
Di jalan yang sepi Anjas langsung mengeluarkan mobil sport Lamborghini Gallardo miliknya. Lalu pergi dengan kecepatan tinggi ke kediaman keluarga Ajisaka.
Anjas memberhentikan mobilnya di 500 meter dari kediaman keluarga Ajisaka. Menyimpan Lamborghini Gallardo miliknya agar tidak ada yang menyadari bahwa di ada di sekitar kediaman keluarga Ajisaka.
Dengan kecepatan tinggi Anjas berlari menuju kediaman keluarga Ajisaka. Tanpa keringat Anjas sudah sampai di depan pintu gerbang kediaman itu. Mengeluarkan HP nya dan melakukan hacking untuk memadamkan listrik di kediaman keluarga Ajisaka untuk waktu satu jam kedepannya.
Semua itu Anjas lakukan untuk menyembunyikan diri dan juga tidak tertangkap kamera CCTV. Lalu Anjas menekan tombol power di layar HP nya. Seketika semua penerangan di wilayah kediaman keluarga Ajisaka padam.
Anjas tidak mau berlama-lama lagi. Langsung melakukan penyerangan. Dia mendekati pintu gerbang dan "BUOOOMM!!!" suara dentuman keras terdengar setelah Anjas menendang pintu gerbang.
Anjas langsung mengaktifkan beberapa kemampuan seperti Tubuh Menembus Segera Benda, Melihat Tak Kasat Mata, dan Mata Tembus Pandang. Juga langsung mengeluarkan belati Bara Neraka.
Dengan kemampuan Melihat Tak Kasat Mata. Anjas bisa melihat dalam gelap sekali pun. Dia dengan lincahnya menyerang beberapa penjaga pintu di sana termasuk beberapa orang satpam. Namun mereka tidak langsung dibunuh hanya dilumpuhkan oleh Anjas. Sekitar 20 dia lumpuhkan di pintu gerbang.
Setelah itu dia mulai berjalan memasuki area teras. Namun muncul beberapa orang dari balik pilar rumah dan dari arah samping taman teras itu. Mereka adalah para pengawal keluarga Ajisaka. Ada hampir 50 orang yang keluar. Saat mendengar suara dentuman keras dari gerbang mereka langsung menuju ke situ. Lalu menemukan seseorang yang berjalan di antara para penjaga pintu yang terkapar.
"Siapa kau!? Berani sekali masuk ke kediaman keluarga Ajisaka tanpa izin!" seru salah satu pengawal yang adalah pemimpinnya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas sekarang kalian akan menjadi mayat." balas Anjas senyum menyeringai.
Karena mendengar ancaman dari dari orang yang mereka anggap penyusup itu. Segera mereka mengarahkan pistol yang dilengkapi dengan senter untuk penerangan.
Langsung saja wajah Anjas yang dari tadi tertutup kegelapan malam tanpa bulan itu terlihat. "Tembak dia!" seru si pemimpin pengawal.
"Dor dor dor dor dor dor ...." suara tembakan beruntun terdengar hingga ke dalam rumah.
Sementara itu di dalam rumah keluarga Ajisaka. Para anggota keluarga baru saja selesai mendiskusikan tentang masalah mereka dan mencari solusinya. Dikagetkan dengan lampu padam dan suara dentuman keras. Langsung dengan HT Jarot memerintahkan para pengawal untuk memeriksa. Sedangkan mereka menyalakan lampu senter dari hp masing-masing.
"Apa itu? Suara itu seperti bom dengan ledakan kecil." heran Septian. Dia ingin bangkit dan keluar untuk melihat. Tapi ditahan ayahnya.
"Biar para pengawal yang memeriksa. Saat ini keadaan sedang gelap. Takutnya itu adalah serangan musuh." ujar Fedrian dengan tenang. Tapi pikirannya masih kalut.
Setelah Fedrian mengatakan itu. Terdengar suara tembakan beruntun di luar rumah. Hal itu membuat mereka terkejut. Meyakinkan mereka bahwa itu adalah serangan musuh yang sudah mengetahui bahwa mereka sedang lemah sekarang.
Segera Herman menyuruh semua orang masuk ke dalam ruangan rahasia yang sudah disiapkan. Ruangan itu disiapkan untuk hal yang tidak terduga. Ruangan rahasia itu berada di lantai 2 rumah. Di dalam ruangan itu sudah tersedia makanan, pakaian dan senjata api beserta amunisi dan ada pula senjata tajam berupa pedang buat Jepang.
Fedrian mengambil beberapa pistol dan satu mesin gun. Herman juga mengambil dua pistol dan satu shoot gun. Sedangkan Septian mengambil pedang dan satu mesin gun. Jarot juga mengambil senjatanya sendiri sebuah sniper yang biasa dipakai oleh militer.
Kalian tunggu di sini. Kita akan mengurus para musuh itu." Herman menghimbau kepada para wanita dan anak mereka.
Kemudian mereka berempat keluar dari ruangan rahasia. Langsung menuju ke pintu masuk rumah.
Kembali ke luar rumah. Anjas yang sedari tadi ditembaki para pengawal. Hanya menguap dan menatap dengan meremehkan. Hingga semua amunisi mereka habis barulah Anjas melanjutkan aksinya.
Gerakan Anjas sangat cepat dia tidak terlihat saat menyerang. Itu dikarenakan dia sudah mengaktifkan teknik Ilusi. Sehingga mata para pengawal tertutup dan tidak menyadari bahwa dia sudah diserang.
Hanya dalam satu menit semua pengawal itu terkapar tewas. Anjas membunuh mereka karena wajahnya sudah dikenali. Jadi dia tidak bisa membiarkan mereka hidup.
Anjas melangkahi mayat-mayat para pengawal. Dengan tatapan tajam Anjas pun membuka pintu rumah.
Baru saja beberapa langkah Anjas menginjakkan kaki dalam rumah itu. "Dor dor dor..!" tiga suara tembakan beruntun pun terdengar sangat dekat.
Tapi untungnya kemampuan Tubuh Menembus Segera Benda masih aktif. Anjas sempat kaget. Tapi langsung diatasinya.
Sebuah senter terarah ke wajah Anjas. Namun Anjas tidak bereaksi dengan senter itu.
"Ternyata hanya seorang pemuda. Hebat juga kau bisa menghindari semua tembakan itu." Fedrian bersuara yang mengira Anjas berhasil menghindar dari tembakannya.
Anjas memerhatikan posisi Fedrian dengan pistol di tangan menodong ke arah Anjas. Dia berada di tangga menuju lantai dua rumah. Dia tidak sendirian ada dua orang di anak belakang Fedrian. Mereka adalah Herman dan Septian. Di tangan mereka juga memegang Mesin gun dan juga shoot gun.
Anjas sedikit melirik ke atas. Tepat di pagar tepi lantai 2. Anjas melihat ada satu orang yang sedang membidiknya.
"Bukan beruntung. Tapi aku bisa menghindari semua tembakan kalian." ujar Anjas sambil melempar pisau ke arah orang yang membidiknya tanpa diketahui oleh orang itu. Kecepatannya melempar Anjas sudah tidak bisa terlihat.
"Cik.. Aaaaaarrrhhhhh! Mataku!" Jarot menjerit keras karena mata kanannya tertusuk sebuah pisau kecil.
Sniper yang di pegang jatuh ke lantai bawah. Dia tersungkur di lantai dan masih menjerit. Pisau itu sudah diberikan racun oleh Anjas. Jadi semenit kemudian jeritan Jarot meredam dan mati seketika.
Mengetahui bawahannya diserang. Fedrian langsung memerintahkan untuk menyerang.
"Tembak bajingan itu hingga menjadi bubur!" Fedrian mengambil mesin gun dan langsung menembak Anjas.
"Tererrrreerrttteerrtttetrreetttteeterrrrrree!!!! Dor dor dor dor dor... Turuuurrrrrttttrrtuuueettruu!!!" serangan bertubi-tubi dari mereka bertiga membuat banyak barang dia ruang tamu menjadi hancur porak poranda. Mereka tidak peduli lagi dengan rumah mereka yang terpenting mereka bisa membuat pemuda sok berani itu mati di tempat tanpa mengatakan kata terakhir.
"Dor!" tembak terakhir dari Herman. Semua amunisi yang ada di senjata api mereka sudah habis. Tinggal pistol saja yang masih penuh.
Suasana menjadi hening. Banyak debu beterbangan. Banyak barang mahal dan mewah hancur. Mungkin mereka akan mendapatkan omelan dari para istri. Tapi mereka tidak peduli dengan itu.
Namun semenit kemudian mereka tercengang. Setelah semua debu yang menghilang. Yang mereka kita tubuh pemuda itu sudah hancur seperti barang sekitar. Ternyata tidak sesuai harapan.
Anjas masih berdiri di sana dan dengan ekspresi wajah datar. Bajunya mungkin koyak tapi tidak ada darah yang keluar dari sana. Tubuhnya tidak terdapat goresan sama sekali. Masih sehat dan bugar.
"Hahaha... Itu tadi seru sekali... Kalian tanpa ampun menembakkan semua peluru. Tapi sayangnya aku masih hidup." ejek Anjas tersenyum miring.
"Bagaimana mungkin!? Siapa kau sebenarnya!?" Herman sudah ketakutan. Baru kali ini dia melihat targetnya tidak mati. Bahkan tidak tersentuh setitik pun.
"Hah.. pertanyaan itu lagi. Oke aku akan katakan. Akulah si 'Dewa Pedang' itu" ujar Anjas yang sekarang ekspresinya berubah geram.
"Dewa Pedang?" gumam Septian. Dia dari tai terdiam. Tapi berusaha mengingat sesuatu.
Tapi sayang Anjas sudah mulai menyerang.
"Sekarang giliran aku." langsung saja tiga pisau di lemparkan ke arah mereka. Mereka belum bisa bereaksi terhadap situasi.
Tidak hanya sampai di situ. Anjas melesat cepat menaiki tangga. Dengan demikian per gerakan ketiga orang itu terkunci.
"Marilah kalian semua!" seru Anjas menyerang mereka dengan belati.