CHEL

CHEL
Bab 88



Anjas dikawal oleh tiga orang murid dari padepokan Macan Putih. Tiga orang itu ialah Jefri dan dua orang adik seperguruannya. Yaitu Asep dan Marwa. Yang dua lain tetap melanjutkan penjagaan ketat di sekitar padepokan.


Anjas pun masuk ke dalam padepokan Macan Putih. Tapi dengan kewaspadaan yang tinggi. Walaupun Jefri terlihat lebih baik. Tapi kemungkinan itu hanya kedok juga ada.


"Silahkan anda tunggu di sini." kata Jefri. Saat ini mereka telah masuk ke sebuah ruangan yang adalah ruang tamu.


"Aku akan memanggil Dendi dan guru Alin kemari. Hanya guru Alin yang memiliki akses untuk bertemu dengan pendiri padepokan." ujar Jefri sopan.


"Marwa suguhkan minum dan Asep kau ikut aku." suruh Jefri kepada dua adiknya.


"Baik kak Jefri." segera mereka melaksanakan perintah Jefri.


Anjas yang memperhatikan bahwa Jefri seperti salah satu orang yang dihormati di tempat itu. Juga bisa diandalkan.


"Apa aku rekrut saja jadi petugas keamanan di kafeku. Biar aman dan terkendali. Nanti saja kutanya." pikir Anjas. Sambil duduk di kursi.


Lima menit kemudian. Datang seorang wanita yang memiliki aura putih yang sangat terang. Anjas yang melihat hal itu. Terkejut karena dia belum melakukan scanning body pada wanita itu.


"CHEL. Kenapa aura wanita itu sangat jelas terlihat? Padahal aku belum melakukan scanning." tanya Anjas.


[Itu bukan aura biasa. Yang anda lihat sekarang adalah cahaya energi alam yang menyatu dengan jiwa si wanita. Energi itu bisa dilihat dengan kemampuan Melihat Tak Kasat Mata milik anda.] jawab sistem memberikan informasi tentang adanya energi alam.


[Bing! Terdeteksi koneksi energi alam.]


[Seorang ahli beladiri tenaga dalam. Akan saling berkoneksi dengan sesamanya. Wanita yang ada di depan anda adalah seorang ahli beladiri tenaga dalam. Dia bisa merasakan energi alam yang menyatu dengan jiwa anda.] seiring dengan penjelasan sistem ekspresi wajah si wanita sedikit berubah. Seperti menyadari sesuatu pada diri Anjas.


"Selamat datang di padepokan Macan Putih. Namaku Linda Oktavia. Biasa dipanggil Alin. Walaupun aku terlihat muda tapi aku salah satu guru di padepokan ini. Kau guru dari Dendi?" sapa wanita itu. Wanita atau gadis yang pernah bertemu dengan Dendi di hutan.


"Benar namaku Anjas Rahadi. Di mana Dendi sekarang?" balas Anjas masih waspada terhadap situasi. Karena dia tidak melihat Dendi bersama Alin.


"Dendi masih istirahat. Karena setelah bertarung melawan Asep. Salah satu murid padepokan. Dendi sedikit memaksakan diri. Sehingga dia terluka. Lengannya retak dan bahunya sedikit geser. Tapi tenang aku sudah merawat dia sejak 2 hari lalu." jelas Alin untuk yakinkan Anjas agar tidak salah paham.


"Tidak apa-apa. Dia baru saja beberapa memulai pelatihan. Tentu saja dia akan kalah dengan orang yang sudah berpengalaman." balas Anjas dengan sorot mata dingin.


"Aku ingin menemui Dendi. Di mana dia sekarang. Aku akan membantu mengobatinya agar tidak membebani kalian." sambung Anjas.


"Baiklah silahkan." Alin pun menuntun Anjas ke masuk ke bangunan lain.


Mereka masuk ke ruangan yang memiliki luas 2x4 meter. Di sana ada ranjang bertingkat dua. Seperti tempat tidur di asrama. Dendi terbaring di atas ranjang yang bagian bawah.


Anjas langsung menghampiri Dendi yang terlihat sudah bangun. Anjas menggeleng kepala.


"Dasar anak bandel. Aku belum mengajarkan kau bertarung tapi kau sudah berani ajak latih tanding melawan orang yang berpengalaman." kata Anjas.


"Maaf kak. Aku hanya ingin mencoba untuk menguji kemampuan bertarung ku." balas Dendi tersenyum menunjukkan giginya.


"Minum ini. Itu akan membuat kau kembali ke keadaan prima." kata Anjas sambil menyerahkan sebotol ramuan Kesehatan dan pil Penguat Raga Jasmani.


"Terima kasih kak." Segera diminum oleh Dendi kedua benda yang diberikan Anjas. Tidak sampai lima menit. Tubuh Dendi langsung kembali menjadi bugar. Beberapa luka lebam pada tubuhnya sudah menghilang. Wajahnya yang pucat pun menghilang.


Tapi saat Anjas ingin bertanya perihal pendiri padepokan Macan Putih pada Alin. Anjas melihat notifikasi sistem.


[Bing! Anda telah berbuat baik. Mendapatkan +120 poin sistem dan +40 exp poin.]


"Sebuah keberuntungan." gumam Anjas.


"Apakah yang kau katakan pada Jefri itu bisa dipercaya?" kali ini ekspresi terlihat serius.


"Aku ingin melihat keadaannya dulu. Agar supaya aku tahu kondisi tubuhnya saat ini. Biar aku bisa membuat ramuan yang bisa menyembuhkan kanker itu." jelas Anjas.


"Apakah kau seorang Herbalis?" tanya Alin. Dia mengetahui bahwa di dunia ini ada mereka yang disebut Herbalis.


[Herbalis adalah orang yang membuat ramuan herbal yang bisa menyembuhkan penyakit tertentu. Tergantung penyakit apa yang diderita.] jelas sistem.


"Yah, semacam itu." jawab Anjas ragu. Karena dia baru mengetahui tentang Herbalis.


"Baiklah. Setidaknya ada yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkan penyakit guru besar." sahut Alin percaya.


"Kalau begitu ayo ikut aku ke tempat guru besar." ajak Alin.


Mereka keluar dari kamar. Lalu pergi ke bangunan yang lebih besar. Walaupun terbuat dari kayu. Bangunan ini terlihat sangat kokoh. Bangunan ini juga adalah satu-satunya bangunan yang terbuat dari kayu. Orang dari beberapa daerah menyebutnya rumah panggung. Memiliki dua tingkat lantai. Jika ingin naik ke lantai dua harus menggunakan tangga.


"Ayo, Guru Besar ada di atas." ajak Alin lagi. Anjas hanya mengangguk.


Mereka naik ke atas. Alin membuka pintu yang berukir seperti gerbang taman.


"Guru ada yang ingin menemui mu." sapa Alin pada seorang pria tua yang duduk di kursi roda.


"Alin, kau dari mana?" tanya si pria tua.


"Guru. Aku dari asrama. Ada tamu yang ingin bertemu." jawab Alin saat menghampirinya.


"Siapa? Aku sudah lama tidak keluar dari padepokan ini. Bagaimana bisa ada yang tau aku berada di sini?" tanya si pria tua itu lagi.


"Selamat sore Pak Zainal. Perkenalkan nama saya Anjas Rahadi dari Jakarta." kali ini Anjas langsung menyapa si pria tua itu.


Anjas mengetahui nama si pria tua karena sudah melakukan scanning body. Lalu dia melihat aura keemasan yang pekat. Energi alam yang menyatu dalam jiwa Pak Zainal berwarna emas. Tapi memiliki sedikit aura ungu.


Selain itu semua keterangan tentang beliau juga terlihat di layar transparan. Anjas membacanya agar tidak salah menjawab.


[Nama: Zainal Budianto Hamdi.


Usia: 89 tahun .


Pekerjaan: Guru Padepokan.


Keahlian: Master beladiri tenaga dalam "Teknik Beladiri Macan Putih", Telepati.


Keterangan: Memiliki penyakit Kanker Hati ati dan patah tulang punggung. Seseorang telah menyerang tulang punggungnya yang sebelumnya sudah pernah terluka parah. Sehingga membuat dia menjadi cacat.]


"Ada urusan apa kau datang ke mari? Aku tidak mengenal kau." tanya Pak Zainal menoleh.


"Aku bisa menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Master. Tapi saat aku perhatikan. Kanker Hati yang ada di dalam tubuh Master sudah menjalar jauh. Akan perlu waktu 2 hari lebih untuk menyembuhkan kanker itu. Juga patah tulang punggungnya Master. Butuh waktu setengah hari untuk saja untuk menyembuhkannya." Anjas langsung pada intinya.


"Ba-bagaimana bisa kau tau secara detail semua penyakit yang aku derita?" Pak Zainal sungguh terkejut dengan perkataan Anjas. Yang semua itu benar.


"Aku adalah seorang Herbalis. Juga memiliki kemampuan untuk melihat organ tubuh manusia." jawab Anjas asal. Biar pak Zainal percaya dan menerima bantuan Anjas.


"Tapi aku tidak bisa menerima bantuan darimu." balas pak Zainal. Wajahnya pun juga berpaling dari Anjas dan melihat ke jendela kamarnya.