CHEL

CHEL
Bab 54



Dalam 10 menit Anjas sampai di kost Rahmi. Karena memang kost itu lumayan dekat dengan markas geng The FALCON. Turun di depan gang. Anjas langsung berjalan masuk menuju kost Rahmi. Saat sampai di depan pintu kost. Anjas merasa aneh. Karena itu dia menelpon Rahmi untuk keluar dari kost.


"Rahmi aku sudah di depan kost. Keluarlah dan ikut dengan aku." ajak Anjas lewat telepon.


"Bisakah kau masuk dulu aku ingin minta bantuan sedikit." balas Rahmi. HP nya sedang dipegang oleh Jakson lalu di lost speaker.


"Baiklah." ujar Anjas. Saat ini dia sudah memindai rumah kost itu. Itu karena sistem memberi tahu terdeteksi beberapa orang yang sedang memegang senjata tumpul seperti pipa besi dan sejenisnya.


"Begitu rupanya." gumam Anjas. Dia mendapati titik posisi setiap orang yang ada dalam kost. Sekarang di depannya ada layar transparan dengan menunjukkan denah kost.


Dalam denah terdapat banyak titik yang berkerumun di beberapa bagian sudut. Dia mengaktifkan dua kemampuan khususnya. Yaitu Mata Tembus Pandang dan Tubuh Menembus Segala Benda. Sekarang dia bisa melihat keadaan di dalam kost. Melihat beberapa orang di ruang tamu. Juga beberapa di balik pintu. Jumlah tepatnya ada lima belas orang yang ada di dalamnya. Di bagian lain ada Rahmi dan Jakson. Mereka ada di dalam kamar Rahmi. Rahmi diikat dengan tali di lantai.


"Langsung saja aku buat bajingan itu babak belur dulu baru menghadapi para kroco lemah." pikir Anjas sambil berjalan ke arah tembok yang mana di baliknya adalah kamar Rahmi.


"Wus.." Anjas pun menembus tembok itu dengan sangat mudah.


Jakson tidak sadar akan Anjas yang sudah ada di dalam kamar itu. Mengeluarkan Belati Bara Neraka. Anjas menyerang Jakson dengan sayatan cepat di betis dan lengan Jakson.


"Sing sing! Cek cik!" "Aaaarrrgghh!! Kenapa ini?! Sakit sekali!" jeritan terdengar Jakson lalu tersungkur di lantai.


"Apa kau sedang bercanda dengan aku?" Anjas jongkok tepat di samping kepala Jakson. Wajah dingin Anjas nampak lebih jelas terlihat orang Jakson.


"Kau kan yang waktu itu di dealer mobil? Dasar bajingan! Bagaimana bisa kau sudah ada di dalam kamar ini?" tentunya Jakson sangat bingung dengan keanehan itu.


Rahmi apalagi? Dia sangat tahu dengan pasti bahwa tidak ada jendela lain selain jendela di sebelah kanan pintu kamarnya. Selain itu tidak ada jendela lain. Bahkan jika ada mereka akan tahu ada orang yang masuk lewat jendela.


Anjas membuka tali yang mengikat Rahmi. Lalu mengunci pintu kamar. Agar tidak ada orang lain masuk ke kamar. Walaupun kamar itu kedap suara. Kembali mendekati Jakson. Sehingga Jakson menjadi gugup dan takut.


"Apa kau mencari ini?" tanya Anjas menunjukkan video yang terputar di hp nya.


"Ternyata kau yang memiliki bukti itu. Cepat hapus semua itu!" bentak Jakson berusaha mengambil HP Anjas.


Anjas menahan tangan Jakson. Lalu mematahkan tangan itu. "Krakk!" suara tulang siku yang sudah terlipat ke arah lain. "Aaaarrrgghh... apa yang kau lakukan brengsek!!? Kau sudah melakukan kesalahan besar!!" jerit Jakson yang lebih terdengar seperti rintihan menyakitkan.


"Tok tok tok... bos apa kau di dalam? orang yang kau bilang akan datang. Belum juga muncul.!" Seru seorang pria yang mungkin anak buahnya Jakson.


"Sekarang aku ingin kau mengaku bahwa kau telah menabrak orang di jalan itu. Cepat!" tanpa menghiraukan orang yang ada di luar kamar. Anjas melakukan rekaman video dari HP nya.


"Tidak akan aku mengakui itu!" sanggah Jakson.


"PLAK!" sebuah tamparan telak di wajah Jakson. Itu dilakukan oleh Anjas. Membuat Jakson terdiam sejenak.


"Kau kira... PLAK!" Jakson baru saja ingin mengatakan sesuatu. Tapi terhenti lagi dengan tamparan keras Anjas.


"Jika... PLAK!"


"Henti.. PLAK!"


"Aku ak.. PLAK!"


"PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK!" selanjutnya rentetan tamparan keras Anjas lakukan. Hal itu membuat Jakson tidak bisa berkutik.


"Aku tidak menyuruhmu beromong kosong. Yang aku suruh kau mengakui bahwa kau telah menabrak orang." ujar Anjas menatap tajam ke Jakson.


"Ba.. baiklah... jangan pukul lagi." Jakson mulai terisak. Matanya juga sudah berkaca-kaca.


"Cepatlah!" bentak Anjas.


"Bos! Sepertinya dia tidak akan datang ke sini. Apa kita bisa pergi?!" seru sekali lagi orang dari luar.


"Jangan membuat aku menunggu." ujar Anjas lagi.


"Aku.. Jakson Geraldo mengakui... mengakui telah menabrak seorang wanita di jln *******. Aku akan menyerahkan diri ke polisi." setelah Jakson berkata demikian. Anjas sudah selesai menyimpan video rekaman pengakuan itu.


"Buk!" Anjas telah memukul tengkuk Jakson hingga pingsan. Berpaling menghadap Rahmi.


"Belum. Aku ingin melihat dia masuk penjara setimpal dengan apa yang dia lakukan. Juga ayahnya." jawab Rahmi menatap tajam ke Jakson.


"Hehehe ini baru permulaan. Kau akan melihat sebuah pembalasan yang paling kejam dari ini." ungkap Anjas tersenyum miring.


Selanjutnya Anjas membuka pintu kamar Rahmi. Dia dengan cepat melakukan serangan dengan Belati Bara Neraka untuk menumbangkan para bawahan Jakson. Hanya dalam lima menit mereka semua sudah terkapar di lantai dengan jeritan.


"Halo pak. Ada kejadian perampokan di kost Grogol Jakarta barat. Ada sekitar lima belas orang perampok. Mereka sudah dilumpuhkan. Tolong segera datang." Anjas menghubungi polisi agar tempat itu bisa dibereskan.


Sepuluh menit kemudian polisi datang. Semua orang yang dilaporkan sebagai perampok diangkut ke mobil tahanan. Anjas dan Rahmi dimintai keterangan juga. Setelah itu mereka pergi dari sana.



Lima menit kemudian Anjas dan Rahmi sudah pergi dari kost. Anjas membawa Rahmi menuju ke apartemen miliknya.



Sesampainya di apartemen. Anjas memberikan uang sebesar 1 juta rupiah dan kartu akses apartemen. Juga menyuruh Rahmi untuk membersihkan diri di kamar Maryam.



"Kau bisa tinggal di sini dulu. Sebenarnya kamar ini milik pacarku. Karena dia lagi pulang kampung, untuk sementara kau pakai dulu. Ini uang dan kartu akses apartemen. Aku punya cadangannya juga. Aku harus pergi untuk mengurus bisnisku." jelas Anjas meyakinkan Rahmi agar mengungsi dulu di sana.



"Terima kasih Anjas." ucap Rahmi sebagai balasan.



"Oh ya. Nanti jika kau butuh hal lain kau bisa menelponku." kata Anjas. Lalu keluar dari apartemen.



Anjas langsung pergi kembali ke markas geng The FALCON. Kali ini dia menggunakan mobil sport merek Lamborghini Aventador. Mobil itu sangat mencolok dan mewah.



Saat sampai di markas. Dia tidak langsung masuk ke dalam markas. Tapi berbelok menuju ke belakang markas. Tujuannya adalah menemui Chan Bee untuk diinterogasi.



Anjas mendapati Chan Bee yang sudah sadar tapi dia tidak bisa bergerak. Anjas menghampirinya dan mulai bertanya.



"Siapa yang membayar kalian berdua untuk membunuhku?" tanya Anjas dengan ekspresi wajah dingin.



"Soal itu kau harus bertanya pada bos kami. Dia tidak pernah memberitahukan siapa yang mengorder kita. Kami hanya melakukan tugas yang diberikan." jawab Chan Bee.



"Apakah temanmu akan kembali atau akan terus kabur karena gagal?" tanya Anjas lagi.



"Haha.. kemungkinan dia sudah melaporkan bahwa dia gagal. Juga mungkin sudah menjadi target eksekusi mati sesuai peraturan organisasi. Karena sekali membuat kesalahan besar maka dia tidak bisa kabur. Sekali menjadi target maka akan dikejar terus oleh organisasi. Hal itu juga berlaku padamu." jawab Chan Bee memperingati Anjas.



"Oke aku mengerti sekarang. Tapi kau akan tetap di sini." lalu Anjas pergi meninggalkan Chan Bee sendiri di sana.