
"Kau di rumah sakit mana sekarang? Kakak akan ke sana." kata Anjas sambil berjalan keluar toko.
"Di rumah sakit Husada kak." jawab Dendi cepat.
Tanpa banyak tanya lagi. Dengan Lamborghini Gallardo merah. Dia melaju di jalanan raya. Walaupun sedikit padat jalannya. Anjas masih bisa melaju kencang.
Tanpa disadari Anjas sudah melanggar batas normal kecepatan di jalan yang dia lewati. Otomatis sekarang dia sudah diikuti oleh mobil polisi. Tapi tidak dihiraukan oleh Anjas.
Jarak toko dan rumah sakit itu cukup jauh dari pada rumah sakit di mana ayah Anjas dirawat. Jadi lebih lama sampai. Sekitar 45 menit Anjas sampai di sana.
Saat Anjas masuk ke UGD. Dia langsung melihat Dendi di sebelah satu ranjang. Di atas ranjang ada seorang wanita paruh baya berusia sekitar 40-an. Dia masih tertidur. Terlihat ada perban di kepala dan tangan kanannya. Juga infus di tangan kirinya.. Segera Anjas menghampiri mereka.
"Dendi. Bagaimana keadaan ibumu? Bagaimana bisa kecelakaan?" sapa Anjas di sebelah Dendi.
"Eh kak Anjas. Ini terjadi tadi pagi. Ibu baru pulang dari pasar. Saat menyebrang jalan di sebuah perempatan. Ada mobil yang melanggar lalu lintas, menerobos lampu merah. Ibu ditabrak dan yang menabraknya kabur. Aku tahu dari polisi yang mengantar ibu ke rumah sakit." jelas Dendi.
"Tabrak lari rupanya. Apa ada saksi di sana?" tanya Anjas.
"Tidak tahu kak. Aku hanya ditelepon oleh polisi kalau ibu sudah ada di rumah sakit karena kecelakaan tadi." jawab Dendi.
"Ini harus dilaporkan. Dia sudah melanggar lalu lintas. Juga melakukan tabrak lari. Melihat ibumu seperti ini. Mungkin dia tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari lagi." ujar Anjas dia merasa kasihan.
Anjas lalu permisi sebentar ke Dendi. Dia menuju resepsionis berniat membayar biaya rumah sakit ibunya Dendi. Saat dia menanyakan berapa biayanya.
"Semua jadi 800 ribu mas. Itu sudah sama obat dan infus untuk ibu Tina." jawab si resepsionis.
"Oke aku bayar dengan kartu." Anjas menyerahkan kartu debit kepada si resepsionis. Anjas kenal dengan ibunya Dendi dan sudah pernah bertemu. Ibu Dendi bernama Tina Rianka.
Setelah membayar biaya rumah sakit. Anjas pergi ke kantin di rumah sakit itu dan membeli 2 nasi bungkus. Dendi pastinya belum makan karena dia menjaga ibunya dari pagi.
Kembali ke UGD. Anjas mengajak Dendi makan dulu. Biar tidak lemas. Mereka makan di samping ranjang ibunya Dendi.
"Kakak akan bantu mencari siapa pelakunya. Biar dia bertanggung jawab atas perbuatannya. Terlebih lagi tangan ibumu sampai patah dan memar di kepala. Itu sangat bahaya." ucap Anjas saat selesai makan.
"Ini akan sulit kak. Di jalan itu tidak ada CCTV sama sekali. Karena lampu lalu lintas di sana model lama dan tidak dipasang CCTV. Jadi polisi tidak menemukan bukti untuk mencari pelaku. Itu yang dikatakan oleh polisi." sambut Dendi.
"Tidak masalah kakak punya cara sendiri. Aku akan pastikan dia tertangkap." tanggap Anjas dengan keputusannya.
Bukan hanya merasa iba dan kasihan. Tapi karena juga ada notifikasi misi sistem yang muncul.
[Bing! Misi sistem: Bantu menuntaskan kasus tabrak lari. Tangkap pelaku yang sudah sering melanggar hukum tabrak lari. Waktu 1 pekan. Hadiah 4 kotak Perunggu.]
"Baiklah Den. Kakak pulang dulu. Soal biaya sudah kakak urus. Kamu tinggal jaga ibumu saja. Nanti telepon kakak kalau perlu sesuatu." pamit Anjas.
Sekarang niatnya ingin membeli sesuatu yang bisa membantu mencari sesuatu. Juga ingin kembali ke markas geng The FALCON. Dia harus mencari bukti untuk menuntut pelaku tabrak lari.
Orang yang tidak bertanggung jawab itu harus dihukum. Setidaknya dia membawa korban ke rumah sakit segera. Bukan pergi begitu saja.
Anjas menuju ke Ratu Plaza. Yang dia tahu di sana ada tempat menjual laptop bagus. Sesampainya di sana Anjas langsung masuk ke salah satu toko yang menjajakan laptop.
"Ada yang bisa dibantu mas?" sapa si wanita.
"Aku mau beli laptop yang paling bagus. Tapi mudah dibawa kemana pun. Lengkap dengan peralatan pendukungnya." jawab Anjas yang sedang melihat beberapa laptop yang terpajang rapi di rak.
"Kami memiliki laptop model terbaru yang baru saja datang. Kapasitas RAM dan memori juga besar. Juga ringan untuk dibawa dan Software yang lengkap. Tentunya dengan harga yang bagus juga." tawar si wanita.
"Bisa saya lihat laptop yang mbak maksud?" minta Anjas.
"Tentu. Ke arah sini mas." mereka bergeser ke salah satu etalase kaca.
"Ini adalah HP 14S-DK0126AU menggunakan kartu grafis AMD dengan tipe kartu grafis Radeon Vega 3 Graphics memiliki kapasitas penyimpanan RAM 8 GB dan kapasitas HDD sebesar 1 TB, memiliki tampilan ukuran layar 14 inci dengan resolusi layar 1920 x 1080 pixel, memiliki bobot mencapai 1.47 kg dengan dimensi 342 x 225.9 x 19.9 yang terdapat baterai 3 cell, 41 Wh dengan ketahanan baterai selama 9 jam, laptop ini berharga Rp. 6.949.000." kata si wanita menunjuk sebuah laptop berwarna silver cerah. Yang terlihat elegan dan mewah.
"Aku ambil yang itu saja." tanpa tanya lagi Anjas langsung tertarik dan membeli laptop itu.
"Baik mas. Mau pakai kartu atau tunai?" si wanita bertanya.
"Kartu saja. Aku juga mau beli Hardisk eksternal dengan kapasitas 1 Tb kalau ada." jawab Anjas. Menambah barang yang dia inginkan.
"Oke ditunggu mas. Saya akan segera kembali." si wanita masuk ke sebuah pintu di dekat etalase kaca. Yang mungkin itu adalah gudang penyimpanan.
Keluar dari gudang si wanita membawa box laptop berukuran 60x50 cm yang memiliki pegangannya seperti koper. Juga beberapa tiga box lain dengan ukuran kecil. Tiga box itu berisi headphone, mouse dan hardisk eksternal yang diminta Anjas tadi.
"Baiklah mas. Ini barangnya jika ditotal semuanya menjadi Rp.8.549.000." si wanita menulis nota dan alat untuk membayar. Langsung dibayar Anjas saat itu juga.
Beberapa menit kemudian Anjas sudah melaju lagi di jalanan. Menuju markas geng The FALCON. Di markas itu sudah memiliki fasilitas WiFi yang jaringannya lumayan baik.
Sesampainya di markas. Markas itu tampak sepi. Anjas hanya mendapati Opan yang berjaga di luar markas. Di dalam markas juga sepi.
"Bu! Ayah! Anin! Kalian di mana!?" seru Anjas sambil menaruh barang yang dia bawa ke meja besar. Meja yang pernah menjadi saksi geng The FALCON dan Metal Sins menjadi aliansi.
"Maaf ketua. Saya ingin kasih tau tadi setelah makan ibu ayah dan adik ketua sedang keluar berbelanja di Mall. Mereka pergi dengan wakil ketua Justin dan mbak Julia juga." Opan datang menghampiri Anjas karena mendengar seruan tadi.
"Oh baiklah Pan. Makasih infonya. Ini buat kamu buat beli rokok. Tolong jaga markas dan kasih tahu aku kalau ada yang datang." ujar Anjas sambil memberikan uang lima puluh ribu pada Opan.