
Siang harinya. Setelah melatih beberapa muridnya. Anjas dan Dendi sudah berada di depan pintu masuk padepokan Macan Putih. Di sana juga ada pak Zainal, guru Alin, guru Nur Wulan dan guru Rizal.
Mereka ingin mengantarkan salah satu guru mereka dan orang yang menolong guru besar padepokan. Termasuk guru Rizal yang sebelumnya tidak percaya dengan Anjas. Sekarang dia yang paling awal datang untuk mengantar Anjas.
"Nak... Eh bukan, guru Anjas kenapa kau terburu buru untuk pergi?" tanya guru Rizal.
"Maaf guru Rizal. Aku masih punya beberapa urusan di Jakarta. Nanti jika urusan itu sudah selesai aku akan berkunjung ke padepokan untuk melihat apakah ada perkembangan dari murid-muridku." jawab Anjas sambil melirik ke Jefri yang baru saja tiba.
"Guru Anjas. Sebagai guru juga aku akan mengawasi mereka untukmu. Walaupun aku tidak tahu teknik apa yang kau ajarkan." balas guru Rizal dengan sopan.
"Guru Anjas bawalah bahan-bahan ramuan herbal ini. Pasti kau akan memerlukan itu." ucap guru Nur Wulan memberikan satu kotak besar.
"Terima kasih cik Wulan. Cik Wulan juga sangat membantu dalam proses pembuatan ramuan herbal itu. Sekali lagi terima kasih." balas Anjas sambil menyimpan kotak itu ke dalam cincin giok penyimpanan. Juga barang bawaan Dendi.
Reaksi para guru yang sudah tahu dengan Anjas yang memiliki cincin giok penyimpanan tidak begitu kaget. Malah mereka semakin kagum. Karena salah satu guru di padepokan Macan Putih memiliki benda ajaib itu.
"Kalau begitu aku dan Dendi pamit pulang." selesai berkata demikian Anjas langsung balik kanan dan berlari cepat. Wuuuuzzz!
"Semuanya aku pergi juga." salam Dendi lalu mengikuti langkah Anjas.
Walaupun tidak secepat Anjas tapi Dendi masih bisa melihat jejak aura Anjas. Benar Dendi sudah bisa melihat aura alam. Sebelum berangkat mereka siang hari. Anjas masih menyempatkan diri untuk mengajari Dendi untuk menyerap energi alam.
Selama enam jam Dendi pun berhasil menyerap energi alam walau hanya sedikit. Dendi memang berbakat untuk belajar beladiri tenaga dalam. Orang lain memerlukan satu atau dua hari untuk bisa menyerap sedikit energi alam.
Hanya memerlukan waktu satu jam mereka sudah sampai di jalan raya. Saat melihat peta di layar transparan Anjas mengetahui bahwa itu adalah tempat dia berhenti kemarin.
Jalan itu memang sepi di siang hari. Hanya beberapa mobil dan motor yang lewat. Segera Anjas mengeluarkan mobil sport Lamborghini Aventador miliknya. Lalu pergi bersama Dendi.
Baru sepuluh menit mengemudi. Anjas diikuti oleh beberapa mobil yang memiliki merek yang mewah. Seperti 3 Lexus LM dan 2 Mercedes-Maybach, semuanya berwarna hitam metalik. Hal ini diketahui Anjas saat melihat notifikasi peringatan sistem bahwa dia sedang diikuti beberapa mobil.
"Ada apa ini? CHEL pindai dan cari tahu siapa mereka." benak Anjas.
\[Baik. Pemindaian sedang diproses...\]
\[Pemindaian selesai. Informasi dikirim ke email anda sekarang.\]
"Terima kasih CHEL." benak Anjas lagi.
Memang benar bahwa beberapa hari sebelum dia pergi menemui Dendi. Dia tahu ada yang mengikuti mobilnya. Tapi tidak dia hiraukan peringatan sistem. Tapi karena kali ini sudah lebih dari satu yang mengikuti dia maka Anjas jadi penasaran siapa mereka.
Lalu Anjas mulai menambah kecepatan mobilnya. Untuk sementara dia sedang tidak ingin mencari masalah apapun. Yang dia inginkan sekarang pulang ke rumahnya sebentar dan kembali ke apartemennya.
Mobil Anjas pun melaju dengan kecepatan tinggi, 120 kilometer per jam. Namun masih bisa dikejar oleh salah satu Mercedes-Maybach. Anjas hanya tersenyum melihat itu. Menambah lagi kecepatan mobilnya. Jalanan yang renggang membuat kedua mobil seperti sedang balapan liar. Tapi mobil sport Lamborghini Aventador sudah jauh meninggalkan Mercedes hitam. Terlihat mobil Mercedes tidak mau menyerahkan.
Tapi Anjas tidak mau berlama-lama bermain dengan para penguntit. Jadi Anjas menambah kecepatan lagi. Sehingga saat sampai di perbatasan antar kota mobil sport Anjas sudah menghilang dari jangkauan mobil Mercedes.
Di dalam mobil Mercedes.
"Sial dia lolos. Lain kali aku akan menggunakan mobil sport pribadiku saja." keluh seorang pemuda yang berusia 25 tahun.
Pemuda itu adalah Arthur Wijaya. Sepupu dari Kevin Wijaya. Dia diperintahkan oleh Gilang Wijaya, ayah Kevin. Untuk membuntuti mobil Anjas kemampuan dia pergi. Terakhir kali dia mengikuti mobil Anjas dia kehilangan jejak seperti sekarang saat Anjas memasuki wilayah perbukitan.
Lalu Arthur meminta agar menambah orang untuk mencari keberadaan Anjas di sekitar tempat dia kehilangan jejak Anjas.
Beberapa hari mereka mencari. Akhirnya mereka menemukan mobil Anjas. Langsung diikuti kemana Anjas pergi. Juga dengan niat ingin langsung menangkap Anjas. Tapi sekali lagi kesialan Arthur dapatkan.
Arthur menghentikan mobil. Dia mengambil hpnya dan menelepon seseorang. Tidak lama menunggu telpon tersambung.
"Halo paman. Aku kehilangan jejak si bajingan itu." laporan Arthur pada Gilang.
"Kalau begitu kau pergi ke alamat yang aku berikan. Mungkin dia ke sana. Kali ini langsung bawa dia ke hadapanku." perintah Gilang.
"Baik paman." telpon pun terputus sebelum Arthur memutuskannya.
Tidak lama beberapa mobil lain yang mengikuti mobilnya berhenti di belakang mobilnya. Arthur keluar dan menghampiri mobil-mobil itu.
"Tuan Gilang bilang kita pergi ke alamat ini. Kita harus segera menangkap bajingan itu secepat mungkin dan bawa kepada tuan Gilang." perintah Arthur pada para anak buahnya.
"Baik tuan Arthur. Laksanakan." jawab salah satu anak buahnya.
Sementara itu Anjas dan Dendi yang sudah lepas dari kejaran Arthur. Mereka singgah di sebuah restoran yang berada di wilayah pinggiran kota untuk makan siang. Restoran itu sangat terkenal walaupun bukan restoran berbintang. Suasananya juga nyaman dan tidak begitu ramai.
Mereka memesan makanan. Setelah makanan datang, mereka langsung menyantapnya.
Tidak beberapa lama ada empat orang gadis memasuki restoran itu. Mereka terlihat cantik dan seksi. Karena dandanan mereka ala Korea masa kini.
"Selamat siang Nona. Mau pesan apa nona?" sapa si pelayan restoran yang terlihat tersenyum menyambut para gadis.
"Eh.. Kamu karyawan baru yah. Kalau karyawan lama mereka tidak perlu lagi tanya kami mau pesan apa. Mana si Susi manajer kalian?" ucap gadis dengan rambut panjang pirang.
"Iya nona saya baru seminggu kerja. Maaf, saya segera memanggil Bu Susi." si pelayan pun langsung pergi dengan cemas.
Tidak lama seorang wanita berusia 30 tahun menghampiri mereka. Dialah manajer restoran itu Susi.
"Selamat siang Nona Liana. Maaf aku tadi sedang menemani telpon jadi tidak bisa langsung menyambut Nona." sapa si manajer Susi.
Si gadis pirang itu adalah Berliana Zen. Pemilik BMW 8 Series Gran Coupe berwarna silver dengan stiker mawar merah. Juga pemilik restoran itu. Dia menggunakan hasil dari balapan liar sebagai modal restoran.
"Yah tidak apa-apa. Cepat bawakan pesanan seperti biasanya." suruh Liana.
Langsung dilaksanakan oleh si manajer. Hanya butuh lima menit semua pesanan sudah tersedia.
"Silahkan nona." ucap Susi lalu meninggalkan bos dan teman temannya makan.
"Cindy lihat tuh. Ada cowok ganteng." ucap gadis berbaju pink yang bernama Friska Noel pada Cindy Bernardo. Yang biasa dipanggil Cindy.
"Ana bukannya itu si Raja Jalanan baru. Si Anjas yang kalahin si Gabriel?" sekarang Cindy yang bertanya ke Liana.
"Masa sih?" timpal gadis berbaju tosca cream. Si gadis bernama Dianti Hernowo.
"Coba aku cari fotonya." Cindy mengambil hpnya dan mencari sesuatu di sosial media.
"Ketemu. Ini dia." ujar Cindy sambil menunjukkan foto yang beredar di kalangan anak muda pecinta mobil sport.
"Iya mirip sih. Ganteng juga." jawab Liana sambil melirik ke arah Anjas.
"Kamu suka sama dia Ana?" tanya Dianti.
"Mungkin." jawaban yang sama saat ditanya Cindy.
"Astaga. Terus si Pangeran mau dikemanakan? Buat aku saja yah." timpal Friska.
"Ambil saja. Aku gak mau berhubungan dengan si playboy itu." jawab Liana lagi. Dia masih terus menatap Anjas.