CHEL

CHEL
Bab 33



Anjas digiring masuk ke dalam gedung. Mereka membawa Anjas ke Roof top. Di sana ada tempat berupa gazebo kayu. Beratapkan seng transparan. Di sekeliling gazebo sudah ada lebih banyak orang. Sedangkan di dalam gazebo Seorang pemuda berambut panjang. Sedang duduk di kursi santai jus lemon di atas meja. Itu adalah Tanjung dan gengnya Snaky. Mereka sudah menunggu Anjas.


Jika ditambah dengan orang yang menggiring Anjas. Mereka semua berjumlah Lebih dari 50 orang. Tapi Anjas tidak takut di berjalan santai menuju gazebo.


Saat dari lift Anjas sambil memeriksa statusnya.


"Buka status." benak Anjas.


[Nama \=> Anjas Rahadi ]


[Kesehatan \=> 100% (Sehat)]


[Level \=> 3/100 (335/450 - exp)]


[Keahlian \=> Karate Legendaris, Muaythai Legendaris, Mengemudi Super, Mekanik Super, Pemusik Super, Teknik Belati Api,Teknik Pedang Legendaris, Teknik Ilusi mental,]


[Kekuatan \=> 135]


[Kecepatan \=> 100]


[Ketahanan \=> 135]


[Kecerdasan \=> 185]


[Item Yang Digunakan: Sarung Tangan Petarung, Cincin Tak Kasat Mata, Cincin Giok Penyimpanan,]


[Mental \=> 99% (Sehat)]


[Saldo rekening \=> Rp.1.201.711.064.000]


[Poin Sistem \=> 112.730]


[Status Hubungan \=> Pacaran]


[Inventori \=> Berisi barang kebutuhan pemilik sistem.]


[Tiket lotre \=> 0 Tiket Lotre ]


[Misi \=> - Misi: Membeli gedung berlantai lima. Waktu 3 hari. Hadiah 3 kotak Perunggu dan 5 kotak Normal. ]


[Shop \=> Shop terbuka. Menyediakan berbagai macam hal.]


"Selamat datang Anjas. Ketua baru The FALCON!" seru Tanjung bangkit berdiri. Terlihat menyambut Anjas.


"Selamat datang bro. Akhirnya kita bisa bertemu..." Tanjung ingin membuka percakapan. Tapi...


"Aku masih punya urusan, tidak punya banyak waktu. Aku memberimu waktu 3 menit. Setelah itu aku pergi." Anjas memotong perkataan Tanjung. Anjas sudah terlihat dingin saat mulai bicara. Apalagi berbicara dengan musuhnya.


"Uh kau sungguh dingin bro. Baiklah aku langsung saja katakan. Tunduklah pada kami dan Keluarga Ajisaka. Maka kau dan The FALCON akan kami lepaskan." ekspresi Tanjung berubah saat mengatakan itu.


Anjas merasakan aura kuat dari Tanjung. Tapi karena mental Anjas sedang sehat saja. Maka dia tidak merasa takut sama sekali.


"Jika aku menolaknya, apa yang akan keluarga Ajisaka lakukan?" balas Anjas.


Anjas juga mengeluarkan aura kuatnya. Tanjung terkejut merasakan aura yang hampir sama dengan guru beladirinya dulu. Bahkan bisa dirasakan oleh setiap anggota geng Snaky.


"Kau tidak akan mampu jika keluarga Ajisaka sudah bertindak." Tanjung gengsi. Dia sedikit terpengaruh dengan aura Anjas.


"Aku juga ingin memperingati keluarga Ajisaka. Jika aku sudah bertindak aku yakin mereka tidak akan mampu melawan. Jika mereka tidak mau mendengarkan peringatan ini. Jangan salahkan aku jika keluarga Ajisaka akan hilang dari peradaban." Anjas tidak mau kalah dengan perkataan Tanjung.


"Hahahaha... itupun jika kau lolos dari sini. Habisi dia!" perintah Tanjung.


Langsung saja anak buah Tanjung mengepung Anjas. Lima puluh orang lebih akan mengeroyok Anjas. Anjas yang sudah mengenakan sarung tangan petarung dari tadi. Sudah siap untuk untuk melakukan olahraga pagi.


"Serang dia!" seru satu orang anak buah Tanjung.


"Saatnya beraksi." gumam Anjas tersenyum. Mulai mereka menyerang satu persatu. "Haaaa...!" Bahkan ada dua orang sekaligus. Anjas menyambut serangan dengan pukulan juga.


"BUAK buk bak buk buk!" satu pukulan langsung merobohkan satu orang. Anjas menyerang dengan kecepatan tinggi. Juga menggunakan kekuatan penuh. Sehingga sekali pukul lawannya akan langsung pingsan. Atau remuk pada bagian tubuh yang dipukulnya.


Anjas terus diserang oleh geng Snaky. Yang ditonton oleh Tanjung dari gazebo.


Sementara itu Beno yang sudah menunggu Anjas di depan gang. Belum melihat Anjas tiba. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Waktu yang dijanjikan oleh Anjas. Tapi orang yang membuat janji belum datang juga.




Hingga sembilan kali dia telepon tidak ada jawaban dari Anjas. Hingga dia menggunakan aplikasi untuk melacak nomor telepon Anjas.



Mendapati Anjas berada di sekitar wilayah selatan. Beno berpikir bahwa sahabatnya mungkin sedang ada urusan. Tapi setelah dia memperhatikan lagi titik di mana Anjas berada dia terkejut. Titik itu adalah di mana geng Snaky menggunakan gadung sebagai markas. Sekaligus sebuah klub malam yang dikelola oleh geng itu.



Merasa Anjas dalam bahaya. Dia kembali ke rumah untuk mengambil motor maticnya lalu pergi menuju tempat tersebut.


Kembali lagi ke Anjas. Sekarang keadaan roof top itu sedang tidak baik baik saja. Sudah banyak orang yang terkapar di lantai roof top itu. Mereka samua adalah anak buahnya Tanjung. Mereka semua babak belur. Ada yang tulang lengan patah dan ada yang kakinya patah.


Tanjung juga sudah tergeletak di lantai. Keadaannya juga tidak kalah parah. Rambut panjangnya berantakan dengan wajah yang penuh lebam dan berdarah.Keadaan gazebo kayu porak-poranda. Bahkan ada satu tiang yang patah. Jangan tanya soal jus lemon.


"Uhuk Uhuk Uhuk....! hah hah... Dia... Dia adalah monster..." ujar tanjung yang berusaha untuk bangkit.


Sedangkan Anjas sudah pergi dari sana. Dia keluar dari gedung itu dengan sudut kiri bibirnya berdarah. Dia mendapatkan perlawanan sengit dari Tanjung. Namun masih kalah teknik dengan Anjas.


Di parkiran dia memeriksa HPnya. Soalnya dari tadi berbunyi. Ternyata dari Beno. Saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 8.20.


"Gara-gara mereka aku sampai terlambat dengan urusanku. Hah!" keluh Anjas.


Tapi baru saja ingin pergi. Beno sudah tiba di sana. "Ah seperti De Javu." gumam Anjas saat melihat Beno tiba.


"Bro kau tidak apa-apa?" tanya Beno menghampiri Anjas. Anjas hanya menggeleng kepala.


"Tapi kok bibir kau berdarah? Apa kau sedang berurusan dengan geng Snaky?" heran Beno.


"Aku hanya berolahraga sedikit di dalam. Tapi tenang sudah selesai kok." jelas Anjas. Menaiki motornya. "Ayo jalan." ajak Anjas.


Tanpa penasaran lagi Beno juga menaiki motor. Mereka langsung pergi bersama menuju ke Haery Building. Di mana tempat Tyo berada.



Sesampainya di gedung milik Tyo. Di sana sudah banyak mobil polisi dan beberapa ambulance. Juga beberapa orang yang berkumpul melihat kekacauan di tempat itu.



Terlihat Tyo yang sedang diintrogasi polisi. Soalnya dia pemilik gedung. Juga beberapa sekuriti yang sedang diangkut ke dalam ambulance. Ada lima orang sekuriti yang terluka parah karena melawan banyak orang.



Anjas menghampiri Tyo saat selesai diintrogasi. Bertanya apa yang terjadi pada gedungnya adalah perbuatan keluarga Ajisaka?



"Aku menemukan rekaman CCTV saat subuh. Yang datang mengacau adalah geng Revon. Mereka sudah membuat rusuh satu gedung. Ini tidak lain adalah suruhan Herino bajingan itu." Tyo yang emosi mengepalkan tangannya hingga memutih.



"Sekarang aku bingung. Karena mereka banyak merusak fasilitas gedung dan barang-barang berharga. Hingga peralatan kantor pun rusak. Jika ditotal bisa sampai 500 miliar lebih kerugiannya." Tyo mengeluh seketika.



"Pak Tyo, aku punya solusinya. Jika kau menjual gedung ini padaku aku akan membayar sekaligus dengan kerugiannya. Bagaimana?" ujar Anjas menawarkan. Beno sedikit terkejut menyangka Anjas bercanda.



"Apa anda yakin?" kali ini yang bersuara adalah seorang wanita yang mungkin masih berusia 29 tahun. Dia adalah istri Tyo yang bernama Jein Yong. Keturunan Tionghoa yang sudah lama tinggal di Indonesia.



"Berapa nomor rekening pak Tyo aku transfer sekarang." jawab Anjas yang sudah memegang HP nya.



Mendengar jawaban Anjas. Tyo dan istrinya langsung setuju. Langsung mereka melakukan transaksi di tempat. Anjas mentransfer uang sebesar 600 miliar rupiah.



"Besok aku akan datang lagi tanda tangan tanda jual beli. Kalian urus dulu kekacauan ini." kata Anjas yang sudah hendak pergi.