
"Sialan kau bocah!" Rano tidak bisa bergerak. Dia berteriak dari tempat dia berlutut saja.
"Heh mungkin ini hari sial kalian bertemu dengan aku." balas Anjas dingin.
"Kalian berdua jangan diam saja. Bantu si kembar." perintah Ruben yang sudah mundur perlahan.
"Hiiaaa!" dua orang itu maju.
"Syut ... dak buk buk.. syut syut tak Buk bak...." namun dengan cepat Anjas melumpuhkan kedua orang itu.
"Aaaarrrgghh." satu orang masih sempat menjerit. Yang satu langsung pingsan.
"Seharusnya kalian diam saja. BUAK" tendangan keras di wajah orang yang menjerit itu. Yang entah pingsan atau pura-pura.
Anjas menghampiri Rano. Rano berusaha meraih paha Anjas. "Sik Sak sik... Aaaarrrgghh kenapa!!? Cepat bunuh aku! Ini akan menyiksaku!" Anjas menyayat beberapa bagian tangan Rano. Rano sudah pasrah jika Anjas ingin membunuhnya tapi itu tidak akan terjadi.
Anjas jongkok di depan Rano.
"Aku bukan pembunuh. Aku hanya memberikan hukum pada orang jahat." jelas Anjas menatap Rano dingin.
Tatapan dingin Anjas membuat Rano merinding. Baru kali ini dia merasakan takut pada seseorang.
Ruben sudah ingin kabur. Dia melangkah perlahan untuk turun. Tapi gerakan itu tetap diketahui oleh Anjas. Dengan sigap Anjas melempar belatinya ke arah Ruben yang tidak menyadari hal itu.
"Aaaaaaaaa!!!! Brak!" belati itu kena di paha belakang Ruben. Karena tidak menjaga keseimbangan Ruben jatuh ke tangga tidak sadarkan diri. Menghampiri Ruben, Anjas mencabut belatinya dan menyimpan lagi ke inventori.
"Tidak akan ada yang bisa kabur dari mataku." gumam Anjas tersenyum.
Karena semua anggota pelaku Human Trafficking itu sudah tidak ada yang ingin melawan. Anjas lalu memerintahkan sistem untuk mengeluarkan Revolver Tanpa Reload.
Langsung saja sistem memunculkan senjata tersebut. Tapi kali ini terselip di bagian belakang celana. Seperti para mafia menaruh senjata mereka.
"Kalian mundur sedikit." berkata seperti itu sambil Anjas mengambil pistol yang terselip di belakang celana.
Melihat senjata api anak-anak langsung mundur takut kena pental peluru. "Dor! Dor! Dor!" tiga tembakan langsung membuat dua gembok besar hancur. Anjas membuka pintu kerangkeng dan menyuruh semua anak keluar dan mengikutinya.
Tidak lupa dia membebaskan tiga puluh anak kecil yang ada di lantai bawah. Dengan pistol menembak gembok dan mengeluarkan mereka.
Hingga semua seratus anak yang diculik sudah keluar dari gedung bekas pabrik itu. Lalu Anjas menelpon Polisi agar datang ke titik yang akan dia kirim.
Menunggu selama 15 menit kemudian. Para polisi pun tiba. Mereka langsung meringkus tersangka pelaku Human Trafficking yang ternyata berjumlah 13 orang. Juga ditemukan beberapa peti senjata laras panjang. Ternyata selain menjual manusia, mereka juga menjual senjata ilegal.
Terkhusus orang-orang yang mendapat luka sayatan mereka dibawa ke rumah sakit Bhayangkara. Lalu nanti diintrogasi.
Anjas diintrogasi polisi. Dia menjadi saksi di kasus ini. Lalu empat buah bis datang menjemput anak-anak korban penculikan. Mereka akan dibawa ke kantor untuk pendataan agar di temukan keluarga mereka yang mungkin mencari. Anak berbaju kuning yang menjadi misinya mendekati Anjas.
"Terimakasih kak. Karena kakak telah menolong Layla. Kakak mau mengantar Layla?" ujar si anak baju kuning.
Anjas mengerutkan keningnya. Layla? Itu nama anak cewek. Tapi tampilan Layla layaknya anak laki-laki. Memang sih rambutnya sedikit lebat. Karena rambutnya pendek, juga menggunakan Kemeja dan celana pendek. Anjas berpikir anak kecil itu adalah anak laki-laki.
Anjas berjongkok dan bertanya.
"Layla tahu di mana rumah Layla?" Anjas tersenyum.
Layla tersenyum dan mengangguk. Dia terlihat imut saat tersenyum.
Anjas pun mengatakan pada polisi akan membawa Layla. Dia mengaku sebagai tetangga anak itu. Anjas pun pergi bersama Layla dengan motornya.
Di tempat lain. Jauh di Negara tirai bambu.
"Brak! Sialan! Bagaimana bisa Ruben tertangkap!? Apa ada yang membocorkan lokasi mereka!!?" umpat seorang pria tua keturunan Tionghoa.
"Mereka ditangkap karena ada warga sekitar melihat ada anak yang diculik. Lalu ada seorang pemuda yang mengikuti mereka ke markas dan menghubungi pihak kepolisian." jelas pria paruh baya di belakang si pria tua.
"Cari tahu siapa orang itu! Lalu kirim orang untuk menghabisinya!!" perintah si pria tua. Dia sungguh marah sekarang. Bisnisnya akan terhambat jika tidak mendapatkan suplai anak kecil. Minimal seratus anak.
"Sudah aku lakukan tuan." jawab si pria paruh baya.
"Bagus! Kau memang bisa diandalkan Yun!" si pria tua tersenyum miring. Dia tidak sabar untuk mendapatkan kabar baik.
Sementara itu Anjas sudah tiba di sebuah rumah yang sangat luas dan besar. Seperti Puri indah. Satpam rumah yang melihat anak yang dibonceng Anjas langsung membuka pintu gerbang. Anjas mengantarkan Layla hingga depan pintu masuk. Para satpam segera menemui tuan rumah.
Berita penculikan Layla sudah sampai ke telinga keluarga Layla. Kakek Layla yang mengenal beberapa petinggi kepolisian langsung meminta bantuan. Bahkan hampir semua pengawal keluarga itu dikerahkan untuk mencari Layla.
Layla adalah anak dari keluarga keturunan Belanda. Keluarga Bruwer adalah keluarga terkaya ke lima di Indonesia saat ini. Memiliki perusahaan penerbangan yang terlaris.
Sebenarnya kepolisian sudah mengabarkan bahwa Layla sudah diantar oleh seorang pemuda berusia 20 tahun yang mengaku sebagai tetangga mereka.
Jadi saat Anjas mengantarkan Layla hingga depan pintu. Dua orang langsung keluar dari rumah dan menghampiri Layla. Mereka adalah ayah dan ibu Layla. Samuel Bruwer dan Winna De Jong. Mereka sama-sama memiliki darah Belanda dan Indonesia.
"Layla sayang! Kamu tidak apa-apa nak?" Winna memeluk Layla dengan erat. Layla hanya menggeleng.
"Kakak itu sudah menyelamatkan Layla, ayah, bunda." ucap Layla sambil menunjuk Anjas.
Samuel memeluk anak dan istrinya. Dia khawatir akan kehilangan anak bungsunya itu.
"Mulai sekarang Layla akan selalu dikawal jika ingin keluar atau ke sekolah. Tidak hanya dengan baby sitter saja." kata Samuel pada Winna. Winna hanya mengangguk.
Samuel berdiri dan menghampiri Anjas. Menggapai tangan Anjas dan menyalaminya.
"Aku dengar kau yang sudah melapor lokasi para penculik itu. Terimakasih nak kau sudah menyelamatkan anak saya." ucap Samuel.
Anjas mengangguk karena ucapan Samuel sangat tulus berterima kasih. Baru saja Anjas ingin mengatakan sesuatu notifikasi sistem selesai muncul.
[Bing! Selamat Misi Selesai. Anak kecil berbaju kuning sudah selamat sampai rumah.]
[Bing! Selamat anda mendapatkan 2 kotak Emas dan 1 tiket Lotre. Hadiah sudah disimpan di inventori.]
"Hei nak apa kau punya permintaan? Akan saya kabulkan permintaanmu sebisa mungkin." perkataan Samuel membuat Anjas sadar kembali.
"Ah tidak perlu pak. Aku hanya peduli pada anak kecil. Melihat ada yang memerlukan pertolongan aku yang pertama akan menolong. Apalagi anak baik dan imut seperti Layla." Anjas menolak diberikan hadiah. Selain karena ada hadiah dari sistem yang melimpah. Dia juga memang tulus menolong.
Apalagi kasus Layla itu adalah penculikan anak. Yang akan dikirim ke luar negeri dan dipekerjakan paksa.
Sedikit berbincang dengan Samuel. Setelah itu Anjas pamit pada mereka. Layla merasa sedih karena Anjas akan pergi.
"Kakak akan datang lagi kan?" tanya Layla yang meraih tangan Anjas.
"Kakak akan berkunjung ke rumah Layla kalau kakak tidak sibuk. Oke?" Anjas mengusap wajah Layla.
"Janji yah?" Layla memberi jari kelingking.
"Iyah janji." Anjas meraih kelingking Layla dengan kelingkingnya. Layla pun tersenyum.