CHEL

CHEL
Bab 78



Niat awalnya Anjas ingin hanya membuang semua mayat dalam cincin ke laut. Tapi dia menemukan sebuah ide lebih gila lagi. Saat dia berhenti di tengah laut. Dia bertanya pada sistem.


"CHEL apakah di laut Indonesia memiliki tempat berkumpulnya para Hiu ganas?" tanya Anjas yang penasaran.


[Jika mencari informasi di tahun ini. Belum ditemukannya titik lokasi berkumpulnya para hiu ganas yang dimaksud. Tapi jika mencari informasi di memori internal sistem. Di Indonesia akan ada tempat yang seperti itu. Tepatnya di laut Utara Jawa barat.] jelas sistem sesuai informasi yang ada.


"Apa di tahun ini tempat itu sudah ditemukan?" Anjas sangat ingin mengetahui hal itu.


[Belum, jika dilihat dari memori. Tempat itu akan ditemukan di tahun 2030. Itu pun tempat pengembang biakan hiu genetik. Hiu putih yang menjadi hewan buas eksperimen para peneliti untuk dijadikan senjata biologi. Namun para hiu itu bisa meloloskan diri dari tempat itu dan menyebar ke beberapa perairan Indonesia. Seperti di perairan Sumatera Utara dan barat hingga ke Singapura. Juga ada sebagian di perairan Kalimantan Selatan.] jawab sistem jelas.


"Jika penemuan itu ada di tahun 2030. Pasti penelitian yang dimaksud sudah dilakukan sebelum itu. Berarti tempat itu sudah ada beberapa tahun sebelumnya." lalu Anjas berpikir sejenak.


"CHEL lakukan pencarian titik lokasi yang ada di memori internal sistem. Kita akan pergi memeriksa tempat itu, sekarang." perintah Anjas setelah berpikir matang.


[Bing! Pencarian sedang diproses...]


Semenit kemudian.


[Bing! Pencarian selesai.]


[Lokasi ditemukan. Jarak 68 km ke arah Utara dari tempat anda sekarang.]


Segera Anjas menyalakan mesin speed boat dan melesat ke arah yang ditunjuk. Untungnya Anjas sempat membeli bahan bakar speed boat itu 10 galon dan disimpan di cincin giok penyimpanan. Jadi dia tidak khawatir dengan kehabisan bahan bakar.


Selagi Anjas mencari tempat tujuannya. Di sebuah ruangan di Mabes Polri Kompol Supriono sedang melihat hasil laporan dari bawahannya. Laporan itu adalah kasus terbunuhnya turis asing yang belum lama terjadi sebelum tahun baru. Laporan itu adalah hasil otopsi jenazah korban.



"Sepertinya aku kenal dengan tato dari kedua orang ini." berkata seperti itu Kompol Supriono langsung membuka laptopnya dan mencari tahu soal tato ular hitam yang melilit sebuah mawar hitam.



Saat melihat file kasus internasional. Dia langsung mengingat dan membuka file itu. Memeriksa sebentar lalu dia mengumpat.



"Sialan. Mereka berdua adalah anggota dari Organisasi Black Mamba. Organisasi para pembunuh bayaran profesional. Jika mereka ada di Indonesia berarti mereka sedang memburu target mereka di Indonesia. Yang jadi pertanyaannya. Siapa orang malang yang menjadi target mereka?" wajah polisi itu sangat ketakutan.



Dia mengingat kejadian di masa lalu. Tepatnya 8 tahun yang lalu sebelum dia menjadi komisaris polisi. Dia sedang bertugas untuk menjadi pengawal keluarga pejabat waktu itu ke Australia. Dia dengan 9 anggota kepolisian lainnya. Menjadi tim keamanan keluarga itu.



Namun keluarga yang mereka lindungi itu dibantai habis oleh dua orang pembunuh bayaran. Juga 7 anggota tim Supriono tewas karena ingin melindungi keluarga itu. Dua orang itu memiliki ilmu beladiri tingkat tinggi. Salah satunya memiliki ilmu tenaga dalam. Tim keamanan Supriono hampir dibabat habis.



Untungnya Supriono pura-pura mati saat itu. Jadi mereka merasa sudah selesai misi mereka.



Mengingat semua itu Kompol Supriono menghubungi rekannya yang sangat beruntung direktur oleh Interpol. Rekannya itu adalah salah satu orang yang selamat dari para pembunuh bayaran.



"Halo Di... kau sibuk sekarang? Aku memiliki kabar buruk. Ada kasus yang sulit untukku. Bisa kau membantuku?" ungkap Kompol Supriono pada rekannya. Yang bernama Jordi Hikobi.



"Hahahaha sudah lama kita tidak ketemu. Apa kabar kau Supri? Aku tidak sibuk sekarang. Kasus apa yang membuat Ketua tim kita kesusahan?" balas Jordi saat menjawab telepon.



"Aku baik Di. Bagaimana kalau kita ketemuan saja? Kau di mana sekarang?" ajak Supriono.



"Hm... itu bisa kebetulan juga aku baru balik dari Taiwan. Kita bisa bertemu di restoran biasa." jawab Jordi menyanggupi.



Setelah itu mereka menutup telepon. Kompol Supriono langsung bersiap dan bergegas pergi dari ruangannya.


Sementara di kediaman keluarga Bruwer. Anin baru menyadari bahwa kakaknya tidak ada di sekitarnya. Lalu dia mencari ke beberapa ruangan bersama dengan Layla.


"Kakak cantik. Kakak Pahlawan ke mana? Kok tidak ada di mana pun? Apa kakak pahlawan sudah pergi ninggalin aku?" Layla sudah mulai menangis karena merasa kehilangan.


"Layla manis. Kakak Pahlawan mungkin lagi ada urusan penting. Jadi hanya pergi sebentar. Jangan sedih ya." bujuk Anin agar Layla tidak melanjutkan tangisnya. Anin memeluk Layla untuk memberi kenyamanan.


"Kak Anjas ke mana sih? " keluh benaknya Anin.


Anin pun mengajak Layla untuk pergi makan kue ulang tahunnya. Mereka belum merasakan kue itu setelah acara potong kue tadi. Hal ini untuk mengalihkan perhatian Layla untuk mencari kakaknya.



Terdengar suara TV di ruang nonton. Maryam keluar dari kamar Anjas. Tapi sebelum itu dia memakai pakaiannya untuk sementara.



"Rahmi kau masih bangun? Jam berapa sekarang?" tanya Maryam pada Rahmi yang sedang nonton TV.



"Jam 3 pagi kak. Ini kan tahun baru. Kak Maryam dari mana saja sih?" jawab Rahmi sambil makan cemilan.



"Astaga berarti aku tertidur hampir 9 jam. Haduh..." Maryam pun masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.



10 menit kemudian Maryam keluar dengan wangi tubuhnya. Rahmi merasa heran kenapa Maryam mandi di jam 3 pagi.



"Hah lega juga. Bagi dong cemilannya." minta Maryam saat duduk di sebelah Rahmi.



Tentunya Rahmi berbagi cemilannya. Mereka nonton bareng sambil makan cemilan.



"Kak Maryam pacaran sama kak Anjas?" pertanyaan tiba-tiba dari Rahmi membuat Maryam hampir tersedak.



"Uhuk.. Eh.. iya dek.. Kenapa ya?" Maryam pun jujur pada Rahmi.



"Oh... aku kira kalian melakukan kegiatan seperti suami istri itu tanpa hubungan. Jadi aku bertanya." balas Rahmi.



Ternyata tadi saat Anjas dan Maryam sedang menikmati kesenangan mereka. Rahmi pulang dan mendapati kelakuan mereka. Karena tidak ingin mengganggu Rahmi keluar lagi pergi ke kafe dekat dengan apartemen. Saat melihat Anjas sudah pergi Rahmi baru kembali lagi. Dia memeriksa kamar Anjas dan melihat Maryam yang tergeletak lemas di atas kasur tanpa busana.



Rahmi tidak ingin mengganggu tidurnya Maryam jadi dia biarkan saja. Kemudian dia masuk ke kamar Maryam untuk mandi dan ganti pakaian.



"Kami belum lama pacaran juga. Kami baru 2 minggu menjalaninya." tambah Maryam.



Mendengar hal itu Rahmi mendadak melotot. Kaget dengan usia hubungan mereka. Baru jalan 2 minggu sudah melakukan hal itu di luar nikah. Rahmi menatap tajam ke Maryam untuk meminta penjelasan.



"Itu karena mas Anjas sudah berjanji untuk menikahi aku. Setelah kafenya buka. Jadi aku pun rela melakukan itu juga." jelas Maryam.



"Tapi Kak Maryam. Jika kak Anjas mengkhianati kakak gimana? Atau menduakan kakak?" Rahmi khawatir jika Anjas tidak tepat janji.



"Kamu jangan khawatir. Mas Anjas sudah janji. Bahkan dia sudah membeli rumah untuk kita tinggal nanti." jawab Maryam agar Rahmi mengerti.



Anjas memang sudah memberitahu bahwa dia dan keluarganya sudah membeli rumah baru. Satu di antaranya akan menjadi tempat tinggal Anjas dan Maryam.



"Syukurlah kalau begitu." Rahmi senyum bahagia juga. Tapi ada maksud lain dari senyuman Rahmi.


Kembali ke Anjas. 45 menit yang dibutuhkan Anjas untuk sampai ke titik lokasi yang diberi tahu oleh sistem.


"Jika memang di sini tempat itu. Mungkin akan menjadi tempat yang bagus untuk mengembangbiakkan hiu ganas. Untuk menjadi senjata biologi." gumam Anjas tersenyum.


Dia melihat beberapa ekor hiu sedang lalu lalang di sekitar speed boat nya. Dia butuh 5 menit untuk menunggu para hiu naik ke permukaan. Mereka menyadari bahwa ada benda asing terapung.