CHEL

CHEL
Bab 76



Pisau yang dilemparkan Anjas tidak beracun. Tapi hanya untuk membuat mereka lengah. Benar saja Herman dan Septian yang lengah langsung tertusuk pisau lempar Anjas di bahu mereka masing-masing. "Aaaaarrh!" "Aaaarrrgghh" mereka berdua menjerit.


Tidak seperti kedua anaknya Fedrian sempat melihat pisau itu dan langsung menghindar. Tapi dia terlambat menyadari bahwa Anjas sudah di dekatnya. Tapi masih bisa refleks karena dia juga ahli beladiri yang kuat.


Menghindari belati Anjas. Fedrian berniat melawan. Tapi kalah cepat dengan tangan Anjas. Tanpa diduga beberapa tusukan hinggap di paha dan lengannya. "Aaaaaaaaarrgghhhhh!" Fedrian menjerit keras.


Anjas yang tidak ingin menyakiti telinganya mendengar suara teriakan. Langsung menggorok leher Fedrian hingga dia terdiam. Darah muncrat dengan cepat ke segala arah. Tubuh Fedrian langsung tergelatak dan menggelinding ke bawah tangga.


Anjas membiarkan tubuh itu. Dia lanjut melangkah mendekati Herman dan Septian.


"Berani sekali kau membunuh ayah kami. Kau akan kami buru hingga ke ujung dunia sekalipun!" Herman mengancam Anjas.


"Tidak perlu sampai ke ujung dunia. Kalian juga akan mati di sini." sedetik kemudian leher kedua orang itu pun sudah digorok dengan kecepatan kilat. Melihat di punggung Septian ada sebuah pedang Anjas tertarik dan langsung menyimpan pedang itu di cincin giok penyimpanan.


Anjas naik ke lantai 2. Memeriksa dan memerhatikan kondisi rumah. Namun dia tidak menemukan seorang pun. Tapi saat dia menengok ke sudut sebuah ruangan baca. Dia melihat ada pintu tersembunyi di balik rak buku.


Dia telah menemukan ruangan rahasia yang digunakan keluarga Ajisaka untuk bersembunyi.


"Ketemu." gumam Anjas tersenyum.


Walaupun rak buku itu terlihat kuat. Tetap tidak membuat Anjas mundur. Dia pun menendang rak yang di belakangnya ada pintu tersembunyi. "Braaak!!" rak buku sekaligus pintu rahasia itu pun hancur dalam satu tendangan keras.


Orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut. Mereka tidak menyangka akan ada yang menemukan ruang rahasia itu.


Anjas masuk dan mendapati ada empat orang di dalam ruangan itu. Mereka adalah Delvi istri Herman, Rinjani Ajisaka dan Jinan anak keduanya. Yang terakhir Hasan Ajisaka.


"Jadi kau yang menyerang kediaman kami?" Hasan bersuara saat setelah mengatakan senter hp nya. Dia masih ingat wajah Anjas. Karena dia juga mengincar Anjas.


Tapi saat ini Hasan melihat Anjas datang dengan memegang belati yang berlumuran darah. Yang tebak darah itu adalah darah ayah, paman dan kakeknya. Yang sudah dipastikan sudah mati.


"Kau kanal aku?" heran Anjas.


"Haha... itu tidak penting. Sekarang aku akan membunuhmu!" seru Hasan yang langsung mengeluarkan sebuah pedang dari punggungnya. Pedang asal Jepang itu hampir mirip dengan pedang milik Septian yang diambil Anjas tadi.


Mereka dirinya terancam. Anjas mundur menghindar. Karena dia sudah menonaktifkan kemampuan Tubuh Menembus Segera Benda. Dengan gerakan yang lumayan cepat Hasan melakukan teknik pedang yang dia sudah pelajari dari ayahnya.


Mereka berdua pun keluar dari ruangan. Sempat Hasan mengatakan pada keluarganya yang tersisa untuk lari. Langsung mereka ikut keluar.


Anjas terus menghindar dari serangan pedang Hasan. Dia menjadi tertarik untuk menjajal kemampuan berpedangnya dengan melawan Hasan. Dengan cepat dia mengeluarkan pedang milik Septian. Lalu menyambut pedang Hasan.


"Ting... tang... Ting... Ting..!" dua pedang saling beradu.


Beberapa detik saling beradu pedang dengan cepat. Mereka berdua saling memisahkan diri.


Melihat ketiga orang wanita keluar dari ruangan baca Anjas langsung melempar tiga jarum beracun pelumpuh. Seketika ketiga wanita itu tumbang dan tidak bisa bergerak.


"Sialan apa yang kau lakukan pada mereka?!" geram Hasan menyerang secara tiba-tiba.


Tapi Anjas masih bisa menahan serangan itu. Mereka saling menahan pedang.


"Mereka akan kabur jika aku tidak menghentikan mereka." Anjas menjawab santai. Dia tidak peduli. Karena sekarang dia harus menyelesaikan misi sistem. Jadi tidak satupun yang bisa lolos dari maut hari ini untuk keluarga Ajisaka.


"Tapi teknik pedangmu cukup lumayan. Namun aku harus secepatnya membereskan kalian semua." sambil mendorong menjauhi Hasan.


Anjas lalu melakukan akselerasi serangan pedang. Gerakan Anjas secepat kilat menerobos pertahanan Hasan. Kejadian itu sangat cepat membuat Hasan tidak bisa berkutik lagi. Sedetik kemudian Hasan rubuh. Tubuhnya sudah terbelah dua. Mati dengan mata terbelalak.


Anjas meninggalkan Hasan untuk sementara. Dia menghampiri tiga wanita yang kini sangat ketakutan. Rinjani berusaha meraih kaki Anjas dan bermohon kepadanya.


"Tolong tuan. Jangan bunuh kami. Kami akan melakukan apa saja untuk tuan. Tapi tolong jangan bunuh kami.!" mohon Rinjani dengan rintihan pilu.


"Maaf, sayangnya kalian sudah terlalu lama menikmati kesenangan di atas penderitaan orang lain. Sing..sing..sing!" setelah mengatakan itu Anjas langsung menebaskan pedangnya tanpa ragu.


Setelah itu Anjas memeriksa status sistem.


"Buka Status." gumam Anjas.


[Nama \=> Anjas Rahadi ]


[Kesehatan \=> 75% (Sehat)]


[Level \=> 4/100 (25/450 - exp)]


[Keahlian \=> Karate Legendaris, Muaythai Legendaris, Mengemudi Super, Mekanik Super, Pemusik Super, Teknik Belati Api,Teknik Pedang Legendaris, Teknik Ilusi mental, Mata Tembus Pandang, Pelukis Expert, Tubuh Menembus Segala Benda, Melihat Tak Kasat Mata, Hacker Super.]


[Kekuatan \=> 295]


[Kecepatan \=> 200]


[Ketahanan \=> 315]


[Kecerdasan \=> 265]


[Item Yang Digunakan: Sarung Tangan Petarung, Cincin Tak Kasat Mata, Cincin Giok Penyimpanan,]


[Mental \=> 95% (Sehat)]


[Saldo rekening \=> Rp.733.829.343.792.500]


[Poin Sistem \=> 86.150]


[Status Hubungan \=> Pacaran (Jumlah: 1 orang)]


[Inventori \=> Berisi barang kebutuhan pemilik sistem.]


[Tiket lotre \=> 1 Tiket Lotre ]


[Misi \=> 1. (2⭐) Menaklukkan Keluarga Ajisaka yang sudah menjadi kejahatan yang tersembunyi. Runtuhkan semua bisnis mereka dan balaskan dendam semua orang. Waktu 2 bulan. Hadiah 2 kotak Glory, 2 kotak Platina dan 5 kotak Emas. (Progres: 91%)]


[Shop \=> Shop terbuka. Menyediakan berbagai macam hal.]


"Masih belum selesai yah. Apakah aku harus menghanguskan kediaman ini?" tanya Anjas pada sistem.


[Benar sekali. Anda harus benar-benar melenyapkan mereka.] jawab sistem.


Langsung saja Anjas ingin meledakkan rumah ini. Pertama dia melakukan teknik Ilusi untuk seluruh area kediaman itu. Hal itu di lakukan agar ledakan tidak bisa terdengar sampai rumah lain di sekitarnya. Dia pergi ke dapur menyalakan kompor. Lalu memperhatikan sekeliling. Saat melihat melihat jalur selang gas yang terhubung dengan kompor Anjas memotong sedikit agar gas yang keluar secara perlahan. Butuh 5 menit sebelum terjadi ledakan.


Sebelum ledakan terjadi. Dengan cepat Anjas mengitari seluruh ruangan di rumah besar itu. Mengelilingi rumah dengan kemampuan Melihat Tembus Pandang.


Ternyata di sebuah ruangan terdapat banyak barang antik koleksi Fedrian. Semua barang tersebut asli dan memiliki nilai jual yang tinggi. Menurut penilaian scanning sistem.


Mengangkat tangannya ke atas. Anjas menarik semua barang antik masuk ke dalam cincin giok penyimpanan. Ada ratusan barang langsung terhisap masuk ke cincin itu tanpa sisa.


Masih di ruangan barang antik. Anjas menemukan sebuah pintu tersembunyi lagi. Kalian ini terbuat dari besi. Dilengkapi dengan kunci sistem dengan sidik jari. Dia mengingat bahwa mungkin ini adalah ruang rahasia milik Fedrian maka dengan segera kembali menghampiri Fedrian dan memotong tangan orang tua itu.


Kembali ke ruang barang antik. Segera Anjas membuka pintu besi itu. Menggunakan telapak tangan Fedrian. Pintu besi terbuka secara otomatis.


Lalu Anjas melangkah masuk. Dia pun tercengang saat melihat isi dari ruangan itu. Ruangan dengan luas 2x3 itu dipenuhi oleh emas batangan di beberapa rak. Dengan barat per batang sebesar 1000 gram.


"Ternyata mereka masih memiliki hal seperti ini yah." sembari mengangkat tangannya lagi. Menarik semua emas batangan itu. Kira-kira jumlah emas batangan itu hampir mendekati 1500 batang. Tepatnya 1450 batang emas.


Setelah memeriksa beberapa ruangan lagi dan tidak menemukan apa-apa. Anjas langsung keluar dari rumah itu. Tepat Anjas sampai di gerbang. "BOMM! BOM! BOOMM!" tiga ledakan terdengar. Tentunya hanya Anjas yang mendengar itu. Barir ilusi menetralkan suara ledakan. Sekarang rumah itu sedang terbakar dengan nyala api yang besar. Tanpa ada yang tahu sama sekali. Anjas berbalik dan pergi setelah puas melihat seluruh rumah terbakar. Tidak lupa dia melenyapkan semua penjaga yang dia lumpuhkan sebelumnya.