
Keesokan harinya. Anjas kembali mengamati kegiatan Dendi. Tidak lama setelah dia lihat Dendi sudah selesai makan. Anjas turun dari pohon dan menemui Dendi.
Melihat Anjas datang Dendi merasa tenang. Sudah tidak tegang seperti tadi malam. Dia hampir tidak tidur karena memikirkan cara melawan hewan buas saat terdesak.
Sepanjang malam juga dia terus memperhatikan mayat macan hitam yang dia bunuh. Waspada jika si macan akan bangkit dan menyerang kembali. Termenung lama ternyata tidak terjadi apa yang dia bayangkan.
"Hari ini aku akan mulai mengajarkan kau gerakan dasar semua ilmu beladiri yang aku tahu. Bersiaplah!" seru Anjas yang bersemangat.
Mulailah dari gerakan kuda-kuda, menangkis, memukul dan menendang semua diajarkan Anjas dengan teliti dan terampil. Untuk Dendi, dia merasa bisa mengikuti semua gerakan yang diperagakan oleh Anjas.
Seharian mereka melakukan semua gerakan dasar beladiri. Hingga Dendi menghafal dan memahami semua gerakan. Istirahat makan di siang hari dan melanjutkan lagi.
Malam harinya, Anjas mengajak Dendi berpindah tempat. Masih dengan tujuan yang sama menuju ke Utara. Tidak lupa Dendi mengemas tenda dan peralatan yang dia pakai.
Di perjalanan mereka terus berjalan dan diam. Tidak ada percakapan. Setengah jam kemudian mereka berhenti setelah melewati sebuah bukit kecil.
"Kau bisa mendirikan tenda di sini. Beristirahat dan makan yang banyak. Karena besok aku akan mengajarimu satu teknik tempur untuk melawan banyak orang." setelah selesai mengatakan itu Anjas pun melompat tinggi dan pergi menjauh.
Selama lima hari Anjas mengajari teknik, melatih fisik, melatih fokus dan insting pada Dendi. Selama itu pula Dendi merasakan penyiksaan raga dan jiwa. Namun tekadnya tidak pudar sama sekali. Keinginan menjadi kuat dan tidak kenal takut adalah harapan terbesar dirinya.
Jadi dia menahan semua latihan yang diberikan oleh Anjas. Walaupun baru sedikit yang dia pelajari tapi dia tekun untuk mengulangi semua teknik beladiri yang diajarkan. Sudah ada 4 teknik yang diajarkan Anjas. Dua dari teknik karate dan dua lagi dari muaythai.
Selama lima hari ini belum ada kabar dari Beno akan ada masalah dengan keluarga Ajisaka. Belum sekarang juga.
Di hari Sabtu ini Anjas hanya melihat hafalan gerakan yang dia ajarkan. Dendi dengan semangat memperagakan semua teknik itu. Melihat hafalan dan gerakan yang dilakukan Dendi sudah tepat Anjas langsung memberikan sebuah senjata.
Senjata ini adalah dua buah knuckle yang terbuat dari baja. Yang memiliki berat setengah kilogram. Senjata itu dibeli di Shop sistem yang baru saja dibuka. Lumayan mahal juga benda itu. Satu knuckle dihargai 2000 poin sistem. Tapi poin sistem milik Anjas masih banyak maka dia membelinya untuk Dendi berlatih.
"Terima kasih kak ini sangat bagus aku suka." jawab Dendi saat mendapat barang bagus.
"Aku akan meninggalkan kau di hutan sendirian selama lima hari ke depan. Aku akan kembali di hari keenam. Kau terus menuju Utara. Jika kau bertemu dengan perkampungan atau desa. Kau boleh tinggal sesaat. Terus lakukan latihan fisik dan teknik yang aku ajarkan. Aku masih punya banyak urusan. Jadi tidak bisa berlama-lama." habis mengucapkan kata-kata wejangan. Anjas langsung lompat jauh dan pergi meninggalkan Dendi.
Kali ini tidak ada pengawasan seperti lima hari terakhir. Dendi benar-benar sendirian sekarang. Wajah Dendi menjadi serius. Lalu menatap kearah Utara.
"Aku akan berlatih terus dan menjadi kuat." gumam Dendi dengan tegas.
Beralih ke Anjas dia sekarang sudah jauh dari tempat Dendi berada. Tapi masih bisa dia pantau terus dari map transparan biru sistem.
Dengan mobilnya Anjas kembali ke Jakarta. Tujuannya adalah rumah baru mereka. Anjas yang berpacu dengan Lamborghini Aventador membuat beberapa mobil sport terpacu untuk ikut mengebut di jalan mengikuti mobil Anjas.
"Sialan. Bukankah itu si Raja Jalanan baru yang mengalahkan Gabriel tempo hari?" celetuk seorang wanita yang mengendarai BMW 8 Series Gran Coupe terbaru berwarna silver metalik. Di kedua sisi mobilnya memiliki stiker mobil bergambar bunga mawar yang merah. Wanita itu bernama Berliana Zen. Biasa dipanggil Liana.
"Iya benar. Aventador merah polos itu yang mengalahkan Gabriel." jawab teman Liana. Bernama Cindi Bernardo.
Dua mobil sport yang terlihat mahal dan mewah itu. Sudah saling mendahului, menyalip bahkan mepet satu sama lain. Tidak memberi celah kesempatan untuk unggul.
"Dia sungguh hebat. Pantas saja dia bisa mengalahkan Gabriel. Aku jadi tertarik padanya." gumam Liana yang masih bisa terdengar.
"Maksudmu? Kau ingin mengencaninya?" Cindi pun kepo.
"Mungkin." Jawab singkat Liana membuat Cindi menggelengkan kepala.
Saat kedua mobil sudah memasuki kota Jakarta. BMW silver pun memisahkan diri dari mobil Anjas. Yang ditanggapi dengan senyum miring oleh Anjas.
Anjas melanjutkan perjalanan ke perumahan elit di mana keluarganya tinggal. Memasuki area perumahan itu Anjas tidak mendapatkan kesulitan.
Sekitar lima menit Anjas sudah sampai di depan rumah mewah berlantai dua. Banyak anggota geng The FALCON yang sudah menunggu dan menyambut Anjas. Memang sebelumnya dia mengabarkan akan pulang ke rumah baru. Jadi Julia dan Justin pun menyiapkan penyambutan walaupun tidak mewah.
Itu usul dari Anin yang mana dia tahu Anjas tidak suka kehebohan. Jadinya mereka hanya berbaris menyambut Anjas.
Orang tua Anjas sudah menunggu di depan halaman rumah. Halaman rumah itu juga luas dan ada taman kecil sepanjang halaman itu.
"Kau sudah datang nak. Ayo masuk." sambut ibunya langsung merangkul dan membawa Anjas ke dalam rumah. Diikuti ayahnya, Anin, Julia dan Justin.
Anjas melirik Opan dan menyuruhnya untuk memasukkan mobilnya ke garasi. Melempar kunci dan masuk. Perintah Anjas langsung dilakukan Opan dengan sigap.
Kedatangan Anjas seperti obat rindu. Mereka bercengkrama dan bersenda gurau. Julia dan Justin sudah tidak sungkan lagi. Mereka sudah dianggap keluarga oleh Anjas. Juga dengan anggota geng The FALCON.
Saat masih berbincang. Panggilan masuk dari Beno memaksa Anjas harus mengangkat telepon itu. "Halo Ben. Ada apa?" ucap Anjas menyapa.
"Halo An. Mereka datang lagi. Tapi kali ini mereka datang dengan pasukan. Sekitar lima puluhan orang sudah bersiap untuk menyerang gedung ini lagi. Apalagi Renovasi dan dekorasi sudah selesai. Kita akan rugi lagi jika tidak diatasi. Aku harap kau datang dengan geng mu." jawab Beno tergesa-gesa.
"Akhirnya mereka bergerak. Tunggu saja aku akan datang." Anjas menutup telepon.
"Justin, panggil Jordan dan Dion. Kita akan membuat keluarga Ajisaka tahu sedang berhadapan dengan siapa." Anjas beranjak dari duduknya lalu ke kamar untuk mengganti pakaian.
Walaupun selama lima hari ini dia juga berganti pakaian. Dia rasa lebih pantas jika berpakaian sedikit resmi untuk menyambut tamu tidak diundang itu.
Lima menit kemudian Anjas keluar dari kamar dengan kemeja hitam dan celana kain. Juga menggunakan sepatu pantofel hitam.
Berikutnya mereka rombongan sudah meninggalkan rumah. Anjas menyisakan sekitar sepuluh orang untuk berjaga di rumah.
"Sudah saatnya aku menunjukkan diri sebagai lawan. Aku akan membuat kalian hilang dari dunia ini." gumam Anjas geram dan marah. Dia sudah tidak sabar untuk memberi mereka pukulan telak.
Mereka bertemu dengan Jordan di persimpangan jalan. Langsung menuju ke Haery Building.
Sementara itu di Haery Building. Beno dan Rina, juga 7 orang sekuriti sedang saling hadap depan lima puluh orang lebih. Beno tidak merasa takut sama sekali. Rina juga dia walaupun tidak ahli. Dia juga atlit taekwondo.
"Aku memberi kalian waktu sampai jam dua belas. Jika bos kalian tidak datang aku akan menghancurkan kalian dan gedung ini.!" seru Muklis. Di belakangnya ternyata ada Tanjung dan anak buahnya. Tapi tidak sebanyak dahulu sebelum dikalahkan Anjas. Sekarang tersisa 25 orang dari 50. Sisanya adalah para pengawal keluarga Ajisaka.
"Dia akan datang. Kalian harus bersiap untuk kalah." balas Beno tersenyum menghina.
"Oke kita akan lihat siapa yang akan diinjak-injak nanti!" Muklis tidak mau mengalah.