
Kembali pada Anjas dan Dendi yang masih berada di dekat Curug. Mereka berdua terus menerus berlatih tarung. Semakin intens dan lama.
Hingga sore hari mereka baru berhenti. Beristirahat sejenak dan mengenakan baju mereka kembali. Saat mereka sedang berjalan kembali menuju padepokan. Anjas melempar sesuatu. Itu adalah sarung tangan Petarung yang selama ini dia pakai.
"Itu untukmu. Sebagai hadiah karena tadi bisa menahan serangan ku lebih dari dua menit." ujar Anjas.
"Terima kasih Guru. Tapi bagaimana dengan guru?" tanya Dendi. Benda yang dia terima adalah benda yang selalu dipakai Anjas.
"Aku sudah punya yang baru." kata Anjas sambil menunjukkan kedua tangannya.
Terdapat sepasang sarung tangan kulit berwarna silver metalik. Jika terkena cahaya akan sekilas terlihat warna warni dari sarung tangan itu. Itu adalah sarung tangan 4 elemen yang sudah lama dia simpan tapi baru kali ini dia pakai. Juga adalah salah satu hadiah pertama dari kotak Platinum pertama.
"Mungkin ini akan berguna untuk keadaan tertentu." pikir Anjas.
Masih diperjalanan. Tiba-tiba Anjas merasakan gejolak energi alam. Walaupun masih lemah. Energi alam itu masih bisa dirasakan.
"Dendi ikuti aku." setelah berkata demikian Anjas langsung berlari menuju asal energi alam yang dia rasakan. Dendi juga hanya bisa mengikuti. Biarpun dia tidak bisa mengimbangi kecepatan lari Anjas.
Tidak sampai lima menit. Anjas menemukan 5 orang pemuda yang 4 diantaranya dia kenal. Mereka adalah Jefri, Asep, Ujang, dan Marwa dari padepokan Macan Putih. Yang satunya lagi Anjas lupa namanya.
Mereka berlima terlihat sedang berhadapan dengan sepuluh orang pria yang lebih tua dari mereka. Namun berbeda seragam. Yang dari padepokan Macan Putih memakai seragam baju putih dan celana coklat. Sementara yang menghadang mereka memakai seragam baju merah dan celana hitam. Selain seragam, terdapat lambang kepalan tangan menghadap ke atas di punggung mereka.
Saat ini Jefri sedang saling adu mulut dengan salah seorang dari mereka. Kemungkinan besar mereka ingin datang mengacau. Karena mereka telah memasuki daerah kekuasaan Padepokan Macan Putih.
"Pergi kalian dari sini! Padepokan kami sedang tidak menerima tamu!" seru Jefri mengusir.
Tapi yang diserukan hanya tertawa.
"Hahahaha... Sebaiknya Junior seperti kalian jangan halangi kami. Kami ditugaskan oleh guru kami untuk menjemput guru Alin. Jika ada yang menghalangi jalan kami akan kami bantai." balas pria paling depan.
"Kami juga diperintahkan untuk membantai siapa saja yang memaksa masuk ke wilayah padepokan Macan Putih. Termasuk murid dari padepokan Tinju Langit." balas Asep. Memotong pembicaraan.
"Kurang ajar kau Asep! Ingin aku patahkan lagi tanganmu hah?" balas pria lain dari padepokan Tinju Langit.
"Aku hitung sampai 5, jika kalian tidak menyingkir. Maka jangan salahkan kami bertindak kasar. Satu!" si pria paling depan mulai menghitung atas ancaman yang dia katakan.
"Dua!" teriak pria itu lagi.
Marwa dan Ujang sudah bersiap untuk bertarung. Jefri semakin kencang mengepalkan tangannya. Asep dan murid satunya lagi sudah memancarkan aura energi alam mereka.
"Tiga! Masih bebal rupanya." semua murid dari padepokan Tinju Langit juga sudah bersiap untuk menghadapi musuh.
"Empat! Kalian yang cari mati! Li..." baru saja mereka ingin menyerang. "Syuut jleb" sebuah Belati berwarna merah tertancap di antara dua kelompok.
Masing-masing kelompok saling melirik. Tidak tahu siapa yang mencoba menghalangi mereka bertarung.
"Hentikan. Jika kalian tidak berhenti aku akan bertindak!" Anjas keluar dari tempat persembunyiannya. Dia sudah mendengar semua percakapan mereka.
"Siapa kau?! Jangan ganggu urusan kami." tanya heran salah satu murid padepokan Tinju Langit.
"Sekali lagi aku katakan. Jika kalian ingin melanjutkan tujuan kalian. Aku akan bertindak." sambung Anjas tanpa menghiraukan sapaan para murid.
"Kau guru dari padepokan Macan Putih? Tapi aku baru kali ini melihatmu." bantah pria yang paling depan.
"Jaga sikapmu Dono! Dia guru baru kami. Jadi kau tidak kenal." balas Jefri. Dia ingin maju untuk membungkam mulut pria bernama Wardono itu. Tapi dihentikan oleh Anjas.
"Begini saja. Jika salah satu dari kalian bisa membuat aku beranjak dari pijakanku ini. Maka aku akan membolehkan kalian lewat. Aku berikan waktu 5 menit untuk kalian. Tapi jika selama 5 menit tidak seorangpun yang dapat melakukan hal itu. Maka aku akan patahkan masing-masing satu kaki kanan kalian." setelah berkata demikian Anjas mengaktifkan kemampuan Tubuh Menembus Segala Benda dan kemampuan Tubuh Manusia Besi.
Kemampuan Tubuh Menembus Segala Benda untuk menghindari segala macam senjata tajam. Kemampuan Tubuh Manusia Besi untuk menahan semua serangan fisik. Karena kemampuan Tubuh Menembus Segala Benda tidak berlaku untuk makhluk hidup. Hanya bisa menembus benda mati.
"Hahahaha guru yang bijak. Kau memberikan tantangan yang sangat gampang!" ujar Dono meremehkan.
"Silahkan dimulai." balas Anjas tidak ingin menunggu lama.
Maka dari itu Jefri dan kawan-kawan mundur sejauh 10 meter. Untuk menghindari dan mengawasi setiap pergerakan murid padepokan Tinju Langit.
"Ayo semuanya kita hajar guru sok jagoan itu! Hiaaaa!" teriak Dono. Dia dengan cepat maju menyerang Anjas.
Wuss wuss wuss. Diikuti oleh tiga orang lain.
Tapi... Ding diang Deng Ding!! Bunyi setiap pukulan yang kena pada tubuh Anjas. Bunyi besi yang nyaring. Beberapa saat kemudian Dono dan ketiga murid yang menyerangnya tadi seketika mengerang kesakitan.
"Aaaarrrgghh! Aaahrrhhh! Aaaakkhh! Aaaarrrgghh sakit! Aaahrrhhh keras sekali!" teriak masing-masing murid padepokan Tinju Langit. Termasuk Dono.
"Ayo kalian masih punya banyak waktu loh." ujar Anjas sambil tersenyum.
Tidak tinggal diam. Semua murid padepokan Tinju Langit satu persatu menyerang Anjas. Namun mereka semua merasakan bahwa bagian tubuh yang mereka serang itu sangat keras seperti besi baja. Bahkan Dono yang kali ini menyerang menggunakan salah satu jurus dari teknik Tinju Langit. Tidak bisa membuat Anjas bergeser dari tempatnya.
"Terus serang dia! Fokus ke titik vitalnya. Mungkin itu adalah kelemahan dari kekebalan tubuhnya!" seru Dono tidak menyerah.
Dua menit berselang selang. Masih belum ada yang berhasil. Bahkan Dono sudah menggunakan semua jurus dari teknik Tinju Langit dan energi alam pun tidak berhasil. Padahal Anjas terlihat sangat lemah. Tapi mereka tidak bisa membuat Anjas menghindar. Anjas hanya diam dan menerima semua pukulan atau tendangan keras mereka semua. Tanpa bergeming sedikitpun.
"Siapa orang itu sebenarnya? Daya tahan tubuhnya sangat mengerikan. Bahkan guru kami pun mungkin tidak bisa melawan orang ini. Apalagi dia adalah guru dari padepokan Macan Putih yang menjadi musuh padepokan kami." pikir Dono yang sudah mulai hilang semangat.
Tapi Dono masih mencoba berbagai macam cara. Dia pun mengeluarkan Belati pendek yang dia simpan di punggungnya. Belati itu untuk berjaga jaga saja.
Dengan cepat Dono menyerang lagi. Kali ini dengan belati pendek di tangan kirinya.
Wuss sring.! Sabetan belati dari Dono terlihat kena di leher Anjas. Namun Dono terkejut karena leher yang baru saja dia sabet tidak terluka sama sekali. Melihat itu Dono mundur lagi.
"Sialan. Dia tidak terluka sama sekali!" gerutu Dono. Tapi terdengar oleh rekannya.
"Apakah dia pengguna teknik terlarang itu?" sambung Dono lagi.
"Hehehe waktu kalian satu menit lagi." ujar Anjas mengingatkan. Hal itu membuat para murid padepokan Tinju Langit pun mulai ketakutan. Karena kaki mereka yang akan menjadi sasaran Anjas.