
Sesampainya di kantor pemasaran Precium Simatupang. Mereka disambut oleh dua orang pegawai pemasaran di sana. Pria dan wanita yang seumuran dengan Anjas.
Di nametag mereka tertulis nama Vira dan Marsel. Perawakan Vira masih terlihat imut karena memiliki ciri khas baby face. Sedang Marsel adalah seorang keturunan Tionghoa.
"Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu pada bapak dan ibu??" sapa Vira dan Marsel bersamaan.
"Aku ingin membeli beberapa rumah untuk keluargaku. Bisakah kalian tunjukkan beberapa model?" balas Anjas dengan senyum.
"Kalau begitu mari kita tunjukkan model unit yang kami jual." ajak Marsel lalu menuntun mereka.
"Ayah dan ibu yang ikutlah dengan mereka. Aku ingin berkeliling sebentar." ujar Anjas.
Dengan senang hati orang tuanya hanya mengikuti perkataan Anjas. Mereka berjalan bersama Marsel ke meja administrasi.
Sementara itu Anjas berkeliling ke dalam kantor pemasaran yang sebagian ruangan besar itu terdapat pemeran kecil. Di situ Anjas bisa melihat banyak desain bangunan rumah dan model unit. Saat melihat beberapa gambar desain rumah. Anjas dihampiri oleh seorang kakek tua yang berusia lebih dari 70 tahun.
Kakek itu masih terlihat tegap dan bugar. Berdiri di sebelah kanan Anjas.
"Design ini saya buat saat aku masih belum menikah. Saat itu saya masih semangat bekerja mengejar kesuksesan. Sekarang saat saya sudah sukses. Saya berkeinginan membuat bangunan sesuai dengan desain ini.." tutur si kakek. Membuat Anjas mendengarkan dengan seksama.
"Ini bukan hanya sekedar desain saja. Tapi ini merupakan karya seni. Aku tertarik untuk membeli desain ini." ujar Anjas menghadap ke si kakek.
"Hahahaha... Aku tidak menjual desain ini nak. Tapi jika kau mau aku punya satu desain rumah modern. Lengkap dengan desain penataan lingkungannya. Desain ini juga memiliki bagian ruang rahasia. Bagaimana apa kau berminat?" ujar sambut si kakek.
"Hehe... aku sepertinya lebih suka dengan desain yang ditawarkan. Bisa aku melihat cetak birunya kek?" tanya Anjas semakin tertarik dengan percakapan itu.
"Haha bisa.. sangat bisa. Oh ya, perkenalkan saya Helmiandri Hartanto. Kau bisa memanggilku Pak Helmi saja." ucap si kakek memperkenalkan diri.
"Saya Anjas Rahadi, kek. Panggil saja Anjas." mengulurkan tangannya. Lalu disambut oleh Pak Helmi.
Mereka pun berpindah ke sebuah ruangan. Yang mana ruangan itu ada dikhususkan untuk pemilik dari perumahan elit itu. Nuansa dalam ruangan itu bergaya klasik banyak barang antik yang dipajang.
"Apa anda juga menyukai barang antik?" tanya Anjas saat memperhatikan seisi ruangan.
"Sangat suka. Saya memiliki banyak di rumah. Di ruangan ini hanya beberapa saja. Jika nak Anjas berminat bisa berkunjung ke kediaman Hartanto." jawab Pak Helmi. Sambil dia menyeduh teh hijau ke dalam cangkir.
Semenit kemudian Pak Helmi sudah mengeluarkan sebuah tabung silinder berwarna hitam. Dikeluarkannya lembaran cetak biru desain rumah yang dikatakan pak Helmi tadi. Ada empat lembar dengan desain yang berbeda tapi semua itu satu rampung.
"Ini sangat luar biasa. Aku suka dengan desain ini kek. Berapa harga yang harus saya keluarkan untuk cetak biru lengkap ini?" Anjas langsung menanyakan harga.
"Kemarin ada yang menawarkan 3 miliar. Lalu aku menolaknya. Karena dia adalah mafia yang terkenal di kalangan dunia bawah mereka memaksa untuk membeli. Tapi mereka sudah tidak mau lagi karena aku memiliki bekingan dari pejabat daerah. Jadi mereka tidak lagi macam-macam." jelas pak Helmi.
Berhenti sejenak meminum teh hijaunya. Anjas juga meminum teh hijau yang diseduh untuknya.
Pak Helmi pun melanjutkan.
"Namun jika kau ingin membayar aku tidak meminta bayaran banyak. Kau cukup membayar 500 juta rupiah. Tapi dengan satu syarat." ujar pak Helmi berhenti lagi meminum teh.
Anjas yang penasaran dengan syarat yang harus dibayar. Langsung bertanya.
"Apa syaratnya kek? Jika tidak melanggar hukum akan aku lakukan."
"Hehehehe... semangat anak muda. Kau hanya perlu menjawab pertanyaan dari sebuah teka teki. Yang selama ini tidak pernah ada yang bisa menjawab dalam waktu tiga menit. Apa kau bersedia?" ujar pak Helmi terkekeh menanggapi Anjas.
"Aku bersedia." balas Anjas mantap.
"Halo Julia. Ada apa?" tanya Anjas.
"Ketua ayah dan ibumu ingin pergi mensurvei rumah yang mau mereka beli. Aku akan ikut. Kau tidak apa-apa menunggu kan?" jelas Julia.
"Iya aku bisa menunggu kalian. Pergilah." balas Anjas lalu menutup telepon.
"Lanjutkan kek." Anjas memulai percakapan lagi.
"Teka teki. Apa yang semakin kau ingin melihatnya akan semakin kau tidak bisa melihatnya?" pak Helmi sudah memulai teka teki.
"Jika kau sering membaca buku kau bisa menjawab pertanyaan ini." sambung pak Helmi.
"Hmmm... ini pertanyaan yang sangat mudah kek. Jawabannya adalah kegelapan. Karena semakin kita ingin melihat dalam gelap maka kita semakin tidak bisa melihat apapun." jawab Anjas. Yang mana dia menjawab pertanyaan itu secara logika. Juga menjawab dalam waktu belum sampai semenit.
Tentunya jawaban Anjas sangat membuat pak Helmi terkejut. Sudah lebih dari puluhan orang yang dia ajukan pertanyaan itu. Tidak satupun dari mereka yang bisa menjawab dalam waktu tiga menit lalu gagal. Namun jawaban teka teki itu tidak pernah diberi tahu oleh pak Helmi.
"Bagaimana bisa kau menjawab pertanyaan itu? Apa kau bisa membaca pikiran?" pak Helmi yang terkejut langsung menanyakan alasan Anjas.
"Hehe tentu saja tidak kek. Aku hanya menggunakan logika saja. Jika kita sedang dalam kegelapan tentunya kita tidak bisa melihat apapun. Sekalipun hal yang ingin kita lihat ada di depan mata." jawab Anjas mantap.
"Luar biasa jawabanmu sangat benar nak! Kau orang pertama yang bisa menjawab pertanyaan itu. Bahkan keluargaku saja tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena aku memberikan syarat yang sama pada mereka saat ini membeli desain ini." seru pak Helmi masih terkejut dengan baru saja dia dengar.
"Jadi apakah aku bisa melakukan pembayaran sekarang?" Anjas langsung mengalihkan percakapan itu.
Dengan senang hati pak Helmi mengiyakan. Transaksi pembayaran menggunakan aplikasi mobile banking milik mereka. Langsung saja Anjas mengatakan terima kasih.
Setelah bercakap cakap sebentar. Anjas pun pamit pada pak Helmi. Karena Julia sudah mengabarkan bahwa mereka sudah kembali dari survei rumah. Sekarang mereka sedang melakukan transaksi pembayaran dan mengurus berkas kepemilikan rumah.
Saat menghadiri orang tuanya Anjas sempat melihat seseorang yang dia pernah temui. Seorang wanita yang dulu bersama dengan Antonio Larsen. Saat itu Anjas sedang ingin menemui Tyo si pemilik Haery Building dulu. Wanita itu adalah Karina Wijaya.
Dia bersama dengan seorang pria paruh baya. Namun bukan Antonio Larsen. Tapi suami sah Karina, Ferdinan Sugandi. Mereka baru saja masuk ke kantor itu yang mungkin ingin membeli rumah juga.
Saat itu juga Anjas terpikirkan bahwa dia pernah mengambil foto kemesraan Karina dan Antonio. Itu mungkin akan menjadi senjata yang bisa digunakan.
Bertepatan dengan pemikiran Anjas. Saat itu juga ibu Anjas ingin pergi ke toilet. Juga disusul oleh Karina yang izin pada suaminya ke toilet.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Anjas. Segera Anjas menghampiri Ferdinan yang sedang sibuk melihat model rumah yang ditawarkan oleh pegawai pemasaran.
"Selamat pagi pak Ferdinan. Perkenalkan nama saya Anjas Rahadi." ujar Anjas berbasa-basi.
"Saya Ferdinan Sugandi. Ada urusan apa yah?" sambut Ferdinan dengan bingung.
"Saya hanya ingin menyapa saja. Kau adalah pengusaha di bidang IT jadi saya tahu sedikit. Tapi bukan soal itu saya ada di sini." jelas Anjas mulai membuat Ferdinan makin bingung.
"Lalu apa kau ingin katakan. Katakan saja mungkin aku bisa membantu." balas Ferdinan yang mulai bersahabat.
"Ada yang ingin aku tunjukkan padamu."
Membuka galeri foto di HP nya. Anjas lalu menunjukkan foto Karina yang sedang berpelukan mesra dengan Antonio.
Langsung saja ekspresi wajah Ferdinan berubah. Nampak amarah mulai bergejolak saat dengan ekspresi marah.
"Di mana kau dapat foto-foto itu?" tanya Ferdinan dengan suara bergetar menahan emosi.