CHEL

CHEL
Bab 77



Anjas tidak langsung kembali ke kediaman keluarga Bruwer. Tapi masih menuju ke arah sebuah rumah sakit. Di mana Herino dirawat. Dengan tools pelacak di hp nya. Anjas dengan cepat mendapatkan lokasi Herino.


"Setelah aku membereskan Herino. Sasaran berikutnya adalah geng Revon dan geng Snaky. Mereka tidak bisa lolos dari maut." gumam Anjas dengan ekspresi datar.


Dengan Lamborghini Gallardo putih miliknya. Dia melesat cepat dikarenakan jalanan daerah pinggiran saat ini sangat sepi. Semua orang sedang berkumpul di pusat kota.


20 menit kemudian Anjas sampai di rumah sakit Fatmawati. Karena bajunya terkoyak tadi jadi dia mengganti pakaian dengan celana jeans hitam dan jaket Hoodie berwarna hitam juga. Tidak lupa menggunakan masker hitam untuk menutupi wajahnya.


Anjas menelusuri lorong rumah sakit. Lalu menaiki lift menuju lantai 3. Keluar lift Anjas berbelok ke kiri menuju bangsal VIP room. Anjas juga sudah mengetahui ruangan mana Herino dirawat.


Tapi saat ingin berbelok ke kanan. Anjas melihat sekitar 20-an pengawal sedang menjaga ruangan tujuannya.


"Ah.. pantas saja jumlah pengawal di rumah tadi kurang. Ternyata sisanya ada di sini." ujar Anjas pelan.


Mengeluarkan HP nya lagi. Dia meretas sistem keamanan rumah sakit itu. Hanya perlu satu menit untuk melakukan hal itu tanpa ketahuan. Sekarang semua CCTV di rumah sakit mati total. Hal itu membuat kepanikan.


Lalu lima menit kemudian semua CCTV menyala lagi. Namun yang mereka tidak ketahuan bahwa Anjas sudah keluar dari ruangan VIP room. Herino, Jilo dan semua pengawalnya sudah dibawa pergi menggunakan cincin giok penyimpanan. Kenapa bisa? Karena Anjas sudah membunuh mereka semua. Sedangkan cincin giok penyimpanan hanya bisa menyimpan benda mati. Lebih tepatnya yang dibawa Anjas adalah mayat-mayat mereka.


Setelah meninggalkan rumah sakit. Tujuan Anjas selanjutnya adalah pergi ke klub malam milik geng Snaky.


Sesampainya di klub malam yang dituju. Anjas masuk tanpa masalah. Hanya memperlihatkan kartu identitasnya. Anjas diizinkan masuk. Orang yang menjaga pintu adalah anggota baru geng Snaky. Makanya mereka tidak mengenal Anjas.


Sambil melihat HP nya Anjas mencari ke setiap ruangan. Sedang ada pesta tahun baru di klub malam itu. Tidak menemukan di lantai satu. Anjas naik ke lantai dua. Banyak ruang privasi di lantai dua. Semua ruang privasi ini untuk tamu VIP member klub malam.


Mengedarkan pandangannya. Menggunakan kemampuan Mata Tembus Pandang. Dia langsung menemukan yang dia cari. Tanjung berada di ruang privasi nomor 5. Ruangan itu dijaga oleh dua orang anggota geng Snaky.


Saat Anjas mendekat mereka menghadang. Melarang Anjas untuk masuk.


"Ruang privasi masih digunakan. Cari tempat lain." ujar salah satu penjaga pintu.


"Aku ingin bertemu bos kalian." balas Anjas tanpa ekspresi.


Mereka saling tatap. Lalu saling angguk.


"Sebaiknya kau pergi. Bos kami lagi tidak ingin diganggu." kata salah satu dari mereka yang bertubuh kurus. Dia maju untuk mengusir Anjas.


"Tapi aku sangat ingin bertemu. Sing.. sing!" tapi Anjas juga maju dan memotong kedua tangan si kurus itu. dengan pedang.


Langsung saja suara teriakan si kurus terdengar. "Aaaaarrh...akk..!!" setelah itu Anjas menusuknya tepat di jantung.


Temannya yang berbadan lebih berisi melotot ketakutan hingga dia pun kencing di celana. Anjas menatap tajam padanya. Segera dia tahu maksud. Menyingkir atau kau mati juga. Dengan sekencang mungkin dia lari kabur.


Membuka pintu, Anjas mendapati Tanjung dan Marvin. Mereka sedang minum-minum alkohol. Di situ juga ada Delon. Tanpa ditemani oleh para gadis penghibur. Mereka berpesta tanpa mengetahui bahwa para atasan mereka sudah tiada.


"Kau lagi! Berani sekali kau datang ke markas kami. Memang cari mati." Marvin dengan sombong mengancam Anjas karena sudah mabuk. Dia mengira Anjas adalah Justin.


Ditambah lagi suasananya remang dengan lampu warna warni. Juga postur tubuh Anjas sama dengan Justin. Marvin berdiri ingin menghampiri Anjas.


"Jangan kira kau bersama si Anjas sialan itu. Kau bisa lolos dari keluarga Ajisaka. Kalian akan ditindas dan dilenyapkan jika sudah bosan. Hahahaha..." Marvin berujar ngawur sana sini lalu tertawa. Yang diikuti oleh Tanjung dan Delon.


"Itu lain cerita kalau aku yang melenyapkan kalian lebih dulu. Sing sing sing!" tanpa bercakap panjang lebar. Anjas langsung menyerang Marvin dengan pedang.


"Brukk!" melihat Marvin tumbang Tanjung dan Delon seakan tersadar dari mabuk. Mereka memerhatikan kondisi Marvin yang tergeletak di lantai. banyak darah yang keluar dari dada Marvin.


"Kau... Kau Yang waktu itu... Anjas..." Delon baru bisa mengenali Anjas.


"Sialan. Kau sudah membunuh Marvin. Kau akan... akkh.." Tanjung belum selesai mengatakan ancamannya. Terhenti karena Anjas sudah menusuk pedang ke jantungnya. Kemudian mencabut dengan sangat cepat. Tanjung pun tersungkur di tempat duduknya.


"Hei bos ada apa ini kok tidak ada yang menjaga di luar. Apa kalian... Apa yang kau lakukan bangsat?!." tidak disangka Anjas. Miguel masuk ke ruangan VIP itu.


"Hehe... satu tikus lagi datang tepat waktu." setelah berkata seperti itu Anjas langsung melempar jarum racun pelumpuh pada Miguel.


"Uhh... ini... kau... sial.. bruk!" Miguel tidak bisa melanjutkan perkataannya. Jatuh tersungkur.


"Anjas... A.. aku mohon jangan bunuh aku. A.. aku punya informasi penting tentang keluarga Ajisaka. Aku akan beri tahu asal kau tidak membunuh aku." Delon memohon dengan sebuah penawaran.


"Informasi apa itu? Katakan." Anjas memberi kesempatan pada Delon untuk bernafas untuk terakhir kalinya.


"Kalau kau mengincar seluruh anggota keluarga Ajisaka. Ada dua orang yang harus kau buru juga. Bos besar Fedrian memiliki seorang simpanan di luar negeri. Mereka sekarang sedang berada di Macau. Simpanan itu memiliki anak dari Bos Fedrian bernama Feng Yan Ajisaka dan cuci mereka bernama Choi Yan Ajisaka. Mereka yang menjalankan cabang perusahaan Megacitra Ajisaka di sana. Aku rasa itu sudah cukup." jelas Delon panjang lebar dan cepat.


"Jika seperti itu ceritanya. Kenapa tidak ada informasi tentang mereka? Dari mana kau mendapatkan informasi itu?" heran Anjas. Dia baru mengetahui hal itu.


"Itu karena Bos Fedrian tidak pernah mengekspos itu. Yang tahu hanya anggota keluarga Ajisaka saja. Aku tahu dari bos Herino yang sering cerita soal mereka jika pulang dari Macau." jawab Delon cepat.


"Baiklah aku akan memeriksa hal itu. Jadi kau boleh pergi." ujar Anjas.


"Benarkah? Terima kasih..." Delon segera beranjak dari tempatnya. Melangkah keluar ruangan. Tapi saat Delon baru ingin membuka pintu. Anjas melempar pisau tepat di kepala Delon.


"Sama-sama." balas Anjas tersenyum.


Melangkahi mayat Marvin. Anjas menghampiri Miguel. Tanpa tanya lagi Anjas menikamnya tepat di jantung.


"Silahkan menikmati pesta kalian di alam baka." Anjas membawa semua mayat pergi dari klub malam.


Tujuannya selanjutnya adalah pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara. 30 menit Anjas sampai di pelabuhan. Dia menyewa speed boat ukuran sedang untuk pergi ke laut. Kira-kira sekitar 50 km dari pinggir pantai. Dengan santainya dia mengendarai speed boat itu. Saat sampai tujuan dia berhenti sejenak.