CHEL

CHEL
Bab 101



Anjas yang sudah siap pun langsung berangkat ke kafe. Tidak lupa dia singgah di ATM untuk menarik uang sebanyak 2 juta.


Hanya dua puluh lima menit Anjas tiba di depan gedung miliknya. Masuk ke gedung menuju lantai 2 di mana kafe itu berada.


Saat masuk ke kafe. Suasana ramai pun terlihat. Banyak anak muda dan karyawan kantor yang berkunjung. Memang kafe itu berada di bawah kantor sebuah perusahaan kecil yang menyewa pada lantai 3 & 4.


Anjas disambut karyawannya yang tentu sudah mengenal Anjas. Jamriah yang paling dekat langsung menyapa.


"Selamat sore Pak Bos. Anda sudah ditunggu pak Beno di ruang manajer. Silahkan." ucap Jamriah sedikit menunduk.


Anjas mengangguk dan langsung berjalan ke sebuah pintu. Di depan pintu itu ada dua orang pemuda yang sedang berdiri menghalangi pintu.


"Permisi." ucap Anjas masih sopan.


"Eh mau ke mana kamu? Maaf orang yang di dalam sedang ada pertemuan. Pengunjung biasa dilarang masuk." kedua pemuda itu menatap tajam ke Anjas.


"Aku ingin masuk. Jadi tolong minggir." Anjas tidak mendengarkan perkataan mereka dan ingin memaksa masuk. Dia tidak mau mengatakan siapa dia.


"Apa maksudmu? Kamu ingin melawan kami? Aku disuruh buat menjaga pintu masuk jadi kalau mau masuk hadapi kami." pemuda lain pun ikut menghadang Anjas.


"Jadi aku tidak boleh masuk?" tanya Anjas yang sudah bersiap untuk menendang.


"Kalau dibilang tidak boleh ya ti... Uuaagghh!" belum selesai pemuda itu bicara. "Brakk!" terdengar suara benturan.


Sebuah tendangan keras langsung kena di perutnya. Sehingga membuat dia pemuda itu menabrak pintu. Pintu yang tertutup itu pun terbuka dengan paksa karena benturan itu.


Beberapa pengunjung yang ada di sana langsung menengok ke arah Anjas. Penasaran dengan apa yang terjadi.


"Berani sekali kau...eekk!" belum sempat melanjutkan perkataan. Teman si pemuda yang ditendang Anjas mendapat sebuah tangan yang mencekiknya.


Beberapa orang-orang yang melihat itu merasa ngeri dan takut. Mereka takut jika terjadi pembunuhan di tempat itu.


Karyawan yang menyambut Anjas tadi pun menghampiri untuk menenangkan Anjas. Terlihat dia sudah ketakutan melihat Anjas yang tanpa belas kasihan terus mencekik leher si pemuda yang juga tamu manajer Beno.


"Pak Anjas. Maaf saya lupa kalau memberitahu bahwa mereka juga tamu pak Beno." kata karyawan itu.


"Mana Beno?" tanya Anjas masih mencengkeram erat leher si pemuda.


Tidak lama Anjas bertanya. Beno dan seorang pemuda lain keluar dari ruangan itu. Mereka juga terkejut dengan keadaan dua orang yang disuruh menjaga pintu. Satu orang sudah pingsan di lantai. Yang satu lagi sedang dicekik oleh Anjas.


"Anjas lepaskan dia. Dia bukan musuh." kata Beno menghampiri Anjas.


"Baiklah." Anjas melepaskan si pemuda yang seketika lemas terduduk di lantai.


"Hai Anjas. Lama tidak jumpa." sapa seorang pemuda yang seumuran dengan Anjas di belakang Beno.


Melihat pemuda itu. Mata Anjas melebar. Dia kenal dengan pemuda itu. Sahabatnya yang lama menghilang dari kota Jakarta. Deni melambaikan tangan sebagai balasan tatapan Anjas.


"Deni!? Apa itu kau!?" Anjas mendekati Deni.


"Yah ini aku Deni. Sahabatmu waktu SMA." jawab Deni.


Langsung saja Anjas memeluk Deni. Hanya sebentar karena mereka malu.


Lima menit kemudian. Tiga orang sahabat pun sudah berada di dalam ruangan yang tadi ingin dimasuki oleh Anjas.


Deni dan Beno saling berhadapan. Sementara Anjas berada di tengah mereka.


Deni sudah menceritakan tentang kehidupannya sebelum bertemu dengan Anjas. Sekali lagi air mata Deni tumpah saat menceritakan hal itu. Anjas pun hanya terdiam mendengarkan.


"Jadi kau datang kembali ke Jakarta untuk membalas dendam?" tanya Anjas memastikan kembali.


"Itu benar. Rencana aku akan memulai dari mencari bukti kejahatan yang dilakukan keluarga Wijaya. Tanpa bukti itu aku tidak bisa membalas dendam." jawab Deni yakin.


"Oke. Aku punya rencana. Tapi kau harus bergabung dengan geng The FALCON. Agar aku bisa memberikan info tentang keluarga Wijaya. Juga aku akan mencari informasi tentang perusahaan mereka." Anjas pun mengajukan ide.


"Baiklah kalau itu bisa membantu. The Hummer mulai sekarang bergabung dengan geng The FALCON." Anjas dan Deni pun saling berjabat tangan.


Mereka juga melanjutkan pembicaraan dengan Anjas menjelaskan detail rencananya. Deni juga menyetujui dan siap melakukan perannya nanti.




Kong yang baru saja mendapatkan informasi bahwa Ling Han menghilang. Menjadi lebih murka. Dia berpikir bahwa kali ini akan berhasil membunuh satu kecoa yang merepotkan itu. Tapi yang ada malah satu persatu orang yang dia percaya mati atau berkhianat.



"Sialan! Hanya seekor kecoa bisa membuat aku pusing. Sekarang bos Han Dou pasti tidak percaya lagi menggunakan jasa kami!" keluh Kong sangat kesal.



"Haruskah aku memanggil tiga orang terakhir hanya untuk membunuh satu orang?!" Kong sedikit berpikir. "Ah tidak cukup dua orang saja yah si no. 2 dan 3. Mereka sudah cukup untuk membunuh tanpa ada jejak." langsung saja Kong mengambil hpnya dan menelpon seseorang.



"Halo." suara orang dari seberang.



"Halo Koharu. Ada tugas untukmu. Aku akan mengirimkan datanya segera habisi dia tanpa jejak. Kau akan bekerja dengan Franco." Kong berkata cepat pada orang itu.



Koharu adalah seorang pria keturunan Jepang. Dia adalah master pedang alias seorang samurai. Dia menjadi terkenal di dunia hitam karena membantai keluarga yang dia kawal. Sejak saat itu nama Koharu sangat ditakuti oleh banyak orang di dunia hitam. Terlebih di negaranya sendiri. Di organisasi dia dipanggil si no.2.



"Baiklah. Bayaran tetap seperti biasa atau ada tambahan?" Koharu memastikan.



"Jika kau bisa membawa kepalanya kepadaku maka kau akan aku kasih bonus 40%." jawab Kong.



"Oke aku terima." balas Koharu lalu menutup telponnya.



Lalu Kong menelpon lagi seseorang. Orang itu adalah si Franco yang dia maksud tadi.



"Halo. Franco. Kau tidak sibuk sekarang? Aku ada tugas penting untukmu. Aku akan mengirimkan datanya segera. Kau akan bekerja dengan Koharu." Kong langsung menutup telponnya tanpa mau mendengar jawaban si Franco. Karena dia tahu bahwa si Franco sedang menikmati tubuh seorang wanita di klub malam.


Sementara itu di sebuah gedung perkantoran di pusat kota. Gedung itu milik perusahaan kecil bernama HighSend. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman barang via laut dan udara.


Walaupun perusahaan kecil. Tidak menjadi hal untuk bisa mendapatkan hasil maksimal. Mereka bisa meraup untung sampai miliaran rupiah. Karena pelanggan mereka ada yang berada di luar negeri.


Tapi keadaan kantor saat itu sangat kacau. Dikarenakan adanya kesalahan sistem online yang mereka gunakan untuk melakukan pendataan dan kontrol pekerjaan pengiriman. Banyak proses pengiriman gagal atau salah kirim ke tujuan. Itu dikarenakan adanya serangan hacker.


Mereka tahu karena orang yang bertanggung jawab atas segala macam kegiatan online. Memberikan laporan seperti itu.


"Dasar tidak becus! Kau dibayar biar bisa mengatasi hal seperti itu!" bentak Arthur yang menjadi Direktur utama perusahaan kecil itu.


"Maaf pak. Aku tidak bisa mencegah hal itu. Hacker itu sangat jenius dan lihai. Kemampuanku masih jauh di bawah dia. Bahkan dia menggunakan virus atau Trojan yang sangat baru. Yang belum bisa dipecahkan oleh orang IT di seluruh dunia." jawab Arfan yang menjadi orang IT perusahaan HighSend.


"Aku tidak peduli! Kau tau berapa kerugian kita! Itu menyentuh 3 miliar rupiah lebih! Dan kau harus bertanggung jawab atas itu semua!" Arthur melempar kesalahan kepada Arfan. Sedangkan Arfan hanya pasrah dengan keadaan.


Di tengah ketegangan itu. Seseorang masuk dan langsung menghadap ke Arthur.


"Selamat malam tuan muda Arthur." sapa orang itu.


"Ah rupanya kau sudah datang 'The Golden' si hacker Indonesia yang terkenal." sapa balik Arthur.