
Sepulangnya dari Mall Ciputra. Anjas meninggalkan Maryam dan Rahmi di apartemen. Dia berniat mengantar mobil yang dia beli pada ayahnya. Yaitu Mercedes Benz warna hitam. Sebenarnya mobil itu akan diberikan saat ulang tahun ayahnya di bulan depan. Tapi dia rasa lebih baik diberikan sekarang.
Jadi sore itu Anjas kembali ke markas geng The FALCON. Keadaan markas masih sama tidak terlalu sepi. Karena selalu ada anggota geng yang berjaga di depan pintu masuk dan di beberapa di dalam markas. Salah satunya adalah Opan. Selain Opan juga ada anggota yang sering datang ke markas yaitu Gilang. Usianya 23 tahun dan bekerja sebagai ojek online. Dia sering jadikan markas tempat mangkal menunggu orderan.
"Wah ternyata JKT48 sedang meet & great di Mall Ciputra tadi siang. Haduh kok aku ketinggalan info yah. Padahal aku ingin melihat Oshi ku Fiony. Jika aku pergi sekarang paling acara itu sudah selesai." celetuk Gilang dengan wajah murung.
Mendengar celetukan Gilang Anjas teringat dengan acara di Mall Ciputra tadi. Ini membuat Anjas semakin penasaran dengan para idol grup lokal itu. Tapi dia sisihkan untuk sementara.
Sekarang dia langsung menghampiri ayahnya untuk memberitahu bahwa dia punya hadiah untuk ayahnya. Ayahnya sedang duduk di sofa yang biasa diduduki oleh Justin.
"Ayah. Aku punya sesuatu untukmu. Ayo ikut aku ke luar markas." ajak Anjas.
"Apa itu nak?" ayah Anjas beranjak dari duduknya lalu mengikuti Anjas. Ibu Anjas yang juga penasaran dengan sesuatu itu pun juga mengikuti.
Sampai di depan markas. "Ini untuk ayah." ujar Anjas sambil menunjukkan sebuah mobil Mercedes Benz warna hitam.
"Astaga inikan mobil impian ayah. Kau membeli ini untuk ayah nak?" seru ayahnya sangat senang.
"Iya ayah ini untukmu. Sebenarnya aku akan berikan saat ulang tahun ayah. Tapi aku rasa itu kelamaan." jawab Anjas. Dia tersenyum melihat ayahnya senang.
"Kau sangat perhatian dengan keluarga nak. Terima kasih nak." ujar ibunya yang juga senang.
"Terima kasih nak. Ayah sungguh berterima kasih." ucap ayah Anjas langsung memeluk anaknya. Walaupun bukan anak kandung. Tapi sudah dianggap anak kandung.
Anjas hanya membalas memeluk. Setitik air mata jatuh dari sudut mata Anjas. Dia selama ini harus bekerja keras untuk mencari uang agar ayahnya sembuh. Merasa semua ini adalah anugerah. Takdir yang membawa dia ke dalam keluarga yang sangat menyayangi dirinya. Kini tekad Anjas semakin besar untuk terus melindungi keluarga dan orang yang ada di sekitarnya.
Beberapa saat kemudian setelah mereka mencoba mobil. Mereka masuk ke markas lagi. Di sofa tadi, Anjas mendiskusikan tentang kapan mereka akan melakukan pindah rumah. Secara mereka sudah memiliki rumah baru.
"Rencananya kita akan mengambil beberapa barang penting di rumah lama. Lalu segera pergi ke rumah baru lusa nanti. Pas kan lusa hari libur nasional. Jadi jalan tidak ramai." ujar ayah Anjas.
"Baik. Kalau begitu nanti beberapa temanku yang akan mengantarkan kalian ke rumah lama. Akan aku arahkan mereka. " balas Anjas menyetujui.
Mereka tidak sadar ada yang menguping pembicaraan mereka. Orang itu adalah Julia. Dengan pindahnya keluarga Anjas. Membuat Julia sedikit tidak rela. Lalu dengan keberaniannya Julia keluar dari balik pintu ruangan istirahatnya yang memang dekat dengan sofa.
"Boleh aku juga ikut tinggal dengan kalian? Aku dan kakakku hanya tinggal di markas ini hampir setiap hari. Kami tidak pulang ke rumah karena sedang berbeda pendapat dengan orang tua kami. Jadi bisakah aku ikut?" ujar Julia dengan cepat memotong pembicaraan.
Adela, Ibu Anjas yang tahu maksud Julia langsung menyetujui itu. Julia menyukai Anjas dan Adela menyukai Julia.
"Bisa nak Julia. Kau bisa menjadi teman Anin nanti. Dia sering sendirian di rumah. Jarang ada teman yang datang. Anin akan senang jika kau tinggal bersama kami." jawab ibu Anjas mengangguk dan tersenyum.
Anjas mendengar jawaban ibunya hanya ternganga. Dia ingin membantah tapi tidak bisa. Karena sudah didahului oleh pernyataan setuju dari ayahnya.
"Ayah setuju. Anjas akan sibuk dengan kafenya. Jadi Anin bisa ditemani oleh Julia." tambah ayah Anjas.
"Terserahlah." gumam Anjas pasrah.
Sedikit berbincang sebentar dengan kedua orang tuanya. Setelah itu Anjas pergi. Kembali ke apartemen miliknya.
Malam ini dia berniat meretas server kepolisian. Untuk mencari bukti kejahatan yang pernah dilakukan oleh Vino.
Sesampainya di apartemen. Anjas disambut oleh Maryam dan Rahmi yang baru saja selesai mandi dan menyiapkan makan malam. Mereka makan malam bersama. Rahmi sedikit canggung. Karena dia hanya menumpang. Sedangkan Maryam adalah pacar Anjas yang memang tinggal di apartemen itu.
Setelah makan Anjas langsung masuk ke kamarnya untuk memulai rencananya. Tidak lupa dia memberi tahu Maryam dan Rahmi agar tidak menggangunya dengan alasan sedang sibuk.
"Paham mas." jawab Maryam dan Rahmi bersamaan.
Segera Anjas masuk ke kamarnya. Dia tidak mengunci pintu agar Maryam atau Rahmi perlu sesuatu bisa masuk. Begitu juga sebaliknya.
Tidak berlama-lama lagi. Anjas langsung membuka laptopnya. Karena dalam keadaan sleep mode otomatis. Ketika dibuka laptop itu langsung menyala. Aksi hacking dilakukan Anjas tanpa pikir panjang lagi. Kali ini dia harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meretas server kepolisian. Server kepolisian memiliki banyak program perlindungan. Juga banyak ahli yang berpengalaman dalam bidang pemrograman.
"Hehehe ternyata mereka sudah memasang jebakan untuk para penyusup. Tapi aku segampang itu untuk dilacak." gumam Anjas tersenyum lebar.
Anjas melakukan trik yang belum pernah dilakukan oleh para hacker mana pun. Tiga teknik hacking sekaligus digunakan oleh Anjas. Anjas menyuntikkan virus komputer dan Trojan ke bug yang menjadi perangkap. Untuk mengalihkan perhatian para programmer di kepolisian. Saat berhasil mengalihkan perhatian Anjas masuk ke server kepolisian dengan teknik back door. Di mana teknik ini sangat tersembunyi.
Anjas tersenyum lebar saat dia berhasil masuk ke dalam server kepolisian. Tidak diketahui oleh siapa pun. Bahkan dilacak pun tidak akan bisa. Karena Anjas sudah melakukan penyamaran data. Jadi saat para programmer di kepolisian selesai mengatasi virus dan Trojan yang dia kirim. Sistem pelacakan mereka tidak bisa melacak siapa yang mengirim virus dan Trojan itu.
Sementara itu di sebuah kantor Mabes polri. Seorang pria paruh baya berusia 47 tahun. Baru saja mendapatkan laporan dari bawahannya bahwa server milik kepolisian baru saja diserang virus dan Trojan. Tapi sudah diatasi oleh para programmer dari kepolisian.
"Baik. Terima kasih laporannya." pria itu menutup telepon.
Dia adalah Kombespol Harianto. Orang yang bertanggung jawab dalam tindak kriminal dunia Maya. Dia Kombes termuda di Mabes polri sekarang.
"Mungkin itu hanya hacker iseng yang mencoba membobol server kepolisian." benak Harianto. Tidak menaruh curiga.
Kembali ke Anjas. Dia sedang asik mencari beberapa kasus tabrak lari. Yang terjadi di dalam kota maupun di kota sekitar Jakarta. Dari ratusan kasus. Anjas mendapatkan lima bukti kejahatan tabrak lari yang melibatkan keluarga Arlando. Pelakunya bukan lain bukan tidak adalah Vino Arlando. Tapi kasus itu ditutup karena korban sudah diberikan kompensasi.
"Mereka selalu menggunakan uang untuk kepentingan pribadi. Tapi sekarang mereka sedang tidak bisa melakukan hal itu lagi. Kau akan mendapatkan hukuman yang setimpal Vino." Anjas mengcopy paste semua bukti itu. Untuk diselidiki lagi.
"Tok.. tok.. tok.." tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Siapa?" tanya Anjas.
"Ini Maryam mas." jawab orang dibalik pintu.
"Masuklah." Anjas memberi izin. Saat itu juga semua bukti sudah selesai disalin.