
Singkat cerita. Keesokan harinya.
Anjas yang baru saja keluar dari kamarnya. Sudah disambut oleh kelima murid yang dia tolong dari murid padepokan Tinju Langit. Mereka ingin berterima kasih juga ingin berguru kepada Anjas. Sehingga mereka berlutut di hadapan Anjas agar bisa diajarkan teknik beladiri yang Anjas ajarkan selain teknik Macan Putih. Dendi juga heran dengan sikap Jefri. Mereka kemarin sangat meremehkan dia dan gurunya Anjas. Tapi sekarang mereka yang bermohon kepada Anjas untuk diajarkan teknik beladiri.
"Kami mohon guru." kata Jefri yang sudah lebih dulu berlutut.
"Berdiri. Aku tidak suka melihat orang berlutut padaku. Baiklah. Aku akan mengajarkan teknik beladiri. Tapi tidak sama dengan yang aku ajarkan pada Dendi. Aku akan ajarkan beberapa teknik beladiri pedang pada kalian. Apa kalian mau?" balas Anjas dengan wajah yang tegas.
"Apapun yang diajarkan akan kami terima. Terima kasih Guru Anjas." serentak mereka mengatakannya.
"Baiklah kalau begitu. Kalian ikuti aku dan Dendi." mereka pun pergi meninggalkan padepokan setelah sarapan.
Anjas membawa mereka ke Curug kemarin. Di dekat Curug itu ada sebuah tanah agak lapang. Jadi mereka pun berhenti di tempat itu.
Lalu Anjas mengeluarkan lima pedang kayu dari cincin giok penyimpanan. Pedang itu dia beli dari shop sistem. Dia sempat terpikirkan saat di perjalanan ke Curug.
Kelima murid itu ternganga melihat itu. Soalnya yang mereka lihat adalah sesuatu yang pernah diceritakan oleh guru Gatot. Yaitu penggunaan giok ajaib. Di mana giok itu dibuat untuk menyimpan barang. Juga memiliki luas ruang tak terbatas.
"Guru, apakah itu adalah cincin giok?" tanya Asep yang masih penasaran.
"Benar. Ini cincin giok penyimpanan." jawab Anjas.
"Luar biasa! Guru Anjas memiliki benda paling langka dan ajaib di dunia! Benda itu hanya pernah dimiliki oleh para raja terdahulu. Beberapa hilang dan beberapa ada di museum. Tapi ada juga dimiliki oleh para kolektor barang antik. Jika dijual bisa sampai miliaran rupiah harganya." jelas Asep yang memang memiliki banyak informasi tentang benda gaib.
"Aku membelinya dari seorang kolektor barang antik. Hanya 2 miliar rupiah harganya." jelas Anjas agar mereka tidak curiga dengan asal usul cincin giok penyimpanan miliknya.
"Baiklah mari kita lanjutkan latihan. Ambil masing-masing satu pedang kayu itu. Aku akan memperagakan beberapa teknik dasar berpedang." ujar Anjas.
Yang Anjas ajarkan adalah Teknik Pedang dari Jepang dan Teknik Golok dari Indonesia. Semua teknik itu sudah tingkat master semua. Hingga tidak ada yang bisa menyaingi teknik-teknik itu.
Karena fisik Jefri dan kawan-kawan sudah dilatih. Mereka bisa menerima ajaran Anjas. Terutama Jefri yang hampir bisa mengikuti semua peragaan teknik yang Anjas tunjukkan.
Sejam lebih mereka terus menerus mengikuti semua gerakan Anjas. Setelah Anjas rasa mereka bisa melakukan sendiri baru Anjas membiarkan mereka berlatih sendiri.
"Dendi sekarang giliranmu. Aku akan mengajarkan beberapa teknik baru." ajak Anjas. Sementara Dendi terlihat sedang duduk bersila.
"Baik Guru." Dendi langsung berdiri dan mengikuti Anjas ke sisi yang lain.
Anjas pun mengajarkan 5 teknik baru dari setiap beladiri yang dia ajarkan pada Dendi. Yaitu Karate dan Muaythai Legendaris.
Mendapatkan ilmu baru. Dendi sangat konsentrasi untuk berlatih. Seperti biasanya Dendi masih bisa mengikuti semua teknik baru itu dengan cepat paham dengan semua gerakan. Lalu Anjas juga membiarkan Dendi melatih semua gerakan teknik.
Mereka berlatih hingga siang hari. Karena Anjas memiliki janji untuk membuat ramuan. Maka dia kembali ke padepokan Macan Putih lebih dulu. Meninggalkan Dendi, Jefri dan kawan-kawan terus berlatih teknik masing-masing.
Di perjalanan ke padepokan. Sekali lagi Anjas merasakan ledakan energi alam dari seseorang. Tapi yang mengherankan adalah seseorang itu menuju ke arahnya. Makanya Anjas berbelok arah tidak lagi menuju ke padepokan yang ada di timur laut dari Curug. Tapi dia berbelok ke arah Utara.
"Siapa gerangan yang ingin mencariku. Tidak ada satu pun orang yang tahu aku di sini. Atau orang yang mungkin sudah aku singgung." pikir Anjas. Dia mengingat para murid padepokan Tinju Langit kemarin.
Hingga sampai pada sebuah tebing. Anjas berhenti dan menunggu orang yang mengikutinya.
"Apakah kau dari padepokan Macan Putih anak muda?" tanya si pria itu.
"Iya. Aku adalah salah satu guru di padepokan Macan Putih. Ada urusan apa anda mengikutiku?" setelah Anjas mengatakan itu. Anjas langsung mereka kembali ledakan energi alam yang kuat dari pria itu.
Kalau orang lain mungkin sudah lemas dan tidak bisa bergerak. Tapi tidak dengan Anjas. Dia pun mengeluarkan energi yang sama. Bahkan mungkin yang lebih kuat dari milik si pria itu.
"Aku tidak pernah melihat kau di daerah ini. Apakah kau seorang pendatang?" si pria bertanya lagi tapi mulai berjalan pelan.
"Aku dari Jakarta. Sekali lagi aku tanya apa urusanmu?" balas Anjas datar.
"Ternyata benar. Kau orang yang telah mematahkan kaki para murid padepokan Tinju Langit.
[Terdeteksi aura dosa tingkat tinggi dari pria di depan anda. Lenyapkan orang yang memiliki aura dosa yang menyebar di sekitar anda. Hadiah Exp +500.]
"Akhirnya aku bisa menaikkan level lagi. Level 6 aku datang." pikir Anjas senang.
"Para murid kurang ajar itu kalah dalam taruhan makanya mereka sudah mendapatkan hasilnya sendiri. Tidak ada yang salah kan?" balas Anjas yang terlihat meremehkan si pria.
"Namaku Jaya Karso. Guru terkuat di padepokan Tinju Langit. Salah satu murid yang kau patahkan kakinya ada anakku yang sekaligus murid kesayanganku. Namanya Wardono Karso atau Dono. Sekarang kau harus merasakan apa yang dirasakan oleh Dono!!" teriak Jaya pada Anjas yang mana terlihat tidak memperdulikannya.
"Ah aku ingat, si sombong itu yah? Dia memiliki banyak teknik yang mematikan. Tapi sayangnya dia masih sangat lemah. Jadi aku pikir gurunya juga lemah." Anjas memulai provokasi Jaya. Juga ekspresi wajah Anjas saat ini terlihat sangat menyebalkan.
"Kurang ajar kau! Aku akan buat kau bersujud di depan muridku! Bersiaplah untuk mati!" pekik Jaya yang sudah tidak bisa lagi menahan emosi yang dia tahan dari tadi.
Tidak lama kemudian Jaya lalu maju menerjang Anjas. Gerakan Jaya sangat cepat. Mungkin bisa menyaingi kecepatan Anjas. Tidak tinggal diam. Anjas juga menerjang Jaya.
"DUANG!" dua tinju saling bertemu. Anjas sudah mengaktifkan kemampuan Tubuh Manusia Besi.
"Kau lumayan juga pak." ejek Anjas. Hal itu membuat Jaya semakin marah.
"Kurang ajar kau!!" balas Jaya.
Lalu tanpa berlama-lama. Serangan Jaya berlanjut. "Dang! Dang! Deng! DUANG! Bang!" mereka berdua saling melancarkan serangan. Pukulan dan tendangan keras saling beradu dan semakin keras.
Walaupun terlihat tidak sepadan. Karena terlihat seperti pria berusia 40 tahun yang sedang menyiksa seorang pemuda. Dengan serangan beladiri tenaga dalam. Tapi beberapa serangan yang terlihat berhasil dihindari Anjas.
"Wuuuuzzz DUAK!" serangan kuat Anjas berhasil membuat Jaya sedikit oleng. Tapi masih bisa tersadarkan.
"Apa cuma itu yang bisa dilakukan oleh guru padepokan Tinju Langit?" ejekan spontan keluar dari mulut Anjas.
"Dasar sialan!" amarah Jaya pun memuncak. Ledakan energi alamnya kini lebih besar dan kuat dari sebelumnya.
"Hahahaha aku juga bisa!" Anjas pun memperlihatkan ledakan energi alam miliknya. DUARR! Jika ada orang yang mengerti energi alam. Orang itu akan melihat sebuah bola api raksasa yang mengelilingi tubuh Anjas. Sedangkan dari tubuh Jaya hanya aura alam berwarna hitam pekat.
"Mati kau!" Setelah mengatakan itu Jaya sekali lagi menerjang Anjas.