CHEL

CHEL
Bab 93



Satu menit kemudian. Kesepuluh murid padepokan Tinju Langit terlihat kelelahan. Mereka masih belum bisa menggeser posisi Anjas. Bahkan satu milimeter pun tidak. Entah serangan fisik atau senjata tidak mempan sama sekali.


"Waktu kalian habis. Sekarang bersiaplah.." ujar Anjas sambil tersenyum miring. Pembantaian kaki para murid padepokan Tinju Langit dimulai.


"Gawat! Semuanya cepat la..." belum selesai Dono memerintahkan untuk lari.


Anjas sudah berada di depan Dono. "BUAK! Uuuhhhkk!"Tinju keras langsung bersarang di perutnya. Membuat Dono muntah darah.


"DUAK! Aaahrrhhh!" Hantaman siku juga kena di punggung Dono. Tersungkur di tanah sudah pasti.


Agar sembilan murid padepokan Tinju Langit lainnya tidak lari. Anjas melempar sembilan jarum beracun pelumpuh tersisa. Sutsutsut!


Sembilan murid itu pun tidak bisa bergerak sama sekali. Mereka hanya bisa berbicara atau bernafas saja.


Anjas meraih kaki kanan Dono. Tidak berdaya untuk bertarung.


"Aku adalah murid kesayangan Guru Marzuki. Jika kau mematahkan kakiku. Kau sama saja menantang guruku!" ancam Dono ke Anjas.


Tapi siapa sangka. "Krakk!" kaki kanan Dono sudah menekuk ke arah sebaliknya. "Aaaaaaaaarrgghhhhh!! Kakiku!!! Sialan kau!!" teriak histeris Dono. Dia tidak bisa berkata lain selain mengumpat dan memaki Anjas.


"Bahkan gurumu akan aku buat lumpuh total jika kau menyinggung padepokan Macan Putih." bisik Anjas ke telinga Dono.


Hal yang sama dia lakukan pada sembilan murid lainnya juga. Tentu suara nyanyian pilu dari mereka terdengar di tengah hutan.


Selesai melakukan hal itu. Anjas berbalik dan memerintahkan kepada Jefri untuk kembali ke padepokan bersamanya dan Dendi.


Jefri yang masih terpaku dengan tindakan sadis Anjas hanya bisa mengiyakan saja perintah itu. Ikut berjalan menuju padepokan.



Sesampainya di padepokan. Mereka di sambut oleh Alin.



"Dilihat dari ekspresi wajah tegang kalian pasti ada yang bermasalah. Asep kamu berbuat apa lagi?" ujar Alin menyambut Anjas dan para murid lainnya.



"Tidak perlu khawatir. Aku sudah membereskan masalah itu." jawab Anjas yang sangat terlihat tenang.



Mendengar itu Alin mulai lega. Dia takut terjadi sesuatu tapi dia tidak tahu.



"Kalau begitu semuanya masuk. Sudah mau gelap. Akan sangat bahaya di luar padepokan saat malam." ajak Alin. Mereka pun masuk ke padepokan.



Di kamar Anjas sedang memeriksa hpnya yang memang silent sejak kemarin. Walaupun di tengah hutan. Masih ada sinyal untuk menelpon atau mengirim pesan SMS walaupun tidak begitu bagus.



Banyak panggilan masuk dari Beno, Maryam dan ibunya. Sepertinya mereka sedang membutuhkan Anjas. Tapi setelah berpikir lagi Anjas hanya mengirim SMS saja ke mereka.



Isi SMS itu sama. \["Aku akan kembali 7 hari lagi. Jadi bersabarlah untuk sementara waktu."\]



Setelah mengirim pesan singkat itu. Anjas mengecek status sistem. Tapi muncul notifikasi sistem.



\[Bing. Selamat anda telah berbuat baik menyelamatkan para murid dari para pembuat onar. Hadiah Exp \+300.\]



"Buka Status." gumam Anjas.



\[Nama \=\> Anjas Rahadi \]



\[Kesehatan \=\> 91% (Sehat)\]



\[Level \=\> 5/100 (675/750 exp)\]



\[Keahlian \=\> Karate Legendaris, Muaythai Legendaris, Mengemudi Super, Mekanik Super, Pemusik Super, Teknik Belati Api,Teknik Pedang Legendaris, Teknik Ilusi mental, Mata Tembus Pandang, Pelukis Expert, Tubuh Menembus Segala Benda, Melihat Tak Kasat Mata, Hacker Super, Teknik Beladiri Yin Yang tingkat Legendaris, Sniper, Summoner, Shadows, Penjinak Hewan, Teknik Regenerasi Ekstrim, Bernafas Dalam Air (Level Tidak Terbatas), Menyalin Teknik.\]



\[Kekuatan \=\> 1095\]



\[Kecepatan \=\> 1000\]



\[Ketahanan \=\> 1115\]



\[Kecerdasan \=\> 765\]



\[Item Yang Digunakan: Sarung Tangan 4 Elemen, Cincin Tak Kasat Mata, Cincin Giok Penyimpanan,\]



\[Mental \=\> 96% (Sehat)\]



\[Saldo rekening \=\> Rp.733.829.343.792.500\]



\[Poin Sistem \=\> 86.150\]



\[Status Hubungan \=\> Pacaran (Jumlah: 1 orang), Yang menyukaimu (Jumlah: 2 orang)\]



\[Inventori \=\> Berisi barang kebutuhan pemilik sistem.\]




\[Misi \=\> 1. Misi 2⭐: Menyembuhkan kanker hati pendiri padepokan Macan Putih. Dengan memberikan Ramuan Pembersih Hati dan Jantung. Karena misi ini khusus anda diberikan bekal Skill Menyalin Teknik: Teknik Beladiri apapun bisa ditiru hanya dengan sekali lihat atau membaca buku teknik beladiri. Teknik yang ditiru akan menjadi permanen jika menyelesaikan misi. Durasi 4 hari, waktu telah diperpanjang karena ramuan Kesehatan. Hadiah: 4 Kotak platinum dan Teknik Macan Putih permanen



2. Mengumpulkan Sepuluh orang murid yang mau diajarkan teknik pedang Legendaris dari padepokan Macan Putih. Waktu 12 hari. Hadiah Exp \+500, 50 juta Dolar, dan 3 kotak Emas.\]



\[Shop \=\> Shop terbuka. Menyediakan berbagai macam hal. Peralatan, resep dan bahan obat sudah terbuka.\]



Melihat keterangan di Shop. Anjas penasaran lalu membuka Shop dan memilih opsi yang berlambang palang merah. Lalu melihat menu Resep obat dan ramuan. Terlihat banyak Resep Obat dan Ramuan yang telah terbuka.



\[Resep Obat Luka Ringan. 200 PS.\]



\[Resep Obat Patah Tulang. 130 PS.\]



\[Resep Ramuan Pembersih Ginjal. 1000 PS.\]



\[Resep Ramuan Penyembuh Mata. 1000 PS.\]



\[Resep Obat BAB. 250 PS.\]



\[Resep Obat Luka Dalam. 750 PS.\]



(Keterangan: PS \= Poin Sistem)



Anjas memeriksa ramuan yang dia butuhkan. Namun tidak dia temukan. Dia harus menaikkan level agar bisa membuka resep ramuan Pembersih Hati dan Jantung itu.



"Aku harus naik level secepatnya. Biar bisa mulai membuat ramuan itu. Barusan aku juga mendapatkan exp tambahan. Berarti aku memang harus melakukan kebaikan agar dapat tambahan exp lagi." gumam Anjas menatap layar transparan di depannya itu.



"Tapi sebagai percobaan aku akan membuat satu ramuan." pikir Anjas yang langsung membeli satu ramuan yaitu...



\[Bing! Anda membeli ramuan Pembersih Ginjal. 1000 PS telah digunakan.\]



\[Ramuan Pembersih Ginjal. Berkhasiat untuk pembersihan dan mengembalikan fungsi ginjal yang rusak. Keterangan: Tidak ada efek samping.\]



"Dengan ini aku bisa mempelajari cara membuat ramuan." gumam Anjas puas.



Dia langsung mempelajari cara membuat ramuan itu dengan teliti dan fokus. Anjas konsentrasi saat membaca detail semua tata cara pembuatannya.



Lalu... \[Bing! Anda telah mempelajari cara membuat ramuan herbal Pembersih Ginjal. Anda mendapatkan Kemampuan Herbalis non permanen.\]



"Mantap!" seru Anjas semangat.



"Ting tong Ting tong!" saat Anjas masih asik tiba-tiba beberapa notifikasi hpnya berbunyi. Sepertinya balasan SMS dari Jakarta.



"Dari ibu dan Beno. Coba aku baca." Anjas membaca pesan mereka yang berisi.



\[Ibu: "Anjas, di mana kau nak? Ayah mencari kau nak. Katanya ayah mendapat telepon dari RT di rumah kita yang dulu. Bahwa ada yang mau beli rumah dan tanah kita itu nak. Ayah mau pergi melihat keadaan di sana bersama kau nak." \]



Langsung dibalas oleh Anjas. \[ "Aku sedang melatih beladiri bersama Dendi Bu. Seminggu lagi aku pulang. Tenang saja. Soal penjualan rumah dan tanah kita bicarakan nanti." \]



\[Beno: "Kawan, gawat. Ada beberapa geng kecil datang mengacau Kafe milikmu. Tapi aku sudah meminta Justin untuk melakukan pengamanan dengan menaruh Dion dan beberapa anggota geng The FALCON di sekitar kafe. Oh iya ada beberapa orang yang ingin bertemu denganmu. Cepatlah kembali." \]



Pesan ini juga langsung dibalas. \[ "Bilang sama Justin untuk tetap berjaga. Aku masih seminggu lagi akan kembali ke Jakarta. Aku sedang di luar kota sekarang." \]


Selesai urusan pesan singkat. Anjas pergi menemui Guru Nur Wulan. Yang kebetulan berada di tempat pembuatan Kerajinan Tangan.


"Guru Nur Wulan. Bisa bicara sebentar?" ajak Anjas.


"Tentu saja bisa. Juga panggil saja Cik Wulan biar lebih enak. Karena kau seusia anakku bila masih hidup sekarang." ada nada kesedihan saat Nur Wulan berucap itu.


"Maaf. Aku hanya ingin tahu bagaimana cara untuk mendapatkan bahan obat dan ramuan? Apakah kau memesannya atau mencari sendiri?" tanya Anjas serius.


"Ah soal itu aku sering memesan bahan obat dari pedagang langganan saya di kabupaten. Itu jika aku sangat memerlukannya. Tapi terkadang aku mengambilnya di kebun obat yang ada di samping gudang." jawab Wulan.


"Kalau begitu aku ingin meminta tolong untuk memesan semua bahan ini. Aku ingin besok sore sudah ada." ujar Anjas sambil menyerahkan sebuah kertas catatan bahan.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan segera menelepon untuk memesannya." Wulan menyanggupinya. Dia lalu permisi untuk menelpon seseorang.


Lima menit kemudian.


"Guru Anjas. Aku sudah memesannya. Mereka akan mengantarnya besok siang." Wulan memberi tahu.


"Terima kasih cik Wulan." Anjas senyum penuh dengan harap.