CHEL

CHEL
Bab 58



Anjas yang melihat kemarahan Ferdinan. Langsung berkata bahwa dia tidak sengaja bertemu dengan Karina di Haery Building.


"Saat aku ke Haery Building. Tidak sengaja bertemu dengan mereka berdua. Yang waktu itu aku kira pria itu kau pak Ferdinan. Kalau kau ingin tahu lebih lanjut. Kau bisa menanyakan pada Bu Karina. Aku juga akan mengirimkan foto-foto ini pada anda." jawab Anjas sejujurnya.


"Kirim lewat WA saja. Ini nomor kontak milikku. Juga terima kasih sudah memberikan informasi ini." ujar Ferdinan menyerahkan kartu namanya.


"Aku hanya membantu saja. Kalau begitu saya pamit." ujar Anjas saat melihat ibunya sudah kembali dari toilet.


Setelah itu Anjas pergi bersama dengan orang tuanya. Ayahnya sangat puas bisa melihat rumah yang akan menjadi miliknya nanti. Itu yang dijawab saat ditanya Anjas.


Ibunya juga membeli satu rumah lagi untuk Anjas jika nanti Anjas sudah berkeluarga. Karena ibunya mengingat Anjas sudah memiliki rencana menikah saat setelah membuka kafe.


Anjas hanya mengangguk menanggapi ibunya. Julia yang mendengar percakapan itu juga sedikit malu karena ibu Anjas meliriknya.


Sementara itu di kantor pemasaran Precium Simatupang. Ferdinan yang sudah mengetahui bahwa istrinya sudah selingkuh dengan pria lain. Melakukan panggilan telepon.



"Halo.. Sekarang juga kau cari tahu di mana si Antonio Larsen. Tangkap dia dan sekap dia di tempat biasa. Dia sudah melakukan kesalahan besar!" setelah itu Ferdinan menutup telepon.



Ekspresi wajah dingin Ferdinan sangat menyeramkan. Sampai saat Karina kembali dari toilet juga ekspresi itu masih terlihat.



"Ayo Pa, kita lihat rumah yang ingin dibeli." ajak Karina pada suaminya.



"Sebaiknya kita pulang saja. Nanti lain kali saja kita beli rumah di sini." kata Ferdinan yang langsung beranjak pergi.



Melihat sikap suaminya yang berubah langsung mengikuti saja. Dia tahu kalau suaminya sedang marah jika sikap suaminya bersuara tegas.


Kembali ke Anjas.


Anjas dan keluarganya sudah kembali ke markas geng The FALCON. Anjas pamit pergi lagi pada orang tuanya. Dengan Lamborghini Aventador dia pergi ke suatu titik yang dia lihat di map transparan sistem. Titik itu adalah keberadaan Yana sekarang.


Tidak lupa dia mengirim foto yang perselingkuhan Karina dan Antonio. Pada Ferdinan lewat pesan WA.


Tujuannya sekarang adalah Kampung Blok Empang, Penjaringan. Anjas heran dengan tempat persembunyian Yana si Cantik Beracun itu.


"Kau tidak akan lolos dariku, cantik." gumam Anjas. Menginjak gas menambah kecepatan.


Saat asiknya berkendara. Sebuah mobil merek BMW berwarna hitam dengan stiker jaring laba-laba di sisi kanan dan kirinya. Mencoba menyalip mobil Anjas dengan kecepatan tinggi. Tapi Anjas tidak memberikan kesempatan. Anjas menambah kecepatan lagi.


Si pengendara BMW itu merasa bahwa Lamborghini Aventador yang ada di depannya sedang menantangnya. Sehingga dia mencoba lagi menyalip mobil Anjas dan berhasil.


"Dengan skill berkendara seperti siput mau menantang Gabriel, salah satu raja jalanan. Mimpi kau!" seru si pengendara BMW hitam itu.


Lalu BMW itu makin melaju lagi meninggalkan Lamborghini milik Anjas. Tapi Anjas merasa tidak penting untuk meladeni orang itu. Maka dia hanya berkendara secara normal.


Melihat belokkan yang menjadi tujuan utamanya. Maka Anjas pun langsung berbelok ke arah Kampung kumuh yang dia cari.


Saat Anjas sampai di kampung yang tertera di layar transparan. Anjas memarkirkan mobilnya di dekat area masuk kampung kumuh itu.


Masuk ke area perkampungan kumuh Anjas mengikuti arah titik merah. Hingga saat sampai di depan sebuah rumah yang terbuat dari papan kayu. Letak rumah itu tepat di sebelah aliran sungai. Anjas langsung mengetuk pintu rumah itu.


Seorang wanita tua berusia 60 tahun yang membuka pintu. Si wanita yang mengenakan pakaian daster itu bertanya ke Anjas.


"Cari siapa nak?" tanya si wanita tua.


"Apa ini rumahnya Yana?" balas Anjas bertanya balik.


"Benar dia cucuku. Ada urusan apa kau mencarinya?" sekarang wanita tua itu berekspresi tidak senang saat ditanya tentang cucunya.


"Aku teman Yana dan ingin bertemu dengannya." jawab Anjas.


"Yana! Temanmu mencari kau!" seru si wanita tua itu berpaling dari Anjas. Dia masuk ke dalam rumah lagi.


"Ya! Siapa yang datang nek?" Yana pun muncul di depan pintu masuk rumah.


Saat melihat Anjas. Ekspresi wajah Yana menjadi ketakutan. Karena Yana berpikir bahwa tempat dia bersembunyi sekarang tidak akan secepat itu ditemukan. Tapi sekarang orang yang pernah dia targetkan bisa menemukan dirinya. Dengan waktu tidak sampai sehari.


"Ikutlah. Aku ingin bicara dengan kau." ujar Anjas dengan dingin.


Anjas menjauh dari rumah itu. Segera diikuti oleh Yana. Dia sudah tidak bisa kabur. Karena dia tahu kemampuan Anjas. Jadi dia tidak gegabah untuk melakukan perlawanan.


Anjas membawa Yana bicara di dekat mobilnya. Tidak lupa Anjas mengaktifkan kemampuan Tubuh Menembus Segala Benda. Untuk mengantisipasi jika Yana menyerang secara tiba-tiba.


"Cepat katakan apa mau mu?" Yana memulai percakapan.


"Aku ingin membuat penawaran. Jika kau ingin selamat dari organisasi pembunuh bayaran itu. Kau bisa bekerja sama dengan aku. Aku sudah mengetahui indentitas semua anggota organisasi itu. Juga melakukan persiapan untuk menghadapi mereka. Apa kau ingin terus diincar oleh mereka? atau bergabung dengan kelompokku?" jelas Anjas menawarkan sebuah kerja sama.


"Sebelum itu, bagaimana keadaan rekanku yang kau tangkap? Apa kau sudah membunuhnya?" Yana masih belum bisa menerima.


"Syukurlah. Jika kau bisa melindungi aku dan kak Chan Bee. Aku setuju dengan kerja sama dengan kau. Tapi dengan satu syarat. Aku ingin membawa nenekku juga. Dia yang sudah merawatku sebelum aku menjadi pembunuh bayaran." Yana pun memberikan beberapa permintaan.


"Itu tidak masalah. Kau datang ke alamat ini. Aku tunggu kalian di sana." sambut Anjas sambil memberikan secarik kertas yang berisi alamat markas geng The FALCON.


"Baiklah aku akan ke sana." setelah berkata demikian Yana langsung kembali ke area perkampungan.


Anjas tersenyum miring ke Yana yang sudah menghilang dari pandangan. Kemudian dia pergi meninggalkan area perkampungan itu.



Tujuan Anjas sekarang ingin menemui Beno dan Rina. Beno ingin bertemu di lokasi kafe. Yaitu di Haery Building milik Anjas.



Rina ingin melihat tempat tersebut. Agar dia bisa memberikan pendapat tambahan untuk keperluan kafe nanti.



Namun sekali lagi Anjas bertemu dengan mobil BMW hitam tadi. Sekarang posisinya terbalik. BMW itu sedang menghalangi jalan Anjas. Sehingga Anjas yang ingin menyalip. Tetap dihalangi oleh si pengendara BMW alias Gabriel.



"Ada dengan orang itu. Aku sedang ada janji. Tapi dia seperti mempermainkan aku di jalan." Anjas yang emosi dengan sengaja menabrak bemper belakang BMW itu.



Sehingga mobil itu berhenti dan memblokir jalan Anjas secara mendadak. Otomatis Anjas juga ikut berhenti.



Gabriel keluar dari mobilnya. Diikuti oleh Anjas. Melihat keadaan bemper mobilnya yang sedikit peot. Gabriel langsung mengebrak mobil Anjas dan marah.



"Apa yang kau lakukan brengsek!? Mobilku rusak karena kau serempet tadi! Ganti rugi atau aku hajar kau!" bentak Gabriel sambil menunjuk wajah Anjas.



"Kau yang menghalangi jalan. Jadi aku melakukan itu agar kau menyingkir dari hadapanku." balas Anjas santai tidak takut dengan ancaman Gabriel.



Gabriel tersulut emosi dan ingin memukul Anjas. Walaupun tubuh Gabriel terlihat agak kurus. Tapi dia berani melakukan perkelahian.



Gabriel yang hendak memukul Anjas dihentikan oleh teriakan seorang gadis. Gadis itu terlihat cantik mengenakan kaos berwarna merah dan rok jeans pendek. Dia adalah pacar Gabriel yang bernama Maya.



"Hentikan Gabriel! Aku tidak ingin lihat kau berkelahi." seru si gadis.



"Tapi Maya dia sudah merusak mobilku." balas Gabriel terlihat bimbang. Ingin menghajar Anjas atau mendengarkan pacarnya.



"Begini saja. Tidak usah pakai kekerasan. Kita selesaikan dengan balapan saja. Jika dia menang kau lepaskan dia. Jika kalah dia harus membayar dua kali lipat dari harga normal perbaikan mobilmu." Maya menawarkan.



"Oke aku setuju." sambut Anjas tanpa pikir panjang.



Karena itu mereka membuat kesepakatan dengan jalur jalan yang akan mereka lalui. Juga titik finis yang harus dicapai. Maya juga menghubungi seseorang yang dekat dengan titik finis agar ada yang menjadi saksi balapan itu.



Maka dua menit kemudian. Lamborghini Aventador milik Anjas sudah siap di garis start yang di buat dari pilok berwarna putih. Juga BMW hitam milik Gabriel yang berada sejajar di samping mobil Anjas.



"Bersedia!" Maya menjadi juru start memulai hitungan.



"Siap..!" teriakkan itu disambut dengan raungan mesin dua mobil sport yang akan balapan.



"Mulai!" setelah teriakan itu. Dua mobil itu langsung memacu kecepatan meninggalkan Maya di garis start.