
"Bagaimana? Kau dapat tempat itu?" tanya Herino di seberang telepon. Suara dingin terdengar.
"Tyo masih tidak dapat dipaksa secara halus." jawab Antonio.
"Kalau begitu paksa secara kasar. Akan aku kirim orang besok." tanggap Herino.
"Baik saya akan tunggu bos." lalu telpon ditutup oleh Herino.
Sesampainya di Toko. Anjas sudah melihat Dendi sedang menunggu di depan toko. Gerobak yang biasa dibawa Dendi juga ada di sana.
"Maaf aku terlambat. Kakak harus mengunjungi lokasi untuk kafe kakak nanti. Jadi ke sana dulu." alasan Anjas pada Dendi saat tiba.
Jam masih menunjukkan pukul 9 pagi. Dendi sudah menunggu dari jam 7 pagi. Tapi tidak masalah bagi Dendi.
"Tidak apa-apa kak. Oh iya ini gerobak untuk apa?" tanya Dendi penasaran.
"Gerobak itu untuk kau latihan nanti. Sekarang kau bawa gerobak dan ikuti kakak ke lapangan voli di kompleks belakang toko." jawab Anjas yang langsung berlari.
Tempat yang dimaksud Anjas hanya sekitar 200 meter dari toko. Lapangan yang kecil. Hanya seluas 10x7 meter saja. Tapi itu cukup untuk tempat latihan. Di sana juga ada beberapa batu bekas pembangunan proyek yang menumpuk.
"Sangat kebetulan sekali." gumam Anjas saat tiba di lapangan voli.
Anjas tidak merasa lelah. Tapi Dendi yang mengikuti dari belakang sudah ngos-ngosan. Biasanya dia hanya mendorong gerobak hanya dengan berjalan. Tapi sekarang dia berlari yang membuatnya mengeluarkan tenaga lebih.
"Kita akan latihan di sini kak? Hah... Hah..." tanya Dendi masih dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
"Iya. Sekarang kau angkat semua batu itu. Taruh di dalam gerobak itu." perintah Anjas tegas.
"Baik kak." walaupun masih letih Dendi langsung melakukan apa yang diperintahkan Anjas.
Mulai satu persatu batu di angkat dan ditaruh ke dalam gerobak sampah. Yang biasa dia bawa untuk memulung. Ada sekitar delapan batu yang berukuran cukup besar dan dua yang berukuran kecil.
Setelah itu Anjas memerintahkan Dendi untuk mendorong gerobak itu memutari lapangan voli sebanyak 50 putaran. Tanpa banyak bicara Dendi langsung melakukan hal itu.
Tapi baru empat putaran Dendi sudah menyerah. Itu karena berat gerobak itu sudah melewati kapasitas berat yang mampu didorong Dendi. Apalagi sebanyak 50 putaran.
"Oke kita istirahat dulu. Tapi selanjutnya harus lebih dari yang tadi." kata Anjas. Dia kasihan juga tapi itu untuk menguji fisik. Sekaligus mencari tahu ketahanan Dendi sampai mana.
"Oke lanjut lagi." baru tiga menit Anjas sudah menyuruh Dendi melanjutkan mendorong gerobak lagi.
Mau tidak mau Dendi harus melakukan itu. Karena perintah Anjas sebagai pelatihnya sekarang.
Selama tiga jam barulah Dendi menyelesaikan tugas. Untuk mendorong gerobak mengelilingi lapangan voli sebanyak 50 putaran. Tentunya tenaga Dendi terkuras hebat. Dia terbaring di pinggir lapangan voli dengan keringat yang membasahi baju yang dia pakai.
"Oke latihan hari ini selesai. Ayo kembali ke toko." ajak Anjas.
Hal yang Anjas lakukan selama Dendi mendorong gerobak adalah ikut berjalan di sebelah Dendi. Dia tidak santai-santai saja.
"Tunggu sebentar kak. Hah... hah... istirahat dulu." sahut Dendi. Masih terbaring.
"Ambil ini. Itu bagus untuk latihan ini." Anjas berjongkok di sebelah Dendi. Dia memberikan dua buah pil. Pil berwarna jingga yang adalah pil Penguat Raga Jasmani dan pil berwarna krem keemasan adalah pil Penguat Sumsum Tulang.
"Apa ini kak? Obat?" dia mencium bau herbal dari dua pil itu.
"Yah bisa dibilang begitu. Itu agar kau tidak cedera juga saat latihan." jawab Anjas. Dia bingung mau bilang apa. Jadi dia asal jawab saja yang penting masuk akal.
"Oh okeh." tanpa bertanya lagi Dendi langsung menelan kedua pil itu.
Semenit kemudian Dendi merasakan bahwa tenaganya kembali pulih. Juga rasa nyeri di tulang juga hilang.
"Wah benar berkhasiat yah." Dendi berdiri dengan kokoh.
Perubahan sedikit terjadi pada tubuh Dendi. Beberapa bagian tubuh khususnya tulang sudah diperbaiki. Dia tidak lagi terlihat bungkuk. Sekarang lebih tegap dan bertambah tinggi.
Anjas yang tidak mau gerobak untuk latihan itu hilang atau dicuri. Maka dia menyimpan gerobak itu ke dalam cincin giok penyimpanan. Hal itu membuat Dendi terkejut. Tapi dia diam saja walaupun penasaran. Nanti dia akan tanyakan pada Anjas.
"Besok akan kakak kasih lagi. Sekarang kita kembali ke toko. Buat bersihin tubuh. Kau berkeringat sekali." ucap Anjas yang mulai berlari. Dendi hanya mengikuti saja.
Sementara itu seorang pria berperawakan tinggi dan berotot kekar. Baru saja keluar dari pesawat terbang. Dia baru saja tiba dari China.
Dengan tatapan tajam yang sedikit sipit dan sebuah luka goresan pedang di pipi kirinya. Membuat orang takut melihatnya. Dia juga menggunakan baju serba hitam. Mulai dari baju, jaket, celana dan kacamata juga hitam.
Hp android di tangannya berdering. Lalu dia angkat panggilan telepon itu. Dia tahu siapa orang yang menelpon.
"Aku sudah tiba. Kirim identitas orang itu dan alamat tempat tinggal dan tempat kerja. Aku akan selesaikan secepatnya." setelah berkata demikian pria itu menutup telepon.
Ya. Dia adalah pembunuh bayaran yang dikirimkan oleh mafia yang ada di Macau. Dia dibayar sebesar 15 juta Yuan untuk membunuh sasarannya yang tidak lain adalah Anjas.
Anjas yang sudah merusak bisnis Human Trafficking Ruben. Diketahui oleh orang yang ingin membeli seratus anak dari Ruben. Yun Jiang yang mengirim si pria pembunuh bayaran yang bernama Ren si Raja Belati.
Setelah mendapat kiriman data dari orang yang mengirimnya. Ren langsung menaiki taksi yang ada di luar bandara.
Kembali ke Anjas.
Setelah membersihkan diri Anjas dan Dendi langsung melakukan pekerjaannya menjaga toko. Maryam juga sudah datang setelah jam lebih awal dari jam kerja.
Anjas yang berniat pergi. Tidak jadi karena Justin, Julia dan beberapa anak buahnya datang ke toko. Mereka datang menggunakan tiga mobil sport kali ini.
"Maaf mengganggu ketua." sapa Justin saat tiba.
"Ada apa?" tanya Anjas.
"Ada yang mau bertemu dengan ketua di markas geng kita." jawab Justin cepat.
"Siapa?" Anjas tidak penasaran tapi jika ada tamu pasti dia ladeni.
"Orang yang kemarin mengajak duel ketua. Dia Jordan ketua geng Metal Sins. Dia berniat melakukan aliansi dengan geng kita." jelas Justin.
"Menarik. Akan aku temui dia." Anjas pun pergi bersama Justin. Justin menggunakan mobil sport merek Mitsubishi Lancer Evo VIII. Berwarna hitam dengan stiker api di kedua sisi mobil.
Sedangkan Julia menggunakan Skyline GT-R R34 berwarna kuning stabilo polos. Walaupun anak gadis Julia juga suka otomotif.
Sampai di depan markas The FALCON. Yang adalah sebuah gudang yang di rombak dan renovasi menjadi markas. Markas itu di penuhi oleh anggota geng The FALCON dan anggota geng Metal Sins. Kira-kira ada tujuh puluh orang lebih yang terkumpul dalam markas yang lumayan besar dan luas itu.
Anjas, Justin dan Julia disambut oleh anggota mereka. Sedangkan Jordan, Dion dan satu lagi petinggi geng Metal Sins nomor tiga Hengky. Telah menunggu mereka di meja panjang yang disiapkan oleh Justin.
Anjas duduk di seberang mereka. Mengangkat tangan dan menyapa.
"Apa kabar bro? Sehat?" sapa Jordan yang sangat santai. Kali ini rambutnya pirang biru. Karena yang sebelumnya pirang kuning.