CHEL

CHEL
Bab 41



"Apa kau sudah menelepon keluargamu?" Anjas bertanya.


"Ibuku syok dan sekarang dia di klinik kesehatan di desa. Adik-adikku sedang mencari pengacara untuk membantu ayah." jelas Maryam.


"Apa kau ingin pulang kampung dulu?" tawar Anjas.


"Apa tidak apa-apa mas? Aku belum sebulan kerja di toko. Apa pak Umar tidak keberatan kalau aku minta izin pulang kampung?" Maryam ragu.


"Dia akan mengerti dengan keadaanmu sekarang. Dia juga sudah sering membantu mas waktu masih kerja di sana. Biar mas telepon dia untuk beri tahu. Mas bisa mencari orang untuk menggantimu untuk sementara waktu saat kau pergi." Anjas menjelaskan bahwa Maryam bisa pergi tanpa khawatir menyusahkan orang lain.


Segera Anjas menghubungi pak Umar. Dia menjelaskan semua yang terjadi pada keluarga Maryam. Juga akan membawa orang untuk menggantikan posisi Maryam di toko.


Pak Umar langsung memberikan izin kepada Maryam. Dia sudah sangat mempercayai Anjas sepenuhnya. Dia tidak keberatan dengan permintaan dari Anjas.


Setelah mendapat izin. Maryam langsung masuk kamarnya segera bersiap untuk berangkat pulang kampung. Dia Mengambil tas yang dia beli bersamaan dengan pakaian dari uang yang dikasih Anjas.


Sementara Anjas sarapan pagi hanya dengan roti tawar dengan selai kacang dan coklat. Karena Maryam belum sempat memasak.


Selagi sarapan Anjas mendapatkan telepon dari orang dealer mobil. Yang ingin mengantar mobilnya. Ternyata mereka sudah sampai di rumah Anjas. Yang mana di sana tidak ada orang.


"Selamat pagi. Ini dengan pak Anjas? Saya Juan dari dealer yang mengantar mobil anda. Tapi di alamat yang anda kasih tidak orang sama sekali di rumah." ucap seseorang di telepon.


"Wah iya. Saya lupa. Rumah itu sedang kosong. Jadi tolong antar saja ke alamat yang satunya lagi. Saya sedang di apartemen milik saya sekarang." jawab Anjas.


"Baik pak Anjas. Saya segera ke sana." sahut Juan. Menutup telepon.


Lima menit kemudian Maryam keluar kamar. Dia sudah mengenakan pakaian cukup rapi. Menghampiri Anjas yang sedang sarapan.


"Saya sudah siap. Tolong antar saya ke terminal." ujar Maryam yang terlihat buru-buru.


"Sayang. Duduk dulu dan isi perutmu. Akan aku antar ke bandara biar lebih cepat. Naik pesawat lebih baik dari pada bus. Juga selagi menunggu mobil yang aku beli sampai." ajak Anjas biar Maryam tidak khawatir. Biar dia bisa tenang sedikit.


Mereka makan sarapan pagi seadanya saja. 3 potong roti dan segelas susu dari kulkas Anjas habiskan. Sedangkan Maryam hanya makan sepotong roti dan segelas air putih. Dia tidak terlalu berselera makan.


Tidak lupa Anjas membelikan tiket online dari aplikasi travel. Agar sampai bandara tidak akan lama menunggu.


Setengah jam kemudian Anjas ditelepon lagi oleh Juan yang mengabarkan bahwa mobil Anjas sudah tiba area gedung apartemen. Anjas mengajak Maryam keluar apartemen untuk melihat ketiga mobilnya.


Tiga mobil sudah terparkir rapi di parkiran apartemen. 2 mobil merek Lamborghini dan sebuah Mercedes Benz. Juga Juan dan dua orang lain sedang menunggu.


"Terimakasih atas bantuannya." ucap Anjas saat sampai di parkiran pada Juan.


Setelah Juan memberikan 3 buah kunci mobil. Mereka langsung pergi. Anjas segera membuka Lamborghini Gallardo yang menjadi mobil impian itu.


"Ayo masuk." ajak Anjas pada Maryam yang masih diam di luar mobil.


"Ini mobil punya mas?" tanya Maryam saat masuk ke dalam mobil.


"Iya... Rrroooooommmm!!!!!" jawab Anjas sambil menyalakan mesin mobil.


"Kita jalan sekarang?" tanya Anjas.


"Iya mas." Maryam menjawab sambil mengangguk.


"Rrroooommmm... rrroooooommmm...!!" suara seruan mobil yang meraung-raung saat Anjas mulai mengendarai.


Setelah sampai di bandara Halim Perdanakusuma. Maryam melakukan check-in dan urusan lain. Ternyata penerbangan masih harus menunggu 30 menit lagi. Tujuan Jakarta - Surabaya.




"Nanti kalau sudah sampai Surabaya Maryam langsung telepon mas." ujar Anjas yang sedang menggandeng Anjas.



"Iya mas. Mudah mudahan kasus ayah cepat selesai." sahut Maryam.



"Telepon juga kalau ada apa-apa. Biar mas bisa langsung ke sana." tambah Anjas.



"Iya mas. Doakan yah mas." balas Maryam mengangguk.



30 menit kemudian. Pesawat yang dinaiki Maryam pun terbang. Anjas bergegas pergi ke toko pak Umar. Untuk melanjutkan pelatihan pada Dendi.


Sesampainya di toko. Anjas tidak melihat Dendi yang biasa sudah datang pagi. Jam juga masih menunjukkan pukul setengah 9.


Anjas masuk ke dalam toko. Yang ada hanya kak Yunita yang sedang bersih-bersih toko yang baru berganti shift.


"Selamat pagi Kak Yuni." sapa Anjas.


"Pagi Anjas. Wah tumben datang. Aku kira udah tidak k mau datang. Mau belanja atau mau cari yang lain?" balas Yunita yang sedang mengelap kaca. Balik bertanya.


"Aku lagi menunggu si Dendi kak. Dia belum datang. Jadi aku mau belanja sekalian. Mau beli mie goreng cup yang biasa." jawab Anjas yang langsung pergi ke rak tempat mie cup berada.


Anjas mengambil 2 cup saja. Untuk Dendi dan dirinya sendiri. Juga mengambil teh botol dingin.


Setelah membayar. Anjas langsung membuat miliknya sendiri. Sambil menunggu Dendi Anjas makan mie cup nya.


"Oh iya kak. Maryam tidak masuk hari ini. Dia tadi sudah izin ke pak Umar buat pulang kampung. Jadi nanti aku panggil teman aku yah biar ada yang jaga." ujar Anjas saat Yunita telah selesai bersihkan kaca.


"Iya. Tadi ayahku telepon soal itu. Bagaimana kalau ajarin Dendi pakai alat kasir? Biar dia yang jaga kalau Maryam terlambat atau tidak masuk. Yah biar tidak perlu cari orang lain. Juga besok tukang pasang CCTV bakal datang ke sini. Oh iya katanya kau yang bayar biaya pemasangannya yah." jelas Yunita panjang lebar.


"Bagus juga ide kak Yuni. Kalau begitu biar aku ajarin Dendi pakai alat kasir pas dia datang." sambut Anjas yang baru terpikir ide kak Yuni.


"Ting..Ting.." pesan WA masuk ke HP kak Yuni.


Saat membacanya Yuni langsung seperti kegirangan. "Yes hari ini lowong juga.!" seru Yunita.


"Kenapa kak?" Anjas penasaran.


"Anjas, ternyata hari ini aku tidak ada mata kuliah. Dosen yang harusnya masuk jam 2 nanti tidak jadi masuk karena sakit. Jadi aku bisa jaga toko seharian deh." jawab Yunita dengan senyum bahagia. Karena dosen yang dia bicarakan itu adalah dosen killer.


"Wah bagus dong. Jadi Dendi ada temannya." sambut Anjas lega.


Anjas sudah menunggu Dendi hingga satu jam. Tapi Dendi belum kunjung datang. Anjas yang penasaran dengan keterlambatan Dendi. Langsung menelpon pemuda itu.


"Halo Dendi. Kau di mana ini? Kenapa belum datang juga ke toko?" tanya Anjas sedikit keras.


"Maaf kak. Dendi lagi di rumah sakit sekarang. Ibu Dendi kecelakaan kemarin." jawab Dendi dengan suara lemah.