CHEL

CHEL
Bab 81



"Apa kau dari Black Mamba?" tanya Anjas dengan selidik. Sistem langsung melakukan scanning body pada pria yang ada di depan Anjas.


[ Nama: Ling Han


Usia: 34 tahun


Jenis kelamin: Laki-laki


Kebangsaan: Taiwan


Kemampuan: Teknik Beladiri Yin Yang tingkat tinggi.


Pekerjaan: Pembunuh bayaran profesional, pelatih ilmu beladiri tenaga dalam. Anggota Black Mamba.


Keterangan: Jumlah korban 200, tidak memandang usia dan jenis kelamin. Menyukai kebebasan dan memiliki gangguan kesehatan mental.]


Setelah membaca deskripsi yang muncul di layar transparan. Anjas semakin yakin bahwa pria yang sedang berhadapan dengannya adalah pembunuh bayaran yang mengincarnya.


"Hahahaha kau sudah mengetahui siapa aku ternyata. Jadi aku tidak perlu berkenalan lagi. Sekarang kau akan mati tanpa ada yang mengetahuinya. Hahahaha" Ling Han terbahak-bahak saat mendengar pertanyaan Anjas.


Tapi suara dering telepon menghentikan tawa Ling Han. Itu dering telepon milik Anjas. Segera Anjas menerima panggilan telepon yang adalah dari Justin.


"Ketua kami diserang.. Uhuk.. seorang pria datang ke markas lama dan bertanya tempat tinggal mu... uh.. beberapa dari kami ada yang dibuat babak belur. Yang parahnya Opan sampai koma. em.. aku dan Julia sekarang di rumah sakit sekarang. Bagaimana keadaanmu?" Seru Justin dari seberang telepon. The FALCON sudah dikalahkan oleh Ling Han ternyata.


"Aku baik saja. Sekarang orang yang menyerang kalian ada di hadapanku. Tenang saja aku bisa mengatasi ini." jawab Anjas tanpa takut sama sekali. Tapi tidak hilang waspada.


Menutup telepon. Anjas menatap tajam ke arah Ling Han. Saat ini dia sedang marah. Para anggota geng The FALCON sudah dianggap sebagai keluarga. Jadi Anjas merasa bersalah jika mereka terluka karena dirinya.


"Kau menyerang teman-temanku. Juga ada yang sampai koma. Aku tidak akan tinggal diam. Kau akan mendapatkan yang lebih buruk dari itu." ujar Anjas sambil berjalan maju.


Semakin lama semakin cepat langkah Anjas. Lalu Anjas pun melancarkan serangannya. Melompat dengan teknik muaythai. Menyerang dengan kedua lututnya.


Melihat Anjas mulai menyerang. Ling Han sigap dan menangkis dengan menyilangkan kedua tangannya.


DUAK! Suara benturan keras terdengar. Ling Han terdorong lima langkah ke belakang. Sedangkan Anjas menapaki kaki ke lantai.


"Kau lumayan hebat juga nak. Aku menjadi bergairah untuk membunuhmu. Hehehehe." Ling Han terkekeh. Dia tersenyum gembira. Seolah mendapatkan permen kesukaan.


"Kalau begitu aku juga tidak akan sungkan." balas Anjas datar.


Kemudian mereka pun memulai pertarungan yang sebenarnya. Anjas dengan kecepatan dan kelincahan dalam menyerang. Sedangkan Ling Han masih belum memberikan perlawanan yang sengit. Dia seperti mempermainkan Anjas. Dari serangan tendangan dan pukulan tinju. Serangan bertubi-tubi Anjas terus dihindari atau ditangkis oleh Ling Han.


Sempat jeda mereka saling memisahkan diri. Anjas memperhatikan bahwa Ling Han sedang menggiringnya ke tempat sepi. Mereka sekarang berada di sudut parkiran apartemen yang sudah lama tidak dipakai. Bagian parkiran bawah tanah yang jarang dipakai.


"Baiklah sekarang saatnya aku bersenang-senang." kata Ling Han yang dengan cepat melancarkan serangan telapak tangan ke arah dada kiri Anjas.


Kali ini kecepatan Ling Han meningkat. Lebih cepat dan tangkas dari sebelumnya. Anjas masih sempat menangkis tapi tetap saja Anjas terdorong hingga dua meter ke belakang.


Belum sempurna menyeimbangkan tubuh. Serangan berikutnya muncul tepat sepersekian detik. Tetap ke arah dada kiri Anjas. Anjas dengan cepat juga menghindari itu.


Ling Han tidak berhenti menyerang. Kali ini keadaan terbalik. Anjas dibuat terpojok. Jika dilihat dari mata orang awam.


Di sela serangan. Ling Han baru menyadari bahwa Anjas tidak terpojok. Dia memang sudah memperkirakan hal tersebut.


Tapi saat Ling Han sedang berkutat dengan pikirannya. Dia lengah dan itu menjadi kesempatan Anjas. Anjas dapat menangkap tangan Ling Han. Lalu dengan cepat menyerang siku Ling Han. Krakk! Bunyi tulang patah terdengar. BUAK!! Tinju Anjas tepat di wajah Ling Han. Bamm! Ling Han terpental ke tembok.


Tidak ada suara teriakan atau mengerang sakit. Yang ada suara tawa Ling Han.


Dengan tangan kiri Ling Han meraih tangan kanannya. Krek..Krek.. Krakk! Kemudian hal yang mengejutkan terjadi jika dilihat oleh orang awam. Tangan kanan Ling Han kembali seperti semula.


Dia mampu memperbaiki tangannya sendiri. Juga tanpa bantuan orang lain ataupun merasakan kesakitan.


"Kemampuan Teknik Beladiri yang mengerikan. Jika dibiarkan akan semakin banyak korban jiwa." gumam Anjas.


[Ding! Misi sistem: Bunuh Ling Han yang sudah membunuh dengan keji para wanita dan anak-anak. Hadiah Teknik Beladiri Yin Yang tingkat Legendaris.]


Tiba-tiba saja misi sistem sampingan muncul di waktu yang tepat. Anjas akan mendapatkan Teknik Beladiri baru jika menyelesaikan misi sistem itu.


Baru saja Anjas ingin tersenyum. Ling Han sudah membuat posisi kuda-kuda menyerang. Kemudian melakukan beberapa gerakan tangan yang membuat hawa sekitar menjadi memanas.


"Gawat." Anjas menyadari bahwa Ling Han ingin menyerangnya dengan serangan energi tenaga dalam.


"Haaa!" setelah teriakan Ling Han. Sebuah kabut merah kelabu meluncur dari tangan kanannya ke arah Anjas dengan kecepatan tinggi.


Bom! Anjas masih sempat menghindar. Tapi kabut itu menghantam dinding di belakangnya. Di tembok itu pun meninggalkan tanda sebuah telapak tangan kanan.


"Haa! Haa! Haa!" serangan lain meluncur kemudian. Anjas berusaha keras untuk menghindar. Anjas sampai bersembunyi di balik pilar parkiran. Di sana pun jadi sasaran Ling Han.


Beberapa saat kemudian. Serangan bertubi-tubi dari Ling Han berhenti. Keadaan parkiran itu pun penuh dengan tanda tangan kanan Ling Han.


"Hah..hah..hah... hahaha... hebat juga kau nak! Bisa menghindari serangan Tapak Ganas milikku, kecepatan yang luar biasa!" seru Ling Han yang terengah-engah kelelahan. Sepertinya banyak energinya yang terkuras.


Anjas pun keluar dari balik pilar parkiran. Dia sudah menggenggam Belati Bara Neraka. Lalu tanpa ragu lagi Anjas maju menyerang. Dia meluncur melakukan tusukan ke arah Ling Han.


Tapi...Ting! suara benturan antar besi terdengar. Ling Han ternyata sudah menyiapkan di tangan kirinya sebuah pelindung dari baja. Pelindung itu berupa gelang yang menutupi seluruh lengannya. Sehingga dia bisa menangkis belati Anjas.


Sut! Sut! Sut!... Ting! Ting! Ting!... Anjas mencoba untuk menyerang lagi tapi masih bisa ditangkis Ling Han.


Ling Han masih memiliki tenaga dan fisik terlatih. Jadi tidak mudah untuk menyerangnya.


Tapi Anjas tidak putus asa. Dia juga menyerang dengan kaki juga. Membuat Ling Han harus menghindari tendangan Anjas.


Sut! Sut! Sut! Cik! Cik! Tang! Beberapa kesempatan Anjas dapat memberikan luka pada Ling Han. Tapi luka ringan seperti itu dapat ditahan oleh Ling Han.


Ting! Mereka pun saling menjaga jarak. Ling Han masih tersenyum. Kali ini senyum yang bisa di katakan menjijikan. Seperti senyum orang yang bernafsu besar.


"Hehehehe kau menyerahkan diri saja nak. Biar aku bisa membunuhmu dengan cepat agar kau tidak merasa tersiksa." ujar Ling Han seperti orang yang bersenda gurau.


"Heh.. itu akan terjadi di alam mimpimu saja." balas Anjas datar.


"Baiklah aku akan akhiri saja permainan kita." setelah mengatakan itu Ling Han sekali lagi melakukan hal yang sama saat mengeksekusi jurus Tapak Ganas.


Anjas pun dengan cepat meluncur maju untuk mengambil kesempatan menyerang. Dia menemukan kelemahan dari jurus itu.


Dia mengeluarkan dua pisau lempar yang sudah mengandung racun pelumpuh. Sut! Sut! cak! cak! Kedua pisau itu menancap di paha kanan Ling Han.


"Percuma kau menggunakan racun. Aku bisa tahan dengan racun selama dua jam." Ling Han mengetahui rencana Anjas.


"Kau berpikir terlalu pendek." balas Anjas. Dengan cepat belati Bara Neraka Anjas lempar ke tangan kanan Ling Han. Sut! Cuak!


"Aaaarrrgghh...!" jeritan Ling Han pun terdengar.