CHEL

CHEL
Bab 29



Anjas masih santai di kamarnya.


"Buka status." benak Anjas sambil duduk di kasurnya.


[Nama \=> Anjas Rahadi ]


[Kesehatan \=> 90% (Sehat)]


[Level \=> 3/100 (335/450 - exp)]


[Keahlian \=> Karate Legendaris, Muaythai Legendaris, Mengemudi Super, Mekanik Super, Pemusik Super, Teknik Belati Api,]


[Kekuatan \=> 125]


[Kecepatan \=> 90]


[Ketahanan \=> 125]


[Kecerdasan \=> 115]


[Item Yang Digunakan: Sarung Tangan Petarung, Cincin Tak Kasat Mata, Cincin Giok Penyimpanan,]


[Mental \=> 100% (Sehat)]


[Saldo rekening \=> Rp.1.201.713.064.000]


[Poin Sistem \=> 12.730]


[Status Hubungan \=> Mulai membuka hati]


[Inventori \=> Berisi barang kebutuhan pemilik sistem.]


[Tiket lotre \=> 3 Tiket Lotre ]


[Misi \=> - Misi: Membeli gedung berlantai lima. Waktu 3 hari. Hadiah 3 kotak Perunggu dan 5 kotak Normal. ]


[Shop \=> Shop terbuka. Menyediakan berbagai macam hal.]


"Ah aku masih memiliki tiga tiket Lotre ternyata. Hampir aku melupakan itu. Kalau begitu, Sistem semua tiket Lotre." benak Anjas tersenyum lebar. Melihat masih ada hadiah lainnya yang belum diambil.


[Sedang memutar roda hadiah....]


[Bing!]


[Selamat anda mendapatkan Teknik Pedang Legendaris.]


[Selamat anda mendapatkan Teknik Ilusi mental.]


[Selamat anda mendapatkan 100.000 poin sistem.]


Tiga hadiah super yang muncul. Hal itu membuat mata Anjas terbelalak.


Seperti sebelumnya saat dia mendapatkan kemampuan sebelumnya. Dua pengetahuan tentang teknik yang baru dia dapat mengalir ke kepalanya.


Semua pengetahuan itu adalah ingatan seorang master pedang dan master ilusionis yang ada di masa depan. Karena ada beberapa teknik ilusi yang dia kenal. Seperti barir area yang di mana bisa membuat seseorang tersesat di suatu tempat.


Ada juga teknik pedang yang dia pernah dengar. Seperti Kendo dari Jepang dan beberapa teknik pedang dari China yang namanya susah di sebutkan. Juga Anggar dari Prancis.


Selain itu ada teknik pedang tapi tidak menggunakan pedang. Hanya dengan menggunakan tangan. Itu teknik yang cocok untuk sekarang. Hingga Teknik Golok dari Indonesia yang sudah lama punah.


Entah dari mana semua pengetahuan tentang teknik pedang itu didapatkan oleh sistem. Lalu Anjas kembali bertanya.


"CHEL dari mana semua teknik ini didapat? " tanya Anjas penasaran.


[Saat proses pembuatan sistem. Para ilmuwan di masa depan telah melakukan perjalanan waktu menuju ke berbagai masa. Mereka melakukan scanning memori otak pada para master yang ada di seluruh dunia. Sehingga mendapatkan banyak data. Lalu dimasukkan ke sistem sebagai data kemampuan.] jelas sistem.


Semua informasi itu tentunya berasal dari memori internal sistem. Yang memiliki kapasitas super besar. Karena menyamai fungsi memori otak manusia secara maksimal.


Mendapati ayah dan ibunya sedang makan. Anjas pun ikut makan. Mereka makan bersama dengan tenang. Karena ayah Anjas akan marah jika berbincang saat makan. Hanya suara piring yang terdengar.


Setelah makan Anjas pamit untuk pergi menjemput Anin. Tapi sebelum itu dia menelan dua pil terlebih dahulu. Yaitu Pil Penguat Raga Jasmani dan Pil Penguat Jiwa. Lalu dia pergi meninggalkan rumah.



Di sisi lain. Ternyata Ren sudah mengintai Anjas. Dia sudah tiba saat Anjas masuk ke rumah. Sekarang Ren sudah berubah penampilan. Dia sudah menggunakan seragam supir taksi dan berada di dalam taksi tepatnya di kemudi.



Flashback sedikit.


Ren setelah dari toko langsung mencari taksi. Tapi saat di tengah jalan Ren menyuruh supir taksi untuk berhenti di tempat sepi. Langsung Ren membunuh si supir saat keadaan aman dan memasukkannya ke bagasi mobil. Seragam si supir ternyata ada cadangan di dasbor mobil. Setelah itu bergegas menuju rumah targetnya. Karena taksi itu dilengkapi dengan fitur GPS maka mudah untuk menemukan rumah Anjas.



Oke kembali. Sekarang Ren sedang mengikuti Anjas. Dengan taksi yang dia bawa. Hingga sampai ke sebuah sekolah. Itu sekolah Anin berada.


Anjas sudah sampai dengan motornya di depan gerbang sekolah Anin. Tepat pukul setengah tiga.


"Mungkin dia sebentar lagi dia keluar." gumam Anjas melihat jam tangannya. Itu jam bekas ayahnya.


Sambil menunggu Anjas menghampiri penjual es Cincau yang biasa mangka di sana. Memesan dua gelas dan langsung dibayar.


Dengan santai dia menunggu Anin. Lagi asik menikmati es Cincau Anjas mendapatkan notifikasi sistem.


[Denger!! Terdeteksi ancaman. Ada seseorang yang sedang mengawasi anda dengan niat membunuh. Jarak 50 meter dari anda. Karena banyak orang di sekitar anda dia belum bergerak. Waspadalah.]


"Hmm ada yang mau main ternyata. Menarik... gluk." ujar Anjas sambil meneguk semua sisa es yang terakhir.


Tiga menit kemudian Anin keluar. Langsung menghampiri Anjas. Tapi ekspresi Anin seperti jengkel dan dongkol.


"Kenapa sih adikku yang imut? Baru keluar sekolah udah cemberut gitu." rayu Anjas agar Anin tidak cemberut.


"Aku lagi sebal sama Joko kak! Dia sering bikin aku kesal. Sering jailin Anin." jawab Anin masih cemberut.


"Sudah sudah. Mending ikut kakak. Kakak bakal traktir makan es krim gimana?" bujuk Anjas lagi. Dia tahu kesukaan adiknya.


"Wah beneran kak?" Anjas mengangguk "Asyik dapat es krim!" seru Anin ceria lagi.


Dari jauh Anjas melihat ada anak laki laki-laki seumuran Anin sedang memerhatikan Anin. Anjas rasa itu adalah anak yang dimaksud Anin. Ya, Joko sedang memerhatikan Anin dari jauh dengan senyum.


Kemudian Anjas membawa motornya menuju kedai es krim yang pernah dia kunjungi waktu SMA. Yang herannya masih buka hingga sekarang. Nama tempat itu adalah Duogh Lab. Anjas pernah diajak Deni ke sana. Alasan Deni adalah ingin mencicipi es krim enak. Tempat itu ada di Central Park lantai bawah.


Saat di jalan Anjas melihat spion motor. Dia melihat ada taksi yang terus mengikuti mereka. Hingga sampai di kawasan Central Park mereka masih diikuti. Saat di tempat parkir Anjas melihat taksi itu ikut parkir tapi tidak jauh dari motor Anjas.


Anjas hanya tersenyum miring. Anjas langsung mengajak Anin ke tempat tujuan. Sesampainya di tempat makan es krim itu. Mereka memesan sesuai selera mereka. Orang yang mengikuti mereka masih di sekitar mereka. Anjas tahu itu karena di beritahu oleh sistem.


"Mmm Nin, kakak mau ke toilet dulu yah." ujar Anjas langsung berjalan keluar tempat itu.


Dia tidak pergi ke toilet. Tapi ke tempat parkir tadi. Keadaan tempat parkir itu sangat sepi. Anjas menepi ke area yang tidak di sorot CCTV.


"Hehehe sungguh berani kau mencari tempat untuk mati." suara seseorang yang sudah berada di belakang Anjas.


Anjas berbalik, dia melihat orang yang memiliki perawakan kekar dan tegap. Dia berpakaian serba hitam dan sudah memegang dua belati berwarna hitam. Itu Ren si Raja Belati. Pembunuh bayaran yang mengincar Anjas.


"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin terlihat CCTV di tempat ini. Karena mungkin ini akan menjadi pembunuhan pertamaku. Juga akan menjadi tugas terakhirmu. Ren si Raja Belati." perkataan Anjas membuat Ren sedikit tercengang.


"Hehehe kau kurang beruntung karena bertemu denganku. Aku akan melakukan ini dengan cepat. Biar kau tidak tersiksa." balas Ren dengan senyum iblis.


Tidak mau kalah Anjas juga mengeluarkan belati miliknya dari belakang bajunya. Sebenarnya itu sistem yang meletakkan itu di sana. Menunjukkan bahwa dia juga pengguna satu belati.


"Mari beraksi." ucap Anjas mulai maju.


"Haha habis kau nak!" seru Ren juga maju.