
"Bagaimana apa kita akan melakukan tugas ini bersama atau kau yang melakukannya sendiri?" Tanya Chan Bee.
"Aku ingin melakukan tugasnya sendiri." ujar Yana melepas pelukannya. Berjalan mengambil kopernya lalu dibuka.
"Lagi pula target kali ini seorang ahli beladiri dengan serangan jarak dekat. Aku bisa membunuhnya dengan 2 atau 3 jarum beracunku ini." lanjut Yana mengeluarkan 3 buah jarum berwarna biru.
Jarum itu memiliki bentuk seperti jarum jahit biasa. Tapi dengan ukuran yang lebih besar dan panjang. Ukuran tepatnya panjang 10 cm dan diameter 2 mm. Bisakah dibayangkan jika jarum itu tembus ke jantung.
"Yah tidak apa-apa kalau kau mau melakukannya sendiri. Aku akan tetap menjagamu sayang." Chan Bee menghampiri Yana lalu memeluk dan mencium tengkuk Yana.
"Aku ingin bersamamu malam ini." Chan menggiring Yana ke kasur. Selanjutnya terjadilah pergumulan antara dua kaum pelangi itu.
Oke. Beralih ke perusahaan Megacitra Ajisaka. Rapat darurat yang diadakan Fedrian sudah selesai. Tapi wajah Fedrian masih terlihat kusut. Berbagai macam kerugian telah tengah dirasakan perusahaan itu. Bahkan nilai saham mereka anjlok hingga 0% sekarang. Sudah tidak tertolong lagi. Mereka harus menjual beberapa gedung dan cabang perusahaan Megacitra Ajisaka miliknya sendiri agar bisa bertahan hidup.
Di ruangan rapat itu masih tersisa lima orang pria dan dua wanita. Mereka adalah anggota keluarga Ajisaka. Tentunya ada Fedrian Ajisaka dan tangan kanannya Jarot. Ada si anak pertama Herman Ajisaka (52) dan istrinya Delvi Sutisna (47). Lalu si nomor 2 Rinjani Ajisaka (48) dengan suaminya Jerry Geraldo (50). Juga si anak nomor 3 Septian Ajisaka (35) yang duda satu anak. Sebenarnya masih ada satu lagi si anak nomor 4 namun dia masih kuliah karena memiliki usia paling muda dan lahir saat Septian berusia 11 tahun. Bernama Hasan Ajisaka (24). (Yang dalam kurung itu usia.)
"Ini tidak bisa berakhir seperti ini!" geram Fedrian. Dia menggenggam tangannya hingga pucat memutih.
"Tuan apakah ini ulah dari keluarga Bruwer? Mereka sudah mempunyai bukti kejahatan yang kita lalu menyewa Hacker terbaik dari luar. Mereka dari dulu sampai sekarang masih berusaha melakukan hal itu." ujar Jarot yang mengingatkan sesuatu.
"Jika memang mereka yang melakukan hal ini. Aku akan melakukan perhitungan dengan mereka!" bentak Fedrian.
"Ayah biarkan aku yang akan mengurus keluarga Bruwer. Aku akan membuat si Samuel keparat itu berlutut meminta maaf di hadapanmu sebelum dia mati." ujar Septian menawarkan diri.
"Maka lakukan yang terbaik. Buat dia menyesal karena menggangu keluarga Ajisaka kita!" Fedrian setuju dengan usul Septian.
"Aku tidak akan mengecewakan ayah." balas Septian menyanggupi.
"Sekarang terpaksa kita harus menjual 5 cabang kita yang ada di Indonesia dan 2 cabang yang ada di China dan Korea." potong Herman sedikit kesal.
"Ayah biar aku yang mengurus semua video yang ada di internet itu." sekarang Rinjani yang bersuara. "Aku kenal seseorang yang bisa mengatasi hal itu." lanjut Rinjani.
"Aku bangga pada kalian. Kalian anak-anakku yang bisa diandalkan. Untuk sementara kalian harus menutup mulut pada wartawan dan orang kepolisian juga. Kita harus mengatasi hal ini secepatnya." balas Fedrian pada ketiga anaknya.
"Ini demi keluarga Ajisaka." sahut Herman.
"Bagaimana dengan tempat pembuatan Narkoba kita yang ada di salah satu perumahan elit itu?" tanya Jerry.
"Pindahkan semua barang itu ke tempat kedua yang di Bandung hari ini juga." yang menjawab adalah Herman.
"Baik kak." balas Jerry. "Kalau begitu aku pergi dulu. Sayang aku pergi dulu." lanjut Jerry. Melangkah keluar dari ruangan rapat.
Kembali ke Anjas. Dia sedang rebahan di sofa. Setelah makan dia hendak tidur. Tapi dia tidak bisa tidur.
"Perasaan apa ini? Aku merasa firasat buruk." Anjas bangun dari rebahan.
Dia keluar dari ruangan istirahat. Terus hingga keluar dari markas geng The FALCON. Di depan markas ada lima orang anggota geng yang sedang berjaga malam. Anjas menyapa mereka sebentar lalu pergi dengan jalan kaki. Sekitar 300 meter dari markas ada mini market yang cabangnya sudah tersebar ke seluruh Indonesia yaitu Alfamart. Masuk ke mini market itu. Saat hendak mengambil minuman botol. Tanya Anjas bukan menyentuh botol minuman tapi sebuah tangan seseorang yang terlebih dahulu mengambil botol.
Saat dilihat ke sebelah ternyata itu seorang gadis. Anjas juga mengenal gadis itu. Walaupun tidak akrab.
"Jihan?" sapa Anjas.
"Eh Anjas si jenius kan?" balas Jihan.
"Aku kira kamu masih di Singapura. Kau sendirian?" tanya Anjas basa-basi.
"Iya kuliahku lagi libur sebulan. Kan dua minggu lagi ada acara reunian. Juga sekalian tahun baru di sini." jawab Jihan.
"Oh. Hm kamu tinggal di sekitar sini?" tanya Anjas. Mereka sudah mengambil apa yang ingin mereka beli. Lalu menuju kasir.
"Aku lagi singgah di rumah sepupu. Karena boring aku keluar cari cemilan." jawab Jihan saat sudah di depan kasir.
Baru saja Anjas ingin mengatakan sesuatu lagi. Ada empat orang pria masuk ke mini market dengan menggunakan topeng.
[Bing! Awas ancaman orang pria bersenjata. Empat orang yang baru masuk memiliki senjata api.] muncul notifikasi peringatan dari sistem.
Anjas sudah siap siaga. Jika ke empat orang itu melakukan sesuatu Anjas bisa melawan.
"DOR..DOR..!" bunyi tembakan menggema dalam mini market. Salah seorang dari pria tersebut mengeluarkan senjata api lalu menembak dua CCTV yang ada di dekat kasir dan depan pintu.
"Semuanya merunduk!! Ini perampokan!" seru seorang lain yang sudah mengeluarkan senjata api juga. Diikuti oleh dua temannya.
Seketika suasana menjadi hening dan beberapa orang sudah merunduk ketakutan. Di dalam mini market itu ada 8 orang yang berbelanja. 2 orang laki-laki dan sisanya perempuan. Ditambah 3 orang karyawan dan kasir minimarket juga sudah merunduk. Kecuali Anjas, dia masih santai berdiri tegak.
"Matikan semua CCTV dan kumpulkan semua orang yang ada di dalam toko ini." ucap perintah satu pria bertopeng yang mungkin adalah pemimpin mereka.
"Baik bos. Hei bocah cepat merunduk atau kau aku tembak di kepala.!" bentak si pria ke Anjas.
Anjas hanya diam menatap si pria dengan tatapan meremehkan. "Syut." Tapi selanjutnya sebuah jarum sudah bersarang di tangan si pria yang memegang pistol. Dia langsung ambruk jatuh kaku.
"Ahhhggg!" jerit si pria yang menodong pistol.
"Kenapa kau?!" tanya si pemimpin.
"Syut... syut..."
Belum dijawab oleh anak buahnya yang menjerit. Dua orang rekannya yang sedang mengumpulkan orang yang belanja juga menjerit dan jatuh tersungkur di lantai minimarket itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi sama kalian hah?!" si pemimpin bingung dengan situasi yang berubah sekarang.
"Hahaha kau salah sasaran bung." Anjas angkat bicara.
"Jadi ini ulah kau bajingan!?" si pemimpin sekarang sudah menodong pistol ke arah Anjas.
Melihat itu Jihan merasa heran dengan tingkah Anjas. Baru kali ini dia melihat Anjas yang begitu berani menantang orang. Apalagi ini adalah perampokan bersenjata.
"Syut." "Aaaaaarrrhhhhh!!" sekali lagi suara jeritan terdengar. Si pemimpin perampok terjatuh ke lantai dan menjadi kaku seluruh badan.
Dari tadi yang dilakukan Anjas adalah melempar jarum yang beracun pelumpuh pada ke empat orang pria itu. Kecepatan tangan Anjas sudah tidak bisa dilihat oleh mata orang biasa.
Anjas mendekati kasir dan meminta untuk memanggil polisi. Segera dilakukan kasir itu.
Lalu Anjas mengumpulkan empat perampok minimarket itu. Mereka diikat dengan tali rafia di tangan dan kaki mereka. Mereka sudah tidak bisa bergerak sama sekali.
Lalu setelah membayar semua belanjaannya Anjas langsung pergi. Tapi diikuti oleh Jihan secara diam-diam. Jihan masih penasaran dengan kejadian tadi yang sangat aneh.
Sementara Anjas baru saja mendapatkan notifikasi sistem. Yang menyatakan bahwa Anjas telah melakukan kebaikan.
[Selamat! Karena anda telah melakukan kebaikan. Anda mendapatkan +60 exp dan 100 poin sistem.] notifikasi sistem. Anjas hanya tersenyum.