CHEL

CHEL
Bab 84



Anin terus mengikuti Joko yang dibawa oleh para preman sampai ke luar Taman Impian Jaya Ancol. Ternyata mereka membawa Joko dan kawan-kawannya ke sebuah mobil Van. Lalu pergi entah kemana.


Melihat itu Anin langsung menghentikan sebuah taksi berwarna biru. Hal itu diikuti oleh ketiga temannya.


"Ikuti mobil itu pak." kata Anin pada sopir sambil menunjuk Van hitam.


"Baik Non." tanpa basa-basi sang sopir mengikuti instruksi Anin.


Cukup jauh mereka membawa Joko dan kawan-kawannya. Hingga sampai di gedung dua tingkat di Jakarta timur. Melihat Joko, Fijai dan Vidi digiring masuk ke dalam gedung itu.


Setelah membayar taksi Anin masih mengikuti para pemuda itu. Tidak tahu bahwa mereka sudah masuk dan ketahuan.


"Wah wah wah... ada penyusup rupanya." suara itu mengagetkan mereka.


Suara itu adalah suara dari salah satu preman yang membawa Joko. Pria berusia 28 tahun berambut cokelat panjang. Memiliki tinggi badan yang tentu lebih tinggi dari Anin dan ketiga temannya.


"Siapa kalian? Kenapa kalian bisa masuk ke markas geng Serigala?" tanya pria berambut cokelat panjang.


Geng Serigala adalah geng kecil yang beranggotakan para preman pasar. Mereka hanyalah satu dari sekian banyak geng kecil yang tidak bisa berbuat banyak jika berurusan dengan 4 geng penguasa kota. Karena memiliki bekingan yang kuat.


Tapi saat mereka mendengar bahwa dua geng penguasa lain dibubarkan. Maka para geng kecil itu ingin mengambil alih kekuasaan tersebut dengan mulai naik ke permukaan.


Keempat gadis yang rata-rata berusia 15 tahun ini mulai ketakutan. Namun Anin refleks mengambil hp nya lalu menghubungi Anjas. Saat baru saja dia selesai mengirim pesan ke anjas. Hal itu dicegah oleh salah seorang pria di sana. Dia membanting hp Anin hingga rusak.


"Apakah kalian teman ketiga berandal kecil tadi? Kalau iya kalian sungguh sial. Hahaha" sekarang yang berbicara pria yang berambut keriting hitam. Dengan wajah yang berjerawat.


"Bagaimana ini? Kita gak bisa kabur. Kamu sih Nin. Pakai membuntuti mereka segala. Sekarang kita kan yang jadi sasaran juga." Dina yang ketakutan mengeluhkan kebodohan mereka.


"Tenang aja kakak aku pasti datang." ucap Anin masih tenang. Tapi yang sebenarnya dia juga takut.


"Bawa mereka ke bos! Biar bos yang nentuin mereka bisa pergi dari sini atau jadi mainan kita. Hahahaha" suruh si pria rambut coklat panjang.


Anin dan ketiga temannya pun diseret ke dalam gedung bertingkat dua. Tepatnya di lantai dua gedung itu. Ada ruangan yang agak luas. Di situlah bos geng Serigala berada.


"Siapa mereka?" tanya bos geng Serigala yang bernama Harsa.


"Bos mereka membuntuti kami saat membawa ketiga berandal itu." jawab si pria rambut coklat panjang.


"Tobi, ikat mereka dalam gudang. Jangan sampai mereka lolos. Polisi gak boleh tau kalau kita berbisnis jual ganja. Mereka bisa mengancam kita." perintah Harsa.


"Baik Bos." Tobi mengakui perintah. Dibawanya Anin dan ketiga temannya ke gudang yang dimaksud.


Setelah itu mereka melakukan aktivitas biasanya. Yaitu mengemas banyak sekali ganja. Bisa ratusan kilogram jika ditimbang semua ganja yang ada di ruangan itu.


Tapi baru lima belas menit mereka melanjutkan kegiatan mereka. Terjadi kekacauan di lantai bawah. Seperti ada yang memaksa masuk ke markas geng Serigala.



Kembali ke Anjas.


Baru saja beberapa langkah Anjas masuk ke gedung itu. Dia melihat beberapa orang pria yang sedang memasukkan banyak benda yang dibungkus seperti paket.



Saat Anjas melakukan scanning pada benda itu. Dia mengetahui bahwa itu adalah ganja seberat 1 kilogram. Hal itu membuat Anjas heran kenapa adiknya bisa terlibat dengan pengedar ganja.



"Hei siapa kamu?!" seru salah seorang pria yang menyadari ada orang asing di markas mereka.



Seruan itu membuat semua pria berotot kekar di sana berkumpul. Mengurung dan mengitari Anjas dalam sekejap. Tapi itu tidak membuat Anjas takut. Dia menatap tajam ke mereka semua.



"Tidak usah banyak omong kita hajar saja penyusup ini. Jangan sampai dia ini mata-mata polisi." balas pria lain.



Maka dari itu secara bersamaan mereka mengeroyok Anjas. Anjas tidak tinggal diam. Dia pun mulai menyerang. Hanya menggunakan teknik beladiri Karate legendaris. Dia bisa mengalahkan mereka satu persatu. Anjas tanpa ampun membuat mereka semua cedera berat seperti patah tulang kaki atau tangan. Jeritan demi jeritan menggema setiap dia melumpuhkan satu orang.



Anjas terus berjalan menuju lantai 2. Di mana dia mengetahui bahwa Anin ada di sana. Sekarang Anjas sudah berada di depan pintu masuk ke ruangan yang ada di lantai 2.



"BRAKK!" suara pintu yang terbuka secara ditendang dari luar.



Anjas masuk ke ruangan itu. Lalu melihat masih ada sekitar 20 an pria. Mereka sedang mengemas sesuatu dalam kotak sepatu.



"Siapa kau?! Datang untuk mengacaukan geng kami?!" tanya pria berambut cokelat panjang. Dia Tobi si tangan kanannya Harsa.




"Bak! buk! buak! bek! bak! buk!!!" satu persatu Anjas menghajar mereka yang maju menyerang. Bukan hanya pukulan tinju tapi tendangan juga dilayangkan Anjas. Sehingga tidak sampai lima menit semua orang itu tumbang dengan memegang bagian yang sakit.



Bagaimana tidak sakit. Saat pukulan Anjas kena di tubuh mereka. Hal yang mereka rasakan adalah seperti dihantam oleh gas LPG seberat 10 kilogram.



Harsa tercengang dengan hal yang baru saja dia lihat. Seorang pemuda yang mungkin 5 tahun lebih muda darinya. Sudah mengalahkan para bawahannya yang berusia lebih tua dari usianya. Juga tubuhnya tidak sebesar tubuh mereka yang kekar.



"Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Harsa yang sudah ketakutan.



"Di mana adikku?" tanya Anjas.



Harsa pun teringat bahwa anak buahnya membawa beberapa pemuda dan gadis tadi. Jadi kemungkinan salah satu dari mereka adalah adiknya.



Saat itu Harsa berpikir bahwa dia sudah menyinggung seorang mafia kuat. Sehingga dia menjawab cepat.



"Mereka ada di gudang itu." jawab Harsa. Menunjuk ke arah sebuah pintu.



Anjas tidak langsung pergi. Dia menghampiri Harsa. Lalu dengan cepat Anjas memberikan pukulan keras ke perut Harsa. Yang membuat Harsa tersungkur ke lantai. Dari mulut Harsa juga mengeluarkan sedikit darah. Dia tidak mampu bersuara lalu pingsan.



Kemudian Anjas membuka pintu yang ditujukan tadi. Saat melihat ke dalam dia melihat Anin sedang diikat di kursi lipat. Selain Anin juga ada enam orang lainnya.



Melihat kakaknya datang. Anin pun berseru. "Kakak tolong.!"



Anjas pun membuka semua tali yang mengikat mereka. Anin langsung memeluk Anjas saat semua tali dilepaskan.



"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Anjas memastikan.



"Tidak kak. Kita tidak diapa-apain sama mereka." jawab Anin.



"Mereka teman-teman aku kak. Ini semua karena salah aku yang mengikuti teman aku yang bernama Joko." sambung Anin. Sambil melihat ke arah Joko.



"Sudahlah. Ayo kita keluar." ajak Anjas.



"Tapi kak..." Ajeng yang menyangka Anjas masuk dengan menyusup itu. Ingin memberi tahu bahwa di luar banyak pria jahat bertubuh besar.



"Jangan khawatir. Sudah aman." Anjas dan Anin pun berjalan keluar dan diikuti oleh yang lainnya.



Mereka pun tercengang saat melihat suasana di luar. Bahkan tidak bisa bersuara. Mereka hanya diam saja saat sampai di luar.



"Anin sekarang kau pulang. Juga kalian." suruh Anjas saat mereka sudah keluar dari gedung.



Anin memesan taksi online untuk mereka. Saat taksi online itu datang mereka pun pergi. Sementara Anjas menelpon polisi melaporkan bahwa ada markas gembong narkoba jenis ganja di lokasinya sekarang. Setelah itu dia pergi.



Benar saja sepuluh menit kemudian polisi datang lalu melihat suasana di sana yang begitu janggal. Semua pelaku sudah dilumpuhkan oleh seseorang. Juga mereka menemukan bukti yang cukup untuk menangkap para pelaku bisnis narkoba ganja.