
[Bing! Selamat anda telah menyelesaikan misi spesial sistem. Telah mengobati kanker hati Guru Besar Padepokan Macan Putih. Hadiah anda mendapatkan Teknik Beladiri Macan Putih.]
[Bing! Selamat semua kemampuan yang telah disalin oleh Skill Menyalin Teknik telah jadi permanen. Skill Menyalin Teknik kembali terkunci. Skill bisa dibuka setelah mencapai level 15.]
[Bing! Karena anda sudah menyalin resep ramuan herbal. Anda mendapatkan kemampuan Peramu Handal. Setelah mempelajari resep tertentu kecerdasan anda akan bertambah +100.]
[Bing! Anda mendapatkan Kecerdasan +200.]
"Buka Status." gumam Anjas.
[Nama \=> Anjas Rahadi ]
[Kesehatan \=> 100% (Sehat)]
[Level \=> 6/100 (425/850 exp)]
[Keahlian \=> Karate Legendaris, Muaythai Legendaris, Mengemudi Super, Mekanik Super, Pemusik Super, Teknik Belati Api,Teknik Pedang Legendaris, Teknik Ilusi mental, Mata Tembus Pandang, Pelukis Expert, Tubuh Menembus Segala Benda, Melihat Tak Kasat Mata, Hacker Super, Teknik Beladiri Yin Yang tingkat Legendaris, Sniper, Summoner, Shadows, Penjinak Hewan, Teknik Regenerasi Ekstrim, Bernafas Dalam Air (Level Tidak Terbatas), Teknik Beladiri Macan Putih, Peramu Handal.]
[Kekuatan \=> 1095]
[Kecepatan \=> 1000]
[Ketahanan \=> 1115]
[Kecerdasan \=> 965]
[Item Yang Digunakan: Sarung Tangan 4 Elemen, Cincin Tak Kasat Mata, Cincin Giok Penyimpanan,]
[Mental \=> 96% (Sehat)]
[Saldo rekening \=> Rp.733.829.343.792.500]
[Poin Sistem \=> 86.150]
[Status Hubungan \=> Pacaran (Jumlah: 1 orang), Yang menyukaimu (Jumlah: 2 orang)]
[Inventori \=> Berisi barang kebutuhan pemilik sistem.]
[Tiket lotre \=> 2 Tiket Lotre ]
[Misi \=> 1. Misi 2⭐: Selesai
Mengumpulkan Sepuluh orang murid yang mau diajarkan teknik pedang Legendaris dari padepokan Macan Putih. Waktu 11 hari. Hadiah Exp +500, 50 juta Dolar, dan 3 kotak Emas (Progres: 5/10).]
[Shop \=> Shop terbuka. Menyediakan berbagai macam hal. Peralatan, resep dan bahan obat sudah terbuka.]
"Sekarang harus mencari lima murid yang ingin dilatih olehku. CHEL apakah bisa mengambil murid dari luar padepokan?" tanya Anjas dalam benak.
[Hanya diperuntukkan untuk murid padepokan saja.] jawab sistem singkat.
"Hah... Terpaksa aku harus menginap beberapa hari lagi. Setidaknya aku harus melatih Dendi hingga dia bisa bertarung." pikir Anjas lagi.
Saat Anjas sedang berpikir untuk mencari murid baru. Jefri dan kawan-kawan. Datang ingin menghadap. Tapi rombongan mereka lebih banyak dari kemarin.
"Selamat pagi guru Anjas. Kami siap berlatih. Juga ada beberapa murid lain ingin bergabung. Jadi total samua 14 orang." ucap Jefri yang sedikit membungkuk.
"Kalian tunggu di lapangan. Akan aku ajarkan satu teknik pedang yang kuat untuk kalian. Setidaknya kalian bisa pemanasan." ujar Anjas pada Jefri dan kawan-kawan calon muridnya.
Sepuluh menit kemudian. Setelah sarapan Anjas langsung ke lapangan yang ada di padepokan. Lapangan itu lumayan luas sekitar 50x70 m².
"Apakah kalian sudah pemanasan?" tanya Anjas saat tiba di depan para murid.
"Sudah guru. Kami sudah siap!" jawab Ujang.
"Baiklah kalau begitu. Teknik ini adalah teknik pedang pedang satu tangan. Nama teknik ini adalah "Teknik Pedang Purnama" berasal dari daratan China kuno. Kalian hanya perlu mengikuti semua gerakan teknik ini." jelas Anjas.
Lalu Anjas melempar beberapa pedang kayu tambahan. Keluar dari cincin giok penyimpanan. Seperti halnya Jefri dan kawan-kawan kemarin. Murid yang baru bergabung pun juga terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Benda yang selama ini yang hanya mereka dengar. Mereka bisa melihat secara langsung.
"Aku tau kalian ingin bertanya soal cincin ini. Tapi untuk sekarang tahan dulu. Kita akan memulai latihan." ujar Anjas yang langsung memeragakan teknik Pedang Purnama.
Karena para murid beberapa ada sudah memiliki dasar ilmu pedang. Maka mereka masih bisa mengikuti. Tapi yang belum memiliki dasar masih harus menyesuaikan diri.
Semua gerakan teknik pedang purnama terlihat seperti tarian. Namun itu adalah gerakan serangan cepat dan mematikan. Jika tidak menghindari serangan teknik ini. Maka akan mati dalam sekali serang.
Semua serangan dalam teknik ini ditujukan pada titik vital manusia. Seperti serangan bagian kepala, leher, jantung, perut, alat kelamin, lutut dan mata kaki.
"Teknik ini memiliki sembilan serangan. Kesembilannya menyerang satu titik vital." Anjas menerangkan saat sedang memperagakan beberapa serangan.
Sing sing sing... Sing sing sing... Suara hentakan pedang Nomelles yang digunakan Anjas.
Selama sepuluh menit Anjas menunjukkan teknik pedang purnama. Lalu dia menghentikan langkahnya saat selesai melakukan serangan ke delapan.
"Guru, yang Guru tunjukkan hanya sampai delapan. Lalu serangan yang kesembilan?" tanya Jefri.
"Aku akan menunjukkan serangan yang kesembilan jika kalian berhasil menguasai delapan serangan tadi. Oke sekarang lakukan apa yang aku tunjukkan tadi." perintah Anjas tegas.
"Baik guru!" serempak keempat belas murid itu menjawab. Kemudian mereka pun memulai apa yang mereka hafal tadi dari teknik pedang Purnama.
[Bing! Selamat anda mendapatkan Exp +500, 50 juta Dolar, dan 3 kotak Emas.]
[Bing! Selamat anda naik level 7.]
"Selamat pagi guru Anjas." Dendi datang menyapa.
"Kenapa kau datang terlambat?" tanya Anjas.
"Maaf guru. Aku ada urusan di belakang guru." jawab Dendi.
"Oke tidak masalah. Kamu bersiaplah. Malam ini kita pulang. Aku merasa firasat buruk." ucap Anjas sambil melihat ke barat.
Sementara itu. Maryam yang baru saja sampai di toserba pak Umar. Sekarang toko itu cuma buka sampai jam sembilan malam. Bukan 24 jam.
"Pagi Yunita." sapa Maryam pada Yunita anak pak Umar.
"Pagi kak Maryam. Kok kayak senang gitu? Ada apa nih?" balas sapa Yunita.
"Kemarin ibu aku telpon katanya hari ini mau datang ke Jakarta untuk menjengukku. Jadi nanti sore aku mau izin pulang cepat yah." jawab Maryam.
"Naik apa kak? Pesawat?" tanya Yunita lagi.
"Gak naik pesawat. Naik bus. Kemarin aku sudah kirim uang untuk mereka beli tiket. Sekarang mereka sudah di Pemalang. Mungkin nanti sore udah sampai." jawab Maryam dengan senyum.
"Oh. Kebetulan sore ini aku gak ada kuliah. Jadi kamu bisa pulang." sahut Yunita.
"Makasih ya Yun." balas Maryam.
Sedang asik ngobrol. Maryam dan Yunita tidak menyadari kalau sudah ada orang di depan kasir.
"Astaga kaget aku." seru Yunita yang melihat seseorang di depannya.
"Kenapa Yun?" Maryam menengok ke arah kasir.
"Gak apa-apa. Udah ada pelanggan." jawab Yunita.
"Ada yang bisa dibantu pak?" lanjut Yunita melayani pelanggan tersebut. Kelihatan si bapak itu seperti keturunan Tionghoa.
Lalu si bapak menaruh tiga kaleng minuman bersoda di meja kasir. Segera Yunita menscan barang tersebut.
"Semua jadi 24.000 pak." ujar Yunita.
Si bapak memberikan uang lima puluh ribuan. Lalu mengambil ketiga kaleng minuman.
"Terima kasih pak." ujar Yunita lagi sambil memberikan uang kembalian. Tapi tidak ada balasan sama sekali dari si bapak pelanggan itu. Si bapak langsung keluar.
"Kayak ngomong sama orang gagu. Tapi dia mengerti dengan apa yang aku bilang." gumam Yunita heran.
Di luar toko.
Si bapak yang membeli minuman bersoda tadi ternyata adalah Fa Jiang. Dia datang ke toko pak Umar karena dia merasakan aura milik pembunuh tuannya di toko itu walaupun hanya sedikit.
"Aku harus menemukan orang yang membunuh tuan Yan dan tuan muda Yan. Sungguh berani dia membunuh orang yang memberi aku pekerjaan. Tenang saja tuan Yan aku akan membalas dendam kalian." gumam Fa Jiang sambil meminum minuman bersoda.