CHEL

CHEL
Bab 30



Anjas vs Ren si Raja Belati. Dimulai.


Ren sangat lincah menyerang dengan beberapa teknik yang dia kuasai. Serangan tusukan dan sabetan dengan cepat mengarah pada Anjas. Tapi semua gerakan itu terlihat lambat di mata Anjas. Beberapa serangan bisa dihindari dan ditangkis oleh Anjas.


"Wus wus wus... syut syut syut... Ting tang Ting..!" suara serangan cepat dari Ren terdengar nyaring.


"Hiat haaa..! Tang Ting...! Buk! BUAK!" keasikan menyerang Anjas. Ren tidak sadar pertahanannya lengah dan dimanfaatkan Anjas. Anjas berhasil menendang mundur Ren hingga tersungkur.


"Hah hehe kau lumayan juga bocah. Krak aku akan akhiri ini." kata Ren sambil berdiri.


"Menarik. Aku juga ingin mencoba sesuatu." Anjas dia membuat kuda-kuda yang dia tahu dari teknik Belati Api.


"Haaaaa!" Sekali lagi Ren maju menyerang. Kali ini gerakannya lebih lincah dan terkontrol. Dia mengeluarkan semua kemampuan teknik Belati yang dia pelajari di militer dulu.


Serangan demi serangan dia kerahkan dengan penuh nafsu membunuh. Anjas juga tidak mau kalah. Gerakan Anjas meningkatkan. Semua serangan Ren dia tangkis dengan tepat dan sempurna. Dia juga beberapa kali memberi serangan pada Ren. Tapi bisa ditangkis juga.


Perlawanan demi perlawanan dilakukan oleh keduanya. Hingga sepuluh menit kemudian mereka masih saling memberikan serangan. Bukan hanya serangan belati tapi juga serangan tendangan dan sikutan yang diberikan Anjas.


Beberapa menit kemudian. Daya tahan tubuh Ren mulai terkuras. Baru kali ini dia dibuat kewalahan oleh orang yang jadi targetnya. "Wus was wus cik... syut syat syut cak cik... tang Ting Ting tang sak... Hap buk bak buk..." Anjas yang masih banyak tenaga mulai melancarkan serangannya yang lebih intens. Beberapa serangan telah membuat luka di beberapa bagian tubuh Ren termasuk dadanya.


Tapi beberapa saat dia merasakan panas pada lukanya. Tapi berusaha ditahan. Ren mengira itu mungkin efek dari serangan belati lawan.


"Dari mana kau belajar teknik itu?" tanya Ren saat dia sedikit mundur menghindari belati Anjas.


"Dari mana yah? Itu bukan urusanmu. Wus..." jawab Anjas langsung menyerang Ren lagi. Ke bagian perut.


Ren menyambut serangan itu. Tapi sayang itu adalah gerakan tipuan. Anjas memutar belatinya dan menusuk ke bahu kanan Ren. "Ciak"


"Aaahrrhhh..!" jerit Ren. Serangan itu tidak istimewa. Tapi yang membuat dia menjerit adalah efek panas dari belati itu sangat terasa menyakitkan.


Anjas segara mencabut belatinya. Lalu menjauh. Hampir dia lupa Ren masih ingin menyerang.


"Sialan kau... belati apa itu? Apa itu racun hah?" Ren memegang bahunya dan mengumpat pada Anjas.


Dia menjadi ragu untuk melanjutkan pertarungan. Serangan tadi kena pada urat syaraf yang terhubung dengan lengan. Sekarang dia susah menggerakkan tangan kanannya yang terlihat seperti lumpuh itu.


"Karena kau akan mati. Aku akan memberitahu. Ini adalah Belati Bara Neraka. Efek serangannya bisa membuat luka terasa panas terbakar. Ditambah dengan teknik Belati Api yang aku kuasai. Sangat cocok kan?" Anjas tersenyum iblis. Dia membalas senyuman Ren tadi.


"Jangan sombong nak. Aku masih bisa melawan kau." balas Ren yang masih mau melakukan perlawanan.


"Aku tidak sombong. Tapi aku ingin segera mengakhiri ini. Aku sudah terlalu lama meninggal adikku." Anjas memasang kuda-kuda yang berbeda.


"Kalau begitu majulah bocah." Ren mulai maju perlahan.


"Kau yang meminta..." tiba-tiba Belati Anjas benar-benar mengeluarkan api. Api itu mengikuti bentuk belati.


"Sssreeennkk... wuss..!" dalam sekejap sebuah serangan kilat dari Anjas. Serangannya tidak bisa dilihat karena hanya terjadi selama tiga detik. Anjas meningkatkan kecepatannya secara maksimal. Sehingga serangan itu terjadi dalam satu kedipan mata.


"Selamat tinggal." Anjas langsung melangkah pergi dari tempat parkir itu. Kembali ke tempat makan es krim. Di mana Anin berada.


"Kakak! Kakak lama sekali di toilet. Memangnya lagi apa?" tanya Anin polos. "Lihat tuh, es krim kakak sudah pada cair kan." lanjut Anin.


"Kakak mules tadi. Mungkin salah makan." jawab Anjas. "Yah ini tinggal diminum saja kan bisa." sambung Anjas lagi.


"Hampir aku mau habiskan punya kakak tadi. Tapi kakak keburu datang." balas Anin. Es krim dalam mangkuknya juga sudah tinggal sedikit.


Anjas ingin menanggapi tapi ada telpon masuk. Saat melihat nama penelpon yang adalah Maryam. Langsung diangkat Anjas.


Maryam ternyata masih mengkhawatirkan Anjas. Dia pun menghubungi Anjas lagi saat toko sedang sepi.


Maryam menanyakan keberadaan dan keadaan Anjas. Anjas menjawab dia baik baik saja. Maryam juga menjelaskan bahwa seseorang sedang mencari Anjas yang perawakannya seperti Ren tadi. Tapi Anjas menyangkal dia tidak ketemu siapa pun orang seperti yang dibilang Maryam.


Akhirnya Maryam tenang. Anjas pun berjanji untuk menjemput Maryam juga. Lalu telpon ditutup.


Mengalihkan perhatian ke Anin. Tapi ekspresi wajah Anin seperti ingin mengejek.


"Tadi siapa kak? Pacar kakak yah? Siapa namanya? Anin ingin kenalan kak boleh?" serbuan pertanyaan Anin membuat Anjas terdiam. Berpikir keras alasan apa yang harus dia katakan.


"Eh dia.. mm... dia cuma teman kakak kok." sangkal Anjas. Padahal dia juga mulai tertarik dengan Maryam. Tapi masih Fifty-Fifty sih.


"Halah jangan bohong... atau itu orang yang kakak suka yah? Tapi belum di tembak kan?" tebak Anin. Kali ini Anjas makin terjebak karena jawaban sendiri.


Adiknya ini wartawan saja banyak tanya. Dia jadi bingung karena pertanyaan Anin. Dia mencoba meminta bantuan sistem tapi yang muncul adalah saran untuk mengakui perasaannya.


"Dasar kau sistem, tidak bisa membantu di saat genting." benak Anjas menahan malu.


Anjas hanya menghabiskan es krim yang sudah meleleh miliknya. Lalu segera beranjak dari tempat itu. Anin hanya ketawa ketiwi melihat Anjas yang sudah merah wajahnya seperti udang rebus. 🤭🤭🤭


Lalu Anjas dan Anin pulang ke rumah. Anjas masih saja diejek oleh Anin. Hingga ibunya penasaran. Agar tidak ditanyai dia pun masuk kamar. Lalu dia mandi dan mengganti pakaian. Secara buru-buru pamit keluar lagi.


"Mau pergi jemput cewek yang kakak suka yah? Hati-hati di jalan kak!" seru Anin dengan nada mengejek dari depan pintu.


Anjas pun pergi membawa motornya menuju ke toko pak Umar. Padahal jam masih menunjukkan pukul 16.11. Yang artinya masih ada satu jam sampai Maryam selesai bekerja.


Dia mampir ke ATM untuk mengambil uang sebesar dua juta dan konter pulsa untuk mengisi kuota data. Dia juga tidak lupa membeli martabak manis rasa coklat kacang dua bungkus. Satu untuk Maryam dan dirinya, yang satu untuk Dendi.


Sesampainya di toko. Mendapati Maryam yang hampir jatuh dari tangga. Dia sedang ingin mengambil sebuah kardus tapi karena salah injak dia oleng.


Dengan sigap Anjas berlari dan menangkap Maryam. Tapi Anjas terlalu cepat menangkap tubuh Maryam sehingga dia juga jatuh ditimpa Maryam. Kardus yang tadi diambil Maryam ditepis oleh Anjas. Karena ingin menimpa mereka.


Wajah mereka berdua sudah saling berhadapan. Hanya sejengkal jaraknya. Keduanya saling tatap.