
"Kenapa Nona? Apakah nona mengenal kak Anjas?" tanya Dendi penasaran.
"Ah... maaf. Tidak sopan jika kita ngobrol tapi tidak saling mengenal. Perkenalkan namaku Linda Oktavia. Tapi biasanya orang memanggil aku mbak Alin. Kalau adik siapa?" kali ini gadis itu berkata dengan suara lembut.
"Oh iya. Namaku Dendi, Dendi Puangga." balas Dendi.
"Aku bermaksud untuk bertemu dengan pelatih atau gurumu itu. Jika berkenan bisakah aku ikut untuk bertemu dengannya?" ujar Alin dengan percaya diri.
"Bisa saja mbak Alin ikut. Tapi aku hanya memiliki satu tenda. Yah walaupun masih bisa muat satu orang. Tapi kita bukan saudara." jawab Dendi yang masih sungkan.
"Begini saja. Kau bisa ikut ke padepokan untuk menginap beberapa malam sampai gurumu datang." ajak Alin.
Dendi berpikir sejenak. Dia bimbang. Soalnya dia tidak bisa terlalu percaya pada orang lain yang tidak dia kenal. Tapi saat ini bahan makanan yang dia dapatkan 3 hari ini sangat sedikit. Dia perlu makanan untuk bertahan selama empat hari lagi.
"Kamu tidak perlu takut. Padepokan Macan Putih tidak hanya untuk perempuan yang belajar tapi juga ada laki-laki belajar beladiri di sana. Juga guruku sangat dikenal baik oleh masyarakat sekitar hutan ini." tambah Alin saat melihat keraguan Dendi.
Kembali memikirkan perkataan gadis bernama Alin itu. Dendi pun merasa dia tidak boleh menolak kebaikan seseorang. Namun dia tetap saja waspada jika itu adalah tipuan.
"Baiklah aku akan ikut. Tunjukkan jalannya." jawab Dendi.
"Ke arah sini." kata Alin sambil menunjuk arah timur laut. Juga melangkah terlebih dahulu di depan Dendi.
Sementara itu setelah Anjas membereskan mayat Ling Han. Dia segera pergi ke rumah sakit di para anggota geng The FALCON dirawat.
Tidak lama dia sampai. Justin sudah menghampiri Anjas. Mengatakan bahwa hanya beberapa orang yang mengalami cedera berat. Yang lain hanya cedera ringan. Tapi yang mirisnya Opan, orang paling sering menjadi suruhan Anjas mengalami koma. Dikarenakan hanya dia yang mendapatkan serangan telak Tapak Ganas milik Ling. Tepat di bagian punggung.
Menurut cerita Justin Opan berusaha melindungi Julia waktu itu. Julia juga berusaha melakukan perlawanan terhadap Ling Han ternyata.
"Kata dokter masih dalam masa kritis. Juga jika dia bisa selamat. Dia akan tetap menderita kelumpuhan permanen. . Tulang belakangnya rusak parah." jelas Justin.
Anjas sangat prihatin. Semenjak dia menjadi ketua. Dia banyak membuat perubahan pada geng itu. Dia merasa bertanggung jawab atas jatuhnya korban saat dia memiliki musuh yang banyak.
Walaupun sekarang dia memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melawan. Tapi tidak dengan orang lain yang ada di sekitarnya.
"Jika dia sudah siuman. Berikan ini pada Opan. Semoga dia bisa segera pulih." tanpa rasa ragu Anjas memberikan dua buah pil dan satu botol pada Julia yang memang juga ada di sana.
"Lalu berikan ini pada anggota yang cedera berat." Anjas memberikan 10 pil pada Justin.
Yang diberikan pada Julia adalah 1 pil Penguat Raga Jasmani, 1 pil Penguat Sumsum Tulang dan 1 ramuan Kesehatan.
Lalu pada Justin. Anjas memberikan 10 pil Penguat Raga Jasmani.
Anjas lalu meninggalkan ruangan Opan dirawat. Karena rumah sakit itu adalah tempat di mana ibunya Dendi pernah dirawat juga. Juga selain itu ada seorang lagi yang dia kenal dirawat juga di sini.
Orang itu adalah Chan Bee. Yana yang selalu merawat Chan Bee tetap ada di sana.
"Minum ini. Ini adalah penawar racun pelumpuh yang aku buat." kata Anjas saat dia menghampiri Chan Bee.
"Terima kasih." Yana yang mengatakan itu.
"Satu orang lagi sudah datang padaku dan sudah aku bereskan. Dia bernama Ling Han." ujar Anjas saat ingin duduk di kursi depan ranjang Chan Bee.
Dua orang wanita yang menyukai sesama jenis ini hanya terdiam. Orang yang dimaksud adalah si no.4 di organisasi. Hanya 4 orang yang paling dipercaya oleh Bos Kong mereka. Yaitu 4 orang terkuat teratas dalam top Ten Grup Black Mamba.
"Setelah kau merasa sehat. Kalian datang ke rumah baruku di alamat ini. Katakan saja kalian temanku." Anjas meninggalkan catatan kecil di meja dekat ranjang.
Saat Anjas sudah keluar.
"Dia berhasil membunuhnya salah satu petinggi di organisasi Black Mamba. Tiga yang lainnya mungkin akan segera bergerak. Bos juga akan membuat perhitungan nanti." kata Yana yang merasa takjub pada Anjas.
"Dia berani membunuh orang dari organisasi. Berarti dia lebih tangguh dari kita. Maupun Black Mamba." balas Chan Bee juga kagum pada Anjas.
Kemudian mereka saling tatap dan tersenyum manis bersama. Senyuman yang tulus. Pemikiran mereka sekarang adalah hanya satu hal yaitu "Kita Selamat".
Keluar dari rumah sakit Anjas berniat untuk melihat perkembangan kafenya yang akan buka dalam waktu dekat.
Tapi saat itu juga hp nya berdering. Itu panggilan telepon dari Anin adiknya.
"Halo dek ada apa..." tapi belum sempat dia menyelesaikan perkataannya. Dia mendengar suara Anin yang sedang ketakutan.
"Kak! Tolong aku kak. Tolong kak! Aku diganggu orang jahat! Aku share lokasinya. Cepat datang kak aku takut.! klik...Tut Tut Tut"
Mendengar itu Anjas langsung melihat ada pesan WA masuk yang adalah lokasi Anin sekarang. Tanpa menunggu lama Anjas tancap gas ke lokasi tersebut. Anin dalam bahaya sekarang.
Butuh 10 menit dia sampai di lokasi yang dimaksud. Ternyata tempat itu adalah sebuah gedung tua. Tapi masih layak pakai. Letaknya ada di Jakarta timur.
Anjas berusaha untuk menghubungi Anin lagi. Tapi tidak aktif lagi nomor Anin.
Dengan kemarahannya Anjas pun dengan pasti melangkah masuk ke dalam gedung bertingkat dua itu.
Kita flashback ke waktu Anin menelpon Anjas.
"Ibu aku keluar dulu ya sama teman." kata Anin yang sudah terlihat rapi dan cantik.
"Mau pergi ke mana Nak?" tanya ibunya.
"Aku diajak teman ke taman hiburan. Tenang saja Bu. Di sana ada Keyla, Dina dan Ajeng kok." jawab Anin.
"Ya udah tapi kabarin kakak biar dia tahu." ibunya pun mengizinkan.
Lalu Anin pergi dengan taksi online. Dia memiliki uang tabungan dan tunai yang dia dapat dari hadiah ulang tahunnya waktu lalu dari Anjas tentunya.
Sesampainya di Taman Impian Jaya Ancol yang menjadi tempat janjiannya dengan temannya. Anin langsung menghampiri ketiga temannya yang sudah menunggu.
"Kok lama sekali sih Nin? Udah mau menguap aku nungguin kamu." Keluh Dina saat melihat Anin datang.
"Maaf Din. Macet." jawab Anin dengan senyum.
"Ya udah kita masuk. Kita udah belikan kamu tiket tadi. Biar gak perlu nunggu kamu beli." ajak Ajeng sambil memberikan satu lembar tiket pada Anin.
Mereka pun masuk dan mulai bermain di sana. Beberapa permainan mereka coba bersama. Namun ada beberapa yang tidak bisa dimainkan. Karena usia mereka belum cukup.
2 jam bermain mereka pun kelelahan. Lalu mereka istirahat sambil makan cemilan dan es krim yang dijual di tempat hiburan itu.
Saat asik makan. Keyla menyeletuk.
"Eh bukannya itu Joko dan kawan-kawan?" kata Keyla sambil menunjuk.
Serempak mereka melihat ke arah yang dimaksud. Mereka pun melihat ada 3 pemuda seumuran dengan mereka.
Ketiga pemuda itu adalah Joko, Fijai dan Vidi. Mereka ada trio jail di sekolah di mana Anin sekolah. Anin juga beberapa kali pernah menjadi korban kejahilan mereka.
"Seperti mereka diganggu oleh preman sini deh. Coba lihat." sambung Dina.
"Udah biarin aja. Itu balasan karena mereka sering jahil di sekolah." bantah Ajeng yang juga pernah jadi korban.
Anin masih memerhatikan Joko dan kawan-kawannya. Sekilas mereka seperti di palak. Tapi setelah itu mereka dibawa pergi keluar dari taman hiburan itu.
Anin yang penasaran pun beranjak dari duduknya lalu mengikuti para pemuda dan preman itu. Melihat ini ketiga temannya Anin tidak sempat mencegah. Mereka hanya bisa mengikuti Anin dari belakang saja.