Julia dengan keputusan Anjas. Tentunya dia khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan nanti.
"Hengky dan Opan akan menjaga markas dan keluargaku. Dengan sisa anggota. Aku dan orang yang aku tunjuk akan langsung meladeni Herino di tempat yang sudah menjadi milikku." lanjut Anjas menjelaskan.
Anjas merangkul gadis itu untuk menenangkannya. "Tenang saja aku akan kembali dengan selamat." ujar Anjas dengan senyum hangat.
Hal itu membuat Julia sedikit tenang. Tapi masih saja khawatir karena yang akan dilawan mereka adalah para mafia kejam.
"Ada apa ini Nak? Kok rame-rame begini?" terdengar suara ayahnya dari belakang.
"Ah tidak ayah. Aku mengumpulkan teman-teman untuk membantu menyiapkan pesta ulang tahun Anin. Aku juga ingin keluar karena ada urusan." jawab Anjas beralasan.
Semua anggota geng hanya tersenyum dengan jawaban Anjas. Merasa bahwa ketua mereka tidak ingin keluarganya mengetahui bahwa mereka akan menyerahkan kelompok mafia.
"Oh begitu ya. Terimakasih atas bantuannya. Padahal hanya acara makan malam saja." ayahnya pun pergi meninggalkan kerumunan.
"Baiklah ayo kita bergerak." ajak Anjas keluar markas.
Segera kelompok lima orang Anjas pergi ke Haery Building. Menggunakan mobil sport masing-masing. Kecuali Beno yang satu mobil dengan Anjas.