
"Maksudnya sebentar lagi lewat itu bagaimana? " tanya Anjas lagi belum mengerti.
[Penculikan itu akan ditandai dengan suara teriakan dari seorang wanita.]
"Oh okeh... " gumam Anjas.
Dia masuk ke tempat bakso itu lalu memesan satu porsi bakso dan segelas es teh manis. Mengambil tempat duduk menunggu pesanan datang.
Butuh waktu hampir sepuluh menit untuk menunggu. Karena saking ramainya.
"Maaf mas sudah menunggu lama. Banyak pesanan yang harus dibungkus dulu mas. Silahkan menikmati." ucap pelayan tempat bakso.
"Tidak apa-apa. Makasih." balas Anjas.
Anjas pun makan dengan lahap. Seperti merasa segar menyeruput kuah bakso yang enak. Tidak lupa dia menambahkan saos sambal dan sedikit kecap.
Karena bertarung melawan Jordan menguras sebagian energinya. Dengan makan sedikit memberi tambahan energi.
Lima menit kemudian.
"Astaghfirullah! Ada penculikan anak!! Tolong!!" terdengar suara wanita yang berteriak dari luar tempat makan bakso.
Anjas baru saja yang sudah menghabiskan baksonya langsung menoleh. Itu adalah tanda bahwa misi sudah berjalan.
Segera dia menemui kasir dan membayar bakso yang dia makan. "Ambil saja kembaliannya." kata Anjas yang berlari keluar tempat itu.
Di luar Anjas melihat ada seorang wanita yang masih meminta bantuan kepada orang sekitar. Namun tidak ada yang berani. Anjas menghampiri dan menanyakan ke mana arah pergi penculik itu.
"Mengarah ke selatan. Dengan mobil Van warna coklat tanah. Mereka sepertinya ada enam orang. Plat nomor kendaraannya B3333S." kata wanita itu cepat.
"Terimakasih. Segera hubungi polisi dan beritahu apa saja kau ketahui." ucap Anjas.
Segera Anjas mengambil motor dan berusaha mengejar mobil yang dimaksud. Beberapa saat mencari. Ternyata mobil itu belum jauh. Karena terjebak macet mobil itu pun juga harus berhenti. Tidak ada yang tahu kalau di dalam mobil itu ada seorang anak yang diculik.
Anjas tidak langsung menyergap para penculik itu. Dia hanya berhenti di belakang mobil itu. Dia berencana untuk mengikuti mereka ke tempat tujuan mereka. Lalu memberikan informasi pada polisi tempat penculik itu berada.
Setelah lolos dari macet. Mobil itu terus menuju arah selatan. Anjas masih mengikuti dengan jarak 20-30 meter. Dia tidak akan kehilangan mobil itu karena saat dia menemukan mobil itu langsung dia tandai dengan sistem pelacak yang baru dia dapatkan.
Hingga sampai di sebuah gedung pabrik terbengkalai. Mereka turun dan membawa masuk anak yang dimaksud sistem. Anjas memarkirkan motornya agak jauh dari mobil Van. Dia memantau kondisi tempat itu.
"Dua orang menjaga pintu depan. Sementara aku tidak tahu berapa banyak orang di dalam sana." benak Anjas.
Dia harus memikirkan cara untuk masuk ke sana.
"Ah aku ingat." dia terpikir suatu benda dalam inventori.
"Sistem keluarkan Cincin Tak Kasat Mata." perintah Anjas dalam benak.
Tiba-tiba sebuah hologram muncul di jari manis Anjas. Lalu perlahan membentuk sebuah cincin perak utuh. Banyak ukiran halus di beberapa bagian cincin itu.
[Cincin Tak Kasat Mata. 1 ⭐
Fungsi: Bisa menghilangkan raga seseorang yang memakainya. Juga benda atau makhluk hidup dipegang oleh pemakai akan ikut menghilang. Maksimal 10 Benda atau makhluk hidup.
Daya tahan: Tanpa batas.] muncul juga keterangan tentang cincin.
"Bagaimana cara mengaktifkan cincin ini sistem? " tanya Anjas.
"Baiklah." lalu Anjas melihat sekitar. Jangan sampai pada saat dia menghilang. Ada orang yang melihat dan mengiranya hantu.
Situasi sekitar aman. Anjas langsung mengucapkan kata Hilang saat berjalan menuju ke gedung pabrik.
Sampai di depan pintu yang dijaga. Tanpa basa-basi langsung membuat dua orang pria yang menjaga pintu pingsan. Dia memukul tengkuk mereka secara bersamaan. Jarak keduanya memang hanya selebar pintu.
"Duk Duk Bruk!" dua tubuh jatuh pingsan.
"Ternyata yang di film itu ada benarnya juga." pikir Anjas yang pernah melihat adegan yang sama di film.
Segera Anjas masuk. Terlihat sebuah lorong yang agak panjang. Anjas menyusuri lorong itu. Lalu dia berbelok dan mendapati beberapa pintu berjejer. Sekitar 3 pintu. Saat dia ingin membuka pintu pertama. Tiba-tiba dari pintu ke tiga, tiga orang keluar. Sigap Anjas menghindari mereka.
"Akhirnya seratus anak kita dapatkan. Tinggal kita kirim ke Makao lusa nanti." kata salah seorang dari mereka.
"Bos bilang kita akan mendapatkan persenan kalau mereka berhasil dikirim. Satu milyar per orang mungkin." tambah seorang lain.
"Hahaha kita akan kaya mendadak! Hahahaha!" lalu mereka berlalu ke arah lorong yang Anjas lewati tadi.
Mendengar hal itu Anjas menjadi geram. Seratus anak akan menjadi korban dari penjualan manusia. Nasib mereka akan buruk jika dibiarkan begitu saja.
"Aku akan menggagalkan rencana mereka." benak Anjas. Dia langsung masuk ke pintu di mana ketiga orang tadi keluar. Di sana dia mendapati sebuah kerangkeng. Seperti penjara pada umumnya.
Ada sekitar tiga puluh anak kecil di sana. Mulai dari usia 6-9 tahun. Paling banyak perempuan. Salah satu dari mereka adalah anak yang dimaksud sistem.
Anjas menampakkan diri di hadapan mereka. Semua anak terkejut melihat ada seorang yang tiba-tiba muncul seperti hantu.
"Sssststtt.... diam kakak datang untuk menyelamatkan kalian. Jadi semua tenang yah." ucap Anjas setengah berbisik.
Lalu dia bertanya pada mereka. Mungkin ada yang tau tempat anak-anak lain ditahan.
"Ada banyak di lantai 2 kak. Mereka sudah berusia lebih tua dari kami. Mungkin belasan tahun." jawab anak perempuan yang mungkin dipisahkan dari lantai 2 karena usianya tidak sesuai walaupun badannya bongsor.
"Baiklah kalian tunggu di sini. Kakak akan kembali." lalu Anjas keluar dari ruangan itu. Tidak lupa dia kembali menghilang lagi.
Dia mencari tangga yang bisa menuju ke lantai 2. Setelah beberapa lorong dia lewati. Juga beberapa kali dia berpapasan dengan seseorang yang mungkin bagian dari penculik. Dia menemukan sebuah tangga.
Naik ke atas dia mendapati tempat yang lebih luas. Ada juga kerangkeng yang lebih luas dari yang di bawah. Benar saja di sana dia melihat banyak anak berusia 10-13 tahun yang dikurung. Ada sekitar tujuh puluh orang. Juga sama lebih banyak perempuan. Di dekat kerangkeng itu ada sekitar delapan orang yang menjaga.
Ini agak sulit. Dia hanya bisa membawa sedikit orang. Setidaknya sepuluh orang.
"Bagaimana mana caranya bisa membawa mereka tanpa ketahuan? " pikir Anjas.
"Apa aku lawan saja mereka? " Anjas tersenyum dia teringat dengan belati yang dia beli semalam.
Sebuah rencana terpikirkan oleh Anjas. Dia berpikir lebih baik melumpuhkan para penculik ini dulu lalu menyelamatkan semua anak-anak kecil itu.
Di tempat persembunyian Anjas.
"Sistem keluarkan Belati Bara Neraka." perintah Anjas.
Langsung saja muncul seperti cincin tadi. Kali ini berbentuk belati. Berwarna merah dengan bias tajam hitam. Dengan panjang sama dengan lengan Anjas.
Menggenggam belati itu. Anjas keluar dari persembunyiannya.
"Saatnya beraksi." gumam Anjas dengan senyum lebar.