
"Buka status." benak Anjas.
[Nama \=> Anjas Rahadi ]
[Kesehatan \=> 100% (Sehat)]
[Level \=> 4/100 (25/450 - exp)]
[Keahlian \=> Karate Legendaris, Muaythai Legendaris, Mengemudi Super, Mekanik Super, Pemusik Super, Teknik Belati Api,Teknik Pedang Legendaris, Teknik Ilusi mental, Mata Tembus Pandang, Pelukis Expert, Tubuh Menembus Segala Benda, Melihat Tak Kasat Mata, Hacker Super.]
[Kekuatan \=> 295]
[Kecepatan \=> 200]
[Ketahanan \=> 315]
[Kecerdasan \=> 265]
[Item Yang Digunakan: Sarung Tangan Petarung, Cincin Tak Kasat Mata, Cincin Giok Penyimpanan,]
[Mental \=> 100% (Sehat)]
[Saldo rekening \=> Rp.33.829.343.792.500]
[Poin Sistem \=> 90.150]
[Status Hubungan \=> Pacaran (Jumlah: 1 orang)]
[Inventori \=> Berisi barang kebutuhan pemilik sistem.]
[Tiket lotre \=> 1 Tiket Lotre ]
[Misi \=> 1. (2⭐) Menaklukkan Keluarga Ajisaka yang sudah menjadi kejahatan yang tersembunyi. Runtuhkan semua bisnis mereka dan balaskan dendam semua orang. Waktu 7 bulan. Hadiah 2 kotak Glory, 2 kotak Platina dan 5 kotak Emas. (Progres: 50%)]
[Shop \=> Shop terbuka. Menyediakan berbagai macam hal.]
"Buka semua kotak Perunggu." benak Anjas.
[Bing! Selamat anda mendapatkan 2 tiket Lotre]
[Selamat anda mendapatkan Ducati Streetfighter seharga Rp. 909.000.000]
[Selamat anda mendapatkan Saham 40% di BEST GRUP]
[Selamat anda mendapatkan 20 juta dollar]
[Selamat anda mendapatkan 450 poin sistem]
[Selamat anda Uang simpan di Bank of England sebesar 50 juta poundsterling]
"Kenapa harus ada simpanan uang di bank luar negeri?" gumam Anjas bingung.
[Bing! Nanti anda akan tahu saat mendapat misi yang berhubungan dengan luar negeri.] jawab sistem memberi petunjuk.
"Oke." balas Anjas.
Sementara itu. Di depan gedung milik Anjas.
"Benar di sini mereka membuat anakku menjadi tidak berguna seperti itu?" tanya Herman Ajisaka.
"Iya pak aku sangat yakin." jawab Muklis.
"Aku ingin bertemu dengan pemilik gedung ini. Aku ingin mengambil alih gedung ini. Jika dia tidak mau menjualnya habisi saja beserta gedung itu." perintah Herman dengan tatapan tajam ke arah gedung.
"Baik tuan. Malam ini orang itu akan saya bawa ke hadapan tuan." Muklis mengakui perintah. Dia langsung turun dari mobil.
Hari yang menjelang siang. Tepatnya pukul setengah 10.10 pagi. Anjas sedang melatih Dendi di lapangan voli gang sebelah.
"Cepat! Masih 7 putaran lagi! Setelah ini kau harus push up 20x dan Sit up 20x juga!" seru Anjas mengarahkan Dendi dalam latihan fisik yang terlihat seperti menyiksa.
"Huuuhhh!!" Dendi dengan semangat menarik gerobak yang berisi batu yang setengah penuh. Dia berlari semampunya. Niat dia ingin belajar beladiri sangat tinggi. Niatnya ini hanya untuk melindungi ibunya dari berbagai macam kejahatan dan orang yang tidak bertanggung jawab.
5 menit kemudian. Dendi sudah selesai berputar sebanyak 15 putaran membawa beban gerobak. Dendi sudah sangat kelelahan. Anjas lalu memberikan dia sebuah ramuan. Itu adalah ramuan Penambah Vitalitas Tubuh.
Seketika itu juga tubuh Dendi merespon. Tubuhnya langsung merasakan dipenuhi dengan tenaga yang besar.
"Minuman apa yang kau beri kak? Itu sangat manis tapi membuat aku sangat bertenaga." tanya Dendi. Sudah kedua kalinya dia diberikan sesuatu yang membuatnya terkejut.
"Itu adalah ramuan herbal untuk Vitalitas Tubuh. Kau akan tahan dalam kondisi prima dalam 10 hari kedepannya. Aku memberikan itu karena aku akan menggembleng kau dalam sepuluh hari kedepannya." jawab Anjas dengan tatapan serius.
Mendengar itu Dendi hanya bisa menelan ludah. Dia tahu akan menjadi seperti ini. Maka dari itu dia harus menyiapkan mental.
"Sekarang ikut aku. Kita akan ke hutan." Anjas berkata sambil berjalan kembali ke toko. Segera diikuti Dendi.
Sesampainya di toko Anjas meminta izin pada kak Yunita dan pak Umar. Untuk sementara waktu Dendi akan ikut dengan Anjas. Tidak lupa Anjas pamit pada Maryam. Lalu mereka pun pergi meninggalkan toko.
Mereka pergi ke pinggiran kota. Tepatnya bagian tenggara kota. mengarah ke kota Bandung. Anjas sudah memberitahu bahwa dia akan sibuk dalam sepuluh hari kedepannya pada Beno dan Rina. Juga pada geng The FALCON dan Metal Sins.
Mereka berhasil melewati perbatasan kota. Tidak lupa sebelum mereka keluar perbatasan kota. Mereka singgah makan dulu. Tidak jauh dari berbatasan mereka langsung berhenti. Sekarang waktu menunjukkan pukul 14.30. Mereka turun dari mobil dan mendekati bahu jalan. Yang mana mereka sudah berhadapan dengan hutan yang cukup lebat.
"Aku akan melatih kau di hutan ini. Aku akan mengawasi setiap gerakan mu selama sepuluh hari." terang Anjas.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Dendi yang terkejut dengan cara latihan kali ini.
"Iya. Aku tidak bisa melatih kau dia tempat yang sempit lagi. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah bertahan hidup di alam liar. Ini bekalmu dan alat yang kau perlukan persediaan makanan di dalam tas itu hanya untuk dua hari." jelas Anjas sambil memberikan sebuah ransel.
"Terus kemana aku harus pergi?" tanya Dendi menerima ransel itu sedikit ragu.
"Kau hanya perlu pergi ke arah Utara. Aku akan terus mengikuti kau dari tempat yang jauh. Kalau begitu aku pergi." Anjas sudah masuk ke mobil dan tancap gas.
Dendi yang sudah terlanjur memiliki niat. Maka dia menguatkan diri dan hatinya. Butuh 15 menit dia untuk mendapatkan keberanian itu. Lalu dia mulai berjalan memasuki area hutan.
Sementara itu Anjas sudah sampai di tempat pemberhentian. Lalu segera dia memarkirkan mobil cepat itu.
Dia tidak khawatir dengan Dendi. Dia sedang menatap layar transparan biru. Map yang menunjukkan titik keberadaan Dendi masih menyala. Memang sedari tadi Anjas sudah menempatkan alat pelacak dalam tas ransel tadi. Selain itu dia sudah membeli dua lalat pemantau. Sekarang Anjas sedang membeli minuman dingin di minimarket di tempat pemberhentian itu. Baru saja dia keluar dari minimarket ada yang berseru memanggil namanya.
"Hei! Kau Anjas si miskin sedang apa kau di sini?" seru seorang pemuda seusai Anjas.
"Aku kira siapa? Ternyata kau Kevin Wijaya. Aku di sini bukan urusan kau." Anjas pun hendak pergi.
"Seperti biasa kau pengecut yang sering lari seperti bebek bodoh!" seruan hinaan Kevin bisa terdengar hingga ke parkiran. Anjas juga berhenti mendengar hal itu.
Lalu tiga orang pemuda lainnya datang menghampiri mereka. Mereka adalah teman Kevin.
"Ada apa ini bro? Siapa dia?" tanya salah satu dari mereka.
"Heh... dia itu orang yang sering aku suruh-suruh saat SMA. Orang miskin yang pengecut." jawab Kevin masih menghina.
"Hah sebenarnya aku tidak ingin memiliki urusan lagi dengan kau tapi kau yang ingin memulai pertikaian ini." ujar Anjas sambil menatap tajam ke arah Kevin.