
Jeritan Ling Han dikarenakan lemparan Belati Bara Neraka yang dilakukan Anjas adalah salah satu jurus mematikan. Saat Anjas menemukan kelemahan Ling Han. Dia mengetahui bahwa tangan kanan Ling Han tidak dilapisi dengan logam armor seperti di tangan kiri.
Anjas juga mengetahui bahwa tangan kanan Ling Han yang patah tadi membuatnya tidak bisa bergerak lebih cepat. Maka sasaran Anjas adalah saraf penggerak di tangan kanan Ling Han dengan menembus batang lengan.
"Sialan kau!! Aaaarrrgghh! Crak!" umpat Ling Han mencabut belati belati yang menancap.
Sekali lagi Anjas melakukan scanning body. Mencari kelemahan lain lawannya. Dia tidak boleh gegabah saat melihat lawan terluka. Jika salah langkah dia yang akan mati.
[Ding! Lawan memiliki titik buta. Di sebelah kanan. Incar bahu atau perut bagian kanan. Akan lebih efektif menggunakan pedang.]
Hasil yang diberikan sistem membuat Anjas tersenyum licik. Dia mendapatkan cara yang tepat.
Anjas kembali melempar pisau yang beracun pelumpuh. Kali ini dia melemparnya berkali-kali hingga pisaunya habis. Lebih dari 20 buah pisau yang dilempar.
"Sut Sut sut sut sit sat sat Sut sut sit...!" beberapa lemparan Anjas tidak bisa mengenai Ling Han. Kelincahannya bisa menghindari serangan sepele itu.
"Kau kira dengan melempar pisau-pisau itu kau bisa melukaiku, hah?! hahaha jangan mimpi." seru Ling Han yang terus menerus menghindar pisau Anjas. Terus ke arah kirinya. Karena Anjas terus menyerang bagian kanan.
Tapi yang tidak disadari oleh Ling Han bahwa dia sedang digiring menuju ke sudut parkiran. Memang posisi Ling Han sekarang tepat membelakangi dinding. Selagi melempar pisau Anjas terus maju untuk mengambil jarak pas.
Hingga sampai pisau terakhir dilempar. Ting! Pisau itu ditangkis menggunakan logam armor tangan kirinya.
Tapi itu membuat Ling Han lengah. Anjas melakukan teknik ilusi dengan cepat. Membuat raga palsu. Hal itu membuat Ling Han melihat raga palsu Anjas yang kelelahan. Sementara Anjas sudah mengendap ke sebelah kanan Ling Han.
"Hahahaha kayaknya kau sudah kelelahan. Sudahlah. Biarkan aku membunuhmu tanpa rasa sakit." kata Ling Han membujuk Anjas seperti membujuk anak kecil.
"Ssst sing sing sing sing! CRAAKK!" Tapi yang tidak disangka Ling Han. Tangan dan kaki kanannya sudah menjadi beberapa penggal daging segar.
"Aaaaaaaaarrgghhhhh!!!!" tidak tanggung-tanggung. Teriakkan membahana di parkiran apartemen itu. Jika ada yang lewat parkiran bagian bawah. Mungkin akan mendengar suara teriakan bergema. Tapi orang akan menyangka itu adalah suara hantu.
Bruk! Tubuh Ling Han jatuh berlumuran darahnya sendiri. "Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin dia bisa menyerang aku tanpa melakukan apapun.!!!?" namun saat dia melihat ke arah Anjas. Raga yang dia lihat memudar dan dia sangat terkejut bahwa Anjas sudah ada di depannya dengan pedang panjang berwarna hitam. Pedang asal negeri sakura yang terkenal dengan ketajamannya yang bisa membelah batu. Pedang Legendaris yang terbuat dari Baja Hitam.
"Aku tidak tahu apa motif kalian mengincar aku. Tapi jika kalian terus berdatangan padaku aku akan menyambut kalian. Sing!" kata Anjas yang langsung memenggal kepala Ling Han tanpa memberi kesempatan untuk bertanya. Bagaimana dia bisa menyerang dengan pedang?
[Ding! Selamat anda mendapatkan sebuah teknik warisan. Teknik Beladiri Yin Yang tingkat Legendaris.]
[Otomatis dikonfirmasi sistem. Sekarang semua jurus dari teknik ini akan masuk ke memori anda. Tahan selama 1 menit.]
Membaca peringatan sistem. Anjas langsung merasakan kepalanya sakit karena dipenuhi oleh Teknik Beladiri baru. Tapi dia berusaha menahan diri.
Semenit kemudian. Tubuh Anjas seperti mengeluarkan aura berwarna merah membara. Ternyata bukan hanya sekedar tersimpan di dalam memori. Teknik tersebut seperti sudah menyatu dengan jiwa dan raga Anjas.
[Bing! Selamat anda mendapatkan 300 kekuatan, 300 kecepatan, 300 ketahanan, 300 kecerdasan. Karena telah mempelajari Teknik Beladiri Yin Yang tingkat Legendaris.]
Dengan penasaran Anjas membuka status sistem. Tapi belum sempat membuka status sistem. Satu notifikasi sistem muncul.
[Bing! Selamat anda telah berhasil melenyapkan salah satu ahli beladiri. Anda mendapatkan 400 poin exp dan 1 tiket Lotre.]
Melihat hadiah yang diterima Anjas langsung membuka layar status sistem.
"Buka Status." gumam Anjas.
[Nama \=> Anjas Rahadi ]
[Kesehatan \=> 95% (Sehat)]
[Level \=> 4/100 (425/450 - exp)]
[Keahlian \=> Karate Legendaris, Muaythai Legendaris, Mengemudi Super, Mekanik Super, Pemusik Super, Teknik Belati Api,Teknik Pedang Legendaris, Teknik Ilusi mental, Mata Tembus Pandang, Pelukis Expert, Tubuh Menembus Segala Benda, Melihat Tak Kasat Mata, Hacker Super, Teknik Beladiri Yin Yang tingkat Legendaris.]
[Kekuatan \=> 595]
[Kecepatan \=> 500]
[Ketahanan \=> 615]
[Kecerdasan \=> 565]
[Item Yang Digunakan: Sarung Tangan Petarung, Cincin Tak Kasat Mata, Cincin Giok Penyimpanan,]
[Mental \=> 100% (Sehat)]
[Saldo rekening \=> Rp.733.829.343.792.500]
[Poin Sistem \=> 86.150]
[Status Hubungan \=> Pacaran (Jumlah: 1 orang)]
[Tiket lotre \=> 2 Tiket Lotre ]
[Misi \=> 1. (2⭐) Menaklukkan Keluarga Ajisaka yang sudah menjadi kejahatan yang tersembunyi. Runtuhkan semua bisnis mereka dan balaskan dendam semua orang. Waktu 1 bulan. Hadiah 2 kotak Glory, 2 kotak Platina dan 5 kotak Emas. (Progres: 97%)]
[Shop \=> Shop terbuka. Menyediakan berbagai macam hal.]
Hanya ekspresi wajah tegang yang ditunjukkan oleh Anjas. Dia tidak menyangka dengan membunuh seorang pembeladiri akan mendapatkan hadiah yang begitu banyak.
"CHEL, apa ini tidak berlebihan?" tanya Anjas yang heran.
[Tidak, anda telah melakukan hal yang benar. Selain melakukan kebaikan. Anda juga akan mendapatkan hadiah jika membunuh orang yang memiliki banyak aura dosa. Hadiah akan lebih banyak jika orang itu adalah ahli beladiri yang tersesat.] jelas sistem yang membuat Anjas berpikir. Dia harus membersihkan dunia dari orang yang berdosa.
"Bagaimana cara aku bisa mengetahui jika orang itu memiliki aura dosa?" tanya Anjas untuk memastikan.
[Anda bisa meningkatkan kemampuan scanning body ke level 3 dengan menukar 2500 poin sistem. Dengan begitu bisa mendeteksi aura apapun itu. Aura dosa ditandai dengan munculnya asap ungu.] jelas sistem lagi.
Tanpa basa-basi lagi Anjas melakukan penukaran poin sistem dengan level 3 scanning body sistem.
[Bing! Selamat anda telah menaikkan level scanning body sistem ke level 3. Sekarang anda bisa melihat aura apapun yang ada di sekitar anda.]
Anjas tersenyum melihat notifikasi yang bisa menguntungkan bagi dirinya. Hal tersebut akan membantu Anjas kedepannya.
Kita beralih ke hutan sebelah timur kota Jakarta. Dimana Dendi masih sedang berlatih semua teknik beladiri yang diajarkan Anjas. Satu hari sudah terlewatkan.
Karena terlalu asik berlatih dia tidak sadar sudah berbelok ke arah barat. Juga tidak sadar ada yang sudah mengawasi setiap gerakan Dendi.
Tapi saat dia baru saja selesai melatih gerakan jurusnya. Dari atas pohon turun seorang gadis yang lebih tua dari usianya.
Dendi yang tidak mengenal siapa gadis itu. Langsung siap dengan kuda-kuda sempurna menurut dia.
"Siapa kau?" tanya Dendi tegas.
"Seharusnya aku yang bertanya siapa kau ini? Kamu telah lancang memasuki daerah kekuasaan Padepokan Macan Putih." balas si gadis lebih keras. Suara gadis itu seperti menggema di langit hutan.
Sadar bahwa dia yang salah. Dendi langsung meminta maaf.
"Maafkan aku jika aku telah melanggar wilayah padepokan kalian. Aku hanya berlatih di hutan ini tanpa tahu sudah masuk wilayah orang. Aku akan segera pergi." jawab Dendi sudah lebih sopan.
"Hum... karena ini hanya kesalahpahaman maka aku memaafkan kau. Tapi dengan syarat kau harus memberi tahu siapa nama gurumu. Aku melihat teknik yang kau lakukan adalah teknik yang mematikan dan tidak biasa." gadis itu penasaran.
"Nama guru atau aku menyebutnya pelatih adalah Anjas. Dia hanya 4 tahun lebih tua dari aku. Mungkin seusia nona." jawab Dendi ramah.
Sang gadis semakin penasaran. Karena seorang pemuda bisa mengajarkan teknik beladiri yang bisa dibilang sangat kuat. Maka dari itu dia bertanya lagi.
"Di mana guru atau pelatih mu sekarang?" tanya si gadis.
"Dia sekarang tidak bersamaku. Tapi empat hari kemudian dia akan datang menjumpai aku." jawab Dendi.