CHEL

CHEL
Bab 13



"Kita mau kemana ketua?" tanya Julia.


[Bing! Misi selesai.]


[Selamat anda 3 kotak Perak dan +50 exp]


[Bing! Selamat level anda telah naik Level 2.]


Seketika Anjas tersenyum. Julia yang melihat hal itu memberikan arti lain. Dia menjadi semakin takut.


"Kita akan ke apartemenku. Kita akan ke sana dulu." jawab Anjas.


"Apa? Apartemen?" pikiran Julia sudah traveling kemana mana sekarang.




Diperlukan 30 menit untuk sampai ke apartemen Anjas. Kalau tidak macet mungkin lebih cepat.



Anjas membayar taksi dan langsung masuk ke lobi menuju lift. Diikuti oleh Julia di belakang. Masuk lift dan menekan tombol lantai 2. Menunggu sesaat kemudian. Mereka pun sampai di lantai 2. Anjas langsung menuju ke pintu masuk apartemen miliknya.



Ketika dia membuka pintu dia disuguhkan dengan pemandangan yang indah. Maryam yang sedang tidur di sofa dekat TV. Dia hanya mengenakan Kemeja putih yang kebesaran sehingga bisa menutup sampai paha.



Terlihat TV masih menyala. Sepertinya Maryam begadang nonton TV hingga larut.



Anjas menggeleng kepala untuk sadarkan diri. Dia tidak boleh tergoda. Dia masuk diikuti oleh Julia. Melihat Maryam yang tertidur Julia langsung berbalik.



"Kau tunggu di situ. Aku mau mandi dan ganti pakaian dulu." kata Anjas yang masuk ke kamarnya.



Mendengar itu Julia menjadi gugup. Dia menyangka dirinya akan menjadi pelampiasan hasrat Anjas nanti. Tapi dia tidak bisa berkutik. Sekarang Anjas sudah menjadi ketua geng The FALCON. Salah satu geng penguasa kota. Dia tidak bisa kabur. Mau kabur ke luar negeri? Dia tidak punya uang.



Saat baru 5 menit Julia menunggu Anjas. Maryam terbangun lalu terkejut melihat Julia yang sudah berdiri di dekat sofa.



"Siapa kamu?" tanya Maryam berdiri sambil meraih sesuatu untuk dijadikan senjata. Namun yang diraihnya adalah kotak tisu.



"Maaf mengganggu tidurnya mbak. Aku teman dari pemilik apartemen ini." jawab Julia sedikit mundur.



"Oh maaf, aku kira kau penyusup yang masuk." Maryam pun kembali tenang dan menaruh kotak tisu pada tempatnya.



"Mana tuan pemilik apartemen ini? Aku belum tau namanya. Aku juga ingin berterima kasih kepada orang itu." tanya Maryam menghampiri Julia.



Namun jawab Julia hanya menghadap ke arah kamar Anjas. Maryam juga ikut melihat ke sana. Maryam langsung mengerti.



"Sini duduk dulu." Maryam menarik Julia untuk duduk di sofa.



"Perkenalkan namaku Maryam. Aku dari Jawa Timur tepatnya dari Suboh. Nama kamu siapa dik?" tanya Maryam.



"Aku Julia. asli Jakarta." jawab Julia. "Mbak siapanya ketua?" Julia yang belum mengetahui nama lengkap Anjas jadi dia hanya menyebut Ketua.



Saat Julia selesai bertanya, Anjas yang rupanya sudah selesai mandi dan ganti pakaian. Sudah di depan pintu kamar dan menyela pembicaraan mereka. Anjas menggunakan Kaos berwarna biru tosca dan jeans biru juga.



"Dia bukan siapa siapa. Dia hanya orang yang aku tolong kemarin. Saat itu dia sedang dikejar oleh orang jahat. Mungkin." sela Anjas masih di depan kamar.



Lalu Anjas menghampiri mereka dan duduk di sofa seberang. Maryam ingin berterimakasih kepada Anjas.



"Tuan aku sungguh berterima kasih pada anda. Selama dua hari ini aku merasa dicukupi dengan tinggal di sini." kata Maryam dengan sungguh-sungguh.



"Iya." balas Anjas dengan dingin. Dia melihat gelagat aneh pada Maryam. Maryam ingin mengatakan sesuatu tapi ditahan.



"Oh iya namaku..." baru saja ingin mempertahankan diri perkataan Maryam langsung dipotong oleh Anjas.



"Aku sudah dengar tadi. Kau Maryam dan berasal dari Suboh, Jawa Timur."




"Panggil saja Anjas. Itu namaku." kata Anjas memecah keheningan.



"Tuan..." Maryam ragu melanjutkan.



"Apa? Kau ingin pergi sekarang? Silahkan aku tidak melarang. Lagipula orang yang mengejar kau sudah tidak dia area gedung apartemen ini." perkataan bertubi-tubi dari Anjas.



"Bu...bukan itu ma...maksud saya tuan. Aku ingin meminta bantuan sekali lagi." kata Maryam terbata-bata.



"Apa itu?" ucap Anjas yang dingin tapi santai. Tidak dengan suara tinggi.



"Aku ingin meminta izin untuk tinggal di sini selama sebulan. Aku tidak ada tempat untuk tinggal. Selama di Jakarta aku tinggal di losmen. Yang menjadi tempat tinggal para PSK. Aku tidak mau kembali ke sana. Aku bukan PSK. Aku ditipu oleh orang yang mengaku memiliki kafe di Jakarta. Ternyata bukan dia ingin menjual aku ke pria hidung belang." jelas Maryam panjang lebar dengan sedikit air mata yang sudah mengalir ke pipi.



Melihat itu sebenarnya Anjas merasa kasihan. Tapi dia tetep dengan ekspresi wajah dingin. Untuk menjaga wibawa.



"Bisa saja aku membiarkan kau tinggal di sini. Tapi ada syaratnya dan sangat gampang. Kau harus selalu siap saat aku membutuhkanmu dan tidak boleh membantah." kata Anjas sambil memangku kaki.



"Iya aku akan selalu siap. Aku juga akan merawat tempat apartemen ini. Terimakasih tuan anda baik sekali." Maryam langsung setuju dengan persyaratan itu. Dia tidak sadar bahwa dia sudah mengikat janji kerja dengan Anjas secara lisan. Walaupun dia tidak tahu apa yang akan diperintahkan Anjas nanti.



"Iya iya." balas Anjas lagi lagi dingin.



"Oh iya Julia berikan nomor telepon kau. Biar jika aku memerlukan sesuatu aku akan menghubungi kau." kata Anjas yang sudah menyerahkan HP nya yang sudah unlock.



Julia meraih HP itu. Segera dia mengetik beberapa angka. Setelah itu dia menyimpan nomor itu dengan nama "Julia 🙂" di daftar kontak Anjas. Saat Julia masih mengetik nomor. Anjas sekali lagi melakukan scanning pada Julia. Dia mencari identitas Julia.



\[Nama: Julia Bernat


Usia: 19 tahun


Jenis kelamin: Perempuan


Status hubungan: Jomblo


Status Pendidikan: Mahasiswa jurusan manajemen (Cuti kuliah), Universitas Negeri Jakarta



Lalu Julia mengembalikan HP Anjas. Hal yang sama dia minta pada Maryam.



"Julia sekarang kau ikut aku. Aku perlu bantuan kau." Anjas beranjak dari tempat duduknya. Dia langsung menuju pintu keluar.



Namun sebelum membuka pintu Anjas berbalik badan dia mengambil sesuatu di kantong celana, "Maryam ambil ini. Untuk membeli baju. Biar kau tidak memakai kemeja yang kebesaran itu." kata Anjas memberikan segepok uang. Uang itu berjumlah 3 juta rupiah. Dia memberi lebih biar Maryam bisa membeli pakaian dengan uang yang pas.



Tapi Maryam masih terpaku. Dia sungguh merasa tidak enak karena dia seperti sedang dibiayai oleh Anjas.



"Tapi tapi tuan aku merasa..." Maryam ragu.



"Cepat ambil. Atau kau masih betah dengan kemeja itu?" kata Anjas sedikit bersuara tinggi.



"I..iya tuan aku ambil." Maryam pun segera menghampiri Anjas dan mengambil uang itu.



Tanpa bicara lagi Anjas keluar dari apartemen diikuti oleh Julia.



Sampai lobi. Karena penasaran dia akan dibawa Anjas ke mana. Julia bertanya lagi.



"Ketua sebenarnya kita akan ke mana?" tanya Julia.



"Ke Panti Asuhan. Aku punya urusan." jawab Anjas.