
Sebelum Anjas menghampiri Jackson. Dia sempat membeli sarung tangan dan makanan McD.
Tentunya niatnya adalah meracuni Jackson. Juga sebelum masuk ke kantor polisi. Anjas sempat meretas CCTV di sana. Jadi saat dia bertemu dengan Jackson rekamannya akan langsung di hapus secara otomatis.
"Ada apa lagi? Aku sudah memberitahu soal pelaku lain tabrak lari itu. Apa lagi yang kau inginkan?" tanya Jackson dengan waspada. Takutnya dia dicekik lagi.
"Kebetulan aku lewat saat membeli makanan. Ini untukmu. Aku kesini hanya ingin bertanya sesuatu." ujar Anjas sambil menyodorkan makanan yang dia beli tadi.
"Kau baik seperti ini pasti ingin informasi penting. Apa itu? Jika aku bisa kasih tahu." balas Jackson merasa bahwa Anjas sudah mulai jinak. Dia berpikir mungkin keluarganya sudah bertindak.
"Apa benar Fedrian Ajisaka memiliki simpanan dan anak lain selain Herman dan para saudaranya?" tanya Anjas datar tapi sambil menatap tajam.
"Umm. Kakek Rian memiliki banyak simpanan. Tapi yang memiliki anak hanya Tante Mei yang di Macau. Mereka yang mengendalikan cabang perusahaan di Macau. Aku hanya sekali dikenalkan sama mereka jadi tidak terlalu akrab." jawab Jackson santai sambil makan burger tanpa tahu bahwa makanan itu sudah diracuni.
"Tapi mereka memiliki kekuatan yang kuat di sana yang bisa menjadi pendukung perusahaan Megacitra Ajisaka. Kekuatan keluarga Ajisaka bisa membaik karena dukungan mereka juga. Sebutan mereka sering disebut salah satu anggota Triad. Keluarga Yan dari Macau. Jika kau melepaskan aku mungkin aku bisa memikirkan untuk tidak menggangu kau." lanjut Jackson saat selesai menghabiskan burger.
"Aku hanya menanyakan hal yang mungkin terlewatkan. Tapi ternyata kau masih tidak tahu diri. Setidaknya kau tidak akan bisa hidup lebih lama lagi." selesai mengatakan itu Anjas langsung beranjak pergi. Meninggalkan Jackson yang tidak mengerti maksud perkataan Anjas.
Semenit kemudian Jackson tersadar. Ada sesuatu yang mencekik di dalam tenggorokannya. Dia tidak bisa bernafas dan badannya mulai panas.
"Eeeeekk... dia.. aku..di..Ra..Cu..." Jackson tewas seketika.
Lima menit kemudian jasadnya dilarikan ke RS polri Kramat jati.
Sekarang kematian para keluarga Ajisaka langsung menggemparkan tidak hanya di Jakarta tapi juga seluruh negeri. Salah satu perusahaan terkaya dan terkemuka bangkrut dalam semalam tahun baru. Bagaimana tidak membuat heboh!?
Macau, kediaman keluarga Yan.
"Tidak mungkin... Fedrian...!" seorang wanita berusia 45 tahun menjerit keras dalam ruangan pribadi miliknya.
Sehingga membuat orang yang ada di luar masuk ke ruangan itu. Mereka adalah anak dan cucu wanita itu. Wanita itu adalah Yan Mei putri bungsu dari keluarga Yan. Anaknya bernama Yan Fuzui dan cucunya bernama Yan Luxian.
"Ada apa Bu? Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Fuzui.
"Apa nenek kesakitan lagi? Aku akan memanggil dokter." sambung Luxian cemas.
"Aku tidak apa-apa. Tapi ada kabar buruk untuk kalian. Zui ayahmu baru saja dikabarkan meninggal dunia di negaranya." terang Yan Mei. Dengan ekspresi wajah yang sedikit licik. Tapi ada kesedihan walaupun tidak nampak.
Hal ini disambut gembira oleh Fuzui. Karena dengan meninggalnya Ayah Fedrian Ajisaka. Mereka bisa memanipulasi perusahaan Megacitra Ajisaka. Untuk dijadikan milik mereka.
"Itu adalah kabar baik bu. Kita bisa merebut perusahaan itu dari tangan mereka. Kita tidak akan dikucilkan dari keluarga Yan dan bisa menguasai perekonomian wilayah Asia tenggara." sambut Fuzui dengan wajah penuh semangat dan siasat.
"Walaupun sekarang perusahaan cabang sedang ada sedikit masalah. Tapi jika kita bisa menguasai perusahaan induk. Maka kita tidak harus bersusah-susah untuk mengembangkan perusahaan cabang itu." sela Luxian yang mengetahui alur pembicaraan.
"Ibu tenang saja. Aku bisa mengatasi hal itu. Aku akan pergi ke Indonesia dan melakukan pengambilalihan saham milik keluarga Ajisaka. Lalu kita bisa mengambil alih semua cabang." jawab Fuzui dengan wajah liciknya.
"Ide bagus ayah. Aku akan ikut ayah. Ini akan menjadi mudah jika kita mengaku sebagai kerabat dekat keluarga Ajisaka." sambung Luxian.
"Baiklah kalau begitu. Kalian lakukan semuanya dengan bersih. Agar tidak ada yang bisa membuat kita diremehkan lagi." perintah Yan Mei pada anak cucunya.
"Baik Bu" "Baik Nek" Fuzui dan Luxian menjawab serempak. Lalu mereka pun keluar dari ruangan Yan Mei.
Sementara itu Anjas sudah kembali ke apartemen miliknya. Dia mendapati Rahmi yang sudah pulang dan sedang mandi di kamar Maryam. Sedangkan Maryam belum pulang dari toko.
Anjas mengabaikan Rahmi. Dia masuk ke kamarnya dan membuka laptopnya. Sedikit melakukan sesuatu yang harus dia lakukan.
Anjas melakukan pelacakan secara aktif real-time 24. Tentunya sasarannya adalah Yan Fuzui dan Yan Luxian.
Baru beberapa menit dia melakukan pelacakan. Ada notifikasi dari tools pelacak. Ternyata itu adalah keterangan pembelian 2 tiket pesawat dari Macau ke Bali. Yang mengatasnamakan Yan Fuzui dan Yan Luxian. Penerbangan akan dilakukan besok pagi waktu Macau.
"Hehe tidak perlu untuk pergi ke luar negeri. Mereka yang akan datang sendiri. Sungguh kebetulan yang baik." gumam Anjas tersenyum licik.
Mengetahui hal ini Anjas menjadi antusias untuk menunggu para mangsa. Ini juga untuk menyelesaikan misi sistem.
"Aku akan menyambut kalian dengan hangat." tambahnya. Sambil menutup laptopnya.
Melupakan sebentar soal urusan misi. Anjas keluar kamar untuk mencari makanan.
Saat masuk ke dapur Anjas mendapati Rahmi sedang masak. Tapi ada yang aneh dengan Rahmi. Tidak biasanya dia menggunakan tank top dan celana kain pendek di atas lutut.
Dengan penampilan itu tubuh sebening dan seputih kapas milik Rahmi sedikit terekspos. Ditambah lagi tubuh Rahmi yang ramping dan mungil seksi.
"Kau masak apa? Baunya harum dan enak." sapa Anjas yang setelah memerhatikan penampilan baru Rahmi.
"Mas Anjas. Ini aku masak telur mata sapi. Biasalah anak kos tahunya masak mie instan atau telur. Aku gak sejago kak Maryam." jawab Rahmi. Dia berbalik melihat Anjas ternyata sudah ada tepat di belakangnya.
Hal itu mengejutkannya dan membuat dia sedikit oleng. Sigap Anjas meraih Rahmi agar tidak terjungkal ke arah kompor. Dengan cepat Anjas menarik Rahmi ke dalam rangkulannya.
"Hati-hati kau akan terluka jika kau tidak melihat langkahmu." ujar Anjas sambil melepaskan rangkulannya.
Lima menit kemudian. Masakan Rahmi disajikan. Memang hanya ada mie goreng dan telur goreng mata sapi. Walaupun begitu mereka makan dengan lahap. Rahmi senyum bahagia saat melihat Anjas makan bersamanya. Tapi senyum itu seketika memudar saat dia mengingat bahwa masa pertukaran mahasiswa tinggal 3 hari lagi.
Selesai makan Anjas masuk kamar untuk mandi dan ganti pakaian lagi. Dia berniat pergi ke markas lama The FALCON.
Tapi baru saja dia sampai di parkiran apartemen. Seorang pria menghampirinya.
"Ketemu." ujar pelan pria itu yang adalah Ling Han. Si top 4 pembunuh bayaran dari Black Mamba.
Anjas yang menyadari akan bahaya. Refleks mundur dan siap siaga dengan kuda-kuda.