CHEL

CHEL
Bab 69



"Heh miskin! Kau kira aku tidak berani melakukan hal buruk padamu!? Aku hanya mengikuti Fino karena dia bisa dimanfaatkan. Tapi aku Kevin Wijaya dari keluarga Wijaya memiliki kemampuan untuk membuat kau menderita!" seru Kevin dengan lantang.


"Oh begitu. Coba kau tunjukkan seperti apa itu." tantang Anjas.


"Vero, James, Ello kita hajar bajingan ini!" seru Kevin tersenyum miring.


Mereka berempat pun mengelilingi Anjas. Vero di sebelah kiri Anjas. James di belakang dan Ello di kanan. Sementara Kevin berhadapan dengan Anjas.


Dengan insting bertarung Anjas bisa membaca langkah mereka. Ternyata James dari belakang. James ingin memberikan tinjauan telak tapi Anjas lebih cepat. Dengan lincah Anjas menghindar dan memberikan serangan balik. Bogem mentah dan kuat hinggap di wajah James.


"Buuaakkk!" suara pukulan yang keras terdengar oleh Kevin dan kedua temannya.


James seketika tersungkur di jalan paving stone tempat parkir. Tidak sadarkan diri. Melihat itu Vero dan Ello langsung menyerang secara brutal. Tapi bukan Anjas kalau dia kena pukulan yang asal-asalan. Anjas menghindar beberapa kali. Seperti mempermainkan mereka.


Tepat saat Vero melayangkan tendangan. Anjas tidak menghindar. Dia menggunakan kemampuan tubuh manusia besi miliknya. Tanpa berubah warna kulit tubuh Anjas menjadi keras sekeras besi atau baja.


"Ding!" suara benturan sesuatu yang mengenai besi. Namun detik kemudian "Aaaarrrgghh!! Sakit sekali!" Vero menjerit kesakitan. Dia baru saja seperti menendang tiang listrik yang masih baru dan kokoh.


Begitu pula yang terjadi pada Ello. Pukulan tinju kirinya hinggap di rusuk Anjas. Tapi dia terdiam. Tangannya seperti mati rasa dan kebas.


"Kenapa tubuhnya bisa keras seperti besi?" benak Ello.


Reaksi Anjas hanya menguap seperti mengantuk. Dia masih menahan emosi. Jika dia langsung menghabisi mereka dia tidak bisa bermain sedikit.


"Cuma ini kemampuan kau Kevin?" tanya Anjas mengejek.


"Sialan kau Anjas!" Kevin melakukan lompatan ingin menyerang dengan tinju.


"Dap!" tapi pukulan jalanan itu masih bisa ditahan Anjas dengan satu tangan. Sekarang tangan Kevin di genggaman Anjas.


"Aaaaaarrrhhhhh!!" Dengan sedikit gerakan tangan Kevin dipelintir hingga dia merasa tangannya akan putus.


"Lepaskan bajingan miskin. Kau akan bermasalah dengan keluarga Wijaya jika kau mematahkan tanganku!" teriak Kevin mengancam.


Tapi... "Krakk!! Aaaaaaaaahhhhh!!!" tangan kanan Kevin pun dipatahkan oleh Anjas. Kevin menjerit keras hingga karyawan mini market keluar untuk melerai mereka.


"Tolong jangan membuat keributan di sini tuan!" seru si karyawan.


"Aku hanya membela diri. Jika kau ingin lapor polisi silahkan. CCTV bisa jadi barang bukti bahwa mereka yang menyerang terlebih dahulu." jelas Anjas agar si karyawan bisa melihat situasi.


Si karyawan hanya bisa menelan ludah. Melihat Anjas saja seperti melihat singa. Sangat menakutkan.


Mengabaikan si karyawan. Anjas menghampiri Kevin yang masih mengerang kesakitan. Meraih kaki Kevin lalu... "Krakk!" "Aaaaaaaaahhhhh!!!" sekali lagi Anjas membuat bunyi yang membuat ngilu itu. Dia memutar pergelangan kaki Kevin hingga sekarang kaki itu telah menghadap ke tempat lain. Jeritan Kevin semakin keras.


Vero dan Ello hanya terdiam melihat teman mereka diperlakukan kejam seperti itu. Mereka membatu dan tidak berani melawan. Sedangkan James masih pingsan.


Anjas lalu menghampiri Wajah Kevin. Tersenyum karena orang yang dulu sering membuli itu sudah dibalas oleh tangannya sendiri.


"Kau kira aku takut dengan ancaman kau? Bahkan keluarga Ajisaka akan bisa aku hancurkan. Tinggal menunggu waktu untuk mereka hancur lebur tanpa sisa." ucap Anjas memberi peringatan.


"Maka dari itu, hanya keluarga Wijaya saja aku bisa menghabisi kalian hanya dengan menjentikkan kuku jari.


Selesai mengatakan itu Anjas menghampiri mobilnya dan pergi dari perkiraan mini market itu. Dia kembali ke tepi jalan saat dia meninggalkan Dendi. Menunggu jalan sepi Anjas langsung menyimpan mobilnya ke dalam cincin giok penyimpanan.


Setelah itu dia ikut masuk ke dalam hutan itu. Mengikuti jejak Dendi Anjas berlari, melompat dan berkelit dari halangan. Gerakan Anjas semakin lincah saat sudah mendapatkan jarak aman untuk mengawasi Dendi. Lalu melakukan lompatan tinggi. Hinggap di atas pohon yang tidak terlalu lebat.


Sementara itu di gedung Haery Building. Beno sedang berusaha menghubungi Anjas. Dia ingin memberi tahu bahwa mereka kedatangan tamu yang tidak diundang datang ingin bertemu dengan Anjas. Orang itu adalah Muklis. Dia ingin bertemu dengan pemilik gedung untuk segera membeli gedung tersebut.




"Kapan dia akan kembali? Bosku ingin bertemu dengan pemilik gedung ini. Jika dia tidak mau maka jangan salahkan keluarga Ajisaka akan bertindak." ujar Muklis dengan nada mengancam.



"Huh... bos kami mengatakan bahwa dia akan kembali dalam sepuluh hari lagi. Maka dari itu anda bisa kembali saat itu tiba." balas Beno tanpa takut dengan ancaman Muklis.



"Dengan perkataanmu itu kau sudah menyatakan bahwa kalian ingin melawan keluarga Ajisaka! Baiklah aku sudah memperingatkan kalian. Kalian adalah musuh keluarga Ajisaka sekarang!" Muklis beranjak dari duduknya dan langsung pergi begitu saja.



Beno menatap tajam pada Muklis. Dia juga membenci keluarga Ajisaka. Karena dia mengetahui bahwa kebangkrutan ayah sahabatnya Deni adalah campur tangan Herman Ajisaka. Maka dari itu Beno juga ingin melawan mereka.


Sementara itu Julia dan Justin sedang membantu keluarga Anjas yang pindah rumah. Mereka baru saja tiba di rumah baru. Mereka juga sudah diperintahkan Anjas untuk memberikan perlindungan ketat pada keluarganya. Selagi Anjas pergi untuk melatih Dendi.


Tidak lama mereka membereskan barang. Karena mereka hanya membawa pakaian dan dan beberapa kardus. Karena rumah itu sudah tersedia semua perabotan rumah tangga.


"Terima kasih nak Julia. Kau sudah repot-repot untuk membantu kami pindah. Nak Justin juga." ucap Ayah Anjas.


"Ketua sudah memerintahkan kami untuk membantu. Jadi Om dan Tante jangan sungkan." balas Julia lembut memegang tangan ibunya Anjas. Orang tua Anjas hanya tersenyum dengan tanggapan Julia.


Di rumah itu tidak hanya mereka saja. Semua anggota geng The FALCON sudah berjaga di beberapa titik rumah. Juga di dua rumah sebelah kanan. Dua rumah itu yang akan menjadi markas cadangan geng The FALCON nanti.


Beberapa menit kemudian Jordan dan Dion datang. Mereka membawa beberapa anggota geng Metal Sins untuk bergabung. Maka semakin ketat penjagaan di sekitar tiga rumah baru milik Anjas dan orang tuanya.



Kembali ke Anjas dan Dendi.


Anjas masih memantau kondisi Dendi. Dia melihat Dendi yang sedang berusaha memasang tenda. Yang baru pertama kali dia lakukan. Beberapa kali Dendi menggaruk kepalanya karena kebingungan mendirikan tenda.



Memang sudah ada tenda dalam tas yang diberikan Anjas. Tapi Dendi yang baru kali ini melakukan kemah masih harus memikirkan cara untuk mendirikan tenda itu tanpa bantuan. Ini Anjas lakukan untuk melihat bagaimana Dendi memecahkan masalah dengan cara sendiri.



Hampir tiga jam kemudian Dendi baru bisa mendirikan tenda itu. Terlihat Dendi duduk selonjoran di bawah pohon. Dia sudah membuat tempat untuk membuat api unggun.



Baru saja Dendi menyalakan senter dan ingin mencari kayu bakar. Dia mendengar geraman dari balik semak-semak. Detik kemudian keluarlah seekor macan hitam. Macan itu sebesar anjing herder dewasa dan setinggi pinggang Dendi.



"Secepat ini ada hewan buas yang keluar. Setahu aku hutan ini adalah hutan lindung. Dari mana macan itu datang?" Anjas sedikit terkejut dengan situasi itu. Tapi dia melihat tangan Dendi yang perlahan mengambil sesuatu dari dalam tas.



Dendi yang terkejut tidak langsung kabur. Dia mengingat bahwa ada pisau di dalam tas. Jadi dia berniat untuk melawan macan itu dengan pisau tadi.



Sungguh keberanian yang luar biasa. Padahal Dendi belum bisa menggunakan senjata sama sekali. Melihat itu Anjas tersenyum lalu berkata. "Mari kita lihat sampai keberaniannya itu dan apa yang akan dia lakukan nanti." gumam Anjas.